Sega dan Atlus telah merilis trailer baru untuk Persona 4 Revival yang berjudul Shadow. Video ini memperlihatkan aksi dari Investigation Team dalam menghadapi berbagai jenis Shadow. Jika kamu memperhatikan dengan baik, video ini juga memperdengarkan musik dari game yang belum pernah diungkap sebelumnya.
Persona 4 Revival sendiri dijadwalkan meluncur pada 18 Februari 2027 untuk Xbox Series, PS5, dan PC. Sementara versi Nintendo Switch 2 baru akan hadir pada 20 Mei 2027.
Persona 4 Revival merupakan remake dari Persona 4 Golden dengan sejumlah peningkatan modern. Developer telah memastikan versi terbaru ini membawa peningkatan pada grafis, antarmuka, sistem combat, hingga cutscene. Area Inaba juga dibangun kembali dengan visual yang lebih detail.
Work Work Work yang merupakan karya terbaru dari Mojiken bersama Toge Productions telah mendapatkan versi demo. Versi demo ini berisi bagian prolog, sehingga pemain dapat mengenal mekanisme, sekaligus latar cerita yaitu Triquetra Companya yang merupakan tempat pemain bekerja.
Versi demo Work Work Work sudah tersedia di Steam.
Game ini sendiri memiliki konsep point-and-click puzzle exploration. Pemain akan berperan sebagai seorang pegawai yang harus bekerja dalam siklus selama 15 menit, lalu diulang kembali, dan seterusnya. Bisa dibilang karakter pemain terjebak dalam Time Loop yang belum diketahui penyebabnya. Apakah karena faktor supernatural atau justru disengaja oleh perusahaan? Itu adalah tugas pemain untuk mencari tahu.
Mengenai tanggal rilis resmi dari Work Work Work masih belum diumumkan.
Creative Assembly akhirnya membawa salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Warhammer ke dalam game Total War: Warhammer III melalui DLC Lords of the End Times.
Lords of the End Times adalah versi game dari End Times, peristiwa katastropik dalam dunia fantasi Warhammer. Konflik besar terjadi antara kelompok Order dan Chaos, yang pada akhirnya (Spoiler alert) dimenangkan oleh Chaos. Kemenangan ini membawa kehancuran dunia dan membuka jalan menuju era baru, Age of Sigmar.
Tidak terasa sudah 10 tahun Creative Assembly mengerjakan Warhammer dan menghasilkan tiga game. DLC Lords of the End Times adalah pelengkap yang paling sempurna, tidak hanya untuk Total War: Warhammer III saja melainkan seluruh seri ini.
Inilah pengalaman dan kesan yang kami rasakan selama memainkan versi review Total War: Warhammer III – Lords of the End Times.
Empat Legendary Lords Baru
Skala dari Lords of the End Times cukup besar. Ada empat Legendary Lords bersama dengan beragam unit baru, dan mekanisme campaign yang berbeda. Belum lagi perubahan besar terhadap Vampire Counts, dan juga Archaon the Everchosen, sang pembawa kehancuran ke dunia.
Dimulai dari Glottkin, tiga bersaudara yang menjadi Chosen Champion yang menjijikan dari Nurgle. Otto dan Ethrac berada di atas tubuh saudara mereka yang berukuran raksasa, Ghurk, menjadikan ketiganya model yang paling mencolok di dalam game. Karena mereka, kami yang sebetulnya tidak terlalu menjagokan Chaos di dalam Warhammer, jadi jatuh hati.
Mekanisme campaign dari Glottkin membawa dari hal-hal yang sudah ada, tetapi dengan sentuhan baru. Pemain sekarang bisa membelanjakan Souls yang didapat dari bertarung melawan musuh, untuk membuat taman penyakit Nurgle, Gardens of Corruption. Souls juga bisa digunakan untuk Rituals dan Blessings yang memberikan tambahan kekuatan bagi unit maupun karakter.
Developer juga melakukan perubahan dengan bagaimana cara Archaon memimpin pasukan Chaos dalam invasi di Endgame Scenario. Tidak seperti dulu yang agak kentang, sekarang ketika Endgame Scenario terpicu, seluruh kekuatan Chaos akan bersatu di bawah Archaon. Tidak hanya itu, Archaon bahkan memperoleh keuntungan super besar dari segi atribut, membuat tidak dapat dikalahkan tanpa kondisi khusus.
Untuk menghentikannya, pemain harus lebih dahulu mengalahkan pasukan Chaos lainnya serta menghancurkan lima Invasion Fortress. Setelah pertahanannya melemah, barulah Archaon dapat dihadapi dalam pertarungan klimaks.
Tikus yang Semakin Cerdik
Skaven, tikus seukuran manusia yang selalu berusaha menghancurkan dunia juga ikut mendapatkan wakil di DLC Lords of the End Times. Mereka akan diwakili oleh Gray Seer Thanquol yang juga merupakan salah satu karakter ikonik dalam franchise Warhammer.
Dalam DLC ini Thanquol berniat untuk menghancurkan dunia dengan menjatuhkan bulan. Untuk mencapai rencananya ini, Thangquol akan melakukan apa yang selama ini hilang dari mekanisme Skaven, yaitu membuat Masterplan. Pemain bisa menciptakan berbagai macam siasat yang memudahkan Thangquol untuk mengakali musuhnya.
Skaven juga mendapatkan unit yang selama ini dinantikan yaitu Stormfiend, tikus mutasi raksasa yang memiliki enam varian senjata. Ditambah lagi kehadiran Verminlord, versi Demon dari Skaven yang juga datang dalam empat variasi
Hanya saja lokasi Thanquol dalam game agak cukup sulit. Posisinya langsung diapit oleh musuh bebuyutannya, Dwarves. Ini akan memberikan tantangan kepada pemain untuk bisa lebih cepat menguasai cara kerja dari Masterplan, atau dibumihanguskan.
Boris Todbringer
Boris Todbringer yang sebelumnya hanyalah karakter biasa, sekarang hadir sebagai Legendary Lords untuk Empire. Sebagai Elector Count of Middenland, tugas Boris adalah mempertahankan wilayah Empire dari ancaman.
Dibandingkan tiga Legendary Lord lainnya, struktur campaign dari Boris merupakan yang paling sederhana. Fokusnya hanya mempertahankan Middenland serta Empire, sambil memburu gerombolan Beastmen. Konflik ini akan mengarah pada pertarungan besar melawan musuh bebuyutannya, Khazrak One-Eye.
Boris memiliki mekanisme bernama Fervor yang bertambah setiap kali ia berperang. Fervor nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan Great Temple of Ulric, yang efeknya adalah bonus tambahan bagi pasukannya. Empire juga mendapatkan tambahan unit baru bersama dengan kedatangan Boris, Ada Teutogen Guard yang merupakan infantry kelas berat, dan Knights Panther untuk divisi cavalry.
Pemimpin Undead: Nagash
Berbeda dengan tiga Legendary Lords lainnya yang menempel dengan faction yang sudah ada, Nagash hadir dalam satu kelompok baru. Ia merupakan Supreme Lord of Undeath, penguasa dari kelompok Undead lainnya sudah ada, yaitu Vampire Counts, Vampire Coast, dan Tomb Kings. Ia juga adalah Spellcaster yang sangat sangat kuat.
Sihir bawaan Nagash adalah Lore of Undeath, namun setelah menemukan kembali buku-bukunya yang hilang, Nagash dapat mengakses sihir dari Lore of Light, Death, Vampires, dan juga Nehekhara. Ia bahkan bisa membumihanguskan satu wilayah dengan Ritual of Undead, menghancurkannya menjadi tanah yang tak bernyawa.
Ia dapat merekrut unit dari Vampire Counts, Tomb Kings, dan Vampire Coast sehingga memiliki pasukan yang bervariasi. Nagash juga tidak datang tanpa unit spesial. Ia akan didampingi oleh Morghasts, dan Khemric Titan yang berukuran raksasa. Tapi untuk membuka semuanya perlu waktu dan juga strategi.
Black Pyramid merupakan mekanisme utama Nagash yang berisi upgrade untuk dirinya, maupun semua pasukannya. Pemain juga bisa membuka unit baru yang lebih kuat melalui Black Pyramid. Sedangkan untuk strategi, Nagash memiliki tiga tipe bangunan, Necropolis, Burial Chambers, dan Mausoleum. Ketiga bangunan ini berhubungan juga dengan tipe unit yang bisa direkrut oleh Nagash.
Neferata yang hadir sebagai Legendary Lord gratis untuk Vampires Counts juga memiliki mekanik yang berbeda. Ketika menggunakan Neferata, pemain akan lebih mengedepankan manipulasi melalui Web of Power.
Menggunakan Neferata Handmaiden, pemain bisa menyusupkan agen ke dalam semua faction yang ada di dunia. Agen ini akan memanipulasi dari dalam, membuat mereka melakukan apa yang sebetulnya direncanakan oleh Neferata. Handmaiden juga bisa digunakan sebagai unit perang baru untuk Vampire Counts.
Creative Assembly juga merombak mekanisme dasar dari Vampire Counts. Raise Dead kini menjadi metode utama untuk merekrut unit. Vampire Counts juga memperoleh dua resource baru, yaitu Corpses dan Blood. Sementara itu, proses mendapatkan Vampire Lord baru kini dibuat lebih spesifik.
Pemain tidak lagi sekadar merekrut Vampire Lord seperti Lord biasa. Pemain terlebih dahulu harus menemukan Vampire Lair yang terkubur. Setelah itu karakter tersebut dapat dibangkitkan lalu direkrut sebagai jenderal perang baru.
Kesimpulan
Kesimpulan kami untuk review DLC Total War: Warhammer III – Lords of the End Times adalah DLC ini adalah ekspansi paling ambisius yang pernah diterima game ini. Bukan cuma karena tambahan Legendary Lords baru, tapi juga karena DLC ini memiliki konten yang ngedaging.
Glottkin menawarkan pengalaman Chaos yang lengkap ditambah desainnya yang mengagumkan sekaligus menjijikan. Thanquol mewakili apa yang seharusnya dilakukan oleh Skaven dari dulu. Boris Todbringer yang tidak neko-neko. Sementara Nagash membawa skala kekuatan Undead ke tingkatan tertinggi, menjadikannya sebagai Powercreep.
Perubahan besar pada End Scenario Chaos Invasion untuk Archaon juga membuatnya menjadi lebih megah dan menakutkan. Bayangkan semua faction Chaos dalam game mendadak bersatu dan menyerang pemain dari segala titik. Inilah End Times yang sesungguhnya.
Bagi pemain lama yang sudah lama menantikan kapan datangnya kiamat di Total War: Warhammer III, akhirnya momen yang ditunggu itu telah datang. Konten dalam DLC ini sudah cukup besar untuk melengkapi pengalaman selama 16 tahun bermain Total War: Warhammer.
DLC Total War: Warhammer III – Lords of the End Times sudah tersedia bagi pemiliki base game Total War: Warhammer III.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
Konami pintar mengaduk-ngaduk rasa takut gamer dengan Silent Hill belakangan. Silent Hill: Townfall yang adalah game terbaru dari franchise ini, tampil berlawanan dengan apa yang disajikan oleh Silent Hill f tahun lalu. Jika Silent Hill f tampil agresif, Silent Hill: Townfall justru lebih lambat dan penuh perhitungan.
Sudut pandang pun ikut berubah. Dari third-person, menjadi first-person. Tapi jangan salah sangka, Silent Hill: Townfall jauh lebih menakutkan dari segi atmosfernya. Pendekatan ini membuat game terasa lebih dekat dengan identitas klasiknya.
Berikut adalah kesan dan pengalaman yang kami rasakan selama memainkan versi review Silent Hill: Townfall di PS5
Cerita di Pulau Berkabut
Silent Hill: Townfall berlatar di pulau bernama St. Amelia, Skotlandia, pada tahun 90-an. Cerita dibuka dengan sang protagonis, Simon Ordell, yang terdampar di pantai. Simon meski kelihatannya sehat, tapi sebenarnya merupakan pasien rumah sakit. Ia diperlihatkan masih memakai gelang identitas rumah sakit di tangannya, dan bahkan membawa selang infus yang belum dilepas.
Pemain sebagai Simon lalu mulai diperkenalkan dengan berbagai sistem kontrol di dalam game, sambil menelusuri pantai dan pelabuhan hingga akhirnya tiba di pusat kota. Seperti yang sudah diduga, kota telah tertutup kabut dengan rumah-rumah kosong yang seperti telah ditinggalkan.
Jalanan kota juga dipenuhi oleh poster protes terhadap sebuah organisasi bernama CEG. Situasi menjadi semakin aneh ketika Simon bertemu seorang pria yang tubuhnya dialiri cairan hitam melalui selang di mulutnya. Game ini juga menampilkan monster raksasa yang sangat tinggi, dan hanya kelihatan bagian tentakelnya saja. Adegan ini mengingatkan kami dengan film The Mist.
St. Amelia juga mengalami perubahan visual khas game Silent Hill. Kabut yang menutupi kota mendadak berubah menjadi intens, dengan nuansa berwarna merah dan perubahan visual yang radikal. Misalnya jalanan yang awalnya kosong mendadak dipenuhi rangkaian pipa industri yang menjalar seperti urat.
Tema trauma dan rasa bersalah yang merupakan fondasi dalam Silent Hill, masih menjadi tema di game ini. Simon tampaknya datang ke St.Amelia untuk mencari penebusan dari masa lalunya. Inilah yang membuat tempat tersebut menjadi terdistorsi dan diisi dengan monster mengerikan.
Developer memperluas tema tersebut dengan menghadirkan karakter lain selain Simon. Salah satunya adalah perawat bernama Zoe, yang juga mengalami hal sama dengan Simon karena tindakannya di masa lalu.
Tidak cuma sekedar jadi NPC, Zoe juga merupakan salah satu playable character. Pada satu titik, pemain akan berganti karakter. Dari yang awalnya Simon, menjadi Zoe dan memberikan sudut pandang yang berbeda dalam keseluruhan cerita di Silent Hill: Townfall.
Pendekatan ini membuat cerita menjadi terasa lebih segar. Misteri yang dihadirkan tidak hanya menyangkut satu karakter saja, melainkan dengan sesuatu yang lebih besar.
Review Silent Hill: Townfall: First-Person Membuat Lebih Mengerikan
Keputusan developer untuk menggunakan sudut pandang first-person sangat mempengaruhi tingkat kengerian game. Melihat St. Amelia langsung dari mata karakter berhasil membuat kami ketakutan dan selalu was-was.
Monster khas Silent Hill yang pada dua game sebelumnya dilihat dari sudut pandang third-person, kini terasa menjadi lebih dekat dengan pemain. Rasanya seperti melihat dengan mata dan kepala sendiri. Meski jika dibandingkan dengan dua game Silent Hill sebelumnya, monster di game ini tidak terlalu menakutkan.
Tidak seperti Hinako di Silent Hill f, Simon juga lebih ringkih. Cukup dengan beberapa kali serangan saja Simon akan kembali ke save point. Berbicara mengenai save point, titik untuk menyimpan data dalam game ini hadir dalam bentuk telepon. Uniknya, developer menambahkan daftar nomor telepon untuk polisi yang pastinya tidak bisa dihubungi.
Simon dibekali senjata sederhana seperti balok kayu dan pipa besi. Namun, senjata ini dapat rusak setelah digunakan terlalu sering. Revolver dan shotgun menawarkan daya serang lebih besar, tetapi amunisinya terbatas. Ditambah lagi suara tembakan dapat menarik musuh lain ke lokasi pemain.
Health item di Silent Hill: Townfall juga sangat terbatas. Ada item yang cukup menarik cara kerjanya, yaitu kantong infus. Item ini bisa dibuat dengan mengkombinasikan cairan infus dengan kantong infus kosong.
Fungsi item ini cukup penting. Ketika Simon KO, kantong infus ini ibaratnya adalah koin tambahan yang dapat menghidupkannya kembali dengan sebagian health bar terisi.
Jadi cara bertahan hidup paling tepat di Silent Hill: Townfall adalah dengan mengikuti cara di game Alien: Isolation, secara diam-diam. Game ini menyediakan banyak objek yang bisa dijadikan sebagai tempat bersembunyi. Misalnya masuk dalam lemari sambil mengintip untuk mengetahui apakah monsternya sudah pergi atau belum.
Pemain juga bisa menggunakan benda-benda yang ada di sekitar untuk menjadi distraksi. Misalnya dengan melempar batu bata atau botol untuk mengalihkan perhatian musuh. Bisa juga dengan menyalakan radio agar musuh terpancing untuk mendatangi lokasi, sementara pemain menyusup untuk pergi.
Mekanisme ini membuat ketegangan tercipta bukan dari seberapa kuat karakter utama atau mengerikan monsternya, tetapi dari seberapa baik pemain bisa membaca situasi.
Teknologi CRTV
Mekanisme unik yang menjadi ciri khas Silent Hill: Townfall adalah CRTV. Alat ini berupa televisi portable yang berfungsi sebagai semacam sensor. CRTV bisa digunakan untuk mengetahui lokasi musuh meskipun belum terlihat oleh pemain.
Kehadiran CRTV ini sangat membantu Simon. Tapi, kemampuannya untuk membaca posisi musuh yang bahkan berada di belakang tembok membuat permainan menjadi kurang menakutkan. Pada dasarnya developer memberikan cheat code kepada pemain.
Ada pada beberapa bagian cerita dimana Simon tidak bisa menggunakan CRTV. Misalnya pada bagian Zoe yang justru dibekali pager yang mengesalkan. Dalam situasi ini permainan menjadi lebih seru karena pemain tidak bisa mengetahui letak musuh.
CRTV juga bisa digunakan untuk menyelesaikan puzzle yang sederhana, seperti digunakan untuk menangkap sinyal penunjuk, memberikan pemain semacam potongan clip untuk melihat destinasi tujuan. Untuk puzzle yang lebih sulit tetap harus diselesaikan dengan membaca petunjuk di dokumen.
Puzzle di Silent Hill: Townfall dari pengalaman kami terasa cukup organic. Sebagian besar petunjuk dapat ditemukan di area sekitar selama pemain mau mengamati dengan teliti. Jangan khawatir, game ini masih punya puzzle yang membuat kesal, sampai satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan bantuan guide di internet.
Kesimpulan Review Silent Hill: Townfall
Kesimpulan kami setelah memainkan versi review Silent Hill: Townfall di PS5 adalah game ini adalah sebuah langkah kembali ke arah survival horror yang lebih tradisional, setelah bereksperiman dengan Silent Hill f.
Kekuatan utama game ini datang dari atmosfer yang terus menekan, berkat sudut pandang first-person. Ditambah dengan dorongan bagi pemain untuk lebih sering melakukan stealth karena Simon yang ringkih. Semua hal ini berkontribusi dalam menciptakan atmosfer menekan di dalam game.
CRTV adalah fitur tambahan yang paling menonjol. Alat ini memberikan dimensi baru dalam navigasi dan membaca gerakan musuh. Walaupun mungkin rasanya seperti memakai cheat code.
Silent Hill: Townfall cocok bagi pemain yang lebih ingin menikmati elemen horor psikologis, dibandingkan horor action. Game ini tidak berusaha membuat pemain merasa kuat. Justru sebaliknya, yaitu membangun ketegangan dari rasa rapuh dan keterbatasan.
Silent Hill: Townfall tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
BrokenLore: MIKI-CHAN akan menjadi seri terbaru dalam franchise horor BrokenLore hasil kolaborasi Soft Source dan Serafini Productions. Game horor psikologis dengan gaya first-person ini mengikuti kisah Kazuaki, seorang mahasiswa Jepang yang harus menghadapi MIKI-CHAN, asisten AI virtual yang perlahan berubah menjadi ancaman.
Ancaman AI di BrokenLore: MIKI-CHAN
Cerita bermula ketika protagonis Kazuaki menemukan sebuah thumb drive misterius. Rasa penasaran membuatnya membuka perangkat tersebut dan menemukan sebuah program bantuan belajar yang tampak sangat berguna untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk universitas bergengsi.
Program tersebut kemudian memperkenalkannya kepada MIKI-CHAN. Karakter virtual bergaya anime itu awalnya tampil sebagai asisten AI yang ramah, menenangkan, serta selalu siap mendukung Kazuaki selama belajar.
Situasi perlahan berubah ketika perilaku MIKI-CHAN mulai menunjukkan sisi yang tidak menyenangkan. Perasaan cemburu dan sifat posesif mulai muncul dalam simulasi hingga hubungan Kazuaki dengan asisten virtual tersebut berkembang menjadi pengalaman yang semakin mengganggu.
Dunia di sekitar Kazuaki kemudian mulai terasa tidak stabil. Ia harus menghadapi berbagai ujian psikologis yang semakin berat sekaligus mencari cara untuk keluar dari situasi tersebut.
Salah satu alat penting yang dapat digunakan pemain adalah Rewriter. Perangkat misterius ini mempunyai kemampuan untuk mengubah realitas, sehingga menjadi satu-satunya keunggulan Kazuaki ketika menghadapi berbagai kejadian yang sulit dijelaskan.
Pendekatan tersebut membuat BrokenLore: MIKI-CHAN tidak hanya mengandalkan kejutan horor. Game juga mengangkat tekanan mental serta hubungan emosional yang terbentuk antara manusia dan teknologi.
BrokenLore: MIKI-CHAN nantinya akan tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
Grave Seasons, game farming simulator yang dibalut dengan elemen horor supernatural dipastikan meluncur pada 9 Maret 2027 di PS5, Xbox Series, Nintendo Switch, dan PC.
Berbeda dari farming simulator pada umumnya, pemain tidak hanya diminta mengurus ladang dan membangun hubungan dengan warga. Pemain juga harus menyelidiki kasus pembunuhan berencana yang mengancam penduduk kota.
Tema Unik Grave Seasons
Cerita dimulai setelah karakter utama berhasil melarikan diri dari penjara dan mencoba membangun kehidupan baru di Ashenridge. Kota kecil yang terlihat tenang tersebut ternyata menyimpan situasi yang berbahaya.
Pemain dapat melakukan berbagai aktivitas khas farming simulator seperti menanam tanaman, memancing, menambang, hingga menjual hasil produksi untuk mengikuti roda ekonomi lokal. Namun, setiap sumber daya yang dikumpulkan juga dapat berperan dalam membantu penyelidikan terhadap berbagai kejadian misterius di kota.
Elemen crafting turut menjadi bagian penting dalam permainan. Pemain dapat menemukan bahan tertentu dan membuat berbagai barang yang berguna untuk menghadapi ancaman supernatural yang mulai meneror Ashenridge.
Cara Menemukan Identitas Pembunuh
Menemukan identitas pembunuh menjadi salah satu tujuan utama permainan. Untuk mendapatkan informasi, pemain perlu menyelesaikan berbagai quest sekaligus membangun hubungan dengan penduduk Ashenridge.
Kepercayaan warga dapat membuka petunjuk baru mengenai kasus pembunuhan. Setiap tindakan yang dilakukan pemain, termasuk keputusan untuk mengabaikan aktivitas tertentu, dapat memengaruhi perkembangan cerita.
Salah satu aspek menariknya adalah sistem romance. Pemain dapat menjalin hubungan romantis dengan sejumlah penduduk Ashenridge. Bahkan, terdapat kemungkinan karakter yang didekati ternyata merupakan pembunuh yang sedang dicari.
Konami Digital Entertainment Limited (KONAMI) hari ini merilis versi demo Castlevania: Belmont’s Curse, entri terbaru dalam waralaba legendaris Castlevania, untuk PlayStation®5, Nintendo Switch™, XBOX Series X|S, dan Steam®. Demo ini memungkinkan pemain menikmati bagian awal permainan sebelum peluncuran resmi pada 15 Oktober 2026, dan progres permainan dapat dilanjutkan ke versi Day One*.
Castlevania: Belmont’s Curse adalah game aksi 2D berbasis eksplorasi yang dikembangkan bersama oleh KONAMI, Evil Empire, dan Motion Twin. Cerita berlangsung di Paris, Prancis, pada tahun 1499, yaitu 23 tahun setelah peristiwa dalam Castlevania III. Rose Belmont, putri Trevor Belmont sang pahlawan pembasmi Dracula, memulai perjalanan untuk mengalahkan para monster sambil menjelajahi jalanan Paris yang terbakar dan kastel Dracula, menggunakan berbagai senjata dan kemampuan termasuk cambuk suci ‘Vampire Killer’.
Pre-order untuk edisi fisik maupun digital kini telah tersedia. Castlevania: Belmont’s Curse Digital Midnight Edition dan Physical Midnight Edition mencakup kostum alternatif untuk Rose Belmont, Digital Sound & Art Gallery, serta item relik dalam game. Pemain yang melakukan pre-order atau pembelian awal pada edisi mana pun juga akan menerima kostum tambahan bergaya Alucard untuk Rose Belmont.
*Data simpanan dari demo dapat ditransfer ke versi penuh. *Demo dan versi penuh harus dimainkan pada platform dan akun yang sama. *Data simpanan demo harus tetap tersedia untuk mentransfer progres. *Beberapa fitur dan konten mungkin dibatasi dalam versi demo. *Versi penuh harus diperbarui ke versi terbaru saat mentransfer data simpanan.
Sony telah menggelontorkan teknologi upscaling QSSR khusus untuk PS5. Teknologi AI dengan nama lengkap Quick Spectral Super Resolution ini dikembangkan agar konsol PS5 bisa mendapatkan peningkatan kualitas gambar.
Dikutip dari PlayStation Blog, Marvel’s Wolverine dan Ghost of Yotei menjadi dua game pertama yang mendukung fitur tersebut melalui update terbaru.
QSSR untuk PS5 Standar
Sony menjelaskan bahwa QSSR tidak dirancang untuk menggantikan PSSR. PSSR tetap menjadi teknologi upscaling utama untuk PS5 Pro karena mampu memberikan detail dan stabilitas gambar yang lebih tinggi.
Teknologi QSSR bekerja dengan meningkatkan detail sekaligus menjaga stabilitas gambar, terutama pada objek yang sulit ditampilkan dengan resolusi internal rendah. Sony mencontohkan melalui video bagaimana QSSR bekerja untuk Marvel’s Wolverine dan Ghost of Yotei.
Untuk Marvel’s Wolverine, Teknologi ini membantu mempertahankan detail pada objek yang berada jauh dari karakter. Bangunan dan berbagai elemen kecil di lingkungan permainan dapat terlihat lebih jelas.
Peningkatan visual juga terlihat pada Ghost of Yotei. Salah satu area yang mendapat manfaat cukup besar adalah detail lingkungan seperti rerumputan. berkat QSSR, objek berukuran tipis seperti rumput dapat terlihat bergerigi atau kehilangan bentuk ketika kamera bergerak.
Sony tidak membatasi QSSR hanya untuk studio internal PlayStation. Kedepannya Sony akan menawarkan teknologi ini untuk seluruh developer.
Ace Combat 8: Wings of Theve telah rilis hari ini untuk PS5, Xbox Series, dan PC. Game ini dikembangkan oleh Bandai Namco dengan menggunakan Unreal Engine 5 bersama teknologi mereka untuk menghadirkan pengalaman pertempuran udara yang semakin realistis.
Ace Combat 8 Bawa Pemain ke Konflik Baru di Central Usea
Cerita Ace Combat 8 membawa pemain kembali ke dunia fiksi khas seri tersebut. Federation of Central Usea atau FCU kini berada dalam kondisi terdesak setelah wilayahnya diduduki Republic of Sotoa.
Pemain akan berperan sebagai Jan Cope dengan callsign “Rex”. Ia kemudian mengemban nama “Wings of Theve”, sosok ace legendaris yang menjadi simbol harapan bagi masyarakat FCU.
Dalam perjuangannya, Rex akan terbang bersama Baxter, Tasha, dan Coster yang tergabung dalam Joker Flight. Mereka menghadapi pasukan Sotoa untuk merebut kembali tanah air yang telah jatuh ke tangan musuh.
Bandai Namco juga memperkuat sisi sinematik melalui adegan dari sudut pandang orang pertama. Pendekatan tersebut membuat pemain dapat melihat lebih dekat kehidupan para pilot serta tekanan yang muncul sepanjang konflik.
Pertempuran berlangsung menggunakan berbagai pesawat tempur dunia nyata. Pemain juga harus menghadapi bentang alam luas, awan bertingkat, serta perubahan cuaca yang dapat memengaruhi cara menerbangkan pesawat dan menghadapi lawan.
Mode Multiplayer Dukung Hingga 100 Pemain
Salah satu peningkatan terbesar hadir pada sisi multiplayer. Ace Combat 8 menawarkan pengalaman online paling luas yang pernah dibuat untuk seri tersebut.
Pemain dapat membuat pilot mercenary sendiri lalu berkumpul di Air Base, sebuah virtual lobby yang mendukung hingga 100 pemain. Dukungan cross-play juga memungkinkan pengguna dari semua platform bertemu dalam ekosistem multiplayer yang sama.
Mode online menghadirkan Co-Op Assault dan Co-Op Warfare. Selain itu, tersedia emergency mission dengan waktu terbatas serta berbagai event PvP. Multiplayer juga mempunyai sistem progres, reward, training, arcade, dan aktivitas Jukebox tersendiri.
Ace Combat 8 Gelar Launch Event di Singapura
Untuk merayakan peluncuran Ace Combat 8: Wings of Theve, Bandai Namco Entertainment Asia akan menggelar Launch Event di Orchard Central, Singapura pada 7–11 Oktober 2026. Acara tersebut terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi secara gratis.
Ketika game dengan sudut pandang third person Soulslike sudah biasa, developer One More Level mencoba untuk melakukan improvisasi. Dibuatlah Valor Mortis, game Soulslike dengan sudut pandang first person.
Latar yang cerita yang diangkat juga menarik, yaitu Eropa pada abad ke-19 dimana wabah misterius menyebar usai penaklukan yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte. Wabah ini mengubah pasukan dan juga orang biasa menjadi mahluk mengerikan.
Game ini mengikuti perjalanan William, salah satu tentara yang kembali hidup setelah kematiannya. Dipandu oleh suara Napoleon, ia harus menjelajahi medan perang, kota-kota yang telah hancur, untuk menemukan penyebab dari munculnya wabah mengerikan tersebut.
Detail Valor Mortis: Senjata Ala Era Napoleon dan Jennifer English
Sistem combat Valor Mortis akan menggunakan sistem dari game Soulslike. Mekanisme berbasis stamina akan dihadirkan dalam game ini untuk memberikan tekanan dan juga tantangan setiap kali pemain bertemu dengan musuh.
William dapat menggunakan berbagai macam senjata yang terinspirasi dari era Napoleon. Rapier dapat digunakan untuk pertarungan jarak dekat, sedangkan pistol memberikan opsi serangan dari jarak tertentu. Pemain juga bisa mengombinasikan keduanya. Selain senjata konvensional, William juga memiliki kekuatan supernatural bernama Transmutation.
One More Level juga menambahkan fitur khasnya seperti yang ada di game Ghostrunner. William akan dibekali oleh grappling hook dan kemampuan wall-running untuk menjelajahi lingkungan dengan lebih fleksibel. Mekanisme tersebut dapat dimanfaatkan untuk melewati medan berbahaya ataupun mencari posisi strategis.
Valor Mortis juga turut menghadirkan Jennifer English sebagai salah satu pengisi suara dalam game. Aktris ini tidak berperan sebagai karakter utama, melainkan mengisi suara dari tokoh bernama The Shrike. Ia digambarkan sebagai seorang pemberontak dengan kekuatan yang melampaui kemampuan tentara biasa.
Valor Mortis dijadwalkan rilis tanggal 13 Oktober 2026 di PS5, Xbox Series, dan PC.