Akhirnya, EA dan Respawn merilis teaser dari Star Wars Jedi: Fallen Order. Namun jika kamu ingin melihat gameplay-nya, kamu harus bersabar sampai weekend ini. EA dan Respawn akan mengunggah trailer perdana dari Star Wars Jedi: Fallen Order pada hari Sabtu, 13 April 6.30 PM waktu GMT (Minggu 14 April 1:30 AM waktu WIB).
Star Wars Jedi: Fallen Order akan masuk dalam timeline Star Wars, tepatnya setelah Star Wars: Episode III-Revenge of the Sith. Karakter utama di game ini adalah seorang padawan yang berhasil selamat dari pemusnahan Jedi oleh Sith. Game ini menggunakan gaya third person dan dibuat dengan Unreal Engine 4. Untuk jadwal rilis, Star Wars Jedi: Fallen Order dijadwalkan rilis tahun ini pada musim liburan nanti.
Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu juga antusias untuk melihat seperti apa game Star Wars buatan EA dan Respawn ini?
Game buatan Gunfire Games dan Perfect World Entertainment, Remnant From the Ashes akhirnya mendapatkan tanggal rilis. Game ini rencananya akan dirilis pada tanggal 20 Agustus 2019 di PS4, Xbox One, dan PC.
Remnant From the Ashes adalah game third person shooter. Game ini bisa dimainkan sendiri atau bersama dengan pemain lain. Menurut keterangan resminya, Remnant Fromthe Ashes bisa dimainkan oleh tiga pemain sekaligus. Cerita dari game ini adalah bumi yang diinvasi oleh monster dari dimensi lain. Selain di bumi, pemain juga bisa menjelajah dimensi lain. Telah dipastikan, setidaknya ada empat dimensi yang bisa didatangi pemain.
Remnant From the Ashes memiliki fitur crafting dan juga upgrade. Benda yang digunakan untuk crafting dan upgrade bisa diperoleh dari membantai monster. Game ini memiliki 100 jenis musuh dengan 20 boss. Setiap boss membutuhkan taktik yang berbeda untuk dikalahkan.
Detail dari Remnant From the Ashes bisa kamu lihat di website resminyadi sini.
Setelah lima tahun berjalan, akhirnya umur Monster Hunter Online akan mencapai akhirnya. Tencent telah mengumumkan jika game tersebut akan resmi ditutup pada tanggal 31 Desember 2019.
Tercantum dalam website resmi mho.qq.com, Tencent menjelaskan alasan kenapa mereka memutuskan untuk menutup Monster Hunter Online. Penutupan ini ternyata karena kerjasama yang dilakukan oleh Tencent dengan pemegang IP Monster Hunter, Capcom telah berakhir. Capcom ternyata tidak memiliki rencana untuk melanjutkan kerjasama tersebut.
Saat Monster Hunter Online diluncurkan pada 2015 lalu, game ini langsung diminati oleh para fans di PC. Ketika Monster Hunter World akhirnya muncul di PC, para fans pun berpindah. Mungkin hal itulah yang menjadi alasan kenapa Capcom akhirnya memutuskan untuk mengakhiri Monster Hunter Online yang dipegang oleh Tencent.
Mulai dari tanggal 9 April, pemain baru sudah tidak bisa registrasi untuk memainkan Monster Hunter Online. Ketika server akhirnya ditutup pada tanggal 31 Desember nanti, Tencent akan menghapus semua akun dan data.
Membicarakan mengenai Steam vs Epic seakan tidak ada habisnya. Selalu ada saja kontroversi baru yang diributkan.
Suara bising ini akhirnya membuat mantan developer Valve, Richard Geldreich angkat bicara di Twitter. Secara blak-blakan ia menyebut jika Steam justru membunuh PC gaming.
Hal utama yang dipermasalahkan oleh Geldreich adalah mengenai pajak penjualan. Menurutnya pajak sebesar 30 persen yang diambil Steam tidak masuk akal. Ia juga menyebut jika Valve bisa berbuat seenaknya kepada developer. “Anda tidak tahu berapa besar uang yang dikeruk oleh Valve dari Steam. Jika diibaratkan, Steam adalah mesin pencetak uang. Apa yang dilakukan oleh Epic adalah memperbaiki semua itu,” tulisnya.
Steam was killing PC gaming. It was a 30% tax on an entire industry. It was unsustainable. You have no idea how profitable Steam was for Valve. It was a virtual printing press. It distorted the entire company. Epic is fixing this for all gamers.
Geldreich juga memprediksi masa depan dari Steam. Menurutnya Epic akan meneruskan trend eksklusif dan Steam akan ketinggalan kereta. “Epic dan launcher lainnya pada akhirnya akan menjadi destinasi game AAA, sedangkan Steam dipenuhi oleh game indie dan game porno,” tulisnya.
I think gamers are going to remain mad for a long time, as these exclusives won’t stop anytime soon. Could last 1 year or more. Steam will be for indy/2nd tier/shovelware/porn, Epic and other launchers for AAA. This seems to be where the market is heading at the moment.
Meski begitu, Geldreich setuju jika Epic Games Store tidak memiliki fitur pendukung sebagus Steam. Menurutnya itu adalah PR yang harus secepatnya diselesaikan oleh Epic.
I’m no longer in the game business. Over 20 years was enough for me. I’m just a gamer now and I’m just telling it exactly like it is. If that hurts don’t shoot the messenger. EGS is currently shit but it’ll get better.
Belum lama ini Epic telah mendapat hak eksklusif untuk Borderlands 3 di PC. Tidak hanya itu, sempat muncul rumor jika Epic akan menjadi platform ekslusif bagi Red Dead Redemption jika akhirnya rilis di PC. Akankah hal itu terjadi?
Sudah menjadi semacam tradisi bagi gamer untuk menebak-nebak era dari Assassin’s Creed terbaru. Biasanya sebelum tebak-tebakan ini muncul, beredar lebih dulu bocoran atau teaser yang tersembunyi.
Masih ingat pada 2014 saat Kotaku membocorkan mengenai Assassin’s Creed Victory aka Assassin’s Creed Syndicate. Hal yang sama berlanjut pada 2016. Muncul bocoran mengenai Assassin’s Creed Origins yang saat itu disebut dengan kode nama Empire. Kesamaan dari dua hal ini adalah semua bocoran ternyata adalah fakta.
Sekarang di 2019, gamer sepertinya sudah tidak sabar untuk mengetahui informasi tentang Assassin’s Creed selanjutnya. Ubisoft sendiri sudah mengumumkan jika tidak ada game Assassin’s Creed baru yang diumumkan pada 2019. Namun, hal tersebut tidak menghentikan para fans untuk mencari tahu sendiri. Hasilnya muncul berbagai macam rumor:
Era Shogun di Jepang
Teori jika game Assassin’s Creed selanjutnya akan berada di Jepang muncul pada tahun 2018. Teori ini diungkap oleh seseorang bernama DoktahManhattan di Reddit. Ia menggunakan screenshot dari Assassin’s Creed sebagai petunjuk.
Seperti yang kamu lihat di atas, screenshot tersebut memperlihatkan 3 lambang. Lambang pertama adalah mata milik Horus dari Assassin’s Creed Origins. Lambang kedua adalah milik Assassin’s Creed Odyssey. Lalu lambang ketiga menurut DoktahManhattan merupakan lambang dari kuil di Jepang. Inilah yang akhirnya ia simpulkan sebagai semacam petunjuk untuk lokasi dari Assassin’s Creed selanjutnya.
Assassin’s Creed Legion di Roma
Pada awal tahun 2019, muncul lagi kabar jika Ubisoft akan menggunakan Roma sebagai lokasi dari Assassin’s Creed yang baru. Tidak hanya itu, bocoran yang diunggah di website Firedenini juga mengungkap tanggal rilis serta gameplay.
Assassin’s Creed Legion akan dirilis pada tahun 2020. Platform yang dituju adalah platform saat ini dan next-gen. Gameplay akan lebih condong ke gaya Assassin’s Creed klasik. Storyline berhubungan dengan politik pada masa pemerintahan Commodus, putra Marcus Aurelius. Karakter utama ada dua, seorang pria dan wanita yang merupakan keturunan langsung dari Assassin’s Creed Odyssey. Detail lebih lanjutnya bisa kamu lihat di sini.
Petualangan Berlanjut di Dunia Viking
Informasi terbaru mengenai era Assassin’s Creed selanjutnya menjadi teaser dalam game The Division 2. Teaser ini muncul dalam bentuk poster.
Informasi ini dipublikasikan oleh seorang YouTuber bernama JorRaptor. Ia membicarakan mengenai poster di The Division 2 yang berada di dalam Potomac Event Center. Poster ini bergambar seorang dewa/dewi yang membawa semacam benda yang mirip dengan Apple of Eden. Apple of Eden merupakan salah satu artifak yang memegang peran penting di dunia Assassin’s Creed. Pada bagian atas poster tertulis Valhalla yang merupakan tempat suci dari mitologi nordik. Game ini diberi kode nama Kingdom.
Apakah poster ini merupakan teaser yang sengaja dibuat oleh Ubisoft? Atau jangan-jangan hanya imajinasi dari yang melihat saja?
Tahun 2020 masih jauh. Artinya rumor mengenai Assassin’s Creed masih akan terus berkembang. Belum tentu Ubisoft akan merealisasikan rumor tersebut. Mungkin saja mereka malah menggunakan tema yang tidak disangka-sangka misalnya masa depan.
Seperti yang sudah diprediksi, Sekiro: Shadows Die Twice bukanlah sembarang game. Dibuat oleh From Software yang juga pencipta dari Dark Souls dan Bloodborne, Sekiro: Shadows Die Twice tidak ditujukan bagi mereka yang berjiwa lemah. Game ini menuntut pemainnya untuk “git gud” jika tidak ingin mati terus-terusan.
Jujur, saya bukanlah game hardcore semacam Dark Souls. Biasanya saya berusaha menghindari game semacam itu. Tapi khusus untuk Sekiro: Shadows Die Twice, ada alasan khusus kenapa saya memutuskan untuk memainkannya.
Saya ingat dengan pernyataan developer From Software pada 2018 dulu jika Sekiro: Shadow Die Twice awalnya akan dibuat menjadi game Tenchu. Dari gameplay yang saya lihat pada trailer juga terdapat unsur gameplay stealth. Saya lalu berpikir jika game ini akan berbeda dengan Dark Souls dan Bloodborne. Belum lagi saya juga kangen dengan game Tenchu. Berdasarkan pemikiran tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk memainkan Sekiro: Shadows Die Twice. Hasilnya ternyata tidak disangka.
Meski sempat putus asa sekaligus kagum akan tingkat kesulitan game ini, entah kenapa saya betah untuk terus memainkannya. Ada beberapa hal yang menurut saya membuat game ini “lebih jinak” dibandingkan Dark Souls dan Bloodborne.
Cerita Sekiro: Shadow Die Twice
Sudah menjadi kebiasaan dari From Software untuk mengutamakan gameplay dari storyline. Meskipun adapun, pemain tidak bisa merasakannya karena sudah frustasi duluan dengan gameplay.
Sekiro: Shadow Die Twice menceritakan kisah dari seorang Shinobi bernama The Wolf. Ia adalah seorang Shinobi yang ditugaskan untuk melindungi seorang anak dengan kemampuan misterius yang dinamai The Divine Heir. Kemampuan unik ini menyebabkan anak tersebut menjadi perhatian banyak pihak yang juga menginginkannya.
Deflect Simulator 2019
Sistem baru yang diperkenalkan oleh From Software di Sekiro: Shadows Die Twice adalah deflect. Sistem ini lalu dikombinasi dengan sistem posture. Jika meteran posture musuh telah habis, pemain bisa memberikan deathblow dengan animasi yang keren.
Saya akan ulas mengenai sistem deflect terlebih dahulu. Sistem ini merupakan core dari game Sekiro: Shadows Die Twice. Jika ingin menyelesaikan game ini, pemain wajib menguasainya. Semua serangan musuh di game Sekiro: Shadows Die Twice dapat di-deflect, kecuali serangan spesial. Ini alasannya kenapa saya menyebut Sekiro: Shadows Die Twice sebagai game deflect simulator 2019.
Block atau deflect? Observasi itu penting
Jika deflect berhasil, ini yang terjadi selanjutnya
Deathblow incoming
Mekanisme dari sistem deflect ini adalah setiap serangan yang berhasil di-deflect akan mengisi meteran dari posture. Jika meteran ini sudah penuh, maka musuh akan stun sejenak. Inilah saatnya bagi pemain untuk memberikan deathblow. Biasanya diperlukan satu deathblow untuk menghabisi musuh biasa, sedangkan untuk bos biasanya dua kali.
Jika tidak memungkinkan untuk deflect, pemain bisa menahan dengan block biasa. Tapi hati-hati, karena block justru membuat meteran posture dari Wolf terisi. Pemain harus paham kapan momen untuk melakukan deflect, menyerang, dan block.
Sistem deflect sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru di game milik From Software. Dark Souls dan Bloodborne juga memiliki sistem ini, namun tidak intens seperti Sekiro: Shadows Die Twice.
Bisa Assassinate Juga
Meski bukan lagi game Tenchu, From Software berbaik hati dengan mengimplementasi skill untuk assassinate. Pemain bisa membunuh musuh dengan sekali serang jika menggunakan skill ini. Saya sering menggunakan assassinate, karena menurut saya inilah cara paling mudah untuk membunuh musuh.
Pancing musuh lalu tusuk!
Mengendap-endap lalu tusuk!
Tidak hanya creep atau musuh biasa saja yang bisa di-assassinate. Bahkan mini boss pun juga bisa. Pastikan target tidak melihat saat didekati dan BOOOM! Buat kaget dengan serangan diam-diam.
Memilih Prostetic dan Arts
Seperti yang sudah kamu lihat di trailer, karakter utama Sekiro: Shadow Die Twice memiliki tangan buatan atau prostetic. Tangan ini memiliki banyak fungsi, bisa digunakan sebagai grapling hook dan juga senjata untuk melempar kunai atau menyabet dengan kapak.
Jenis prostetic yang bisa dipilih
Prostetic memiliki banyak variasi, tapi hanya tiga saja yang bisa di-equip oleh Wolf. Seperti game Mega Man, beberapa boss di Sekiro: Shadow Die Twice memiliki kelemahan dengan prostetic jenis tertentu. Jadi pastikan untuk menggunakan prostetic arm yang sesuai dengan kondisi. Prostetic arm ini juga bisa diupgrade agar kemampuannya meningkat.
Prostetic tipe axe
Prostetic tipe burner
Selain prostetic arm, ada juga arts. Kemampuan ini bisa diperoleh dengan menggunakan experience point. Arts dibagi menjadi dua tipe, yaitu active dan passive. Khusus untuk active, pemain hanya bisa menggunakan dua arts saja. Sedangkan passive bisa digunakan sebanyak apapun. Pada awal permainan hanya ada tiga arts. Sisanya diperoleh dari mengalahkan boss tertentu.
Menu arts dan skill yang bisa di-unlock
Ada kekurangan yang menurut saya cukup vital dari sistem arts. Pemain tidak diizinkan untuk mereset skill yang sudah mereka unlock. Padahal untuk memperoleh experience point tidaklah mudah. Experience point hanya bisa didapat dari membunuh musuh, dan semua musuh di game ini sangat berbahaya, tidak peduli itu creep atau boss. Salah sedikit nyawa melayang plus experience point yang sudah didapat. Ya, experience point akan turun jika pemain terbunuh, dan parahnya lagi tidak bisa didapatkan kembali! Jadi sebisa mungkin jangan sampai mati di game ini.
Selain itu tidak ada penjelasan yang cukup jelas dari skill yang akan diambil. Ibarat kucing dalam karung, pemain sama sekali tidak tahu seperti apa nantinya skill yang diambil karena tidak bisa mencoba dulu. Jika ternyata skillnya tidak sesuai maka habis sudah. Pemain harus farming experience point dari awal lagi.
Resurrection
Ini alasannya kenapa game ini diberi judul Sekiro: Shadow Die Twice. Jika terbunuh, Wolf bisa hidup kembali dengan resurrection. Kemampuan ini memastikan pemain memiliki continue jika mati dalam pertempuran. Namun kemampuan ini juga memiliki dampak negatif terhadap NPC yang berinteraksi dengan Wolf.
Jika mati pilihannya ada dua, die atau resurrect
Jika sering mati, maka Wolf akan menularkan semacam penyakit bernama Dragonrot ke NPC. Pada awalnya saya mengira jika NPC yang terkena Dragonrot akan mati dan berdampak dengan storyline. Namun pada kenyataannya tidak, NPC-NPC tersebut tidak mati.
Efek Dragonrot ini hanya berdampak kepada Unseen Aid. Sedikit penjelasan, Unseen Aid satu-satunya cara agar experience point dan uang tidak berkurang saat Wolf mati. Unseen Aid ini menggunakan presentase, artinya skill tidak muncul setiap saat. Jika NPC terkena Dragonrot maka presentase Unseen Aid menurun. Jadi kesempatan untuk mendapatkan bantuan tersebut juga semakin jarang.
Tidak Ada Atribute yang Detail Seperti Dark Souls
Tidak perlu khawatir untuk mendistribusikan attribute setiap level up di Sekiro: Shadows Die Twice. Tidak seperti Dark Souls, Sekiro: Shadows Die Twice tidak memiliki attribute yang mendetail. Namun, kamu tetap bisa menaikkan limit dari health bar, attack, dan posture.
Prayer Bead untuk health dan posture, Memory untuk attack
Setiap kali melawan mini boss dan boss, pemain akan mendapatkan item khusus. Jika jumlah item yang dibutuhkan sudah sesuai, pemain bisa menggunakannya untuk meningkatkan attribute. Jadi ingat, pastikan untuk membunuh semua mini boss dan boss yang dijumpai.
Kesimpulannya
Saya ulangi lagi, Sekiro: Shadows Die Twice bukan untuk gamer yang mudah memyerah, bukan untuk gamer yang gampang emosi, bukan untuk gamer yang mencari game casual.
Sekiro: Shadows Die Twice adalah game hardcore. Meski memiliki skill assassinate, deflect, resurrection, hal-hal tersebut sama sekali tidak terlalu berdampak dengan tingkat kesulitan Sekiro: Shadows Die Twice yang memang sudah susah. Namun fitur-fitur tersebut berhasil membuat game ini menjadi lebih berwarna.
Sekiro: Shadows Die Twice juga sangat punishing bagi pemainnya. Tidak reset untuk skill artinya pemain akan stuck jika mengambil skill yang salah. Belum lagi farming experience point di game ini sedikit menyebalkan. Karena setiap kali mati, experience point akan berkurang/
Tapi, jika kamu suka dengan game seperti Dark Souls dan Bloodborne, maka kamu akan menyukai Sekiro: Shadows Die Twice. Tema Jepang yang diangkat dalam game ini ibarat menyegarkan suasana. Karena di Dark Souls dan Bloodborne, From Software selalu menggunakan tema dari Eropa.
Selain mencoba di PS4, saya juga memainkan game ini PC. Khusus untuk PC, saya bisa mengkonfirmasi jika spesifikasi Sekiro: Shadows Die Twice tidak demanding. Untuk masalah replay value, saya ragu ada gamer yang ingin memainkan game ini sekali lagi setelah tamat.
*Sekiro: Shadows Die Twice yang direview adalah versi PS4 dan PC
Square Enix dan Dontnod Entertainment baru saja merilis teaser traler untuk episode ke-3 Life is Strange 2 yang diberi judul Wastelands.
Episode ke-3 nantinya akan dirilis ke PS4, Xbox One dan PC pada tanggal 9 Mei 2019. Episode ke-4 rencananya akan dirilis pada tanggal 22 Agustus 2019 dan episode ke-5 akan dirilis pada tanggal 3 Desember 2019.
Square Enix baru saja mengumumkan bahwa Hideo Baba yang merupakan presiden dari anak perusahaan Square Enix bernama Studio Istolia, telah resmi meninggalkan studio pada akhir bulan Desember 2018 dan resmi pula meninggalkan Square Enix pada akhir bulan Maret 2019 lalu.
Baba yang pernah mengerjakan seri game Tales of di Bandai Namco, bergabung dengan Square Enix sejak bulan Oktober 2016 dan menjadi presiden Studio Istolia saat studio tersebut didirikan bulan Februari 2017 untuk mengembangkan sebuah game RPG baru dengan sandi “Project Prelude Rune” yang sudah dikonfirmasi pada bulan September 2018 lalu akan menjadi game konsol PS4.
“Karena ada perubahan dalam kebijakan manajemen di Studio Istolia, saya mengundurkan diri sebagai presiden perusahaan pada bulan Desember 2018 dan mengundurkan diri dari Square Enix pada akhir bulan Maret 2019. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Square Enix Group yang sudah memberikan saya berbagai pengalaman. Saya akan lanjut mendukung semuanya dari belakang layar, dan saya doakan agar Square Enix Group semakin berkembang dimasa mendatang.” Kata Baba di press release.
Saat ini belum ada informasi apapun terkait rencana Baba kedepannya.
Hopoo Games mengumumkan bahwa game besutannya berjudul Risk of Rain 2 yang dirilis ke PC lewat Steam Early Access pada tanggal 28 Maret 2019 lalu, saat ini sudah berhasil mendapatkan 650.000 orang pemain hanya dalam satu minggu pertama sejak dirilis secara terbatas. 150.000 diantara adalah gamer yang mendapatkan bonus Buy One Get One alias bisa membawa satu orang teman setelah membeli pada hari peluncuran game.
Patch perdana game yang dirilis pada tanggal 3 April lalu adalah hasil dari masukan gamer. Setelah itu, pihak pengembang berencana untuk merilis lebih banyak konten termasuk karakter, stage, bos dan item serta terus memoles game ini agar menjadi lebih baik sampai hari peluncuran resmi game nanti. Update yang akan gamer rasakan pada versi final nanti adalah pada sisi fitur, platform dan hotfix serta banyak lagi lainnya.
Informasi detil mengenai Risk of Rain 2 bisa kalian simak di sini.
Perfect World Entertainment dan Gunfire Games baru saja merilis trailer baru untuk game bergenre co-op shooter besutan mereka yang berjudul Remnant: From the Ashes untuk memperlihatkan kepada gamer bagian “Ruined Earth” dalam game.
Remnant: From the Ashes dijadwalkan rilis ke PS4, Xbox One dan PC pada tahun 2019 mendatang. Selamat menyaksikan trailer di atas.