Sony Interactive Entertainment telah mengumumkan adanya acara State of Play yang akan ditayangkan besok pagi di YouTube dan Twitch. Dalam acara berdurasi 30 menit ini, Sony akan mengumumkan setidaknya 20 game di acara ini untuk PS5 dan PS VR2.
Pengumuman State of Play ini mendapatkan berbagai respon dari netizen. Kebanyakan berharap bahwa Sony akan mengumumkan game yang “layak” di acara ini. Salah satunya adalah sekuel dari Bloodborne atau setidaknya versi remaster dari game tersebut. Ada juga yang berharap akan ada kejelasan dari Sony dan developer Firewalk Studio tentang masa depan dari Concord.
Riot Games mengumumkan Linkin Park akan menjadi musisi yang membawakan anthem League of Legends World Championship 2024. Judul dari lagu ini adalah “Heavy Is The Crown.” Video musik “Heavy Is The Crown” akan dapat dinikmati oleh penggemar di YouTube atau platform musik lainnya mulai hari Selasa, 24 September pukul 22:00 WIB.
“Heavy Is The Crown” merupakan single terbaru Linkin Park berjudul “The Emptiness Machine” yang menjadi lagu pertama mereka dalam tujuh tahun terakhir. Album Linkin Park ke-8 yang berjudul “From Zero” akan dirilis pada 15 November 2024 melalui Warner Records.
“Menjadi partner Riot untuk membawakan anthem ini kepada komunitas global League of Legends adalah pengalaman yang luar biasa bagi kami,” kata Mike Shinoda, personel Linkin Park.
“Lagu ini benar-benar menjadi salah satu bagian penting dari era baru kami, memadukan suara khas kami dengan energi yang segar. Kami sangat bersemangat agar para penggemar dan pemain juga bisa merasakannya,” Katanya.
“Worlds anthem adalah salah satu momen musik yang paling dinantikan oleh para pemain League setiap tahunnya dan telah menjadi sorotan besar dalam dunia musik global,” ucap Maria Egan, Global Head of Music, Riot Games.
“Saat band ini memasuki babak baru yang seru, kami merasa terhormat untuk bisa bersama dengan mereka untuk anthem tahun ini. Lirik ‘Heavy Is The Crown’ begitu sempurna menggambarkan narasi Worlds tahun ini dan sangat cocok untuk tema video musik kami,” Tambahnya.
League of Legends World Championship 2024 akan dimulai dari tanggal 25 September 2024 sampai dengan 2 November 2024. Turnamen eSport ini akan berlangsung diberbagai kota di Eropa, dengan Inggris sebagai lokasi untuk Grand Finalnya.
Pesepakbola CR7 alias Cristiano Ronaldo telah membuat heboh dunia game! Beberapa hari yang lalu, akun media sosial CR7 telah membagikan teaser foto dan juga video yang mempromosikan game fighting Fatal Fury: City of the Wolves.
Teaser ini tidak menjelaskan informasi apapun, hanya caption bertuliskan “Sesuatu yang menakjubkan sedang dibuat”. Netizen yang kebingungan melihat postingan Ronaldo ini membuat berbagai macam teori. Ada yang mengatakan bahwa Ronaldo akan menjadi salah satu karakter di Fatal Fury: City of the Wolves. Ada juga menganggap Ronaldo hanya mengiklankan saja.
Selain dengan SNK dan Fatal Fury, Ronaldo juga berkolaborasi dengan game sepak bola UFL. Ia bahkan disebut merupakan salah satu investor di game tersebut.
Fatal Fury: City of the Wolves rencananya akan dirilis pada tanggal 24 April 2025 di PS4, PS5, Xbox Series, dan PC.
Bandai Namco telah merilis trailer baru untuk Sword Art Online: Fractured Daydream. Video ini menjelaskan mode dalam game yang dibagi menjadi dua: Story Mode yang adalah singleplayer dan Online Mode yang merupakan mode multiplayer.
Dalam Story Mode, pemain bisa mengikuti cerita yang terjadi di Sword Art Online: Fractured Daydream. Pemain juga dapat membuka karakter-karakter baru di dalam mode ini yang nantinya bisa digunakan dalam Online Mode.
Pada Online Mode, pemain bisa bergabung ke dalam tim yang berisi tiga pemain lain. Nantinya tim akan akan bergabung dengan 20 pemain lainnya untuk menyelesaikan quest atau mengalahkan raid boss. Ada juga mode Free Roam dimana pemain bisa dengan bebas menjelajahi wilayah tertentu. Karakter yang tersedia di game ini akan berasal dari semua franchise Sword Art Online dimana masing-masing akan memiliki gaya bermain yang berbeda.
Sword Art Online: Fractured Daydream tersedia pada tanggal 3 Oktober 2024 untuk PS5, Xbox Series, dan Nintendo Switch. Untuk versi PC (Steam) menyusul pada tanggal 4 Oktober 2024 untuk PC melalui Steam.
Bandai Namco telah mengumumkan versi mobile Naruto: Ultimate Ninja Storm. Game ini akan dirilis pada tanggal 25 September 2024 di perangkat android dan iOS.
Naruto: Ultimate Ninja Storm merupakan game pertama untuk franchise ini. Dirilis pertama kali di tahun 2008 di PS3, Naruto: Ultimate Ninja Storm berhasil menarik perhatian gamer dan juga fans Naruto. Karena kepopulerannya, Naruto: Ultimate Ninja Storm sudah dirilis ulang di berbagai platform, termasuk mobile.
Karena didesain untuk mobile, Naruto: Ultimate Ninja Storm sudah dilengkapi oleh fitur yang mendukung platform tersebut. Seperti penyederhanaan sistem control, interface, dan juga sistem autosave.
Square Enix dan FuturLab telah mengumumkan DLC baru untuk PowerWash Simulator. Dalam DLC baru ini pemain akan bisa mengakses rawa yang merupakan tempat tinggal Shrek. Kolaborasi antara PowerWash Simulator dengna Shrek akan tersedia pada tanggal 10 Oktober 2024.
PowerWash Simulator merupakan game simulasi dimana pemain akan menjadi seorang pembersih. Tugas pemain adalah membersihkan objek-objek yang kotor, mulai dari yang sederhana seperti mobil sampai yang kompleks seperti rumah. PowerWash Simulator juga sering berkolaborasi dengan brand dan pop culture lain. Hasilnya adalah DLC seperti Shrek, Spongebob, dan masih banyak lagi.
Gamer zaman now akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mencoba game Dead Rising pertama dengan dukungan teknologi kekinian. Dead Rising Deluxe Remaster merupakan versi remaster dari game Dead Rising pertama yang rilis di tahun 2006.
Saya sendiri termasuk dalam kategori gamer yang belum pernah memainkan game Dead Rising pertama. Perkenalan saya dengan franchise ini justru diawali dengan Dead Rising 2. Kehadiran Dead Rising Deluxe Remaster ini adalah momen bagi saya untuk merasakan bagaimana awal dari franchise ini dimulai.
Setelah memainkan versi review Dead Rising Deluxe Remaster di PC yang diberikan oleh Capcom, saya mengakui bahwa tampilan grafis dan performa game ini sudah menjadi lebih baik. Tapi ada juga beberapa hal yang menghilang dan membuat saya merasa agak aneh.
Frank West dan Willamette
Dalam Dead Rising Deluxe Remaster, pemain akan mengikuti petualangan Frank West, seorang jurnalis yang ditugaskan untuk menyelidiki peristiwa misterius yang terjadi di Willamette. Terbang ke kota tersebut dengan harapan mendapatkan berita yang sensasional, Frank justru menemukan bahwa Willamette telah dikarantina oleh militer dan warganya telah berubah menjadi zombie.
Bersama pilot helikopternya, Frank mendarat di Willamette Parkview Mall, sebuah mall besar yang juga merupakan tempat perlindungan dari sekelompok survivor. Frank akhirnya terjun ke dalam aksi yang ia cari sambil menyelamatkan korban yang terjebak. Ia juga akan mengungkap kisah kelam yang mengancam kota tersebut.
Sebagai seorang reporter, Frank West lebih mementingkan foto yang ia dapatkan dibandingkan menolong orang lain. Saat orang-orang mengalami kematian yang mengerikan akibat serangan zombie, Frank justru dengan santai mengambil foto-fotonya. Seiring jalannya cerita akan ada perkembangan karakter dari Frank, dimana ia akhirnya mau mengulurkan tangannya untuk membantu.
Dari segi grafis, Dead Rising Deluxe Remaster terlihat lebih mengkilap dibandingkan game aslinya. Capcom membangun game ini dengan menggunakan RE Engine, teknologi yang sama dengan yang digunakan dalam semua remake Resident Evil. Hasilnya adalah peningkatan visual yang sangat signifikan dan animasi wajah karakter yang jauh lebih baik. Kombinasi ini membuat adegan cutscene menjadi lebih imersif.
Tidak hanya itu, Capcom juga memberikan banyak NPC di dalam game yang awalnya “bisu” di game originalnya, sekarang memiliki voice actor. Sayangnya semua pengisi suara di dalam game original Dead Rising tidak lagi dipakai dalam versi remaster.
Gameplay yang Sudah Diremaster
Dalam Dead Rising Deluxe Remaster, perubahan yang paling krusial terletak pada pengalaman bermain yang lebih baik. Salah satu fitur baru yang menarik adalah kemampuan untuk bergerak sambil mengarahkan senjata. Pemain juga sekarang bisa menjawab panggilan radio dan memberikan perintah kepada NPC yang mengikutinya cukup dengan menekan tombol analog. Meski kesannya kecil, perubahan ini memudahkan pemain dari segi mobilitas.
Untuk mengalahkan zombie dan para psikopat, Frank bisa memakai berbagai benda yang ada disekitarnya. Mulai dari menghantam kepala dengan tongkat baseball, membelah dengan Katana, atau melempar boks. Frank juga memiliki berbagai macam keterampilan atau skill yang bisa dipelajari setiap ia naik level.
Pengumpulan poin experience yang didapatkan oleh Frank ketika menjepret foto dengan kameranya di versi Remaster juga dipercepat. Hal ini memungkinkan Frank dapat menjadi kuat dengan sangat cepat meski masih di hari awal.
Daya tahan senjata yang dulu tidak jelas, kini ditampilkan dengan jelas. Sistem navigasi di dalam game juga jauh lebih baik. Panah yang dulunya samar, kini digantikan oleh kompas dan juga indikator jarak. Fitur ini sangat membantu pemain dalam memahami lokasi yang menjadi tujuannya. Misalnya menjadi penanda untuk lantai yang berbeda atau memberi tahu jika tujuan sudah dekat.
Tiga Mode Permainan yang Bisa Dipilih
Sama seperti game originalnya, Dead Rising Deluxe Remaster memiliki tiga mode. Untuk mode yang pertama adalah 72 Hours, dimana Frank harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan survivor, mengalahkan para psikopat, serta menyelediki apa yang sedang terjadi di kota Willamette. Salah satu fitur baru yang diimpelementasi di mode ini adalah time skip atau mempercepat waktu. Fitur ini bisa diakses ketika berada di tempat save. Capcom juga mengimplementasikan fitur Autosave yang mempermudah pemain untuk mengulang game ketika membuat kesalahan.
Selain itu Dead Rising Deluxe Remaster juga memiliki mode Overtime. Mode ini merupakan kelanjutan dari 72 Hours dan bisa diakses jika pemain menyelesaikan syarat-syarat tertentu. Mode terakhir adalah Infinity dimana pemain harus bertahan hidup selama mungkin di Willamette Mall dengan persediaan yang terus menipis.
Fitur yang Hilang Dari Dead Rising Deluxe Remaster
Terlepas dari beberapa peningkatan yang diimplementasikan ke dalam game, gameplay di game Dead Rising Deluxe Remake menurut saya agak aneh dan bisa membuat bosan pemainnya dengan cepat. Salah satu penyebabnya adalah sudut pandang pemain yang agak terhalang oleh posisi Frank. Kondisi ini membuat saya merasa kurang nyaman ketika memainkan gamenya.
Selain itu, Dead Rising Deluxe Remaster juga kehilangan fitur combo weapon. Saya mengerti jika fitur ini memang tidak ada di game originalnya juga karena baru diimplementasi di seri-seri selanjutnya. Bagi gamer yang sudah memainkan Dead Rising 2 dan 3 seperti saya, ketiadaan fitur ini sayangnya justru menghilangkan salah satu daya tarik utamanya.
Tidak adanya combo weapon juga membuat variasi combat di dalam game menjadi satu dimensi. Pemain hanya membutuhkan setidaknya 3 atau 4 jenis senjata “overpower” untuk mengalahkan semua musuh di game dengan cepat.
Dead Rising Deluxe Remaster Dari Segi Teknis
Dari segi performa, Dead Rising Deluxe Remastered berjalan dengan lancar di PC saya. Spesifikasi yang saya gunakan adalah CPU Ryzen 7 2700X, VGA GeForce RTX 4070 Ti, RAM 32GB dan SSD. Selama bermain tidak ada penurunan FPS secara signifikan, walaupun Ketika Frank berada ditempat yang dipenuhi oleh zombie. Namun, tekstur bagian rambut beberapa karakter di versi remake seperti Isabela terlihat terlalu glossy sehingga terkesan tidak natural. Sensitivitas kursor mouse untuk Dead Rising Deluxe Remaster juga tergolong responsif, sehingga nyaman digunakan bagi pemain yang memakai mouse dan keyboard.
Kesimpulan
Dead Rising Deluxe Remaster berhasil mempertahankan pengalaman ikonik dari game aslinya sambil menyertakan beberapa penyesuaian modern yang sangat diperlukan dan disambut baik oleh para pemain. Namun, faktor otentik ini justru membuat saya merasa agak hampa ketika memainkan Dead Rising Deluxe Remaster. Sebabnya adalah fitur-fitur yang saya sukai ternyata hanya ada di seri Dead Rising setelahnya.
Jadi untuk proyek remaster selanjutnya, mungkin Capcom harus mempertimbangkan meremaster Dead Rising 2 jika menginginkan hasil yang lebih baik.
KADOKAWA Game Linkage Inc. baru saja mengumumkan kehadiran Shinonome Abyss: The Maiden Exorcist, sebuah game roguelike aksi bertema horor, yang dijadwalkan hadir pada musim gugur 2024. Game ini tidak hanya akan diluncurkan di Steam, tetapi juga akan tersedia untuk platform Nintendo Switch.
Sebagai bagian dari proyek indie antara KADOKAWA Game Linkage dan ABC Animation, Shinonome Abyss menawarkan pengalaman permainan yang intens dan strategis di mana pemain berperan sebagai Yono, seorang miko (pendeta wanita) yang tengah mencari kakaknya yang hilang. Dalam perjalanan ini, Yono harus menghadapi berbagai macam makhluk gaib (mononoke) di dalam sebuah mansion yang terus berubah setiap kali dia memasukinya.
Strategi Unik Berbasis Suara
Dalam game ini, suara menjadi elemen kunci untuk bertahan hidup. Pemain dapat mendeteksi jenis mononoke berdasarkan suara-suara yang berasal dari ruangan tetangga, atau menggunakan suaranya sendiri untuk memancing mononoke ke dalam jebakan. Mansion yang berubah-ubah di setiap sesi permainan menawarkan beragam tantangan, dan terkadang, memanfaatkan mononoke untuk keuntungan pemain juga bisa menjadi strategi yang efektif.
Pengisi Suara Utama: Akiho Suzumoto
Karakter utama, Yono, akan disuarakan oleh aktris terkenal Akiho Suzumoto, yang telah dikenal melalui karyanya di anime dan game seperti The iDOLM@STER SHINY COLORS. Suzumoto mengungkapkan kegembiraannya untuk dapat memerankan Yono, menggambarkan karakternya sebagai seorang miko yang tenang namun memiliki semangat yang berkobar di dalam dirinya.
Coba Game Ini di Tokyo Game Show 2024!
Bagi yang tertarik, Shinonome Abyss: The Maiden Exorcist akan tersedia untuk dicoba di Tokyo Game Show 2024 di Indie Corner. Pengunjung yang mencoba game ini juga berkesempatan mendapatkan stiker edisi terbatas.
Informasi lebih lanjut mengenai game ini, termasuk trailer terbaru dan halaman toko digital, dapat ditemukan di halaman resmi Steam dan akun X (Twitter) mereka. Jangan lewatkan siaran langsung pada tanggal 29 September 2024 yang akan menampilkan Akiho Suzumoto, pengisi suara Yono, dalam acara khusus yang membahas lebih dalam tentang game ini.
Metaphor: ReFantazio, RPG terbaru dari Studio Zero ATLUS, siap diluncurkan pada 11 Oktober 2024 untuk Xbox Series X|S, Windows, PlayStation 4, PlayStation 5, dan Steam. Game ini menggabungkan elemen terbaik dari pertarungan berbasis giliran dengan gameplay yang lebih dinamis, menawarkan pengalaman unik dalam menjelajahi dungeon.
Sistem Pertarungan yang Disempurnakan
Metaphor: ReFantazio memperkenalkan dua sistem pertarungan baru:
Fast Battle – memungkinkan pemain menyerang musuh secara real-time di dunia terbuka.
Squad Battle – pertarungan taktis berbasis giliran dengan hingga empat karakter dalam satu tim.
Pemain dapat memilih karakter dari tujuh opsi yang tersedia sepanjang permainan, memanfaatkan kekuatan mereka untuk menghadapi berbagai musuh yang menantang. Setiap karakter memiliki Archetype dengan kemampuan unik, yang memungkinkan pemain mengendalikan arus pertempuran dan mengeksploitasi kelemahan lawan.
Fitur Utama
Fae Sight: Dengan bantuan peri Gallica, pemain dapat mendeteksi level ancaman musuh dan memilih gaya pertarungan yang tepat.
Fast Battles: Mengatasi musuh level rendah dengan cepat.
Squad Battles: Menangani musuh kuat dengan lebih strategis melalui pertarungan berbasis giliran.
Dungeon yang Menantang
Dalam perjalanan untuk menjadi raja Euchronia, pemain harus menjelajahi labirin berbahaya yang penuh dengan monster, rintangan, serta harta karun tersembunyi.
Demo dengan Yoko Taro
Sebuah demo Metaphor: ReFantazio yang dimainkan oleh Yoko Taro, bersama pengisi suara Lina, kini tersedia. Taro memberikan pandangan unik sebagai desainer game tentang gameplay yang penuh tantangan ini.
Metaphor: ReFantazio akan diluncurkan pada 11 Oktober 2024. Pre-order untuk edisi fisik dan Atlus Brand 35th Anniversary Edition sudah dibuka.
Salah satu kabar gembira untuk saya yang adalah seorang gamer PC, yaitu ketika AKHIRNYA Square Enix merilis versi PC dari Final Fantasy XVI. Akhirnya saya bisa merasakan game yang mencuri perhatian di tahun 2023. Mencuri perhatian yang saya maksud adalah perhatian yang positif dan juga negatif.
Kebetulan Playcubic mendapatkan versi review Final Fantasy XVI dari Square Enix, dan sayalah gamer PC beruntung yang memainkannya. Secara konten dan fitur, tidak ada hal baru yang ditawarkan di versi porting Final Fantasy XVI. Pemain hanya mendapatkan pilihan untuk membeli standard edition yang berisi base game atau complete edition yang memiliki tambahan bonus DLC. Kalian bisa membeli DLCnya secara terpisah.
Tapi dari segi grafis dan visual, banyak hal yang bisa dilakukan untuk membuat game ini menjadi lebih memanjakan mata. Berikut adalah review Final Fantasy XVI versi PC:
Cerita ala Game of Thrones
Dari segi cerita, Final Fantasy XVI terinspirasi dari karya high fantasy seperti Game of Thrones, dimana cerita di dalam game menyuguhkan konflik dan drama di dunia Valisthea. Ketika wabah blight menyebar ke seluruh penjuru, kerajaan-kerajaan di Valisthea saling berperang untuk memperebutkan sumber daya yang tersisa. Salah satu sumber daya ini adalah Mother Crystal, formasi kristal raksasa yang menjadi sumber utama sihir di dunia ini.
Dalam pusaran konflik di Valisthea, pemain akan diajak untuk melihatnya dari mata Clive Rosfield. Ia merupakan salah satu pangeran dari Kerajaan Rosaria. Ia adalah seorang Shield atau pelindung setia bagi adiknya, Joshua yang diberkahi oleh kekuatan dari Eikon Phoenix.
Dalam dunia Final Fantasy XVI, seseorang yang memiliki kekuatan Eikon diberi julukan Dominant. Status mereka juga akan berbeda dengan orang-orang biasa. Clive yang merupakan anak pertama namun harus mengalah kepada adiknya juga merupakan bagian drama dari cerita Final Fantasy XVI.
Sebetulnya jika dibedah, lore yang ada di dalam Final Fantasy XVI sangatlah dalam. Untungnya developer dapat menyederhanakan semua itu agar pemain tidak kewalahan. Menurut saya cerita di Final Fantasy XVI adalah salah satu yang terbaik dari franchise Final Fantasy.
Clive diperankan dengan sangat baik oleh Ben Starr. Dalam perjalanan cerita, Clive juga akan mengalami transformasi karakter, namun tanpa menghilangkan identitas dirinya yaitu seseorang yang tangguh dan dapat dipercaya.
Selain Clive, karakter pendukung juga dirancang dengan sangat baik. Jill Warrick, teman masa kecil Clive yang diperankan oleh Susannah Fielding dan merupakan pendamping yang sangat pengertian. Hubungan antara Clive dan Jill merupakan salah satu elemen cerita yang paling mengesankan di game Final Fantasy XVI.
Cidolfus Telamon atau Cid merupakan karakter sidekick yang mencuri perhatian. Diperankan dengan oleh Ralph Ineson, Cid memiliki kharisma yang luar biasa. Karakternya yang likeable membuat banyak orang termasuk Clive mau bergabung dengan kelompok pemberontaknya.
Sidequest Tidak Seperti yang Dikira
Layaknya game RPG, Final Fantasy XVI juga diperkaya dengan sidequest. Memang pada awalnya, misi sampingan ini terasa terlalu sederhana dan kurang menarik. Namun seiring perjalanan cerita, misi-misi yang diberikan dalam sidequest akan berkembang. Beberapa bahkan menjadi bagian penting yang berfungsi untuk menyelesaikan alur cerita kecil di luar cerita utama.
Selain sidequest, pemain juga akan dapat mengakses fitur bounty. Melalui fitur ini pemain dapat memburu monster-monster tangguh, yang menawarkan tantangan dan juga hadiah yang berharga. Misi sampingan ini cocok sebagai pengalihan, atau mempersiapkan Clive untuk menghadapi tantangan selanjutnya di cerita utama.
Musik di Final Fantasy XVI juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Masayoshi Soken yang merupakan otak dari soundtrack Final Fantasy XIV, terjun langsung di Final Fantasy XVI. Hasilnya adalah setiap soundtrack yang diperdengarkan di dalam game betul-betul dapat mengangkat setiap momen yang terjadi. Mulai dari adegan emosional antara Clive dan Jill hingga pertempuran epik antar Eikon.
Combat yang Cepat dan Penuh Aksi
Combat adalah yang membedakan Final Fantasy XVI dengan seri lainnya. Game ini memperkenalkan sistem pertarungan yang fokus pada action, tanpa ada elemen turn-based.
Combat di Final Fantasy XVI sangat bergantung kepada refleks pemain. Clive memiliki beragam serangan combo disertai oleh sihir. Selain normal attack dan magic, Clive juga memiliki kemampuan khusus yang berhubungan dengan Eikon. Kemampuan ini dapat memberikan damage yang besar sekaligus special effect yang menarik untuk dilihat. Jika dikombinasikan semuanya dengan tepat, pemain bisa membuat Clive dapat mengalahkan musuh dengan gaya yang stylish.
Beberapa tipe musuh dan boss juga memiliki mekanik stagger meter. Saat meteran ini penuh, musuh akan mengalami stun dalam beberapa saat dan memberi kesempatan kepada pemain untuk memberikan kerusakan besar dengan memanfaatkan combo multiplier. Kepiawaian pemain akan sangat diuji dalam momen ini.
Namun untuk mencapai titik penuh dari meteran stagger meter, pemain juga harus berimprovisasi. Jika pemain hanya menekan tombol serangan tanpa perhitungan, pengisian stagger meter akan berjalan lambat. Solusinya adalah dengan menyisipkan serangan sihir di antara serangan jarak dekat pada waktu yang tepat dapat memicu magic bursts. Ini dapat mempercepat pengisian stagger meter. Cara lainnya adalah melakukan dodge tepat waktu memberikan counter attack yang kuat. Bisa juga dengan melakukan parry yang dieksekusi dengan sempurna.
Clive juga dapat mengeluarkan perintah kepada anjing setianya, Torgal. Pemain bisa meminta Torgal untuk meluncurkan musuh ke udara, memungkinkan Clive untuk melanjutkannya dengan serangan udara. Torgal bisa juga digunakan sebagai support untuk menyembuhkan HP milik Clive. Pemain bisa memilih untuk mengatur Torgal secara manual atau otomatis menggunakan aksesoris tertentu. Beberapa aksesori juga tersedia untuk membuat mekanik combat yang lumayan membingungkan menjadi serba otomatis. Semuanya tergantung kepada pilihan pemain.
Combat di Final Fantasy XVI mengingatkan saya dengan game seperti Devil May Cry dan The Witcher. Dari segi inovasi tentu ini sangat bagus. Namun untuk mendukung gameplay ini, ada beberapa hal yang harus “menyesuaikan”. Misalnya pemain hanya bisa mengendalikan Clive dalam combat, sistem levelling yang dibuat lebih sederhana dan linear, lalu bagian equipment juga dibuat sesederhana mungkin.
Pertarungan Boss dan Eikon yang Memukau
Tentunya peak of the combat dari Final Fantasy XVI adalah ketika pemain berhadapan dengan boss atau Eikon. Momen ini selalu menawarkan sesuatu yang baru. Beberapa boss memiliki serangan besar yang disertai dengan tampilan nama serangan di layar. Serangan mematikan ini sering kali disertai dengan hitungan mundur yang memberikan rasa tegang. Agar tidak Clive tidak tewas, pemain harus berusaha menghentikan serangan tersebut sebelum terlambat.
Sama halnya ketika Clive berubah menjadi Eikon dan bertarung melawan Eikon lain. Saya mendefinisikan ini sebagai momen puncak di Final Fantasy XVI. Ketika Eikon bertarung, saya teringat game seperti Godzilla dimana para raksasa bertarung dengan kekuatan luar biasa dan dalam skala besar. Ditambah lagi kemunculan mekanik Quick Time Events (QTE) yang memberikan momen tersebut nuansa sinematik yang tiada duanya.
Elemen RPG yang Hilang
Meski memiliki sistem combat yang luar biasa, Final Fantasy XVI justru kehilangan identitas RPGnya. Status seperti poison, blind, dan lain-lain absen dari game. Efek dari buff dan debuff sangat minim dan mekanisme elemen yang biasanya hadir dalam game RPG justru tidak dieksplorasi secara mendalam di Final Fantasy XVI.
Ketiadaan skill tree juga membuat pengembangan karakter sangat terbatas. Pemain tidak bisa bereksperimen dengan build tertentu, karena game ini hanya memiliki satu build saja. Mungkin bagi gamer RPG yang purist, ini jelas adalah kekurangan yang besar. Namun bagi gamer yang lebih menyukai game yang sederhana tapi seru, justru akan puas dengan yang ditawarkan oleh Final Fantasy XVI.
Visual yang Memanjakan Mata
Bagian inilah yang membedakan Final Fantasy XVI versi PS5 dengan versi PC. Final Fantasy XVI versi PC sudah didukung oleh berbagai jenis teknologi yang dapat memaksimalkan kualitas visual yang ditampilkan.
Banyak opsi grafis yang dimunculkan dalam versi PC Final Fantasy XVI. Mulai opsi yang memperkaya special effect seperti motion blur, vignette, shadow quality, water quality, dan masih banyak lagi. Ada juga opsi yang bisa digunakan untuk memompa performa dari game seperti upscaling (DLSS dan FSR), unlock frame rate, NVIDIA Reflex Low Latency, super resolution, dan lain-lain. Pemain bebas untuk mengatur mana opsi yang akan dinaikkan, diturunkan, atau dimatikan, sesuai dengan performa PC masing-masing.
Menurut saya secara grafis, Final Fantasy XVI sudah termasuk game yang “cantik” meski tanpa memakai teknologi pendukung visual dan grafis. Namun berhubung yang kalian mainkan adalah versi PC, kalian bisa membuat Final Fantasy XVI menjadi lebih cantik. Syaratnya hanya satu, jangan memakai PC kentang untuk memainkan Final Fantasy XVI karena game ini terbilang demanding. Minimal PC kalian sudah harus memakai SSD.
Untuk mereview Final Fantasy XVI di PC, saya menggunakan PC dengan spesifikasi CPU Ryzen 7 2700X, VGA GeForce RTX 4070 Ti, RAM 32GB dan SSD. Untuk setting grafis saya menggunakan high dan memakai upscaling di bagian quality. Hasilnya saya mendapatkan game dengan framerate 60FPS yang stabil. Tapi dalam beberapa momen misalnya di dalam cutscene framerate ini bisa menurun. Saya juga tidak pernah mendapatkan masalah teknis apapun saat bermain.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, versi porting Final Fantasy XVI di PC sudah baik. Berbagai pilihan opsi dalam bagian grafis memberikan pemain kemampuan untuk meningkatkan performa game tersebut ke batas terbaru yang tidak dapat diikuti oleh versi PS5nya.
Jika kalian merasa PC kalian sudah mumpuni, maka saya sarankan untuk mencoba game ini. Final Fantasy XVI merupakan salah satu game porting konsol yang tidak boleh dilewatkan. Asalkan kalian bukanlah tipe gamer RPG purist.