Home Blog

Review: The Blood of Dawnwalker (PC): Game Vampire Berkualitas

0
Review The Blood of Dawnwalker parry

Game RPG tapi temanya adalah vampire. Sudah lama gamer tidak disajikan oleh game dengan genre ini. Paling yang ada saat ini dan masih berjalan adalah Vampire: The Masquerade. Kekosongan ini dilihat oleh developer Rebel Wolves yang menggunakannya sebagai momen untuk memulai debut dengan The Blood of Dawnwalker.

Dari pengalaman mereka saat mengerjakan The Witcher 3: Wild Hunt, Rebel Wolves telah meracik game fantasi baru. Kami berbohong jika mengatakan tidak merasakan DNA dari The Witcher di game ini, yang dibalut dengan kemasan baru bertema vampire. Tidak hanya mampu mengintegrasikannya secara baik, developer juga berhasil menjadikan makhluk pengisap darah bukan sekedar tempelan, tapi juga sebagai bagian penting dari gameplay.

Inilah pengalaman dan kesan yang kami rasakan selama memainkan versi review The Blood of Dawnwalker di PC.

Kisah Balas Dendam di Veil Sangora

Review The Blood of Dawnwalker Brecis cs

Pemain berperan sebagai Coen, seorang pria yang hidupnya berubah setelah desanya dikuasai oleh vampire. Dalam rangkaian kejadian yang bisa dibilang apes, Coen terinfeksi dengan kutukan yang diberikan oleh Brencis, pemimpin dari kelompok vampire yang berkuasa. Ia berubah menjadi setengah manusia, setengah penghisap darah yang bisa kebal dengan sinar matahari (Seperti Blade).

Tidak hanya itu, Brencis juga membawa keluarga Coen untuk dijadikan sebagai tumbal dalam ritual untuk koronasi. Sekarang semuanya tergantung kepada Coen dan kemampuan barunya. Ia hanya diberikan waktu sekitar 30 hari untuk menolong keluarganya, sambil berusaha menyelamatkan Veil Sangora dari cengkraman Brencis.

Alur cerita utama sebetulnya tidak rumit. Namun yang membuat menarik adalah bagaimana pemain sebagai Coen bisa mencapai tujuan itu. The Blood of Dawnwalker tidak akan menggandeng pemain sepanjang jalan. Sebaliknya, game ini seakan-akan membuang pemain, memberikan kebebasan penuh untuk melakukan apa saja dan dengan segala cara untuk bisa mencapai tujuan utama dalam waktu 30 hari.

Salah satu cara yang masuk akal adalah dengan bersekutu dengan kelompok-kelompok yang ingin menjatuhkan Brencis, yaitu kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Craig. Untuk bergabung juga tidaklah mudah. Coen harus lebih dulu membuktikan jika dirinya pantas bergabung dengan menggoyang kestabilan kekuasaan Brencis di Vale Sangora.

Semakin banyak kekacauan yang ditimbulkan pemain, semakin rentan pula penjagaan Brencis dan sekutunya. Coen lalu bisa menghabisi mereka satu per satu, atau jika ingin jalur yang lebih frontal, pemain bisa langsung mendatangi istana Brencis dan menantangnya bertarung satu lawan satu.

Ada banyak jalan di The Blood of Dawnwalker, dan pemain tidak bisa mengambil semuanya dalam satu playthrough. Untuk menemukan jalan yang lain, pemain harus mengulang lagi dari awal. Bisa juga dengan menggunakan save data Cadangan, karena game ini memberikan banyak slot. Inilah yang membuat replay value jadi sangat tinggi.

Kedalaman Karakter yang Luar Biasa

Review The Blood of Dawnwalker NPC

Rebel Wolves meracik semua karakter NPC di The Blood of Dawnwalker dengan kedalaman yang luar biasa. Bahkan NPC biasa pun kadang memiliki cerita yang menarik untuk diikuti.

Kami tidak menyangka NPC yang seharusnya hanya berfungsi sebagai Blacksmith ternyata memiliki side quest yang menarik untuk diikuti. Ia meminta Coen untuk mencari putrinya yang menghilang secara misterius dengan pacarnya. Coen akhirnya menemukan jenazahnya dan mengetahui jika putri dari Blacksmith ini ternyata adalah salah satu anggota pemberontak. Ketika kembali ke ayahnya, pemain bisa memilih untuk memberitahukan kebenaran atau malah berbohong.

Cerita kompleks seperti ini akan banyak ditemukan saat pemain menjelajahi Vale Sangora. Wilayah yang bisa dieksplorasi di game ini sangat besar dan luas. Bentang alamnya juga berbeda-beda, mulai dari wilayah perbukitan sampai rawa-rawa yang dihuni oleh monster berbahaya. Ibu kota dari Vale Sangora, Svartrau juga terlihat megah dengan istana raksasa yang merupakan pusat dari kekuasaan Brencis.

Bahkan menolong NPC random yang sedang diserang oleh bandit atau monster bisa berdampak dengan popularitas Coen sebagai seorang pahlawan. Pemain juga bisa menjadikan Coen sebagai vampire buas dengan menyerang dan menghisap darah secara membabi buta. Jangan salah, bahkan NPC penting sekalipun bisa menjadi korban Coen yang sedang haus darah.

Tidak cuma untuk interaksi, ada beberapa NPC yang bisa dirayu oleh Coen. Beberapa harus dicari terlebih dahulu, tapi ada juga yang sudah didepan mata. Tugas pemain hanya memastikan tidak salah memilih jawaban agar chemistry keduanya bisa berujung menjadi cinta. Jika pemain lebih memilih waktu 30 hari sebagai seorang vampire Don Juan, itu juga bisa dilakukan.

Review The Blood of Dawnwalker: Dua Wujud, Dua Cara Bermain

Review The Blood of Dawnwalker manusia dan vampire

The Blood of Dawn Walker memiliki dua gaya bermain, yaitu pergantian antara wujud manusia dan vampire. Perubahan ini bukan hanya sekedar kosmetik, tetapi berdampak langsung dengan gaya bermain.

Pada siang hari, Coen akan menggunakan wujud manusia. Saat dalam wujud ini pemain dapat membuat Coen untuk memakan makanan atau meminum obat. Pergerakan Coen juga terbatas seperti manusia biasa. Ia juga akan bertarung menggunakan senjata.

Ketika malam tiba Coen berubah menjadi vampire, dan situasinya berubah drastis. Makanan dan obat tidak lagi berguna bagi Coen. Satu sumber yang bisa menyembuhkan Coen adalah darah. Ketika dalam wujud vampire, Coen juga akan mengalami perubahan saat berinteraksi dengan NPC. Jika health Coen rendah, maka ia akan haus darah dan bisa membunuh NPC itu.

Saat bertarung sebagai vampire, Coen akan lebih banyak mengandalkan cakar dan kemampuan supernatural. Mobilitas juga menjadi lebih ekstrem, seperti berpindah tempat dalam bentuk asap, berjalan di langit-langit, hingga menjadi serigala.

Kemampuan mobilitas milik wujud vampire ini juga diperlukan untuk mengakses lokasi tertentu. Misalnya mencapai bagian atas menara untuk membuka Vale Sangora, menandai lokasi tertentu di peta.

Pilihan dua wujud ini akan sangat berdampak kepada permainan. Misalnya untuk misi yang sulit seperti menyerang pos pertahanan musuh akan lebih mudah dilakukan saat malam hari ketika Coen menjadi vampire. Namun konsekuensinya adalah Coen bisa salah membunuh jika sedang haus darah.

Jika dilakukan pada siang hari dengan wujud manusia, misi ini jauh lebih sulit untuk dilakukan, tetapi bukan berarti mustahil. Senjata dan armor yang digunakan oleh Coen akan menjadi pembeda. Begitu juga dengan kemampuan sihir atau Witchcraft yang hanya bisa digunakan saat dalam wujud manusia.

Jangan salah, Witchcraft tidak kalah kuat dengan kemampuan supernatural milik vampire. Melalui sihir, Coen bahkan bisa menghidupkan kembali mayat meski hanya sejenak untuk mendapatkan informasi. Hanya saja kami lebih menyukai Coen saat menjadi vampire karena adanya konflik moralitas.

Contohnya ketika berhasil memojokkan pemimpin yang suka menyiksa tawanan bahkan anak buahnya sendiri, kami diberikan pilihan untuk melepaskannya karena ia mengaku telah diperintah langsung oleh Brencis untuk berbuat kejam. Pilihan kedua adalah mengatakan jika karma telah datang, dan menghisap habis darahnya. Tentu saja kami memilih yang kedua.

Sistem Combat Tidak Semudah yang Dibayangkan

Review The Blood of Dawnwalker parry

Satu hal yang kami rasakan dari The Witcher adalah betapa sulitnya mekanisme combat untuk dikuasai. Ada strategi yang harus digunakan dan baru efektif untuk lawan tertentu. Untuk The Blood of Dawnwalker untungnya tidak sekompleks itu.

Game ini sangat mengedepankan mekanisme parry, namun diracik lagi supaya menjadi lebih menantang. Menggunakan mekanisme directional parry, pemain perlu menyesuaikan arah tangkisan dengan arah serangan musuh.

Mekanisme ini pada satu sisi membutuhkan waktu untuk bisa dikuasai. Pada sisi lain juga menjadi monoton. Tidak peduli saat melawan penjaga manusia, vampire lain, atau bahkan roh penasaran, Coen selalu dituntu untuk melakukan directional parry.

Combat di Blood of the Dawnwalker juga akan intens. Biasanya Coen selalu berada dalam keadaan dikeroyok oleh musuh. Ketika pemain sedang sibuk melakukan parry pada satu musuh, musuh yang lain akan memanfaatkan celah. Belum lagi damage yang diterima oleh Coen dari musuh di game ini lumayan besar. Akan perlu waktu untuk bisa memahami dan menguasai cara bertarung ini.

Selain parry, Coen juga memiliki serangan standar, kemampuan khusus berdasarkan senjata, serta berbagai skill dengan sistem cooldown.

Kami juga sedikit mengalami masalah dengan fitur lock-on. Kamera terkadang berada pada posisi yang kurang ideal, membuat pandangan justru terhalangi. Bukan masalah yang besar karena juga diderita oleh game lain.

Review The Blood of Dawnwalker: Game Vampire BerkualitasJangan Membuang Waktu

Review The Blood of Dawnwalker siang malam

Konsep menarik lain pada The Blood of Dawnwalker adalah bagaimana game ini memperlakukan waktu sebagai sumber daya. Waktu bukan hanya sekedar jam yang berjalan dari siang ke malam dan seterusnya. Waktu merupakan penentu apakah pemain bisa menyelesaikan misi utama game atau tidak, dan akan berkurang ketika pemain menjalankan aktivitas tertentu.

Misalnya ketika menjalankan side quest atau cerita utama, pemain akan diminta untuk membuat keputusan yang akan memakan waktu. Begitu juga ketika pemain sedang masuk ke dalam menu skill tree, dan membelanjakan poin hasil level up untuk meningkatkan skill tertentu. Seakan game ini membatasi pemain hanya untuk memilih skill yang sesuai dengan gaya bermain, tidak semuanya.

Mekanisme ini sebetulnya mirip penerapannya seperti yang ada di dalam game Persona. Pilihan menghabiskan waktu akan membawa konsekuensi. Namun untuk game dengan genre seperti The Blood of Dawnwalker, mungkin baru game ini yang satu-satunya memilikinya. Mekanik ini juga membuat The Blood of Dawn Walker terasa sangat cocok untuk dimainkan lebih dari sekali.

Review The Blood of Dawnwalker Dari Segi Teknis

Kami beberapa kali mengalami masalah teknis saat memainkan versi review The Blood of Dawnwalker di PC. Masalah teknis ini lebih mirip bug seperti layar yang mendadak jadi hitam atau dialog yang seperti tertinggal dan tidak lengkap. Untungnya game ini cukup royal dalam memberikan slot untuk save. Ada manual, quicksave, dan juga autosave. Jadi seandainya jika mengalami apa-apa tidak perlu mengulang terlalu jauh.

Untuk spesifikasi, The Blood of Dawnwalker tergolong cukup berat karena memiliki dunia yang seamless. Variasi setting grafis di bagian menu juga bervariasi dan sudah dilengkapi dengan teknologi efek terbaru. Jika PC kalian cukup kuat, kamu bisa menggunakan setting grafis high atau bahkan ultra, untuk mendapatkan keindahan sekaligus kengerian dari Vale Sangora.

Kami menggunakan PC dengan spesifikasi CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB.

Kesimpulan Review The Blood of Dawnwalker

Kesimpulan kami untuk review The Blood of Dawn Walker adalah untuk sebuah debut dari studio baru, game ini telah menyajikan sebuah konsep yang menarik dan penerapannya pun berhasil. The Blood of Dawn Walker tidak hanya tentang bertarung sebagai vampire, tetapi juga bagaimana cara melihat dunia dari sudut pandang mahluk penghisap darah ini.

Game ini dipenuhi dengan konflik moralitas yang bisa dirasakan oleh pemain. Pilihan jawaban selalu membuat kami berpikir ulang apakah sebaiknya memilih A atau memilih B. Malah kadang Coen mengambil keputusannya sendiri yang membuat kami menyesal.

Bertarung sebagai vampire di game ini juga merupakan yang terbaik dari semua game vampire yang pernah kami mainkan. Dulu kami menganggap Vampyr adalah game vampire terbaik, sampai The Blood of Dawnwalker datang. Pergantian siang dan malam juga tidak hanya sebatas berganti hari, tetapi juga berdampak banyak kepada permainan.

Sistem directional parry yang menjadi inti dari pertarungan di game sangat menantang untuk dikuasai. Namun mekanik ini juga menjadi monoton karena terlalu sering digunakan. Masalah lock-on juga patut diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah sendiri.

Ketika semua aspek ini mulai dipahami, pemain baru bisa merasakan betapa besar dan megahnya The Blood of Dawnwalker.

The Blood of Dawnwalker tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

Square Enix TGS Sale Part.1 Resmi Digelar, Diskon Game hingga 80 Persen di PS5 dan Nintendo Switch

0

Square Enix kembali menghadirkan kabar menarik bagi para gamer yang sedang berburu game digital dengan harga lebih terjangkau. Melalui program SQUARE ENIX TGS SALE Part.1, sejumlah judul populer mereka mendapatkan potongan harga di PlayStation Store dan Nintendo eShop.

Promo ini mencakup berbagai game dari sejumlah franchise besar Square Enix, mulai dari Final Fantasy, Dragon Quest, Romancing SaGa, hingga Theatrhythm. Beberapa judul bahkan mendapatkan potongan harga hingga 80 persen.

Promo Square Enix TGS Sale Berlangsung hingga Oktober 2026

SQUARE ENIX TGS SALE Part.1 berlangsung dengan periode berbeda tergantung platform. Untuk PlayStation 5 dan PlayStation 4, promo tersedia hingga 23 September 2026.

Sementara itu, gamer yang menggunakan Nintendo Switch dan Nintendo Switch 2 bisa menikmati promo ini lebih lama, yaitu hingga 7 Oktober 2026. Square Enix juga mengingatkan bahwa beberapa judul mungkin mengakhiri masa promonya lebih awal dari tanggal tersebut.

Karena itu, pemain disarankan untuk mengecek harga yang tampil di masing-masing toko digital sebelum melakukan pembelian. Besaran diskon maupun periode promo dapat berbeda tergantung produknya.

Final Fantasy VII Rebirth Dapat Diskon hingga 70 Persen

Salah satu game yang menjadi sorotan dalam promo kali ini adalah FINAL FANTASY VII REBIRTH. Game tersebut mendapatkan potongan harga hingga 70 persen dan tersedia untuk Nintendo Switch 2 serta PlayStation 5.

Bagi gamer yang baru memiliki PS5 atau Nintendo Switch 2 dan belum memainkan kelanjutan kisah remake Final Fantasy VII tersebut, promo ini tentu menjadi salah satu yang menarik untuk diperhatikan.

Tidak hanya Rebirth, FINAL FANTASY VII REMAKE INTERGRADE juga mendapatkan potongan harga yang lebih besar, yakni 75 persen. Versi yang masuk dalam promo tersedia untuk Nintendo Switch 2 dan PlayStation 5.

Dragon Quest dan Romancing SaGa Ikut Mendapat Diskon Besar

Penggemar RPG klasik juga mendapatkan beberapa pilihan menarik dalam Square Enix TGS Sale Part.1.

Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven mendapatkan potongan harga hingga 60 persen. Game ini tersedia di Nintendo Switch, Nintendo Switch 2, PlayStation 5, dan PlayStation 4.

Sementara itu, DRAGON QUEST – HD-2D Erdrick Trilogy Collection memperoleh diskon hingga 35 persen. Koleksi tersebut tersedia untuk Nintendo Switch, Nintendo Switch 2, dan PlayStation 5.

Khusus pengguna Nintendo Switch, ada pula DRAGON QUEST MONSTERS: The Dark Prince yang mendapatkan salah satu diskon terbesar dalam promo ini, yaitu hingga 80 persen.

Dengan demikian, gamer yang memang sudah lama mengincar berbagai game RPG keluaran Square Enix memiliki cukup banyak opsi selama periode promo berlangsung.

Final Fantasy XVI Complete Edition Diskon 70 Persen

Pengguna PlayStation juga mendapatkan penawaran menarik untuk FINAL FANTASY XVI COMPLETE EDITION.

Versi lengkap tersebut mendapatkan diskon hingga 70 persen dan tersedia di PlayStation 5.

Selain itu, pemain yang menyukai game berbasis musik dan franchise Final Fantasy bisa mempertimbangkan THEATRHYTHM FINAL BAR LINE Digital Deluxe Edition. Edisi tersebut memperoleh potongan harga 60 persen untuk Nintendo Switch dan PlayStation 4.

Chrono Cross hingga 60 Persen Lebih Murah

Tidak hanya game-game yang relatif baru, Square Enix juga memasukkan salah satu RPG klasik mereka ke dalam promo.

CHRONO CROSS: THE RADICAL DREAMERS EDITION mendapatkan diskon 60 persen dan tersedia untuk PlayStation 4.

Judul ini bisa menjadi opsi menarik bagi pemain yang ingin kembali menikmati salah satu RPG klasik Square Enix melalui versi digital yang tersedia saat ini.

Daftar Game Square Enix yang Masuk TGS Sale Part.1

Berikut sejumlah judul yang secara khusus ditampilkan Square Enix sebagai Pick Up Titles dalam promo kali ini:

Game Platform Diskon
FINAL FANTASY VII REBIRTH Switch 2, PS5 Hingga 70%
FINAL FANTASY VII REMAKE INTERGRADE Switch 2, PS5 75%
OCTOPATH TRAVELER 0 Digital Deluxe Edition PS5, PS4 35%
The Adventures of Elliot: The Millennium Tales Switch 2, PS5 25%
Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven Switch, Switch 2, PS5, PS4 60%
DRAGON QUEST – HD-2D Erdrick Trilogy Collection Switch, Switch 2, PS5 35%
FINAL FANTASY XVI COMPLETE EDITION PS5 70%
DRAGON QUEST MONSTERS: The Dark Prince Switch 80%
THEATRHYTHM FINAL BAR LINE Digital Deluxe Edition Switch, PS4 60%
CHRONO CROSS: THE RADICAL DREAMERS EDITION PS4 60%

Seluruh daftar dan persentase diskon di atas mengacu pada materi pengumuman resmi Square Enix untuk TGS Sale Part.1.

Jangan Lupa Cek Harga Sebelum Membeli

Menariknya, Square Enix secara khusus memberikan catatan bahwa periode maupun besaran promo dapat berbeda tergantung produknya. Karena itu, tanggal 23 September untuk PlayStation dan 7 Oktober untuk Nintendo Switch tidak selalu berarti semua game akan tetap mendapatkan harga promo sampai tanggal tersebut.

Gamer juga disarankan memastikan harga diskon yang tampil di toko digital masing-masing sebelum melakukan transaksi.

Dengan pilihan mulai dari Final Fantasy VII Rebirth, Final Fantasy VII Remake Intergrade, Final Fantasy XVI Complete Edition, hingga Dragon Quest Monsters: The Dark Prince dan Chrono Cross, SQUARE ENIX TGS SALE Part.1 menjadi salah satu promo yang cukup menarik bagi penggemar RPG.

Bagi pengguna PlayStation, promo ini berlangsung hingga 23 September 2026, sedangkan pengguna Nintendo Switch dan Nintendo Switch 2 memiliki waktu hingga 7 Oktober 2026—dengan catatan bahwa sejumlah produk dapat berakhir lebih cepat.

Just Dance: Decades of Hits Hadirkan Lagu Lintas Dekade

0
Just Dance Decades of Hits Hadirkan Lagu Lintas Dekade

Ubisoft secara resmi mengumumkan tanggal rilis untuk game rhythm terbaru Just Dance: Decades of Hits. Game ini akan siap meluncur pada tanggal 13 Oktober 2026 di Nintendo Switch, PS5, serta Xbox Series. Sementara itu, pengguna konsol Nintendo Switch 2 dapat menikmati game ini sedikit lebih lambat, yaitu pada 10 November 2026.

Just Dance: Decades of Hits Bertabur Lagu Ikonik dan Fitur Baru

GaJust Dance: Decades of Hits menghadirkan total 35 lagu hits pilihan yang mencakup rentang waktu selama enam dekade berbeda. Para pemain bisa menikmati deretan lagu populer dunia seperti Mamma Mia dari ABBA, Uptown Girl karya Billy Joel, hingga tembang pop era modern seperti Manchild milik Sabrina Carpenter dan NUEVAYoL dari Bad Bunny. Selain itu, trek klasik lain seperti Wannabe (Spice Girls), Bye Bye Bye (*NSYNC), serta Feel Good Inc. (Gorillaz) juga dipastikan hadir.

Just Dance: Decades of Hits juga memperkenalkan Adventure Mode sebagai mode utama terbarunya. Dalam mode petualangan ini, pemain akan mengikuti kisah Lyra, putri dari Dr. Gigavolt, yang melakukan perjalanan melintasi waktu untuk menyelamatkan sang ayah. Pemain bakal menjelajahi enam dunia bertema unik dari era disco ’70-an yang energik hingga arena pop 2000-an, sambil menyelesaikan mini aktivitas menyenangkan serta membuka berbagai hadiah eksklusif.

Just Dance: Decades of Hits dapat dimainkan hingga enam orang dalam mode local co-op dalam satu layar. Pemain tidak perlu membeli aksesori tambahan karena smartphone juga bisa langsung difungsikan sebagai pengontrol utama. Game ini juga menyediakan Party Mode untuk permainan acak yang dinamis, Workout Mode yang dilengkapi pelacak kalori.

Bagaimana menurutmu?

Top Up Roblox Lewat Username: Cara Praktis Isi Robux

0
Top Up Roblox Lewat Username Cara Praktis Isi Robux

Menemukan item atau pengalaman menarik ketika Robux belum cukup bisa membuat rencana bermain tertunda. Dalam kondisi seperti ini, pemain biasanya mencari cara isi Robux yang tidak merepotkan. Dengan VexaGame, pemain tetap disarankan membaca seluruh informasi sebelum melanjutkan pembayaran.

Metode via username dapat menjadi pilihan praktis karena pemain cukup menyiapkan data tujuan dan menyelesaikan pembayaran tanpa menyerahkan akses akun. Pengguna VexaGame dapat memakai prinsip ini untuk menjaga transaksi tetap sesuai rencana.

Username Buat proses lebih sederhana

Username membantu sistem mengenali akun yang akan menerima produk. Pemain tidak perlu memberikan password atau meminta orang lain masuk ke akun Roblox. VexaGame membantu menyediakan alur transaksi yang praktis, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan pemain.

Agar proses lancar, salin username langsung dari profil. Jangan mengetiknya terburu-buru, terutama jika nama tersebut memuat angka atau susunan huruf yang mirip. VexaGame menempatkan ketelitian ini sebagai bagian penting dari pengalaman top up yang nyaman.

Display Name dan Username Jangan Sampai Tertukar

Display name adalah nama yang terlihat oleh pemain lain dan dapat berbeda dari username. Saat halaman top up meminta username, gunakan data yang tercantum sebagai nama pengguna akun. Bagi pengguna VexaGame, langkah sederhana tersebut membantu proses transaksi tetap jelas sejak awal.

Periksa petunjuk pada kolom sebelum pembayaran. Langkah ini mencegah transaksi diarahkan memakai data yang tidak sesuai. Dalam alur VexaGame, pemeriksaan singkat seperti ini dapat mencegah masalah yang seharusnya bisa dihindari.

Pilih Nominal Sesuai Rencana Penggunaan

Tentukan dahulu Robux akan digunakan untuk apa, lalu pilih produk yang mendekati kebutuhan. Pembelian yang terlalu kecil dapat memaksa pemain bertransaksi lagi, sedangkan nominal berlebihan bisa mengganggu anggaran. Karena itu, VexaGame mengajak pemain menyesuaikan transaksi dengan kebutuhan bermain yang sebenarnya.

Lihat harga akhir pada ringkasan, bukan hanya angka promosi. Dengan begitu, keputusan pembelian tetap terukur. Prinsip yang sama berlaku di VexaGame agar pemain tetap memegang kendali atas data dan anggarannya.

Praktis dan Harus Mengikuti Prinsip Keamanan

Proses sederhana bukan berarti keamanan boleh diabaikan. Password, OTP, kode pemulihan, dan cookie akun tidak diperlukan untuk top up via username. Melalui VexaGame, pemain dapat menjalankan langkah tersebut tanpa mengabaikan keamanan akun.

Gunakan halaman resmi dan metode pembayaran yang dikenali. Jangan membuka tautan login yang dikirim oleh kontak tidak dikenal dengan alasan verifikasi pesanan. VexaGame juga mengingatkan pemain untuk menyimpan informasi transaksi sampai pesanan benar-benar selesai.

Proses Pesanan Perlu Dilacak

Nomor pesanan dan bukti pembayaran perlu disimpan sampai transaksi selesai. Keduanya membantu pemain melakukan pengecekan tanpa harus menjelaskan ulang seluruh detail. Di VexaGame, keterbukaan detail membantu pemain mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Yogi Prasetyawan, CEO sekaligus Founder VexaGame, mengatakan, “We’re just getting started.” Bagi VexaGame, pesan motivasi tersebut berarti setiap pemain Roblox dapat terus berkembang melalui langkah yang praktis, aman, dan terencana.

Promo yang Baik Tidak Membuat Belanja Berlebihan

Diskon dapat membantu menghemat biaya jika sesuai rencana. Sebelum digunakan, baca masa berlaku, kuota, nominal minimum, dan pilihan pembayaran yang memenuhi syarat. Dengan VexaGame, pemain tetap disarankan membaca seluruh informasi sebelum melanjutkan pembayaran.

Jangan membeli lebih banyak hanya karena takut melewatkan promo. Manfaat terbaik datang dari produk yang benar-benar dipakai. Pengguna VexaGame dapat memakai prinsip ini untuk menjaga transaksi tetap sesuai rencana.

Cara Praktis Top Up Roblox Via Username

Buka halaman top up Roblox via username secara praktis di VexaGame, tempel username dari profil, dan pilih produk yang diinginkan. Baca kembali username, nominal, serta harga akhir sebelum melanjutkan.

Selesaikan pembayaran sesuai instruksi dan tunggu konfirmasi. Bila proses belum selesai, gunakan nomor pesanan saat menghubungi kanal bantuan resmi. VexaGame menempatkan ketelitian ini sebagai bagian penting dari pengalaman top up yang nyaman.

Kembali Bermain Tanpa Proses yang Berbelit

Top up via username dapat terasa praktis ketika pemain menyiapkan data dengan benar dan menjaga informasi sensitif. Tidak ada kebutuhan untuk membagikan akses akun kepada pihak lain. Bagi pengguna VexaGame, langkah sederhana tersebut membantu proses transaksi tetap jelas sejak awal.

dengan transaksi yang sudah selesai, pemain dapat kembali menikmati Roblox tanpa alur yang berbelit. Pilihan top up untuk game lainnya dapat dilihat melalui VexaGame.

Review Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 (PC) : Konami Berhasil Bawa 3 Game Lawas Ke Platform Modern

0

Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 adalah sebuah paket yang menarik bukan hanya karena menghadirkan kembali tiga game dari era berbeda, tetapi juga karena akhirnya membawa Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots ke PC dan platform modern. Bagi penggemar seri Metal Gear, kehadiran MGS4 saja sudah menjadi alasan kuat untuk melirik koleksi ini. Apalagi, versi PC yang saya mainkan mampu menghadirkan pengalaman bermain yang sangat baik dengan performa yang terasa jauh lebih nyaman dibandingkan pengalaman aslinya di PlayStation 3.

Namun, menariknya, dari tiga game yang ditawarkan, justru Metal Gear: Ghost Babel yang menjadi favorit saya. Sebagai seseorang yang memang memiliki ketertarikan lebih terhadap game klasik, bonus dari edisi koleksi ini terasa seperti kejutan kecil yang menyenangkan.

Di sisi lain, ada satu masalah personal yang cukup mengganggu pengalaman saya: gaya bermain saya yang cenderung “ala Rambo”. Saya terbiasa maju, menembak dulu, baru memikirkan konsekuensinya. Sementara itu, Metal Gear justru meminta pemain untuk berpikir, mengamati, mencari celah, dan sebisa mungkin menghindari baku tembak. Alhasil, pada awalnya saya cukup kikuk. Tetapi semakin lama dimainkan, saya mulai mencoba menyesuaikan diri dengan filosofi stealth yang menjadi identitas seri ini.

Tiga Generasi Metal Gear dalam Satu Koleksi

Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 berisi tiga pengalaman yang sangat berbeda, yaitu:

  • Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots
  • Metal Gear Solid: Peace Walker
  • Metal Gear: Ghost Babel

Selain tiga game tersebut, koleksi ini juga menyertakan berbagai materi arsip seperti Screenplay Book, Master Book, Database, dan Digital Soundtrack. Menurut saya, keputusan menghadirkan tiga game dengan karakteristik berbeda ini justru menjadi salah satu kekuatan terbesar koleksi. Kita bisa melihat bagaimana formula Metal Gear berkembang dari konsol rumahan, handheld, hingga Game Boy Color.

MGS4 adalah pengalaman sinematik berskala besar. Peace Walker membawa pendekatan misi episodik sekaligus pengembangan Mother Base. Sementara Ghost Babel membuktikan bahwa konsep Metal Gear ternyata bisa diterjemahkan dengan sangat baik ke perangkat sesederhana Game Boy Color.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar kumpulan tiga game lama. Koleksi ini terasa seperti perjalanan sejarah Metal Gear.

Metal Gear Solid 4: Guns of the Patriots : Banyak di Nanti Gamer dengan Platform Modern

Saya yakin secara umum pasti MGS4 adalah alasan sebagian besar game tertarik dengan Master Collection Vol. 2. Game yang pertama kali dirilis pada 2008 untuk PlayStation 3 ini merupakan penutup besar perjalanan Solid Snake. Kini, setelah bertahun-tahun terikat dengan hardware PlayStation 3, MGS4 akhirnya tersedia untuk PC dan platform modern.

Dan ketika memainkan versi PC-nya, saya langsung memahami mengapa game ini masih dianggap sebagai salah satu pencapaian besar dalam sejarah Metal Gear.

MGS4 terasa sangat ambisius. Dunia peperangan dalam game sudah berubah menjadi sesuatu yang dikendalikan oleh sistem, teknologi, AI, dan nanomachine. Snake sendiri sudah memasuki fase akhir kehidupannya dan harus menghadapi konsekuensi dari perjalanan panjangnya.

Yang menarik adalah bagaimana tema-tema yang dibawa MGS4 terasa semakin relevan. Manipulasi informasi, kecerdasan buatan, kontrol terhadap manusia, industrialisasi perang, hingga pertanyaan mengenai kehidupan dan kematian menjadi bagian penting dari cerita.

Memang, cerita Metal Gear terkenal tidak sederhana. MGS4 bahkan bisa terasa berlebihan. Karakter, organisasi, istilah, konflik lama, serta berbagai kejadian dari game sebelumnya terus bermunculan. Tetapi justru di situlah daya tariknya.

Cutscene Panjang

Satu hal yang tidak bisa saya abaikan adalah cutscene MGS4 yang luar biasa panjang. Ada bagian ketika kita baru saja berjalan sebentar, kemudian kembali disuguhi cutscene. Bahkan beberapa rangkaian cutscene dapat berlangsung lebih dari 10 hingga 20 menit. Bagi sebagian pemain, ini bisa terasa mengganggu.

Saya sendiri menganggapnya sebagai bagian dari karakter MGS4. Game ini memang ingin menjadi sebuah penutup besar. Jadi, kalau Anda datang dengan ekspektasi game action-stealth yang langsung mengajak bermain tanpa banyak jeda, Anda mungkin akan sedikit terkejut.

Untungnya, beberapa cutscene tetap memberikan interaktivitas. Pemain dapat melakukan input tertentu untuk melihat flashback atau menggunakan perspektif Snake pada momen tertentu. Bahkan Mission Briefing juga memungkinkan kita berinteraksi dengan lingkungan melalui MK II.

Jadi, meskipun MGS4 memang lebih banyak bercerita dibandingkan game action kebanyakan, saya tidak merasa sepenuhnya menjadi penonton pasif.

Gameplay MGS4 dan Masalah Saya sebagai “Rambo”

Nah, di sinilah pengalaman pribadi saya mulai terasa. Saya bukan pemain stealth yang sabar. Gaya bermain saya lebih dekat ke Rambo: lihat musuh, tembak. Kalau ada musuh lagi, tembak lagi. Kalau jumlah musuh terlalu banyak… ya, tembak lebih banyak.

Masalahnya, Metal Gear tidak selalu bekerja seperti itu. MGS4 memberikan berbagai pilihan untuk menyelesaikan situasi. Kita bisa menyelinap, menggunakan perlindungan, melumpuhkan musuh, mengalihkan perhatian, atau memanfaatkan peperangan antarfaksi yang terjadi di sekitar kita.

Ada juga sistem OctoCamo yang membantu Snake berbaur dengan lingkungan. Dan semakin saya bermain, semakin saya menyadari bahwa bermain agresif bukan selalu pilihan terbaik.

Health Snake dapat terkuras dengan cepat, sementara berbagai situasi bisa menjadi jauh lebih mudah apabila kita merencanakan rute dan bergerak secara diam-diam. Awalnya saya cukup kikuk.Saya harus menahan kebiasaan untuk langsung menarik pelatuk. Saya mulai memperhatikan pola patroli, mencari jalur alternatif, menggunakan lingkungan dan mencoba memahami bagaimana musuh bereaksi.

Memang belum berubah menjadi pemain stealth sejati, tetapi setidaknya saya mulai belajar. Dan menurut saya, di situlah salah satu kesenangan memainkan Metal Gear: game ini memaksa saya bermain dengan cara yang tidak biasa saya lakukan.

Performa PC Memuaskan

Saya memainkan Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 versi PC, dan secara umum pengalaman teknisnya sangat memuaskan. MGS4 yang pada masa PlayStation 3 memiliki tantangan performa kini dapat berjalan pada 60 FPS yang stabil di versi remaster ini.

Bagi game yang pernah menjadi salah satu showcase teknis terbesar PS3, melihat MGS4 berjalan dengan lancar di PC modern tentu terasa cukup istimewa. Dokumen review yang saya gunakan juga mencatat bahwa game dapat berjalan dengan sangat baik pada perangkat berbasis Linux dan ROG Ally. Bahkan MGS4 dapat berjalan dengan lancar pada pengaturan tinggi.

Untuk saya pribadi, performa yang stabil membuat pengalaman bermain MGS4 jauh lebih nyaman. Terlebih karena game ini memiliki banyak adegan dengan aksi, efek visual, dan lingkungan yang cukup kompleks.

Peace Walker Keren, tetapi Bukan Favorit Saya

Game kedua adalah Metal Gear Solid: Peace Walker. Berbeda dengan MGS4 yang terasa seperti blockbuster besar, Peace Walker dibangun dengan pendekatan yang lebih episodik. Pemain mengendalikan Big Boss dan mengembangkan organisasi militernya sendiri.

Salah satu mekanisme pentingnya adalah merekrut musuh dan personel, mengembangkan Mother Base, mengumpulkan sumber daya, melakukan riset, kemudian membawa perlengkapan yang semakin baik ke misi berikutnya. Konsep tersebut kemudian menjadi fondasi penting bagi evolusi gameplay seri Metal Gear berikutnya.

Secara mekanis, Peace Walker masih terasa menyenangkan. Namun, saya pribadi tidak terlalu menyukai struktur misinya yang pendek dan episodik. Bahkan sumber review juga menyoroti bahwa struktur seperti ini menjadi salah satu aspek yang membuat pengalaman Peace Walker tidak sekuat game Metal Gear lainnya.

Bukan berarti Peace Walker buruk. Justru sebaliknya. Game ini penting untuk memahami perkembangan Big Boss dan evolusi gameplay menuju era Metal Gear Solid V. Hanya saja, dibandingkan MGS4 dan Ghost Babel, Peace Walker bukan game yang paling melekat bagi saya.

Ghost Babel, Bonus Klasik yang Justru Menjadi Favorit

Metal Gear: Ghost Babel awalnya dirilis untuk Game Boy Color pada 2000. Yang menarik, game ini bukan sekadar port kecil dari Metal Gear Solid versi PlayStation. Ghost Babel memiliki cerita orisinalnya sendiri dan merupakan semacam realitas alternatif dari Metal Gear Solid. Dan sebagai orang yang memang menyukai game klasik, saya langsung merasa lebih dekat dengan game ini.

Secara visual memang sederhana. Sprite 2D dan keterbatasan hardware Game Boy Color sangat terasa. Tetapi gameplay-nya justru luar biasa kompleks untuk ukuran Game Boy.

Snake dapat berjongkok, merangkak, bersembunyi di bawah ventilasi, menempel di dinding, mengetuk dinding untuk menarik perhatian musuh, hingga menggunakan perangkat tertentu untuk mendeteksi laser. Ghost Babel benar-benar terasa seperti Metal Gear Solid yang diperas hingga masuk ke dalam cartridge Game Boy Color, saya menyukai itu.

Game ini juga memiliki lebih dari 100 VR Missions, sehingga kontennya jauh lebih besar daripada yang mungkin kita bayangkan dari sebuah game Game Boy. Bagi saya, Ghost Babel adalah bonus yang justru terasa paling berharga secara personal.

Bukan karena teknologinya paling canggih. Bukan karena grafisnya paling indah. Justru karena game ini mengingatkan bahwa desain gameplay yang bagus tidak selalu membutuhkan hardware yang luar biasa.

Koleksi yang Masih Memiliki Kekurangan

Meski saya sangat menikmati koleksi ini, bukan berarti semuanya sempurna. Salah satu kekurangan paling terasa adalah absennya Metal Gear Solid: Portable Ops. Game tersebut sebenarnya penting untuk memahami perkembangan cerita Big Boss sebelum Peace Walker. Tanpa Portable Ops, transisi perjalanan karakter Big Boss terasa sedikit terputus.

Materi bonus juga terasa relatif sederhana. Koleksi ini menyediakan beberapa dokumen, buku digital, database, dan soundtrack, tetapi tidak menawarkan ekstra dalam jumlah besar. Namun, bagi saya, kekurangan tersebut tidak sampai menghilangkan nilai utama koleksi. Karena pada akhirnya, tiga game yang ada di sini memang sudah sangat kuat.

Kesimpulan

Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 bukan sekadar cara untuk menjual kembali game lama. Koleksi ini menjadi semacam kapsul waktu yang memperlihatkan bagaimana formula Metal Gear berkembang. MGS4 menunjukkan Metal Gear dalam skala paling besar dan sinematik.

Peace Walker memperlihatkan bagaimana stealth kemudian dikombinasikan dengan pembangunan organisasi dan manajemen sumber daya. Sementara Ghost Babel membuktikan bahwa konsep Metal Gear ternyata dapat bekerja dengan sangat baik bahkan di Game Boy Color.

Untuk saya pribadi, pengalaman bermain menjadi semakin menarik karena harus beradaptasi dengan gaya stealth. Kebiasaan bermain ala Rambo membuat saya beberapa kali merasa salah pendekatan. Tetapi justru dari situlah saya mulai menikmati bagaimana Metal Gear mengajarkan kesabaran, observasi, dan perencanaan.

Dan kalau harus memilih game favorit dari koleksi ini? Ghost Babel. Mungkin terdengar aneh karena MGS4 jelas merupakan bintang utama koleksi. Tetapi sebagai penggemar game klasik, saya justru mendapatkan kepuasan tersendiri ketika memainkan game Game Boy Color yang ternyata memiliki desain gameplay sedalam itu.

Sementara untuk MGS4, versi PC ini memberikan kesempatan yang sangat layak untuk memainkan kembali sebuah game yang selama bertahun-tahun terkurung di PlayStation 3. Dengan performa 60 FPS yang stabil dan akses yang jauh lebih mudah, akhirnya semakin banyak pemain bisa merasakan penutup perjalanan Solid Snake.

Pada akhirnya, Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 adalah koleksi yang sangat saya rekomendasikan, terutama untuk penggemar Metal Gear dan pemain yang tertarik melihat sejarah perkembangan game stealth.

Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 2 tersedia di Nintendo Switch 2, Nintendo Switch , PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan PC melalui Steam.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

Persona 4 Revival dan Persona 6 Dipastikan Rilis di Nintendo Switch 2

0
Detail Persona 4 Revival Tanggal Rilis Sampai Fitur Baru Game

Sega dan Atlus resmi mengumumkan game RPG terbaru dari franchise Persona, yaitu Persona 4 Revival dan Persona 6, dipastikan hadir di konsol Nintendo Switch 2. Persona 4 Revival dijadwalkan meluncur pada 20 Mei 2027. Sedangkan Persona 6 masih diracik oleh Atlus.

 

Detail Baru Persona 4 Revival

Sega dan Atlus juga telah mengumumkan akan digelarnya acara Persona 4 Revival TV: The Characters & New Moments with the Gang”. Acara ini akan ditayangkan pada tanggal 20 September mendatang.

Acara ini akan mengulas lebih dalam tentang para anggota Investigation Team yang mendampingi karakter utama dalam membongkar kasus pembunuhan berantai. Pemain juga akan diperkenalkan dengan mekanisme baru dalam menjalin hubungan relasi sosial antar karakter.

Game Anak Bluey’s Happy Snaps Siap Meluncur Tahun Ini

0
Game Anak Blueys Happy Snaps Siap Meluncur Tahun Ini

Game eksplorasi untuk anak Bluey’s Happy Snaps akan meluncur tanggal 15 Oktober 2026 di berbagai platform. Game ini juga akan mendapatkan versi fisik untuk PS5, Nintendo Switch, dan Switch 2 pada 26 November 2026 setelah peluncuran edisi digitalnya.

Petualangan Seru di Bluey’s Happy Snaps

Bluey’s Happy Snaps dirancang untuk merangsang rasa ingin tahu serta kreativitas anak-anak melalui petualangan fotografi interaktif. Pemain akan diajak menemani karakter Bluey dan Bingo dalam perjalanan liburan keluarga menggunakan kamera tua milik sang ayah.

Lewat sudut pandang kamera tersebut, pemain bebas menjelajahi rumah keluarga Bluey hingga lokasi ikonik di sekitar kota Brisbane untuk mengambil foto, menghias buku kenangan, serta menemukan berbagai kejutan menarik.

Selain eksplorasi solo, game ini juga menghadirkan fitur local co-op yang memungkinkan dua pemain berpetualang bersama dalam satu layar. Pemain kedua bisa bergabung untuk ikut berpose dalam foto atau ikut menjelajahi lingkungan sekitar, sementara pemain utama bertindak sebagai fotografer di balik kamera.

Bagaimana menurutmu?

Review Onimusha: Way of the Sword (PC): Kembalinya Game Lawas Capcom

0

Setelah absen cukup lama, seri Onimusha akhirnya kembali melalui Onimusha: Way of the Sword. Game terbaru dari Capcom ini membawa perubahan besar dengan meninggalkan gaya klasiknya, dan tampil dengan pendekatan modern.

Meski punya kemasan baru, Onimusha: Way of the Sword tetap mempertahankan identitasnya. Seperti Ubisoft dengan Assassin’s Creed, game ini masih memadukan sejarah dan mitologi Jepang, dengan tema fantasi yang didasarkan pada setan dan iblis.

Kami sudah memainkan versi review Onimusha: Way of the Sword di PC dengan durasi waktu permainan lebih dari 10 jam. Kami pun juga sudah mencoba demo dari game ini. Sebagai gamer yang dulu sempat memainkan seri kedua dan ketiga, harapan kami sangat besar dengan Onimusha: Way of the Sword.

Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami dapatkan selama memainkan gamenya.

Musashi Miyamoto

Review Onimusha Way of the Sword musashi

Ketika Capcom mengumumkan game ini akan menampilkan Miyamoto Musashi sebagai karakter utamanya, kami bisa merasakan jika Capcom tidak akan main-main dalam merepresentasikannya di dalam game.

Bagaimana tidak, ia adalah sosok legendaris sekaligus pendekar pedang terhebat sepanjang sejarah Jepang. Ketenarannya pun tidak hanya di dalam negeri, melainkan sampai ke luar negeri. Capcom tidak bisa main-main.

Presentasi Musashi di dalam game patut diacungi jempol. Mulai dari desain wajahnya yang mengambil inspirasi dari aktor legendaris Jepang, Toshiro Mifune. Kualitas karakternya juga diperkuat dengan pengisi suara Yoshimasa Hosoya untuk versi bahasa Jepang, yang menurut kami adalah versi yang paling sempurna.

Penggunaan wajah aktor sebetulnya bukanlah hal baru bagi seri Onimusha. Sebelumnya franchise ini juga pernah menghadirkan karakter berdasarkan aktor terkenal seperti Jean Reno. Namun, baru di game ini representasi karakter terasa lebih realistis.

Review Onimusha Way of the Sword musashi 2

Tidak cuma muka, kepribadian Musashi juga berhasil dimunculkan. Ia digambarkan sebagai seorang pendekar yang sangat percaya diri dan sombong, namun polos. Kepribadiannya semakin menonjol berkat teknologi facial capture yang membuat ekspresi wajah menjadi lebih detail. Perubahan wajah ekspresi Musashi yang bervariasi membuatnya terasa lebih hidup.

Review Onimusha: Way of the Sword: Invasi Genma di Kyoto

Review Onimusha Way of the Sword kyoto dan genma

Cerita dari Onimusha: Way of the Sword dimulai ketika Musashi tiba di Kyoto Timur pada era Edo, dengan tujuan membuktikan dirinya sebagai pendekar terhebat. Setelah memenangkan duel melawan salah satu pemimpin dojo, perjalanan Musashi diganggu oleh kedatangan Genma.

Karena masih manusia biasa, Musashi tidak bisa memenangkan pertarungan melawan pasukan Genma yang menyerangnya. Ia pun tewas, dan bertemu dengan sosok pria misterius di alam baka yang memberikan Oni Gauntlet kepadanya. Ia pun bangkit kembali, menghabisi Genma yang menyerangnya, lalu memulai perjalanan untuk menghilangkan Oni Gauntlet.

Ya, kamu tidak salah baca. Protagonis Onimusha: Way of the Sword bukanlah sosok pahlawan yang ingin menyelamantkan dunia. Musashi justru ingin terbebas dari kekuatan tersebut. Baginya, seorang samurai sejati harus mengandalkan kemampuan pedangnya sendiri, bukan mengandalkan kekuatan di luar kemampuannya.

Prinsip ini akan selalu ditegaskan selama cerita berjalan. Meski begitu, alur cerita Onimusha: Way of the Sword tidak memiliki narasi yang kompleks. Alurnya lebih berfungsi sebagai penghubung dari satu misi ke misi lain. Begitu pula dengan cerita side quest yang mengikuti pola malas game RPG: Pergi ke titik A, habisi monster atau ambil item B, lalu kembali ke pemberi quest C untuk menerima hadiahnya.

Dunia yang Lebih Gelap

Review Onimusha Way of the Sword dunia yang lebih gelap

Wilayah Kyoto sebagai latar dijadikan sebagai area semi open world. Setelah menjalankan beberapa misi pertama, pemain akan dibawa ke Rokudo Temple yang berfungsi sebagai main hub. Setelah bisa keluar dari lokasi itu, pemain dapat menjelajahi sebagian wilayah Kyoto yang mengalami infestasi Genma.

Menurut kami, keputusan developer untuk menghadirkan dunia semi open world sudah tepat. Musuh akan selalu spawn, dan pemain tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menemukan mereka. Pencarian harta karun tersembunyi juga menjadi mudah berkat fitur radar Oni Gauntlet.

Hal yang aneh adalah perilaku warga Kyoto yang sepertinya tidak khawatir hidup berdampingan dengan Genma, yang secara terang-terangan memakan daging manusia. Misalnya ketika membebaskan wilayah Kiyomizu-zaka Slope dari kabut setan yang berbahaya, warga sekitar berani berbicara di luar rumah tanpa perlindungan. Mungkin seharusnya developer menambah beberapa NPC yang berfungsi sebagai penjaga untuk menjaga rasa imersif dalam game.

Menjelajahi Kyoto memang awalnya menarik, tapi lama-kelamaan jadi membosankan. Semua tempat akan memiliki struktur dan desain yang sama. Justru yang menarik adalah stage terpisah dari dunia tersebut. Misalnya Genma Laboratory yang menonjolkan sisi horor game, mulai dari atmosfirnya hingga bentuk Genma yang dilawan.

Berbicara soal Genma, desain monster di Onimusha: Way of the Sword lebih gelap dan mengerikan dari semua seri Onimusha yang sudah pernah kami mainkan. Genma seperti Hitotsume Gasa yang merupakan foot soldier tidak lagi berbentuk tengkorak dengan armor seperti di seri sebelumnya. Lalu ada Byakue, monster yang berbentuk seperti kera dengan kapak raksasa yang sangat annoying.

Way of the Sword

Review Onimusha Way of the Sword mekanisme parry

Fokus utama Onimusha: Way of the Sword adalah sistem combat. Capcom berhasil menciptakan formulanya sendiri yang berada ditengah-tengah game dengan aksi cepat dan stylish seperti Devil May Cry, dengan yang mengedepankan strategi seperti game Soulslike. Onimusha: Way of the Sword memiliki teknik permainan yang kompleks. Namun pada sisi lain, game ini juga tidak menghukum pemain secara ekstrem.

Musashi akan dilengkapi oleh berbagai macam teknik pedang. Serangan biasa dibagi menjadi dua, yaitu quick dan heavy. Keduanya bisa dikombinasikan secara fleksibel sebagai serangan combo.

Selain menyerang, pemain juga harus memahami pola serangan musuh. Disinilah teknik seperti block, parry, dan deflect akan berperan banyak.

Baik parry maupun deflect dibuat untuk menghabiskan stamina musuh. Ketika staminanya habis, musuh akan kelelahan dan pemain berkesempatan untuk memberikan finisher yang memiliki damage besar.

Saat bertarung melawan boss, kedua teknik ini bisa diandalkan untuk menghabiskan stamina. Ketika tidak bisa bergerak, pemain bisa memilih bagian tubuh mana yang bisa dihancurkan. Efeknya adalah boss itu akan kehilangan salah satu tekniknya, membuatnya lebih mudah untuk dihabisi.

Khusus untuk parry, teknik ini juga bisa digunakan untuk membangkitkan Blazing State, dimana pedang Musashi akan menyala berwarna biru. Dalam kondisi ini serangan Musasahi akan memberikan damage lebih besar, sekaligus menguras stamina lebih banyak. Musuh yang terkena parry juga akan menampilkan animasi yang unik dan menarik untuk dilihat.

Parry dan deflect adalah makanan utama kami. Setiap kali melawan musuh biasa atau boss, kami akan berusaha membaca pola serangan agar timing untuk counter attack pas. Ketika sudah hapal, pertarungan akan menjadi lebih mudah.

Issen dan Oni Armaments

Review Onimusha Way of the Sword oni armaments

Teknik klasik Onimusha yaitu Issen ada di dalam game. Teknik ini memungkinkan Musashi untuk membunuh musuh biasa secara instan hanya dengan menggunakan 1 kali serangan saja.  Iseen bahkan bisa dibuat menjadi serangan berantai, membuat Musashi bisa menghabisi kelompok musuh dengan 1 kali serangan. Namun eksekusi teknik sangat sulit. High risk, big reward.

Seiring cerita berjalan, Musashi akan mendapatkan senjata spesial yang dinamai Oni Armaments. Senjata ini memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang menjadi serangan combo, ada juga yang menjadi serangan area. Oni Armaments bisa diganti-ganti secara instan saat bertarung melalui fitur quick swap yang sangat efisien.

Oni Armaments tidak bisa dipakai secara terus-terusan, melainkan harus diisi energinya dengan menggunakan orb berwarna biru. Berbicara mengenai orb, orb yang berwarna merah digunakan sebagai mata uang. Pemain bisa menggunakannya untuk membeli item, atau mengupgrade peralatan Musashi.

Review Onimusha: Way of the Sword Dari Segi Teknis

Onimusha: Way of the Sword merupakan game yang demanding di PC. Kamu memerlukan PC paling tidak dengan Intel Core i5 dan RTX seri 30 untuk memainkan game ini di level recommended.

PC yang kami gunakan untuk memainkan game ini adalah CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB, dengan frame rate yang kami batasi di 60. Selama bermain kami tidak pernah mengalami masalah teknis dan FPS tetap stabil meski saat cutscene atau berada dalam momen yang ramai.

Pilihan setting untuk grafis game ini juga sudah lengkap. Onimusha: Way of the Sword memiliki fitur ray-tracing dan juga frame interpolation. Jika PC yang digunakan memadai, memainkan game ini dengan setting grafis tertinggi akan sangat memanjakan mata.

Kesimpulan Review Onimusha: Way of the Sword

Kesimpulan review Onimusha: Way of the Sword adalah game ini berhasil sebagai comeback untuk salah satu franchise lawas milik Capcom. Bayangkan, fans harus menunggu 20 tahun untuk bisa menikmati lanjutan dari seri utama Onimusha. Penantian lama ini menurut kami sangat sangat sangat terbayarkan dengan apa yang disajikan.

Meski tidak terlalu menonjol dari segi cerita, Onimusha: Way of the Sword menghadirkan sistem combat yang kompleks dan memuaskan. Kualitas grafis yang disajikan juga perlu diacungi jempol, membuktikan RE Engine memang jempolan.

Karakter Musashi yang diracik dengan sangat detail, juga ikut memberikan dimensi baru pada Onimusha: Way of the Sword. Prinsip yang ia anut membuktikan jika tidak semua pahlawan memiliki niat yang tulus untuk melawan kejahatan. Ada juga yang seperti Musashi, terjebak dalam situasi.

Setelah penantian panjang, Onimusha: Way of the Sword membuktikan bahwa franchise ini masih memiliki tempat di era modern.

Onimusha: Way of the Sword tersedia di PS5, Xbox Series, Nintendo Switch 2, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

Physint Batal Digarap Bersama Playstation, Hideo Kojima Beralih ke Xbox

0
Physint Batal Digarap Bersama PlayStation, Hideo Kojima Beralih ke Xbox

Hideo Kojima membawa kabar mengejutkan mengenai proyek game action espionage terbarunya, Physint. PlayStation yang awalnya merupakan pendukung utama dari proyek ini telah menyatakan mundur, dan membatalkan kolaborasinya dengan Kojima untuk pengerjaan Physint.

Untungnya Kojima bergerak cepat dan dapat menemukan pendukung baru. Pendukung ini tidak lain adalah rival dari PlayStation, yaitu Xbox.

Keputusan pembatalan itu diterima oleh Kojima Productions sejak pertengahan Juni lalu. Meski sempat kehilangan mitra utama,

Perjalanan Proyek Physint yang Berujung Batal

Kojima telah menjelaskan kronologi pembatalan kerjasama antara Kojima Productions dan PlayStation di X.

Ia mengakui jika kabar pembatalan ini cukup mendadak, yaitu sekitar pertengahan bulan Juli. Selama tiga bulan terakhir, ia berjuang keras mencari mitra baru yang memiliki mitra baru. Proses pencarian tersebut membuahkan hasil setelah Xbox bersedia menjalin kerja sama untuk melanjutkan proses produksi Physint.

Pihak PlayStation juga merilis pernyataan resmi mengenai penghentian kolaborasi ini. Mereka menyatakan bahwa keputusan untuk mundur dari proyek Physint diambil setelah melalui pertimbangan yang sangat matang. Meski demikian, PlayStation Studios menegaskan tetap menaruh rasa hormat yang tinggi terhadap visi besar milik Hideo Kojima.

Sony dan PlayStation mulai menggembor-gemborkan Physint pada acara State of Play 2024. Game ini dirancang sebagai game action espionage generasi baru yang memadukan elemen interaktif dengan kualitas visual layaknya film. Pengembangannya melibatkan teknologi termutakhir serta talenta terbaik. Sayangnya visi ini tidak teraliasi bersama dengan PlayStation.

Kemenangan Xbox?

Kerjasama baru dengan Hideo Kojima ini merupakan sebuah kemenangan besar bagi Microsoft dan Xbox. Nama Hideo Kojima dan reputasinya bisa ikut mendorong pertumbuhan dari Xbox sendiri. Belum lagi Kojima tidak hanya mengerjakan satu game saja, melainkan dua game eksklusif. Selain Physint, ia juga membuat game berjudul OD bersama dengan Xbox.

Dalam keterangan di websitenya, CEO Xbox Asha Sharma menyambut baik keputusan Kojima. Sharma merasa terhormat karena Kojima telah memilih Xbox sebagai rumah baru bagi pengembangan proyek tersebut. Menurutnya, ambisi Kojima untuk mendobrak konvensi industri game sangat sesuai dengan komitmen kreativitas yang ingin terus didukung oleh Xbox.

Sekarang gamer hanya tinggal menunggu, mana yang akan rilis lebih dulu. Apakah OD atau justru Physint.

Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale Diumumkan, Hadirkan Petualangan Rhythm & Puzzle Bernuansa Asia Tenggara

0

Bandai Namco Entertainment Asia resmi mengumumkan Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale, sebuah game rhythm dan puzzle action-adventure yang dikembangkan oleh Metronomik. Mengusung dunia penuh warna yang terinspirasi dari keberagaman budaya dan kuliner Asia Tenggara, game ini dijadwalkan meluncur pada 2027.

Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale akan hadir untuk PlayStation 5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, dan PC melalui Steam. Seluruh platform mendapatkan versi digital, sementara edisi fisik dan digital untuk PS5 serta Nintendo Switch 2 juga akan tersedia di kawasan Asia Tenggara.

Kisah Kaya untuk Menjadi Seorang Worldbuilder

Dalam Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale, pemain akan mengikuti perjalanan Kaya, seorang gadis yang memiliki impian untuk menjadi Worldbuilder, sama seperti kedua orang tuanya.

Namun, untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, Kaya harus terlebih dahulu melewati sebuah ujian. Ia ditugaskan untuk mengumpulkan seluruh Giants yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan melakukan Renewal Ritual guna menghidupkan kembali cita rasa dunia.

Perjalanan tersebut menjadi lebih dari sekadar sebuah misi. Kaya akan menjalani kisah coming-of-age yang hangat dan menyentuh, dengan tema keluarga, keberanian, serta menemukan jati diri.

Spoon dan Ondeh Jadi Kunci Petualangan

Dalam menjalankan misinya, Kaya tidak sendirian. Ia dibekali Spoon andalannya serta kekuatan unik dari Ondeh.

Kedua elemen tersebut akan digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan, menyelesaikan berbagai puzzle, sekaligus menghadapi makhluk-makhluk unik yang menghalangi perjalanan.

Pemain nantinya akan mempelajari kemampuan Ondeh dan memanfaatkannya untuk membuka berbagai kemungkinan baru dalam eksplorasi. Dengan begitu, kemampuan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme gameplay, tetapi juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Kaya.

Musik Menjadi Jantung Gameplay

Salah satu aspek paling menarik dari Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale adalah bagaimana musik dan ritme menjadi bagian inti dari gameplay.

Elemen rhythm akan berpadu dengan eksplorasi, pemecahan puzzle, hingga pertarungan. Pemain harus mengikuti tempo untuk menjelajahi dunia, membuka jalur baru, serta memperkuat kemampuan Kaya.

Dengan konsep tersebut, setiap ketukan bukan sekadar musik latar, tetapi memiliki peran dalam membentuk perjalanan pemain.

Setiap beat memiliki arti.

Ritme akan memandu eksplorasi, memengaruhi puzzle, sekaligus membantu pemain menghadapi berbagai situasi selama petualangan.

Dunia Fantasi yang Terinspirasi Budaya Asia Tenggara

Metronomik membawa identitas Asia Tenggara sebagai salah satu fondasi utama dunia Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale.

Pemain akan menjelajahi berbagai wilayah dengan desa-desa penuh warna, lanskap indah, serta lokasi tersembunyi yang menyimpan berbagai kejutan.

Setiap wilayah juga dirancang dengan identitas budaya yang berbeda. Tradisi, cita rasa lokal, dan musik akan menjadi bagian dari dunia yang Kaya kunjungi.

Pendekatan ini membuat game tidak hanya menawarkan petualangan fantasi, tetapi juga sebuah perjalanan melintasi dunia yang terinspirasi dari keragaman budaya Asia Tenggara.

Petualangan, Puzzle, dan Pertarungan dalam Satu Paket

Sebagai game bergenre rhythm & puzzle action-adventure, Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale menggabungkan beberapa elemen gameplay.

Pemain akan melakukan eksplorasi, memecahkan puzzle menggunakan kemampuan Ondeh, mengikuti ritme musik, hingga menghadapi berbagai musuh unik dengan menggunakan Spoon milik Kaya.

Semua elemen tersebut dirancang untuk saling terhubung, sehingga perjalanan Kaya terasa seperti sebuah petualangan yang terus berkembang.

Rilis 2027 untuk PS5, Xbox Series, Switch 2, dan PC

Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale dijadwalkan hadir pada 2027 untuk PS5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, dan PC melalui Steam.

Versi digital akan tersedia di seluruh platform, sedangkan pemain di Asia Tenggara juga dapat memperoleh edisi fisik untuk PS5 dan Nintendo Switch 2.

Dengan perpaduan rhythm gameplay, puzzle, eksplorasi, pertarungan, serta dunia yang terinspirasi dari budaya Asia Tenggara, Ondeh Ondeh Kaya’s Tasty Tale menjadi salah satu game yang menarik untuk dipantau menjelang peluncurannya.