Untuk dunia game kompetitif, beda sepersekian detik saja bisa menjadi pembeda antara menang dan kalah. Gamer yang lebih cepat refleksnya akan menjadi pemenang, sedangkan yang terlambat hanya beberapa detik harus bisa menerima kekalahan.
Monitor merupakan hardware penting yang bisa juga menjadi penentu kemenangan. Monitor juga bukan sekedar menampilkan visual yang bagus, tapi seberapa cepat dan mulus pengguna bisa melihat pergerakan musuh. Ibaratnya seperti senjata tambahan yang bisa diandalkan.
ASUS sebagai pembuat berbagai hardware untuk gaming termasuk monitor, belum lama telah mengumumkan seri TUF Gaming. Tipe monitor ini memiliki berbagai macam lini, salah satunya adalah TUF Gaming VG259QMR5A yang kami gunakan.
Monitor 25 (Atau lebih tepatnya 24,5 inci) inci ini memiliki spesifikasi yang sudah cukup baik untuk kategori monitor gaming. Ditambah harganya yang bersahabat dibandingkan monitor gaming dari brand lain. Inilah pengalaman yang kami rasakan selama menggunakan versi review TUF Gaming VG259QMR5A.
Unboxing TUF Gaming VG259QMR5A
Berikut adalah is kotak penjualan TUF Gaming VG259QMR5A:
Unit TUF Gaming VG259QMR5A
Kabel power
Kabel displayPort
Bagian kaki monitor yang harus dirakit
Keterangan garansi dan buku manual
Pastikan kalian sudah menyiapkan obeng ketika akan merakit bagian kaki untuk membaut sekrup. Proses merakitnya sendiri tidak sesulit monitor ASUS ROG sebelumnya yang kami review. Monitor ini juga sudah mendukung VESA Mount jika seandainya pengguna lebih memilih menggunakan Monitor Arm.
TUF Gaming VG259QMR5A memiliki viewable display 24,5 inci (25 Inci dengan bezel). Resolusi yang didukung adalah Full HD 1920×1080 dengan panel Fast IPS.
Secara tampilan monitor ini terlihat tangguh, sesuai dengan ciri khas dari lini TUF Gaming. Bagian bezel tipis sehingga tidak menganggu pandangan. Dari sisi ergonomi, monitor ini hanya mendukung posisi didongakkan atau ditundukkan ketika menggunakan bagian kaki. Untuk posisi yang lain baru memungkinkan jika menggunakan Monitor Arm.
Untuk konektivitas, port yang dimiliki TUF Gaming VG259QMR5A sangatlah simple. Ada satu DisplayPort 1.4, dua HDMI (HDMI-1 dan HDMI-2), dan satu jack audio. Untuk mengejar refresh rate tinggi, pengguna bisa memilih DisplayPort 1.4. Sedangkan untuk HDMI lebih cocok untuk yang lain. Misalnya dicolok dengan laptop untuk menjadi layar kedua.
Monitor ini juga sudah dibekali oleh speaker internal yang kualitasnya biasa saja, cocok sebagai pelengkap.
Perfoma Monitor
Monitor ini memiliki refresh rate yang tinggi. Ketika monitor gaming umum masih bermain di angka 144Hz atau 165Hz, monitor ini sudah melompat jauh dengan 310Hz (OC), dengan respon 0,3ms. Angka ini melampaui saudaranya TUF Gaming VG259QM5A yang hanya mencapai 240Hz.
Jika PC yang digunakan sudah mumpuni dan sanggup mendukung FPS tinggi, gambar yang muncul bisa terlihat super smooth, dan membuat tracking musuh dan juga efek recoil menjadi terasa lebih enak. Angka respon yang tinggi juga menekan semaksimal mungkin efek ghosting saat objek bergerak cepat. Dari spesifikasi ini sudah jelas TUF Gaming VG259QM5A ditujukan bagi game tipe shooter yang kompetitif seperti Valorant, Counter-Strike 2, atau Apex Legends.
Panel Fast IPS membuat kualitas warna yang muncul dalam gambar muncul, sekaligus juga nyaman dari sudut pandang. Untuk gamut warna, ASUS mencantumkan 99% sRGB. Intinya, untuk kelas monitor game kompetitif, warna yang dihasilkan tetap terasa hidup dan tidak pucat.
Tidak perlu khawatir dengan layar robek atau tearing, TUF Gaming VG259QMR5A sudah mendukung fitur sinkronisasi yang lengkap. Monitor ini sudah mendukung AMD FreeSync Premium dan NVIDIA G-SYNC. Melalui kedua fitur ini, game yang dimainkan akan terasa lebih mulus dan minim tearing.
Masih kurang? Monitor ini juga dilengkapi beberapa fitur bawaan ASUS. Misalnya ELMB Sync (Extreme Low Motion Blur Sync) yang membantu untuk ketajaman gerakan di visual. Lalu ada Shadow Boost yang fungsinya mencerahkan area gelap. Cocok untuk membantu menemukan musuh yang bersembunyi di spot gelap.
Fitur Gaming Didalamnya
Pada bagian kanan monitor, terdapat beberapa tombol yang dapat digunakan untuk kustomisasi. Pengguna bisa mengatur semuanya dari sini. Mulai dari pengaturan brightness, display, pemilihan mode monitor, sampai dengan menentukan refresh rate. Lokasi tombol ini awalnya agak membingungkan, dan kami sering sekali salah pencet dengan tombol daya yang juga terletak di posisi yang sama.
Pengguna juga bisa mengkustomisasi TUF Gaming VG259QMR5A sesuai dengan game yang dimainkan. Melalui fitur GameVisual tampilan monitor bisa disesuaikan dengan game yang dimainkan. Ada beberapa mode preset yang bisa dipilih seperti FPS, RTS/RPG, MOBA, Night Vision, Cinema, lainnya untuk disesuaikan dengan game yang dimainkan.
Sedangkan GamePlus berisi berbagai fitur yang bisa membantu saat pengguna memainkan game. Fitur ini bisa menampilkan FPS Counter untuk memastikan performa monitor dan PC, Crosshair khusus untuk game shooter, timer, stopwatch, dan masih banyak lagi.
Hal yang menarik adalah monitor ini juga mendukung HDR. Ada beberapa pilihan mode HDR yang bisa dipilih, yaitu Gaming HDR, Cinema HDR, dan Console HDR. Buat game AAA atau konten yang mendukung HDR, fitur ini bisa menambah rasa imersif. Tidak lupa Blue Light Filter yang membantu mengurangi mata lelah ketika menggunakan monitor dalam durasi yang lama.
Kesimpulan Review TUF Gaming VG259QMR5A
Kesimpulan yang kami dapatkan selama menggunakan versi review ASUS TUF Gaming VG259QMR5A adalah monitor ini ditujukan bagi gamer kompetitif yang mengedepankan performa untuk mendapatkan hasil terbaik, tentunya tanpa perlu merogoh dompet terlalu dalam.
Monitor ini juga sudah mendukung refresh rate hingga 310Hz dan response time 0,3ms. Belum lagi tambahan fitur pelengkap GamePlus, GameVisual, sinkronisasi FreeSync, G-SYNC, ELMB Sync, hingga Shadow Boost yang menyediakan berbagai macam fungsi pendukung untuk memaksimalkan performa saat bermain game.
Panel Fast IPS membuat visual yang muncul dilayar tetap enak untuk dilihat. Menjadikan monitor ini juga enak ketika digunakan untuk gaming casual ataupun aktivitas diluar bermain game. Intinya adalah kepuasan bisa didapatkan tanpa perlu menjadi seorang sultan.
ASUS TUF Gaming VG259QMR5A sudah bisa dibeli di Indonesia dengan harga sekitar 2,4 juta.
Promo Sega Year of the Horse telah digelar di PlayStation Store sampai dengan 25 Februari 2026. Promo ini akan menghadirkan potongan harga untuk sejumlah game PS5 dan PS4. Selain di PlayStation Store, promo year of the Horse juga akan berlangsung di Steam sampai dengan tanggal 26 Februari 2026.
Salah satu penawaran yang paling mencuri perhatian adalah Sonic Racing: CrossWorlds Digital Deluxe Edition yang mendapatkan potongan harga hingga 40%. Game ini punya roster pembalap yang bervariasi, menggabungkan karakter dari dunia Sonic dengan lintas franchise.
Yakuza 0 Director’s Cut akan mengalami potongan harga hingga 33%. Edisi ini merupakan versi Definitif berkat tambahan cutscene baru serta mode online yang mendukung hingga empat pemain, cocok untuk yang ingin merasakan Yakuza 0 dengan konten lebih lengkap.
Shinobi: Art of Vengeance juga ikut diskon hingga 40%. Game platformer ini menyajikan aksi ninja yang solid. Buat kalian yang menyukai game RPG, Metaphor: ReFantazio turun harga hingga 50%. Sementara Demon Slayer -Kimetsu no Yaiba- The Hinokami Chronicles 2 juga mendapatkan diskon hingga 40% untuk penggemar game adaptasi anime.
Untuk detail dari promo Sega Year of the Horse untuk PlayStaton Store bisa kalian lihat di sini. Sedangkan untuk Steam di sini.
Imbas dari kenaikan harga komponen PC telah berdampak kepada Steam Machine. Valve telah mengkonfirmasi adanya penundaan untuk pengumuman harga dan juga jadwal rilis perangkat tersebut.
Keterangan Resmi Valve Soal Steam Machine
Dalam pernyataan resmi di blog, Valve menjelaskan bahwa lonjakan harga memori dan penyimpanan merupakan alasan utamanya. Kondisi ini memaksa perusahaan meninjau ulang rencana awal terkait Steam Machine dan perangkat VR Steam Frame.
Valve menilai kondisi ini terlalu berisiko jika memaksakan pengumuman harga tanpa perhitungan matang. Karena itu, perusahaan memilih menunda pengumuman harga maupun tanggal rilis agar dapat memberikan informasi yang lebih akurat dan realistis kepada konsumen.
Ketika diumumkan pada November lalu, Valve telah menargetkan pengumuman soal harga dan tanggal rilis akan dilakukan di awal tahun 2026. Rencana ini telah dipastikan gagal. Namun Valve tetap memastikan bahwa perangkat ini masih akan meluncur di 2026 sesuai dengan jadwal.
Perangkat ini diperkenalkan sebagai PC bergaya konsol yang terintegrasi penuh dengan ekosistem Steam. Sejak diumumkan, perangkat ini menarik perhatian karena dianggap sebagai upaya Valve untuk menantang pasar konsol.
Blizzard akhirnya meninggalkan angka “2” dari game Overwatch, dan mulai memakai nama Overwatch. Perubahan ini sekaligus membuka babak baru yang lebih fokus kepada cerita. Pengumuman ini disampaikan dalam acara Livestream barusan.
Dalam keterangan resmi yang diterima oleh IGN, Blizzard beralasan bahwa tahun ini merupakan momentum bagi developer untuk memperlihatkan visi yang baru. Inilah yang membuat mereka sepakat untuk menghilangkan angka “2”.
Overwatch 2 yang rilis di 2022 kurang mendapatkan respon yang kurang baik. Game ini tersandung berbagai kontroversi, mulai dari menghilangnya konten PVE yang dijanjikan, sampai dengan sistem monetisasi. Mungkin inilah yang membuat Blizzard memutuskan untuk melakukan Branding ulang.
Overwatch Masuk Era Baru
Sebagai awal, Blizzard memulai Overwatch baru dengan cerita The Reign of Talon yang akan berjalan selama 1 tahun. Cerita ini akan fokus kepada organisasi Talon yang memperluas kekuasaannya, sementara pihak Overwatch melakukan perlawanan. Cerita ini akan dibangun lewat event dalam game, trailer, komik animasi, cerita pendek, hingga pembaruan map.
Season 1 akan dimulai dari tanggal 10 Februari akan langsung menghadirkan lima hero baru sekaligus, yaitu Domina, Emre, Mizuki, Anran, dan Jetpack Cat. Setelah itu, Blizzard menambah satu hero baru di Season berikutnya.
Blizzard juga menyiapkan Meta Event bernama Conquest. Pemain diminta memilih berpihak ke Overwatch atau Talon selama 5 minggu. Hadiah dari event ini adalah Loot Box, Skin, dan juga Title dengan tema Faction. Akan ada juga pembaruan UI/UX dan navigasi yang diklaim bakal lebih cepat. Versi upgrade Nintendo Switch 2 juga dipastikan bakal tersedia pada musim semi 2026.
Penggemar game aksi platformer klasik wajib melirik satu judul ini. ChainStaff, game brutal heavy metal sci-fi platformer bergaya 80-an, resmi diumumkan akan meluncur pada 8 April 2026 untuk PC (Steam), PlayStation 4, PlayStation 5, Nintendo Switch, serta Xbox One dan Xbox Series X|S. Saat ini, pre-order sudah dibuka untuk beberapa platform.
Dikembangkan oleh Mommy’s Best Games, studio indie peraih berbagai penghargaan yang dipimpin oleh Nathan Fouts—veteran developer eks Insomniac Games dan kreator Serious Sam Double D XXL—ChainStaff menjanjikan aksi cepat yang menggabungkan rasa klasik ala Mega Man X, Bionic Commando, hingga Contra, dengan sentuhan modern yang brutal.
Aksi Platformer Gila dengan Grappling Hook Transformasi
Di ChainStaff, pemain berperan sebagai mutan dengan makhluk alien menempel di kepalanya, memaksa sang protagonis bertarung demi bertahan hidup sekaligus mencari cara untuk “menyingkirkan” parasit tersebut. Senjata utama pemain adalah ChainStaff, sebuah grappling hook transformasi yang bisa berubah menjadi tombak, perisai, jembatan, dan berbagai fungsi lainnya—semua hanya dengan satu tombol.
Mekanisme ini memungkinkan pemain untuk menyerang, bertahan, dan bermanuver secara dinamis, menciptakan tantangan platforming yang cepat, teknis, dan memuaskan.
Soundtrack Metal Garang dari Komposer Broforce
Menambah intensitas pertempuran, ChainStaff dibalut dengan soundtrack heavy metal penuh energi yang digarap oleh Deon van Heerden, komposer di balik musik Broforce dan Warhammer 40,000: Shootas, Blood & Teef. Musiknya menjadi bahan bakar sempurna untuk aksi brutal dan pertarungan boss berskala besar.
Pilihan Brutal, Ending Berbeda
ChainStaff tak hanya soal refleks cepat. Game ini juga menghadirkan sistem pilihan moral yang ekstrem. Pemain dapat memilih untuk menyelamatkan rekan yang terluka atau justru memakan organ mereka demi mendapatkan upgrade. Setiap pilihan membuka jalur upgrade berbeda, memengaruhi gaya bermain, serta menentukan salah satu dari tiga ending unik.
Fitur Utama ChainStaff
ChainStaff Transformasi Grappling hook multifungsi yang bisa berubah menjadi tombak, perisai, jembatan, dan alat tempur lainnya.
Grotesque Upgrades Sistem upgrade bercabang berbasis pilihan moral pemain.
10 Level Bergaya Heavy Metal Setiap level dirancang seperti cover album rock klasik yang hidup.
Boss Raksasa Unik Setiap boss memaksa pemain berpikir ulang dalam memanfaatkan ChainStaff.
Durasi 4–6 Jam Petualangan padat dengan New Game+ dan progres berkelanjutan.
Soundtrack Metal Ikonik Musik keras dan menghentak khas era 80-an.
Tanggal Rilis & Platform
ChainStaff dijadwalkan rilis pada 8 April 2026, dengan ketersediaan sebagai berikut:
PC: Steam
PlayStation 4 & PlayStation 5
Nintendo Switch
Xbox One & Xbox Series X|S
Pre-order saat ini sudah tersedia di Xbox Store dan Nintendo eShop (wilayah Amerika, Eropa menyusul).
Dengan gaya visual yang liar, gameplay cepat penuh eksperimen, serta nuansa heavy metal yang kental, ChainStaff berpotensi menjadi salah satu action platformer indie paling menonjol di 2026—terutama bagi penggemar game retro dengan jiwa modern.
Kolaborasi ASUS ROG X Resident Evil Requiem telah resmi diumumkan. Promo ini berlaku bagi yang melakukan pembelian hardware gaming ROG pilihan melalui website resmi dari periode 26 Februari hingga 9 April 2026.
Detail Promo ASUS ROG X Resident Evil Requiem
Dalam program ASUS ROG X Resident Evil Requiem, bagi yang membeli produk ROG tertentu selama periode promosi yang berhak mendapatkan game gratis. Setelah transaksi selesai, pembeli bisa mengakses halaman penukaran resmi untuk melakukan klaim dan menerima kode game digital. Untuk detailnya bisa dilihat di sini.
Melalui bundling ini, ASUS ingin memperkaya pengalaman bermain di PC. Resident Evil Requiem diklaim telah dioptimalkan untuk perangkat PC modern, sehingga cocok dipasangkan dengan komponen dan peripheral gaming dari ASUS maupun ROG.
Menurut ASUS, perangkat seperti monitor refresh rate tinggi, komponen PC tangguh, hingga peripheral presisi dirancang untuk menghadirkan performa mulus, latensi rendah, serta detail audiovisual yang penting di game survival horror. Apalagi dalam genre Survival Horror, dimana bayangan, petunjuk suara, dan keputusan sepersekian detik bisa menentukan hidup atau game over.
Code Vein adalah upaya Bandai Namco dalam membuat game Soulslike sendiri bertema anime. Game pertama yang rilis di 2019 bukanlah sebuah mahakarya, tapi setidaknya punya beberapa ide unik yang membuatnya berbeda dengan game sejenis lain.
Inilah yang membuat Bandai Namco optimis dan kembali mencoba dengan merilis Code Vein II. Formula yang sudah ada di game sebelumnya kembali diimplementasi dengan tambahan elemen open-world yang belakangan sedang populer. Bandai Namco juga bereksperimen dengan cerita bertema waktu dan Time Traveler.
Kami sudah memainkan versi review Code Vein II di PS5. Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami dapatkan selama memainkan gamenya. Untuk informasi, game ini bersifat Anthology Sequel. Artinya pemain bisa langsung memainkan Code Vein II tanpa harus memainkan yang pertama.
Mengubah Masa Lalu Demi Masa Depan yang Lebih baik
Code Vein II di dunia yang akan runtuh. Pada dunia ini manusia hidup berdampingan dengan makhluk abadi ala Vampire atau yang di dalam game disebut dengan Revenant. Padahal hidup sudah sulit, kedua ras ini masih harus bertarung melawan bencana bernama Resurgence.
Seratus tahun sebelum cerita Code Vein II dimulai, sekelompok prajurit Revenant mencoba menyegel Resurgence. Caranya adalah dengan mengurung diri mereka dalam kepompong raksasa, dan menjadi segel hidup untuk menghentikan bencana tersebut.
Seratus tahun setelah aksi heroik tersebut, energi hidup para pahlawan di dalam kepompong terus terkuras. Ketika energi mereka habis, kepompong tersebut akan meledak dan memicu kehancuran apokaliptik. Belum lagi ditambah energi yang dihasilkan dari kepompong tersebut juga memicu peristiwa bernama Luna Rapacis, membuat Revenant disekitar menjadi monster atau Horror.
Perjalanan dimulai di Magmell Island, ketika protagonis terbangun dari tidur. Tepat pada sisinya adalah Lou, Revenant yang kehilangan separuh jantungnya karena didonasikan untuk Protagonis. Bersama dengan Lou, tugas Protagonis adalah menghentikan kehancuran di masa kini dengan cara kembali ke masa lalu.
Melalui perjalanan waktu yang merupakan kekuatan dari Lou, Protagonis bisa bertemu kembali dengan para pahlawan di masa lalu. Melalui pertemuan ini, Protagonis berharap bisa mengenal lebih lanjut para pahlawan, dan membunuhnya di masa kini untuk menghentikan kehancuran. Sebuah konsep yang menarik bukan.
Menurut kami Code Vein II justru bersinar ketika mencoba fokus ke hal-hal kecil, yaitu hubungan Protagonios dengan para pahlawan. Pemain akan diberikan kesempatan untuk Bonding dengan memahami karakter mereka, dan juga tragedi yang menimpanya.
Ketika pertarungan tak terelakkan akhirnya terjadi, serpihan kemanusiaan para pahlawan muncul dari wujud monster mereka untuk mengutarakan kesedihan maupun ketulusan. Pada momen-momen seperti ini, Code Vein II berhasil memainkan perasaan pemainnya.
Sayang cerita utama dari game ini justru terasa hambar. Sulit untuk peduli dengan dunia yang seharusnya diselamatkan karena dialog generik, melodrama yang terlalu dipaksa, dan kebiasaan menumpahkan eksposisi.
Setiap kali pemain membuat keputusan atau tindakan di masa lalu, maka akan berdampak dengan masa depan. Mulai dari lingkungan sampai dengan karakter. Kami merasakan langsung perubahan ini pada bagian awal game.
Setelah diceramahi oleh Lady Dimitrescu…eh maksud kami Lavinia Voda soal pentingnya hubungan antara masa lalu dan masa depan, Protagonis dan Lou akan diberikan dua pilihan. Pertama adalah membiarkan apa yang terjadi di masa lalu, dan yang kedua mengubah apa yang terjadi di masa lalu.
Kami memilih yang pertama dan hasilnya adalah kami harus menggunakan kapal untuk mencapai lokasi berikutnya yang berada di seberang lautan. Setelah menjalankan beberapa Side Mission dan juga Leveling, kami memutuskan untuk kembali ke tempat pertama dan menjalankan pilihan kedua.
Hasilnya selain mendapatkan item, skill, dan Companion baru, kami juga dihadiahi oleh munculnya jembatan penghubung dua lokasi yang pada sebelumnya harus menggunakan kapal. Tapi karena kami sudah menjalani dan melaluinya, ini semua jadi agak kurang berguna.
Dunia Open-World Reaktif, Tapi Dampaknya Cuma Kosmetik
Perubahan terbesar dari Code Vein II adalah struktur dunianya. Game ini sekarang memiliki dunia open-world yang dinamakan Frontier, meninggalkan gaya linear dari pendahulunya. Developer kelihatannya terinspirasi dengan bagaimana FromSoftware menerapkan gaya tersebut ke dalam Elden Ring.
Gaya open-world ini lalu dikawinkan dengan konsep cerita yang berkaitan dengan waktu. Secara ide, ini adalah sebuah langkah yang bagus. Pemain bisa melihat Frontier dari dua sisi yang berbeda, pada masa kini yang telah hancur, dan masa lalu yang masih dipenuhi kehidupan.
Untuk bagian masa kini, Frontier terlihat hambar. Developer terus mengulang tema yang sama yaitu reruntuhan kota yang didominasi oleh warna abu-abu dan coklat. Tidak lupa juga jalan tol yang secara ajaib bisa selamat dari kehancuran. Banyak tekstur yang fFat dan terlihat Muddy, membuat suasana menjadi semakin muram dan datar.
Masa kini
Masa lalu
Jika bosan dengan pemandangan di masa kini, pemain bisa berpindah ke masa lalu dimana suasananya masih lebih berwarna. Dataran masih dipenuhi rumput, sinar matahari masih menyinari. Sangat kontras dengan tampilan visual di masa kini. Tapi sayangnya permainan akan lebih banyak dihabiskan di masa kini.
Developer sangat menekankan perbedaan situasi di masa lalu dan masa kini. Perbedaan ini tidak hanya terjadi karena faktor alam, tapi juga tindakan yang dilakukan oleh pemain.
Misalnya wilayah Undead Forest di masa lalu masih hijau, rimbun, dan penuh kehidupan. Namun saat kembali ke masa kini, semua itu menghilang, digantikan oleh kehadiran roh-roh jahat. Wilayah lainnya yaitu pos penjagaan atau istana yang dulu menjadi tempat tentara bertahan, pada masa kini berubah jadi bangunan kosong dan hancur, menjadi penanda bahwa ancaman di masa lalu pada akhirnya menang.
Ketika pemain pergi ke wilayah Sunken City di masa lalu dan mengaktifkan sistem drainase, efeknya terlihat di masa kini dengan air beracun yang surut. Sangat disayangkan perubahan seperti ini berhenti pada tahap visual dan cerita saja. Dari segi gameplay, dampaknya sangat kecil.
Eksplorasi yang Terganggu
Untuk eksplorasi pemain akan diberikan motor. Fitur ini ini dibuat hanya untuk mempercepat perjalanan saja. Untuk sistem Handling-nya kaku, sama seperti desainnya yang seakan kembali menunjukkan kekakuan dari dunia Code Vein II. Jadi jangan harap mendapatkan pengalaman mengemudi seperti di GTA.
Eksplorasi di Code Vein II sebetulnya sangat rewarding. Pemain bisa mendapatkan, item untuk Crafting, senjata baru, dan skill yang bisa membantu petualangan. Namun ironisnya, agak sulit untuk membedakan tempat mana yang memiliki harta karun dan yang tidak karena semuanya terlihat sama, seperti bangunan bobrok.
Cara paling efektif adalah dengan membuka map dengan menghancurkan semacam monster khusus berbentuk pohon. Setelah monster ini hilang, kabut yang menutupi map menghilang. Nantinya akan terlihat beberapa dungeon yang memiliki tanda khusus. Dungeon ini bisa ditandai dan didatangi. Untuk sisanya pemain harus mencarinya sendiri.
Review Code Vein II: Masalah Teknis di PS5
Dunia open-world di game ini sepertinya belum dioptimalisasi dengan baik. Selama memainkan versi review Code Vein II di PS5, kami selalu mengalami frame rate yang tidak stabil ketika sedang menjejalah. Masalah ini hanya terjadi saat open-world, tapi ketika sedang memasuki dungeon justru tidak ada masalah.
Kami juga sudah mencoba dua pilihan Rendering yang disediakan. Action Mode dirancang untuk mengejar performa dengan target 60 FPS, sementara Graphics Mode mengutamakan kualitas visual dengan konsekuensi frame rate lebih rendah. Masalahnya ketika kami memilih Action Mode tetap sulit untuk menjaga 60 FPS yang stabil. Untuk game yang sangat mengandalkan Timing, gangguan semacam ini sangat menyebalkan.
Review Code Vein II: Fondasi Combat yang Kuat
Kekuatan utama dari Code Vein II adalah sistem Combat. Fitur inilah yang membuat kami bisa bertahan untuk terus memainkan versi review Code Vein II, meski aspek lainnya mengecewakan.
Secara fondasi game ini punya sistem Combat yang solid. Seperti game Soulslike pada umumnya, pertarungan fokus pada manajemen stamina, kombinasi serangan cepat dan Heavy Attack, Positioning, dan membaca pola yang dimiliki musuh.
Hal yang membedakan adalah pemain bisa membawa NPC Partner. Fitur ini sangat membantu terutama untuk pemain yang mungkin bukan dari kalangan fans Soulslike. NPC Partner ini meski sistemnya AI sederhana, bisa menjadi pengalih perhatian saat bertarung. Mereka bahkan juga bisa memberikan Buff kepada karakter pemain.
Tapi jika ingin lebih menantang, pemain bisa menghilangkan NPC dengan fitur Assimilation. Melalui fitur ini, NPC akan bergabung dengan karakter pemain. Fitur ini cerdas karena bisa merangkul dua tipe pemain sekaligus: pemain yang menginginkan bantuan, dan pemain yang mengejar tantangan solo.
Kehadiran NPC Partner merupakan bagian dari mekanik Blood Code. Melalui mekanik ini, pemain tidak perlu lagi mendistribusikan poin ke setiap atribut, karena sudah diatur secara otomatis. Setiap Blood Code memiliki statistik yang berbeda. Pemain hanya perlu menggantinya dengan yang sesuai dengan gaya bermain. Pergantian ini juga bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.
Fleksibilitas ini sangat menyenangkan karena memberikan kebebassan dalam bereksperimen dengan berbagai tipe senjata. Total ada 7 tipe senjata yang tersedia, mulai dari Twin Blades yang punya pergerakan cepat, Greatsword dan Hammer yang lambat namun mematikan, sampai Rune Blade yang membangkitkan jiwa anime di dalam diri.
Setiap senjata akan memiliki 4 slot skill untuk Formae. Ada Formae yang berupa serangan fisik dan Magic, ada juga yang berupa Buff untuk menaikkan Damage atau Defense. Formae ini bisa bebas dipasang dan juga dilepas untuk disesuaikan dengan gaya bermain. Setiap kali Formae dipakai, maka akan mengkonsumsi Ichor. Cara mengisi ulangnya bisa dengan menggunakan item atau dengan cara yang lebih keren, Jail.
Jail di Code Vein II masih sama dengan di game yang pertama. Skill ini selain berfungsi untuk mengisi ulang Formae, juga sebagai Finisher. Ada variasi Jail baru di Code Vein II, seperti Reaper. Jika dipakai sebagai Finisher, Reaper akan memperlihatkan sosok malaikat maut dengan menggunakan senjata Scythe dan menebas musuh.
Belum selesai sampai di situ, masih ada Defensive Formae yang bisa digunakan sebagai pelindung. Lalu ada Offensive Formae yang berupa serangan spesial seperti panah atau senjata palu yang bisa menghentikan waktu.
Semua mekanisme ini bisa diupdgrade agar lebih maksimal kemampuan dan kekuatannya. Jika digabungkan dengan level karakter yang juga semakin tinggi, pemain akan mendapat Progression yang memuaskan. Kebebasan gaya bermain didukung dengan superioritas berkat Build yang sudah bersinergi.
Musuh Template
Jika desain musuh di Elden Ring mengintimidasi dan beragam, Code Vein II justru seperti menggunakan Template yang sama. Kebanyakan musuh yang dihadapi berbentuk manusia seperti tentara. Musuh ini nantinya akan memiliki varian dengan warna berbeda di wilayah lain. Pada Haunted Forest misalnya ada varian berwarna putih seperti hantu. Bahkan Mini Boss juga memakai cetakan yang sama dengan musuh biasa. Bedanya hanya Health Point dan Damage yang lebih banyak.
Story Boss adalah yang paling bagus dari semua musuh di Code Vein II. Mereka memiliki bentuk yang lebih kreatif dan mengintimidasi. Mereka juga akan memberikan tantangan yang tidak main-main., beberapa bahkan terkesan seperti curang. Pemain akan ditantang untuk menggunakan semua Toolkit, memaksimalkan Build yang dipakai (Jika tidak sesuai ganti dengan yang lain), sekaligus mengetes kesabaran.
Kesimpulan Review Code Vein II
Kesimpulan kami selama memainkan review Code Vein II adalah game ini memiliki potensi dari segi Combat. Kebebasan untuk menentukan gaya bermain sendiri dengan mekanisme Blood Code, Formae, dan Jail memberikan kepuasan dalam Progression. Ditambah lagi dengan kehadiran NPC Partner membuat game ini lebih mudah diakses bahkan oleh gamer yang bukan fans Soulslike.
Tema yang mengangkat tentang waktu juga dieksekusi dengan baik, meski penyampaiannya masih kurang. Justru yang menolong adalah bagaimana Protagonis membangun hubungan dengan para pahlawan, dan harus membantainya kemudian. Sering muncul konflik batin apakah cara itu adalah yang terbaik.
Sangat disayangkan game ini tidak bisa luput dari masalah teknis yang SANGAT MENGGANGGU. Ide dunia open-world yang seharusnya menarik justru gagal dieksekusi akibat performa game yang tidak mendukung.
Genre soulslike sudah berkembang jauh sejak Code Vein pertama rilis. Meski developer mencoba untuk mengejar di Code Vein II, hasil akhirnya masih belum sampai ke titik yang diinginkan.
Code Vein II sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
Take-Two Interactive telah merilis laporan keuangan kuartal ketiga mereka, sekaligus mengungkap sedikit tentang GTA VI. Perusahaan induk dari Rockstar ini menegaskan tentang adanya rencana marketing dan promosi untuk GTA VI di tahun 2026, memastikan jika game tersebut bisa rilis tepat waktu di 19 November 2026.
GTA VI Dipastikan Rilis 19 November 2026
Dalam wawancara dengan The Game Business (Dikutip dari WCCftech) dan sesi bersama investor, CEO Take-Two, Strauss Zelnick tidak membahas secara detail. Namun, ia memberikan petunjuk penting: Take-Two menjanjikan akan ada lebih banyak aktivitas marketing di musim panas 2026.
Artinya, ada kemungkinan bakal hadirnya rangkaian materi promosi tambahan seperti pengumuman besar, trailer, atau update resmi lain untuk GTA VI dalam periode tersebut.
Zelnick juga menegaskan bahwa jadwal rilis game tersebut masih berada di tanggal yang sama dengan yang ditentukan sebelumnya. Ia menyebut pihaknya merasa sangat baik dengan rencana itu. Prediksi Zelnick diharapkan dapat direalisasikan oleh Rockstar yang saat ini justru sedang mengalami masalah PHK.
Rekor Penjualan GTA V
Dalam laporan finansial ini, Take-Two juga mengungkap pencapaian baru dari GTA V. Meski perilisannya sudah lebih dari satu dekade, game ini dilaporkan sudah terjual sampai dengan 225 juta unit. Secara keseluruhan, seri Grand Theft Auto kini mengantongi total penjualan 465 juta unit, dimana Grand Theft Auto V telah menyumbang hampir setengah dari total penjualan.
Di sisi finansial, Take-Two mencatat total penjualan sebesar 1,76 miliar dolar AS, melampaui proyeksi perusahaan 1,6 miliar dolar AS untuk kuartal ketiga. Franchise GTA disebut berkontribusi besar terhadap kenaikan ini. GTA Online juga mencatat peningkatan pendapatan sebesar 27 persen.
Delta Force telah memulai babak baru di tahun 2026 melalui peluncuran Season Morphosis. Update baru ini mulai tersedia tanggal 3 Februari 2026, dan akan memperkenalkan berbagai konten baru. Garena menyuntikkan peta Warfare baru, kehadiran operator kelas support, hingga mode permainan yang belum pernah ada sebelumnya.
Deretan Konten Eksklusif dalam Season Morphosis
Salah satu sorotan utama dalam Morphosis adalah diperkenalkannya peta Aftershock untuk mode Warfare. Peta ini mengambil latar belakang pusat kota di Afrika Utara yang menawarkan desain lingkungan urban dengan gedung-gedung tinggi. Pemain dapat menjajal kemampuan strategi mereka di peta ini melalui mode King of the Hill serta Attack and Defend.
Pemain juga kini bisa menggunakan Lina Van der Meer sebagai operator support terbaru. Lina dibekali dengan teknologi canggih berupa butterfly drones yang secara otomatis mencari rekan tim yang terluka untuk memberikan pemulihan instan.
Mode Permainan Flashpoint dan Tantangan Bos Baru
Konten baru lainnya yang hadir di Morphosis adalah mode permainan baru bernama Flashpoint. Dalam mode ini, tempo permainan menjadi sangat cepat karena titik objektif akan berpindah lokasi setiap satu menit sekali. Tim dituntut untuk terus bergerak dan merebut poin sebelum waktu habis untuk mengumpulkan skor tertinggi. Selain itu, mode Operations juga mendapatkan pembaruan melalui Fiery Owl Hunt yang memungkinkan pemain berperan sebagai boss Saeed untuk menjalankan misi eksklusif.
Tantangan bagi pemain semakin lengkap dengan munculnya boss baru bernama Alonso Hudson di area Space City pada mode Operations. Mengalahkan Alonso tidak akan mudah karena ia memiliki mekanik serangan unik yang harus dipelajari oleh para pemain.
Garena juga menyertakan peningkatan sistem anti-cheat dan perbaikan matchmaking dalam pembaruan Morphosis demi menjaga sportivitas dan kenyamanan bermain di masa mendatang.
Update Zenless Zone Zero 2.6 berjudul Encore for an Old Dream telah diumumkan, dan akan meluncur pada tanggal 6 Februari 2026. Fokus utama pada versi ini adalah debut grup idola Angels of Delusion yang memperkenalkan dua agen baru, Sunna dan Aria.
Debut Angels of Delusion di Update Zenless Zone Zero 2.6
Kehadiran grup idola Angels of Delusion menjadi daya tarik utama dalam update Zenless Zone Zero 2.6 karena mereka mampu melakukan serangan koordinasi yang unik. Sunna hadir sebagai agen S-Rank Physical Support yang dapat memberikan menguatkan serangan rekan satu timnya melalui bantuan rekannya, Bubblegum.
Sementara itu, Aria sang vokalis utama merupakan agen Ether Anomaly yang memiliki kemampuan transformasi unik antara wujud konstruksi dan proyeksi idola. Keduanya juga mendapatkan kostum baru dengan desain eksklusif yang bisa dikoleksi oleh para pemain.
Untuk mendukung performa tim idola ini, HoYoverse juga memperkenalkan Bangboo baru bernama Biggest Fan yang berfungsi memulihkan HP serta meningkatkan serangan tim.
Bagi pemain yang merindukan karakter lama, agen S-Rank Yixuan dan Yuzuha akan kembali tersedia melalui banner Rerun. Tidak hanya soal karakter, developer juga memberikan optimasi besar-besaran untuk agen Lycaon dan Harumasa agar tetap relevan.
Banjir Hadiah Polychrome dan Kolaborasi Global
Perayaan Gilded Carrot Day akan membawa segudang bonus yang sangat menggiurkan. Mulai tanggal 14 hingga 23 Februari, pemain bisa mengikuti undian berhadiah untuk memperebutkan total hadiah 4 miliar Polychrome melalui event Gilded Surprise, Wonderful Boo-ns. Selain itu, terdapat hadiah login harian yang mencapai total 3.300 Polychrome secara cuma-cuma hanya dengan aktif masuk ke dalam permainan selama periode festival berlangsung.
Debut Angels of Delusion juga akan dirayakan melalui inisiatif global bertajuk Sugar Rush: Cuteness Saves the World. Kampanye ini mencakup berbagai kolaborasi offline di berbagai wilayah dengan merchandise eksklusif seperti kaos dan tongkat cahaya.