Konami Digital Entertainment Limited(KONAMI) mengumumkan eFootball™ Kick-Off!, game baru di serial eFootball™, akan dirilis tanggal 4 Juni 2026 dengan harga Rp430.000, eksklusif untuk Nintendo Switch™ 2.
Dapat dinikmati oleh para penggemar PES dan juga bagi pendatang baru di genre game sepak bola, pembelian lebih awal versi digital akan mendapat bonus pemain legendaris Lionel Messi sebagai pemain yang bisa dimainkan di mode “World Tour”.
*Tanggal mulai pre-order akan diumumkan di website resmi dalam waktu dekat.
Fitur & Mode Game
World Tour: Dirikan tim klubmu sendiri dan bertanding di turnamen di seluruh dunia. Menangkan pertandingan untuk mendapatkan pemain dari musuh yang dikalahkan atau gunakan mata uang yang diperoleh dari bermain untuk membeli pemain-pemain legendaris. Buat tim kamu yang original dan taklukkan dunia.
International Cup: Kompetisi internasional paling bergengsi datang kembali setiap empat tahun. Kendalikan tim nasional kesukaanmu dan bertanding di pentas sepak bola termegah, di mana sejarah diciptakan dan juara dunia ditentukan.
* *Mode International Cup akan tersedia tanpa biaya tambahan di update setelah game dirilis.
Beginner-Friendly Modes: Masuk ke lapangan dan mainkan mode sepak bola yang lebih santai, seperti 6 lawan 6, yang didesain untuk gameplay lebih cepat dan penuh aksi jadi banyak peluang untuk mencetak gol. Sistem Ranking mengevaluasi performa pemain dan berubah berdasarkan keahlian pemain.
Local & Online Play: Main kapan saja, di mana saja, sendirian atau lawan teman via wireless lokal, atau lawan pemain dari seluruh dunia lewat kompetisi online.
Tales of Berseria Remastered Nintendo Switch menjadi salah satu cara terbaik bagi pemain baru untuk menikmati salah satu JRPG paling emosional dalam seri Tales. Dirilis pertama kali pada 2016, game ini kembali hadir melalui proyek Tales of Series 30th Anniversary Remastered Project, membawa kisah kelam Velvet Crowe ke konsol modern termasuk Nintendo Switch.
Walau bukan remake besar-besaran, versi remaster ini menghadirkan berbagai peningkatan kualitas hidup (quality-of-life improvements), kumpulan DLC, serta beberapa fitur baru yang membuat petualangan terasa lebih nyaman dimainkan di era sekarang. Terima kasih kepada Bandai Namco yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa memainkan Tales of Berseria Remastered di Nintendo Switch.
Namun, apakah Tales of Berseria Remastered masih layak dimainkan di tahun 2026, khususnya di Nintendo Switch? Mari kita bahas.
Kisah Balas Dendam Jadi Inti Cerita
Salah satu kekuatan terbesar Tales of Berseria Remastered adalah ceritanya. Berlatar di dunia Desolation, game ini menggambarkan sebuah wilayah kepulauan yang berada di bawah kekuasaan Holy Empire of Midgand. Dunia ini tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga makhluk spiritual bernama Malakim serta monster yang dikenal sebagai Daemon.
Ancaman utama datang dari penyakit misterius bernama Daemonblight, yang mengubah manusia menjadi monster. Untuk melawan ancaman tersebut, organisasi religius bernama Abbey dibentuk dan dipimpin oleh seorang tokoh karismatik bernama Artorius. Di sinilah cerita mulai bergerak.
Pemain mengikuti perjalanan Velvet Crowe, seorang gadis yang hidupnya hancur setelah tragedi mengerikan yang melibatkan Artorius dan kematian adiknya. Peristiwa tersebut mengubah Velvet menjadi makhluk setengah daemon bernama Therion, sekaligus memicu satu tujuan dalam hidupnya: balas dendam.
Berbeda dengan banyak JRPG lain yang menampilkan pahlawan penuh harapan, Velvet adalah karakter anti-hero. Ia digerakkan oleh kemarahan, trauma, dan obsesi untuk menghancurkan orang yang menghancurkan hidupnya.
Tema inilah yang membuat Tales of Berseria terasa jauh lebih dewasa dibanding banyak game lain dalam seri Tales.
Kamu yang belum paham awal dari semua itu terjadi bisa menyaksikan bagaimana saya mencoba game ini selama 1 jam dan bagaimana awal rasa dendam itu muncul pada video gameplay di bawah ini:
Karakter dan Dialog yang Hidup
Selain Velvet, kekuatan cerita Berseria juga datang dari para karakter pendampingnya.
Sepanjang perjalanan, Velvet bertemu berbagai karakter unik seperti, Magilou yang eksentrik dan penuh humor, Eleanor yang memiliki moral kuat, Rokurou sang pendekar pedang dan Eizen yang misterius.
Interaksi antar karakter ini diperkuat oleh fitur khas seri Tales yaitu Skits, percakapan ringan antar anggota party yang muncul sepanjang permainan.
Skits tidak hanya memberikan humor di tengah cerita gelap, tetapi juga memperdalam hubungan antar karakter. Hal ini membuat perjalanan Velvet terasa lebih manusiawi, bahkan ketika ia berada di titik paling kelam dalam hidupnya.
Berkat penulisan cerita yang kuat, Tales of Berseria sering dianggap sebagai salah satu narasi terbaik dalam sejarah seri Tales.
Sistem Combat Cepat yang Fleksibel
Dari sisi gameplay, Tales of Berseria menggunakan sistem Liberation Linear Motion Battle System, sistem pertarungan real-time khas seri Tales.
Pertarungan berlangsung di arena kecil di mana pemain dapat, menggabungkan serangan menjadi combo panjang, menggunakan berbagai Artes dan menyesuaikan pola serangan sesuai musuh. Salah satu mekanik penting adalah Soul Gauge, yang menentukan berapa banyak serangan yang bisa dirangkai dalam satu combo.
Jika pemain berhasil menyerang kelemahan musuh, membuat musuh stun, dan melakukan serangan strategis, Soul Gauge akan bertambah.
Namun, jika pemain asal menekan tombol tanpa strategi, jumlah Soul bisa berkurang. Secara teori sistem ini menciptakan pertarungan yang taktis dan dinamis.
Velvet Terlalu Overpowered
Karakter utama Velvet Crowe memiliki kemampuan khusus bernama Break Soul yang membuatnya sangat kuat.
Kemampuan ini, memberikan damage besar, membuat Velvet sementara kebal, memulihkan HP, membersihkan status negatif. Akibatnya, Velvet sering kali terasa terlalu dominan dibanding anggota party lainnya.
Bahkan pada tingkat kesulitan tinggi, pemain sering kali dapat mengalahkan musuh hanya dengan memanfaatkan kemampuan Velvet tanpa perlu banyak strategi. Hal ini membuat variasi gameplay sedikit berkurang karena pemain jarang merasa perlu mengganti karakter.
Eksplorasi Dunia dan Aktivitas Tambahan
Di luar pertarungan, Tales of Berseria juga menawarkan berbagai sistem tambahan yang cukup menarik.
Beberapa fitur sampingan yang bisa dilakukan antara lain:
Cooking System
Sistem memasak memungkinkan karakter membuat makanan yang memberikan bonus selama petualangan.
Setiap karakter memiliki kemampuan memasak yang berbeda sehingga pemain didorong untuk terus menggunakannya.
Expedition System
Pemain juga dapat mengirim kapal bajak laut untuk melakukan ekspedisi laut.
Dalam sistem ini pemain bisa mendapatkan, item langka, area laut baru dan harta karun. Ekspedisi ini berlangsung sekitar 30 menit waktu permainan dan bisa menjadi sumber resource tambahan.
Selain itu ada juga koleksi Katz Spirits, peti rahasia, dan berbagai kosmetik yang bisa dikumpulkan sepanjang perjalanan.
Fitur Baru di Versi Remastered
Walau tidak menghadirkan peningkatan grafis besar, Tales of Berseria Remastered membawa banyak peningkatan kualitas hidup.
Beberapa fitur baru antara lain:
Semua DLC dari versi original tersedia
Grade Shop langsung tersedia sejak awal permainan
Kecepatan bergerak karakter meningkat 20%
Fast travel tersedia lebih awal
Auto-save system
Battle retry setelah kalah
Toggle enemy encounter
Objective marker yang lebih jelas
Subtitle saat battle
Perubahan ini membuat pengalaman bermain terasa jauh lebih nyaman, terutama bagi pemain baru.
Performa di Nintendo Switch
Di Nintendo Switch, game ini berjalan pada 1080p saat docked, 720p saat handheld. Frame rate ditargetkan 30 FPS, meski bisa sedikit turun dalam beberapa situasi tertentu.
Secara visual, game ini tetap mempertahankan gaya anime cel-shaded yang menjadi ciri khas seri Tales. Walau tidak terlalu berbeda dari versi original, tampilannya masih cukup menarik untuk ukuran JRPG klasik.
Namun beberapa pemain mungkin merasa desain dungeon dan lingkungan terasa agak sederhana dibanding game modern.
Audio dan Voice Acting Tetap Solid
Salah satu hal yang tetap kuat di remaster ini adalah voice acting. Dialog karakter disuarakan dengan sangat baik, terutama Velvet yang emosinya terasa sangat kuat sepanjang cerita.
Musik garapan Motoi Sakuraba juga tetap mempertahankan nuansa dramatis dengan kombinasi piano emosional dan orkestrasi pertempuran yang mantap. Soundtrack ini berhasil memperkuat tema cerita yang penuh konflik.
Kesimpulan
Tales of Berseria Remastered Nintendo Switch mungkin bukan remaster yang paling ambisius dari segi teknis, tetapi ia tetap berhasil menghadirkan kembali salah satu cerita terbaik dalam sejarah JRPG modern.
Cerita yang kuat, karakter yang berkesan, dan berbagai peningkatan kualitas hidup membuat game ini masih sangat layak dimainkan, terutama bagi pemain yang belum pernah mencobanya sebelumnya.
Meski sistem combat memiliki masalah keseimbangan karakter dan desain dungeon terasa sederhana, pengalaman keseluruhan tetap memuaskan berkat narasi yang emosional dan dunia yang menarik untuk dijelajahi.
Bagi gamer Nintendo Switch yang menyukai JRPG dengan cerita gelap dan karakter kompleks, Tales of Berseria Remastered adalah petualangan yang tidak boleh dilewatkan.
Tales of Berseria Remastered kini telah tersedia di Nintendo Switch, PS5, dan Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
Sony punya rencana besar dengan game eksklusif PlayStation, namun rencana ini mungkin kurang enak didengar. Menurut informasi yang dipublikasikan oleh Bloomberg, Sony disebut tidak lagi berencana untuk merilis game PS5 dengan skala besar ke PC, hanya kategori tertentu saja. Sementara game flagship akan tetap berada di PS5.
Perubahan strategi ini, menurut sumber yang memahami rencana internal perusahaan, menandai arah baru Sony untuk kembali menekankan eksklusivitas konsol setelah sekitar enam tahun bereksperimen dengan rilis lintas platform. Namun, kebijakan ini tidak berlaku merata untuk semua judul, karena beberapa game online masih tetap dirilis multiplatform.
Masa Depan Game Eksklusif Playstation: Tetap di PS5
Menurut sumber yang berbicara kepada Bloomberg, game online seperti Marathon dan Marvel Tokon tetap akan di platform selain PST. Sebaliknya, game singleplayer yang merupakan tombak utama PlayStation akan dipertahankan sebagai eksklusif PS5. Contohnya adalah Ghost of Yotei serta Saros yang akan tetap di PS5.
Meski begitu, masih ada beberapa pengecualian. Dua game yang dibuat pengembang eksternal yaitu Death Stranding 2 dan Kena: Scars of Kosmora, kabarnya masih dijadwalkan rilis di PC tahun ini.
Alasan Sony Mengubah Arah
Ada beberapa faktor yang diduga mendorong munculnya rencana ini. Pertama, game PlayStation yang diporting ke PC tidak menunjukkan performa penjualan. Kedua, ada kekhawatiran internal bahwa membawa terlalu banyak judul ke PC bisa menggerus citra dari konsol PlayStation, dan pada akhirnya menekan penjualan PS5 serta penerusnya.
Kebijakan Sony ini sangat kontras dengan yang dilakukan oleh Microsoft. Xbox sejak 2018 justru mendorong perilisan PC game mereka di PC. Bahkan belakangan juga mulai membawa beberapa judul game flagshipnya ke PS5 setelah jeda tertentu.
Selain itu, ada pula pertimbangan mengenai konsol Xbox masa depan dirumorkan semakin dekat ke ekosistem Windows. Beberapa eksekutif Sony rupanya merasa tidak nyaman membayangkan game flagship mereka berjalan di perangkat pesaing.
Seminggu setelah peluncurannya, Capcom mengumumkan jumlah penjualan dari Resident Evil Requiem. Seperti yang sudah diprediksi, game ke-9 dari seri Resident Evil ini berhasil membuat Capcom sumringah, dengan angka penjualan melampaui angka 5 juta unit dalam waktu kurang dari satu minggu.
Meski tidak disebutkan, jumlah tersebut kemungkinan adalah jumlah total dari penjualan di semua platform dari seluruh dunia. Tidak hanya itu, angka tersebut juga menjadikan Resident Evil Requiem sebagai peluncuran terbesar dalam sejarah franchise Resident Evil.
Resident Evil 4 Remake yang rilis pada 2023, membutuhkan hampir empat bulan untuk mencapai jumlah yang sama dengan yang ditorehkan oleh Resident Evil Requiem. Sebelumnya lagi, Resident Evil Village memerlukan waktu lima bulan.
Resident Evil 7 yang rilis pada Februari 2017 juga berhasil menorehkan angka fantastis yaitu 3 juta unit penjualan dalam beberapa minggu setelah peluncuran, namun belum bisa mencapai apa yang diperoleh Resident Evil Requiem.
Pencapaian yang didapatkan oleh game ini memang tercermin dari kualitas yang disajikan. Hasil review kami untuk Resident Evil Requiem adalah bintang lima yang solid, karena formula yang menggabungkan dua gaya ke dalam satu game berjalan dengan sangat baik.
Awal tahun adalah waktunya bagi Sharp untuk meluncurkan lini baru dari smartphone AQUOS. Dirilis pada pertengahan Desember 2025 kemarin, AQUOS Sense10 adalah penerus dari Sense9 yang hadir di Indonesia pada awal 2025.
Sharp menempatkan smartphone di kelas mid-range. Secara desain, smartphone ini masih mengikuti konsep yang diterapkan pada pendahulunya, yaitu desain yang minimalis, sederhana, dan compact. Untuk performa smartphone ini mendapatkan peningkatan dari dapur pacu dan juga fotografi.
Berikut adalah review Sharp AQUOS Sense10 berdasarkan pengalaman yang kami rasakan selama menggunakannya sebagai daily driver.
Unboxing
Berikut adalah isi boks penjualan dari AQUOS Sense10
Unit AQUS Sense10
Softcase transparan
Kabel USB Type-C untuk pengisian/transfer data
Kepala charger
Buku panduan dan kartu garansi
Earphone
Kehadiran earphone dalam boks penjualan sudah merupakan tradisi dari Sharp. Mulai dari Sense8 sampai Sense10, selalu ada earphone gratis. Kelebihan ini perlu diapresiasi mengingat sudah jarang smartphone dari brand lain yang memberikan bonus seperti ini, meski smartphonenya sendiri sudah tidak lagi memiliki audio jack.
Dari Segi Desain
Dari sisi desain, Sharp masih mempertahankan karakter khasnya. Sama seperti pendahulunya Sense9, AQUOS sense10 masih mengusung Miyake Design dengan tampilannya terlihat ringan, namun tetap solid. Dimensi smartphone ini adalah 149 x 73 x 8,9 mm dengan bobot hanya 166 gram. Ukurannya yang kecil membuat smartphone mudah diselipkan ke dalam saku baju maupun celana, ditambah terasa compact ketika digenggam di tangan. Mulai dari Sense8 sampai dengan Sense10, ukurannya yang kecil adalah nilai plus untuk kami.
Bodi smartphone terbuat dari aluminium, memberikan kesan premium dan elegan. Sharp menempatkan tombol volume dan daya pada sisi kanan. Tombol daya juga merangkap sebagai sensor fingerprint. Ketika brand lain sudah meletakkaan sistem tersebut di layar, Sharp masih memilih gaya lama.
Untuk bagian kiri smartphone terdapat slot untuk SIM card dan microSD. Sama seperti seri sebelumnya, kalian tidak memerlukan kunci atau SIM ejector untuk slot ini, melainkan cukup dengan dicongkel dengan kuku dan ditarik keluar. Meski tidak ribet, cara ini bisa berpotensi untuk membuat lecet bodi jika kalian tidak hati-hati. Namun, perlu dicatat AQUOS sense10 hanya memiliki satu slot untuk SIM card.
Untuk bagian bawah smartphone terdapat microphone, port USB Type-C, serta lubang speaker. Sama seperti Sense9, AQUOS Sense10 sudah tidak lagi memiliki port audio jack.
Pada bagian belakang, terdapat dua kamera yang diletakkan di dalam modul berbentuk sedikit oval. Kalian juga bisa melihat Logo AQUOS yang ditempatkan di dalam modul kamera tersebut. Untuk ketahanan, smartphone ini sudah mengantongi sertifikat IP68 untuk ketahanan terhadap debu dan air, serta MIL-STD-810H menunjukkan ketahanan dari jatuh hingga ketinggian sekitar 1,2 meter.
Beralih ke bagian layar, AQUOS Sense10 menggunakan panel OLED LTPO IGZO 6,1 inci dengan resolusi 2340 x 1080 piksel. Layar ini mampu mencapai kecerahan puncak 2.000 nits dan mendukung refresh rate hingga 240Hz. Kombinasi ini menghasilkan kualitas visual yang halus, cocok untuk menonton video, bermain game, atau sekedar browsing. Kalian juga tidak perlu khawatir dengan pantulan cahaya matahari ketika menggunakan smartphone ini di luar ruangan.
Pada bagian layar juga terdapat kamera depan. Seri ini sama seperti Sense9 sudah menggunakan desain punch hole, tidak lagi menggunakan waterdrop seperti seri Sense8.
Dari Segi Performa
Beralih ke bagian performa, AQUOS sense10 menggunakan chipset Snapdragon 7s Gen 3, yang merupakan chipset kelas menengah dari Qualcomm. Chipset ini membawa CPU octa-core dan sudah terintegrasi dengan GPU Adreno 810. Ditambah dengan memori RAM 8GB, plus Virtual RAM hingga 8GB. Untuk penyimpanan internal adalah 256GB yang masih bisa diperluas dengan kartu microSD.
Menurut klaim Sharp, kombinasi jeroan yang dimiliki oleh AQUOS Sense10 ini memberikan peningkatan performa yang lebih baik dibandingkan AQUOS sense9. Kekuatan CPU meningkat sekitar 20 persen, GPU menjadi 40 persen, ditambah kemampuan proses AI yang bisa meningkat hingga 30 persen.
Kami menguji performa smartphone ini dengan aplikasi AnTuTu. Skor yang tercatat adalah lebih dari 1 juta ribu, membuktikan bahwa smartphone ini sudah sangat mumpuni dari segi performa dan bisa digunakan untuk multitasking.
AQUOS sense10 sudah menggunakan sistem operasi Android 15. Sharp juga menambahkan berbagai macam fitur AI ke dalam smartphone. Ada fitur Noise Reduction yang sangat membantu untuk kegiatan sehari-hari, karena mampu mengenali dan memisahkan suara manusia dengan kebisingan di latar secara otomatis. Ada juga fitur AI Phone Assistant yang bisa menjawab panggilan secara otomatis sekaligus mentranskripsi panggilan tidak terjawab menjadi teks.
Untuk sisi daya, smartphone ini dibekali baterai dengan kapasitas 5.000 mAh. Meski tidak sebesar baterai dari smartphone brand lain di level yang sama, AQUOS Sense10 telah dilengkapi dengan teknologi smart energy-saving dan intelligent charge. Kehadiran dua fitur ini membuat smartphone dapat bertahan hingga dua hari untuk penggunaan normal. Untuk mempercepat pengisian daya, Sharp juga sudah mengimplementasi fitur fast charging 37W.
Kami juga mencoba memainkan game dengan menggunakan smartphone ini. Selama penggunaan selama kurang lebih 1 jam, dan digunakan untuk memainkan game seperti Free Fire dan Resident Evil Survival Unit, daya hanya berkurang sekitar 11 persen. Untuk game yang enteng dan casual, smartphone ini sudah bisa memfasilitasi, meski layarnya agak kecil.
Review AQUOS Sense10 Si Jago Kamera
Pada sektor kamera, AQUOS Sense10 membawa dua kamera belakang. Kamera utama adalah 50,3MP dengan lensa wide 23mm dan aperture f/1.9, mendukung dual pixel PDAF, dan sudah dilengkapi Optical Image Stabilization (OIS). Kamera kedua adalah 50,3MP dengan lensa ultrawide 13mm, aperture f/2.2, serta dukungan PDAF. Untuk kamera depan, Sense10 memiliki kamera 32MP yang bisa digunakan untuk selfie dan video call.
Keberadaan OIS pada kamera sangat berguna untuk pengambilan foto. Fitur ini bisa membantu mengurangi efek guncangan tangan, untuk meminimalisir efek blur pada gambar yang dihasilkan. Tidak hanya untuk foto, untuk pengambilan video juga sudah dibekali dengan Electronic Image Stabiliation (EIS) untuk meredam guncangan. Jadi kalian tidak perlu terlalu cemas hasil video yang goyang.
Nilai plus untuk bagian kamera Sense10 adalah teknologi ProPix yang sudah ditingkatkan. Melalui teknologi, kamera smartphone mampu menangkap detail yang halus pada setiap pengambilan gambar.
Secara keseluruhan, hasil gambar yang dihasilkan oleh kamera AQUOS sense10 sudah baik. Kualitas gambar yang dihasilkan untuk objek yang tidak bergerank dan berada dalam kondisi cahaya terang sangat baik, dengan warna yang muncul. Kemampuan kamera smartphone ini juga masih bisa bekerja dengan baik meski dipakai untuk memotret pada tempat yang minim cahaya.
Sharp juga menyediakan berbagai macam mode pemotretan, mulai dari photo dengan efek Bokehnya, Night Mode untuk pengambilan gambar di malam hari, dan juga mode manual untuk pengguna yang lebih suka mengutak-atik kameranya sebelum mulai mengambil gambar.
Tidak ketinggalan fitur AI seperti Shadow Removal untuk menghilangkan bayangan dari objek yang difoto, serta Glass Reflection Reduction yang membantu mengurangi pantulan pada hasil foto di kaca.
Kesimpulan Review Sharp AQUOS Sense10
Kesimpulan kami untuk review Sharp AQUOS Sense10 adalah sebagai kelas menengah, smartphone ini menawarkan keseimbangan antara desain dan performanya. Namun secara keseluruhan, seri ini tidak terlalu berbeda dengan seri sebelumnya.
Desain smartphone yang kecil, ringan, dan compact selalu menjadi daya tarik untuk kami. Untuk performa, dapur pacu yang menggunakan Snapdragon 7s Gen 3 dan baterai 5.000 mAh sudah cukup untuk mendukung dalam kegiatan sehari-hari, termasuk bermain game yang ringan. Sektor kamera juga menjadi daya tarik berkat konfigurasi dual kamera 50MP yang sudah dilengkapi dengan OIS. Hasil foto yang dihasilkan tajam, kaya warna, dan stabil, sudah cukup bagi pengguna yang memiliki hobi mobile photography.
Sharp AQUOS sense10 sudah tersedia di Indonesia dan dibanderol dengan harga Rp6.699.000.
PR Capcom selama ini untuk Resident Evil adalah soal genrenya. Kadang game ini fokus ke survival horror seperti Resident Evil 7. Kadang juga terlalu asyik dengan elemen action seperti Resident Evil 6 sampai kehilangan identitas aslinya.
Inilah yang membuat Capcom mencoba formula baru di Resident Evil Requiem. Mereka mencoba merangkul dua kubu sekaligus, yaitu gamer yang menyukai elemen horor dan ingin dikejutkan, dan gamer yang suka dengan gameplay action over-the-top.
Hasilnya? Pada beberapa jam pertama kami merasakan rasa takut yang tidak sudah lama tidak disajikan oleh franchise ini. Lalu beberapa jam setelah, kami merasa puas bisa menghancurkan zombie dengan senjata api kelas berat atau tendangan dengan kekuatan yang bisa menghancurkan kepala.
Begitulah pengalaman yang kami dapatkan dan rasakan selama memainkan versi review Resident Evil Requiem di PC. Untuk detailnya, kamu bisa membaca review berikut.
Petualangan Dimulai Dari Grace Ashcroft
Cerita Resident Evil Requiem dibuka dengan cerita Grace Ashcroft, seorang agen FBI muda ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematian misterius yang menimpa para survivor dari tragedi Raccoon City. Lebih ironis lagi, ibu dari Grace yaitu Alyssa Ashcroft juga merupakan salah satu korbannya.
Pembukaan game dimulai dari Grace yang ditugaskan untuk menyelidiki hotel tempat kejadian perkara. Pada lokasi ini, pemain akan diperkenalkan dengan gaya bermain dari Grace. Secara default, game akan menggunakan sudut pandang first-person, yang jika membuat pemain tidak nyaman bisa diganti menjadi third-person dalam menu option.
Tentunya adalah pilihan pemain untuk menentukan sudut pandang mana yang diinginkan. Namun menurut kami, gaya first-person adalah yang paling sesuai digunakan untuk Grace. Sebabnya gaya tersebut sudah sesuai dengan karakteristiknya. Grace meski adalah bagian dari FBI, tetapi bukan petugas lapangan. Ia juga bukan seorang super-soldier atau polisi veteran. Ia justru seseorang yang rapuh dan gampang panik, meski pada akhirnya pemain bisa melihat evolusi Grace menjadi lebih bisa diandalkan.
Kembali ke cerita, Grace dijebak oleh antagonis utama, Victor Gideon, dan akhirnya diculik dan dipenjara di Rhodes Hill Chronic Care Center. Klinik ini bisa dibilang adalah replika dari Spencer Mansion dari Resident Evil pertama. Fans game ini pasti bisa merasakan atmosfir yang sama ketika menjelajah, mulai dari lorong berliku, pintu-pintu yang terkunci, dan juga pastinya zombie dimana-mana.
Bagian Grace adalah bagian dari elemen survival horror untuk Resident Evil Requiem. Stealth adalah sahabat utama pemain karena begitu lemahnya Grace. Healthnya gampang tergerus, pergerakannya lambat, senjata yang tidak efektif, mau tidak mau pemain harus mengandalkan stealth untuk menghindar dari zombie.
Baru kali ini kami juga merasakan betapa terbatasnya slot di inventory yang memaksa pemain untuk menguasai sistem manajemen yang baik. Kami sering kali bolak-balik ke safe point hanya karena inventory sudah tidak muat. Rutinitas ini juga berbahaya dan memakan waktu, karena tidak semua zombie yang menghalangi jalan bisa dimatikan demi menghemat peluru.
Grace juga akan mendapatkan mekanik terunik yang pernah kami temukan di seri Resident Evil, yaitu darah. Menggunakan alat bernama Blood Collector, Grace bisa menyedot plasma darah dari mereka yang terinfeksi. Darah ini lalu digunakan sebagai bahan crafting untuk membuat medkit, peluru, sampai dengan membuat senjata bernama Hemolytic Injector.
Hemolytic injector akan membuat elemen stealth Grace naik level. Anggap saja senjata ini bisa digunakan untuk stealth kill. Grace akan menusukkan alatnya ke tulang belakang zombie, lalu tubuh target akan menggelembung dan meledak dengan efek gore yang memuaskan. Tidak hanya itu, darah dan organ zombie yang tercecer di lantai dan dinding tidak menghilang. Sebuah detail kecil yang menurut kami membuat game menjadi lebih imersif.
Hemolytic Injector juga bisa digunakan untuk menyuntik zombie yang sudah tewas. Kenapa? Karena zombie di Resident Evil Requiem memiliki kebiasaan untuk hidup kembali dan bermutasi menjadi monster yang lebih mengerikan, Blister Head.
Kembalinya Zombie
Setelah berhadapan dengan keluarga Baker dan jamur di Resident Evil 7, werewolf di Resident Evil Village, dan Ganado di Resident Evil 4 Remake, Resident Evil Requiem akan kembali membawa zombie ke dalam game. Kejutannya adalah zombie di game ini tidak lagi seperti zombie klasik yang hanya bisa melenguh sambil menyeret kakinya.
Zombie di Resident Evil Requiem didesain untuk menjadi lebih menyeramkan. Mereka masih memiliki jejak dari pemikirannya dulu ketika masih manusia, membuat mereka bisa berbicara atau masih melakukan rutinitas yang dulu dilakukan. Misalnya ada zombie yang selalu mematikan lampu karena ingatannya dulu sebagai pelayan. Ada zombie koki yang masih mencoba untuk memasak, zombie penyanyi yang masih bisa bernyanyi (Ini varian yang paling menyeramkan), sampai dengan zombie yang benci dengan suara keras.
Kami senang zombie klasik bisa kembali ke panggung sebagai musuh di Resident Evil Requiem. Namun, developer sepertinya terlalu terobsesi dengan zombie sampai melupakan menambahkan monster yang lain ke dalam. Hanya satu cara untuk menemukan monster jenis lain yaitu dalam boss fight. Misalnya monster gendut yang muncul dalam video promosi bagian Leon, dan ini hanya salah satunya saja.
Leon S. Kennedy, Si Paman Pecinta Action
Ketika pemain berpindah menjadi Leon S. Kennedy, Resident Evil Requiem seakan mengalami perubahan. Elemen horor hilang, diganti menjadi elemen action. Sudut pandang Leon secara default adalah third-person yang sudah sangat sesuai dengan gaya bermainnya. Kami merasa seperti kembali memainkan Resident Evil 4 Remake, tapi dengan Leon yang sudah lebih tua dengan beragam gaya bertarung baru.
Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi. Semua zombie yang muncul bisa dihabisi dengan efektif dan brutal oleh Leon. Jika Grace mengandalkan pisau bisa rusak dan crafting dengan darah, Leon akan dipersenjatai oleh kapak yang tidak bisa hancur, melainkan hanya aus dan bisa diasah kembali. Jika Grace hanya mengandalkan handgun, Leon akan ditawari oleh beragam jenis senjata, mulai dari shotgun, hingga sniper rifle.
Rasa over-the-top Resident Evil Requiem tidak berhenti hanya sampai di situ. Ada momen dimana Leon akan diberi kesempatan untuk menggunakan chainsaw, senjata di Resident Evil 4 Remake yang hanya bisa digunakan oleh Doctor Salvador, sekarang bisa dipakai oleh Leon. Ketika menggunakan senjata ini, Leon juga bisa melakukan execution ala film splatter movie yang super sadis tapi memuaskan.
Leon juga diberikan kemampuan untuk mengambil dan melempar senjata yang jatuh. Misalnya jika menjatuhkan senjata kapak dari zombie yang membawanya, senjata ini bisa dilempar oleh Leon untuk memberikan extra damage.
Leon juga bisa mendapatkan mata uang atau currency dari setiap kali ia membunuh zombie. Mata uang ini lalu bisa dibelanjakan untuk membeli upgrade senjata, amunisi tambahan, bahkan body armour. Fitur ini mengingatkan kami dengan Dino Crisis 2.
Daya tarik lainnya dari Leon selain gameplay dan cutscene yang bombastis, adalah hak spesial untuk menjelajahi kembali Raccoon City. Untuk pemain yang sudah memainkan Resident Evil 2 dan 3, mengunjungi kembali kota ini akan menjadi nostalgia yang menarik. Apalagi ketika Leon mendatangi kantor Raccoon City Police Department.
Kondisi gedung yang nyaris runtuh dengan beberapa ornamen ikonik yang masih utuh, membuat kami kembali teringat dulu ketika memainkan Resident Evil 2. Apalagi ada banyak easter egg yang sengaja disembunyikan oleh Capcom, menunggu untuk ditemukan oleh fans Resident Evil sejati.
Semakin jauh pemain menjalani cerita Resident Evil Requiem, akan semakin terasa pula segmen mana yang lebih dominan. Meski Grace dan Leon sama-sama sudah memiliki porsi sendiri, kami tetap merasa jika Leonlah yang menjadi anak emas. Meski begitu, usaha developer untuk menyajikan elemen survivor horror dalam cerita Grace juga wajib diacungi jempol.
Puzzle Jadi Sederhana
Semakin modern game Resident Evil, semakin sederhana pula puzzlenya. Analogi pantas disematkan ke Resident Evil Requiem. Puzzle di game ini hampir semua jawabannya selalu disodorkan kepada pemain, tidak perlu sampai garuk-garuk kepala lagi untuk bisa memecahkannya.
Salah satu puzzle yang obvious adalah ketikan menemukan boks cooler berisi organ tubuh. Box ini memiliki kunci yang rumit, namun ketika akhirnya menemukan kertas berisi petunjuknya, puzzle ini bisa diselesaikan dengan mudah. Cukup dengan mengikuti petunjuk yang juga secara obvious dijelaskan runutan cara penyelesaiannya di kertas tersebut.
Intinya puzzle di Resident Evil Requiem tidak lagi ditujukan untuk mengetes kemampuan otak dan kesabaran pemain, melainkan hanya selingan ringan saja.
Resident Evil Requiem Dari Segi Teknis
Kami memainkan versi review Resident Evil Requiem di PC dengan spesifikasi CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB. Setting grafis yang kami pakai adalah normal-high dengan menggunakan upscaling DLSS 4.5 diset ke performance. Beberapa fitur Ray-Tracing juga kami aktifkan, meski tidak tidak maksimal.
Hasilnya kami bisa memainkan game dengan stabil di 60FPS. Grafis dan visual tetap smooth dan masih tetap enak untuk dilihat. Selama memainkan game juga tidak pernah ada kendala teknis seperti crash. Menurut kami versi PC Resident Evil Requiem sudah dioptimalisasi dengan baik, dan akan semakin baik kualitasnya jika dimainkan di PC high end. Bahkan jika dilihat dari spesifikasi PC yang tertera di Steam, game ini sebetulnya bisa dimainkan di PC mid.
Kesimpulan Review Resident Evil Requiem
Kesimpulan kami untuk review Resident Evil Requiem adalah game ini terasa seperti dua game berbeda yang dijadikan satu. Game pertama adalah survival horror yang mencekam dengan gameplay condong ke stealth, dan karakter utama yang tidak berdaya. Sedangkan game kedua adalah game action yang tidak pernah membosankan, dan penuh dengan momen bombastis serta one-liner dari karakter utamanya.
Kombinasi keduanya membuat Resident Evil Requiem memiliki rasa yang agak berbeda dengan game Resident Evil yang lain. Dari segi grafis dan visual, game ini juga tampil dengan sempurna tanpa cela dari segi teknis. Resident Evil Requiem telah menetapkan standar baru yang bisa menjadi patokan untuk game berikutnya, sekaligus harus dilewati.
Apakah formula ini berhasil? Untuk kami jelas berhasil, karena kami puas dengan yang disajikan oleh game ini. Kecuali mungkin jika kamu adalah gamer tipe purist yang hanya menginginkan satu genre yang dominan, maka Resident Evil Requiem mungkin akan mengecewakanmu.
Resident Evil Requiem sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
Bos baru Assassin’s Creed, Jean Guesdon telah mengkonfirmasi rumor yang selama ini beredar yaitu adanya Black Flag Resynced.
Dalam keterangan resmi di blog Assassin’s Creed, Guesdon menyinggung soal kabar angin mengenai game tersebut. Ia juga meminta fans untuk melihat cakrawala, dimana kedua pernyataan ini berhubungan dengan navigasi kapal dan merupakan elemen utama di Assassin’s Creed Black Flag. Jadi jika kamu masih bertanya-tanya apakah Black Flag remake betul-betul ada, kamu telah mendapatkan jawaban resminya.
Informasi Selain Black Flag Resynced
Selain berbicara tentang Assassin’s Creed Black Flag Resynced, Guesdon yang baru menjabat sebagai pimpinan baru Assassin’s Creed di studio Vantage juga mengungkap proyek-proyek lain yang sedang dikembangkan oleh timnya.
Ia memastikan bahwa Assassin’s Creed Shadows kini memasuki tahap akhirnya. Artinya, pembaruan setelah ini akan lebih kecil dan tidak sesering sebelumnya karena tim pengembang mulai berpindah ke proyek lain.
Nama Codename Hexe juga ikut muncul. Guesdon menyatakan dirinya telah mengambil alih posisi Creative Director yang baru saja kosong. Tidak banyak update yang ia bagikan, selain meminta fans Assassasin’s Creed untuk bisa lebih bersabar.
“Kami minta kesabarannya, karena kami masih memerlukan waktu untuk mewujudkan visi ambisius ini, dan itu berarti kami akan diam lebih lama,” Ujarnya.
Lalu ada Codename Invictus yang dikembangkan oleh tim veteran For Honor. Guesdon juga mengakui bahwa pada game ini timnya akan melakukan pendekatan baru dengan elemen multiplayer.
Ubisoft juga menyiapkan update 60fps untuk Assassin’s Creed Unity versi 2014. Update ini akan meluncur pada tanggal 5 Maret 2026. Lalu Guesdon juga membicarakan tentang film live-action Assassin’s Creed yang akan tayang di Netflix, dimana dalam waktu dekat akan ada informasi baru mengenainya.
Todak, brand gaming asal Malaysia yang dikenal lewat kiprahnya di ranah esports, mengumumkan fase baru.
Kini Todak tidak lagi hanya diposisikan sebagai tim kompetitif, tetapi sebagai platform esports lifestyle performance. Perubahan ini juga dibarengi keputusan menghentikan operasional tim esports dan membubarkan roster kompetitif efektif per 1 Januari 2026.
Dalam dua tahun terakhir, Todak juga telah memperluas ekspansi ke Indonesia melalui PT TODAK Nusantara Group yang dipimpin Shinta W. Dhanuwardoyo sebagai Co-Founder dan Presiden Direktur.
Visi Todak 2.0
Lewat visi baru ini, Todak ingin menggabungkan performa kompetitif, identitas lifestyle, dan kekuatan komunitas ke dalam satu ekosistem yang lebih terstruktur. Fokusnya bergeser dari sekadar mengelola tim menjadi membangun fondasi jangka panjang lewat inovasi produk, kemitraan strategis, serta penguatan komunitas di level regional dan global.
Founder Todak, Azlan Zainal mengatakan: “Todak dibangun dari semangat kompetitif dan komunitas. Memasuki era 2.0, kami tidak meninggalkan esports, kami memperluasnya,”
Sebagai bagian dari rebranding, Todak memperkenalkan identitas visual baru lewat elemen “Battle Scar” pada sirip logo. Simbol ini merepresentasikan perjalanan Todak, tantangan yang dilalui, hingga pertumbuhan yang terbentuk dari waktu ke waktu.
Todak juga akan berkolaborasi dengan MPL dan MDL Indonesia sebagai official gaming chair & official merchandise partner selama dua musim. Selain itu, akan dibuka juga Todak Academy untuk jalur pendidikan, dari program calon pro-player hingga esports management.
Co-Founder Todak Nusantara Group, Shinta W. Dhanuwardoyo mengatakan: “Keikutsertaan kami di MPL adalah bagian dari strategi jangka panjang TODAK 2.0 untuk tumbuh bersama ekosistem esports Indonesia,”
Todak juga mengumumkan Todak Throne 2.0, kursi gaming performance generasi terbaru dengan opsi warna baru dan edisi kolaborasi khusus MPL. Produk ini ditargetkan rilis awal Q2 2026.
Kabar baik untuk para penggemar tactical RPG di Asia Tenggara. Square Enix resmi mengumumkan bahwa Triangle Strategy versi fisik untuk PlayStation®5 akan meluncur pada 29 Mei 2026 di wilayah Asia Tenggara.
Sementara itu, versi digital untuk PS5 sudah tersedia sekarang, bersama dengan versi di Nintendo Switch™, Xbox Series X|S, Steam®, Meta Quest, serta Microsoft Store di Windows.
Bagi kolektor game fisik atau pemain yang menunggu versi boxed edition PS5, inilah momen yang ditunggu-tunggu.
Tactical RPG Penuh Strategi dan Pilihan Moral Berat
Dikembangkan oleh tim di balik Octopath Traveler dan Bravely Default, TRIANGLE STRATEGY menawarkan pengalaman tactical RPG klasik dengan sentuhan modern.
Game ini mengajak pemain menentukan nasib tiga kerajaan besar yang tengah berkonflik:
Glenbrook
Aesfrost
Hyzante
Pemain akan berperan sebagai Serenoa Wolffort bersama rekan-rekannya, termasuk Prince Roland, Princess Frederica Aesfrost, dan Benedict selaku steward House Wolffort.
Kekuatan utama game ini terletak pada cerita bercabang yang dipengaruhi oleh pilihan moral pemain. Setiap keputusan tidak hanya berdampak pada jalannya cerita, tetapi juga menentukan arah politik dan masa depan kerajaan.
Bagi penggemar strategi yang menyukai konflik diplomasi, intrik politik, dan konsekuensi nyata dari setiap pilihan, TRIANGLE STRATEGY adalah sajian yang matang dan serius.
Sistem Pertarungan Turn-Based Strategis
TRIANGLE STRATEGY menghadirkan sistem pertarungan turn-based berbasis grid yang menuntut perhitungan matang. Posisi karakter, elevasi medan, hingga kombinasi kemampuan antar-unit menjadi faktor penentu kemenangan.
Game ini cocok baik untuk veteran tactical RPG maupun pemain baru yang ingin masuk ke genre ini dengan pendekatan yang lebih modern dan user-friendly.
Peningkatan Visual di PlayStation 5
Versi PlayStation®5 hadir dengan dukungan resolusi hingga 4K dan frame rate yang lebih tinggi untuk pengalaman bermain yang lebih halus dan tajam.
Tentu saja, output resolusi tinggi membutuhkan perangkat display yang kompatibel.
Dengan peningkatan ini, gaya visual HD-2D khas Team Asano terlihat semakin detail dan hidup di layar besar.
Detail Produk TRIANGLE STRATEGY Versi PS5
Platform: PlayStation®5 (Juga tersedia di Nintendo Switch™, Xbox Series X|S, Steam®, Meta Quest, dan Windows)
Tanggal Rilis:
PS5 Digital Edition: Sudah tersedia
PS5 Physical Edition (Asia Tenggara): 29 Mei 2026
Jumlah Pemain: 1 orang Bahasa:
Voice: Jepang & Inggris
Subtitle: Jepang & Inggris
Developer: ARTDINK & SQUARE ENIX Team Asano Composer: Akira Senju
Kekuatan Cerita yang Jadi Daya Tarik Utama
Berbeda dengan banyak tactical RPG lain yang fokus pada gameplay semata, TRIANGLE STRATEGY menempatkan narasi dan pilihan moral sebagai pusat pengalaman bermain.
Setiap keputusan dalam sistem “Scales of Conviction” memengaruhi alur cerita dan hubungan antar karakter. Tidak ada pilihan yang benar atau salah secara mutlak—hanya konsekuensi.
Pendekatan ini membuat replay value game sangat tinggi, karena jalur cerita bisa berbeda tergantung keputusan pemain.
Rilis fisik PlayStation®5 untuk Triangle Strategy di Asia Tenggara pada 29 Mei 2026 menjadi kabar menggembirakan bagi penggemar tactical RPG dan kolektor game boxed edition.
Dengan cerita bercabang yang dalam, pertarungan turn-based strategis, serta peningkatan visual di PS5, game ini tetap relevan dan layak dimainkan bahkan beberapa tahun setelah perilisan awalnya.
Nexus dan Playwith Korea telah mengumumkan tanggal rilis untuk Seal M on Cross, yaitu pada tanggal 19 Maret 2026. Game MMORPG ini akan hadir sebagai bagian dari ekosistem Nexus CROSS dan tersedia secara global, menghilangkan batas server regional.
Konsep utama yang ditawarkan Seal M on Cross adalah sistem kompetisi lintas negara tanpa pemisahan server berdasarkan wilayah. Artinya, leaderboard, achievement, dan progression tidak lagi terbatas pada komunitas lokal.
Melalui model ini, setiap aktivitas yang dilakukan pemain akan punya dampak yang lebih luas. Menaklukkan dungeon, menyelesaikan misi, sampai mengalahkan field boss kini berpotensi mengubah posisi pemain di leaderboard dunia.
Nuansa Klasik Seal Tetap Terjaga
Meski membawa skala kompetisi yang lebih besar, Seal M on Cross tetap mempertahankan identitas khas franchise Seal. Dunia Shiltz yang penuh warna, karakter yang unik, visual kartun yang ringan, serta sistem combo battle tetap hadir sebagai fondasi pengalaman bermain.
Gameplay tetap menjadi prioritas utama. Seluruh konten bisa dinikmati melalui permainan murni, tanpa kewajiban terlibat dengan fitur blockchain. Elemen Web3 ditempatkan sebagai bonus tambahan melalui sistem tokenomik ringan. Aktivitas pemain akan menghasilkan Shiltz Crystal, yang bagi pengguna tertentu bisa dikonversi menjadi token utilitas SHILTZx untuk dipakai di ekosistem CROSS.
Untuk detail dari Seal M on Cross bisa dilihat di sini.