Home Blog Page 2

Sony Umumkan Film Bloodborne, Dijanjikan Bakal Tetap Sadis

0
Sony Umumkan Film Bloodborne, Dijanjikan Bakal Tetap Sadis

Sony Pictures telah mengumumkan proyek film Bloodborne. Film ini juga akan mengikuti materi aslinya, dimana versi gamenya memiliki nuansa gelap dan sadis. Tidak heran film ini nantinya akan mendapatkan rating R. Film ini akan dibuat dengan gaya animasi.

Film Bloodborne Dijanjikan Tetap Setia pada Versi Game

Dikutip dari Variety, Presiden Sony Pictures Entertainment Motion Picture Group, Sanford Panitch menegaskan bahwa film Bloodborne ini akan sangat setia pada nuansa sadis, elemen gothic, dan juga monster mengerikan yang membuat versi gamenya menjadi begitu begitu digemari.

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah keterlibatan content creator Sean McLoughlin, atau yang lebih dikenal sebagai JackSepticEye. Ia ikut menjadi co-producer bersama dengan PlayStation Productions dan Lyrical Animation.

Selama ini JackSepticEye memang lebih banyak dikenal dalam dunia streaming maupun konten digital. Namun, belakangan ia juga mulai merambah akting. Salah satunya adalah ketika ia terpilih untuk berperan sebagai Punch Up di game Dispatch.

Film Adaptasi Game Jadi Andalan Baru Hollywood

Pengumuman proyek film Bloodborne menambah daftar film hasil adaptasi video game yang telah dibuat Hollywood. Setelah sempat dianggap sebagai formula gagal, film jenis ini mendadak menjadi tren baru. Lihat saja The Super Mario Galaxy Movie yang berhasil menjadi box office.

Tentunya Sony tidak mau ketinggalan dengan tren baru ini. Apalagi IP yang dimiliki sudah terbukti kualitasnya dan memiliki fans setia, seperti Bloodborne.

Bagaimana menurutmu?

Polemik IGRS Disorot Media Asing, Perkuat Adanya Kebocoran Data

0
Polemik IGRS Disorot Media Asing, Perkuat Adanya Kebocoran Data

IGRS kembali mendapat sorotan akibat dugaan adanya kebocoran data. Awalnya isu ini hanya dibicarakan secara lokal, namun sekarang sudah mendapatkan atensi dari dunia internasional.

Website VGC membahas secara khusus mengenai insiden tersebut sekaligus mengkonfirmasi bahwa kebocoran data dari website IGRS memang betul terjadi. Salah satu data yang sudah beredar di internet adalah rekaman gameplay dari game 007: First Light milik IO Interactive dan Echoes of Aincrad dari Bandai Namco. Hal yang lebih fatal adalah ending dari 007: First Light diklaim juga sudah bisa ditemukan di internet akibat kebocoran data ini.

Nama besar lain seperti Assassin’s Creed: Black Flag Resynced dari Ubisoft dan Castlevania: Belmont’s Curse dari Konami juga disebut masuk dalam kebocoran ini. Selain video spoiler, kebocoran data ini juga mengungkap ribuan alamat email milik developer game yang terdaftar di IGRS.

Pengakuan Developer Asing

Age Ratings Manager dari Riot Games, Nic McConnell menceritakan pengalamannya lewat BlueSky ketika berkomunikasi dengan tim IGRS. Ia menduga tim itu bekerja dengan sumber daya yang sangat terbatas.

“IGRS, sejauh yang saya lihat, memproses setiap pengajuan secara manual. Saya tidak akan heran jika beberapa tautan akhirnya terbuka lebih luas di tengah proses ini.” Ujarnya.

“Tim yang mengerjakan IGRS sepertinya adalah tim kecil yang mengerjakan hal besar tanpa sumber daya yang memadai. Ketika saya akhirnya bertemu dengan mereka, saya bisa melihat jika tim kecil ini berisi orang baik yang memang ingin melakukannya dengan baik dengan waktu yang sangat terbatas,” Tambahnya.

Awal Mula Isu Kebocoran Data IGRS Mencuat

Isu ini pertama kali ramai dibahas di Reddit. Salah seorang pengguna yang sedang membuat tampilan alternatif untuk website IGRS, mengaku telah menemukan akses ke dalam database yang memuat informasi sensitif.

Sekarang masih menurut sumber yang sama di Reddit, sistem database ini ia klaim kini telah diperbaiki. Meski begitu, kebocoran data sudah terlanjur terjadi. Insiden ini telah menjadi pukulan telak bagi Kementrian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) selaku pengelola resmi IGRS. Bukan cuma soal kesiapan, namun dari segi profesionalitas juga patut dipertanyakan.

Bagaimana menurutmu?

Televisi Artistik TCL A400 Pro Meluncur di Indonesia

0
TCL A400 Pro Meluncur di Indonesia

TCL A400 Pro telah resmi meluncur di Indonesia melalui kolaborasi TCL dan INFORMA Electronics. Televisi bergaya artistik ini menggabungkan teknologi visual mutakhir dengan desain interior modern.

Business Operation Director PT Home Center Indonesia, Daniel Trisno, mengatakan produk ini bukan sekadar perangkat hiburan biasa.

“Ini bukan hanya TV untuk hiburan, tetapi juga bagian dari estetika rumah,” Ujarnya.

Hal senada diutarakan oleh brand ambassador TCL, Denny Sumargo, yang menilai produk ini menawarkan perpaduan menarik antara teknologi dan gaya hidup.

“Ini kolaborasi luar biasa. TV ini bukan hanya soal kualitas yang premium, tapi juga tampilannya estetik,” Katanya.

CEO TCL Indonesia, Evan Tang, menjelaskan jika kerja sama dengan INFORMA menjadi bagian dari strategi untuk menghadirkan teknologi premium lebih dekat ke konsumen Indonesia.

“Konsumen bisa merasakan langsung bagaimana TV ini menyatu dengan ruang keluarga mereka,” Jelasnya.

Teknologi Visual dan Audio Jadi Daya Tarik TCL A400 Pro

Berbeda dari televisi pada umumnya, TCL A400 Pro membawa konsep Art TV yang dirancang agar tampil menarik saat digunakan maupun saat layar sedang mati. Desainnya mengusung bodi ultra-slim dengan layar matte anti-pantulan, sehingga tampil lebih menyatu dengan dinding seperti karya seni.

TCL juga menyematkan fitur Art Gallery yang memungkinkan layar menampilkan lukisan digital atau foto keluarga saat tidak dipakai menonton.

Dari sisi teknologi, TCL A400 Pro hadir sebagai televisi artistik pertama di Indonesia yang memakai QD-Mini LED. Teknologi ini diklaim mampu menghadirkan tingkat kecerahan tinggi, warna lebih akurat, dan kontras yang tajam untuk mendukung pengalaman menonton yang lebih imersif.

Tidak hanya itu, TCL juga melengkapinya dengan sistem audio premium dari ONKYO agar kualitas suara yang dihasilkan terasa lebih sinematik.

Televisi ini juga memiliki varian 75 inci yang dijual secara eksklusif melalui jaringan INFORMA Electronics di Indonesia. Selain model tersebut, TCL juga menyediakan ukuran lain mulai dari 32 inci hingga 65 inci untuk menjangkau kebutuhan konsumen yang lebih beragam.

Bagaimana menurutmu?

Review Darwin’ Paradox (PC): Bukan Sekedar Gurita

0

Tidak banyak game yang berani menjadikan gurita sebagai karakter utama sekaligus pusat dari pengalamannya. ZDT Studio mencoba untuk menggali potensi tersebut lewat Darwin’ Paradox. Game ini menceritakan tentang petualangan luar biasa seekor gurita bernama Darwin.

Agar menjadi lebih menarik, game sidescrolling platforming ini dikemas secara sinematik. Animasi game ini cukup mengesankan dan mengingatkan dengan film animasi pendek buatan Pixar. Kemasan ini diharapkan bisa membuat Darwin’ Paradox berbeda dengan game segenre lainnya, sekaligusnya membuatnya menjadi unik…seharusnya.

Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami rasakan selama memainkan versi review Darwin’ Paradox di PC.

Berawal Dari Laut ke Pabrik Raksasa

Cerita Darwin’ Paradox berawal ketika ia dan ibunya sedang asyik menjelajahi lautan, namun karena sedang tidak beruntung, keduanya diculik oleh semacam UFO. Darwin dan ibunya lalu dibawa ke pabrik pengolahan seafood bernama Ufood. Ketika akan diproses, Darwin beruntung dapat melarikan diri. Disinilah petualangan Darwin dimulai.

Sama seperti gurita asli, Darwin dibekali oleh kemampuan khas hewan tersebut. Ia dapat menyelinap di ruangan yang sempit, bisa bergerak secara fleksibel dimana saja, berkamuflase dengan mengubah warna tubuhnya, bergerak di daratan tanpa air (Gurita asli bisa melakukan ini tetapi durasinya tidak selama Darwin), dan juga memiliki tingkat kecerdasan seperti memindahkan objek atau menggerakkan tuas.

Review Darwin’ Paradox opening stage

Semua kemampuan Darwin akan digunakan secara maksimal di dalam game. Selalu ada saja rintangan yang mengharuskan Darwin untuk menggunakan kemampuannya sebagai gurita. Tentunya ini semua dibalut dengan animasi yang jempolan.

Darwin’s Paradox mengingatkan kami dengan game seperti Limbo atau Ori and The Will Of The Wisps. Gerakan Darwin terlihat halus, responsif, dan juga punya identitas yang kuat. Saat ia sedang memanjat, berenang, menempel di permukaan, atau menyusup ke area sempit, semua transisi berjalan dengan mulus. Kami sangat menikmati visual yang disajikan di dalam game ini.

Review Darwin’ Paradox stage tempat sampah

Lingkungan yang harus dilewati oleh Darwin juga tidak kalah menarik. Pabrik Ufood misalnya ditampilkan per bagian yang masing-masing memiliki temanya sendiri. Dimulai dari tempat sampah yang dipenuhi dengan sampah menggunung lengkap dengan tikus dan tumpahan limbah kimia, lalu ada area produksi yang lebih tertutup dan berisi berbagai macam komponen industrial.

Review Darwin’ Paradox item collectible

Darwin’s Paradox tidak memiliki dialog sebagai penunjuk cerita. Pemain bisa melihat apa yang sedang dirasakan oleh Darwin dari mata dan gerakan tentakelnya. Rasanya seperti sedang menonton film bisu. Pemain juga bisa mengetahui lebih dalam tentang Ufood melalui koran yang berupa item collectible.

Gurita Cincang

Review Darwin’s Paradox platforming 1

Kami paham alasan ZDT Studio membungkus game ini dengan visual yang menarik, yaitu mengkamuflase gameplay yang brutal. Darwin’s Paradox akan membuat pemain jengkel karena harus mengulangi satu titik yang sulit dalam satu level, namun akhirnya menyadari bahwa didepan ada rintangan yang lebih sulit lagi.

Tingkat kesulitan platforming Darwin’s Paradox berupa ekskalasi. Pada awal permainan tidak begitu terasa, all fun and games. Namun seiring berjalannya permainan secara bertahap akan menjadi sulit sampai akhirnya membuat jengkel. Misalnya ada tempat dimana Darwin harus melewati banyak roda gigi yang berputar. Jika terlambat sedikit Darwin bisa tergencet dan tewas. Masalahnya mekanisme yang seharusnya membantu Darwin, justru malah menjadi jebakan maut.

Kemampuan Darwin untuk menempel dan bergerak di berbagai bidang dengan menggunakan tentakelnya ibarat pedang bermata dua. Mekanisme ini terlalu responsif sehingga malah merepotkan pemain karena bisa membuat Darwin berada di posisi yang tidak tepat. Selain itu, sistem kontrol dalam posisi ini juga terlalu kaku dan kadang membuat pergerakan Darwin menjadi lambat.

Ditambah lagi suasana yang terlalu gelap sehingga sulit mengantisipasi bahaya berikutnya. Akibatnya, kematian terasa datang bukan karena keputusan yang salah, melainkan karena informasi yang tidak cukup. Pemain bisa melihat Darwin terjepit, tersetrum, atau terbakar berkali-kali hanya karena kurangnya petunjuk.

Hal seperti ini merusak ritme dengan memotong aliran permainan dan menggantinya dengan rasa jengkel. Tentunya ini merupakan suatu hal yang biasa dalam game sidescrolling dan platforming. Namun bagi gamer yang belum biasa, kondisi ini bisa menimbulkan rasa frustrasi dan mengurangi kesenangan bermain.

Dinamika Gameplay

Review Darwin’ Paradox mekanisme stealth

Tidak melulu cuma platforming, Darwin’s Paradox juga memiliki variasi permainan yang lain. Ada puzzle yang cukup kreatif, meski pengerjaannya hanya sebatas menarik tuas atau mendorong objek. Jika bingung, pemain bisa mengaktifkan fitur help yang akan memberikan petunjuk apa yang seharusnya dilakukan.

Lalu pada level lain, pemain akan diminta untuk menggunakan kemampuan kamuflase milik Darwin untuk melewati lapangan yang dipenuhi oleh pekerja pabrik. Level ini mengingatkan kami dengan gaya permainan di Metal Gear Solid ketika Snake melakukan infiltrasi ke dalam markas musuh.

Developer memberikan tribut kepada Konami dengan memunculkan efek suara khas Metal Gear ketika Darwin dilihat oleh musuhnya. Tribut lainnya ada pada saat Darwin harus melintasi jalanan yang dipenuhi mobil, lalu di pinggir jalan terlihat seekor kodok sedang melompat-lompat. Level ini bisa dibilang adalah tribute untuk game Frogger yang juga dipopulerkan oleh Konami.

Review Darwin’ Paradox tribut dari frogger

Meski sederhana, hal-hal kecil seperti bisa membawa kami sesaat lupa sedang memainkan game yang tidak mengenal ampun.

Darwin’s Paradox Dari Segi Teknis

Selama memainkan versi review Darwin’s Paradox di PC, kami tidak pernah mengalami masalah teknis. Untuk ukuran game platforming, Darwin’s Paradox memiliki setting grafis yang cukup lengkap. Ada framerate cap dan pengaturan fitur upscaling menggunakan NVIDA DLSS dan AMD FSR. Untuk gamenya sendiri sebetulnya tidak terlalu demanding dari segi spesifikasi.

Berikut adalah spesifikasi PC yang kami gunakan untuk memainkan Darwin’s Paradox: CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB.

Kesimpulan Review Darwin’s Paradox

Kesimpulan yang kami dapat setelah memainkan dan juga disiksa oleh versi review Darwin’s Paradox adalah kami menemukan satu hal yang paling memikat dan juga konsisten. Aspek ini adalah presentasinya.

Gaya visual kartun yang ditunjukkan Darwin’s Paradox sangatlah kuat. Animasi digarap dengan baik, ditambah sentuhan humor ringan. Bagian world building juga dilakukan dengan baik karena dunia dalam Darwin’s Paradox terasa absurd, tapi masih jenaka.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah audio. Efek suara diracik dengan baik, bahkan suara lembut seperti ketika tentakel Darwin menempel di permukaan bisa terdengar secara detail. Soundtrack ala orkestra juga efektif menjadi penopang tone permainan.

Tentunya itu semua adalah icing on the cake dari gameplay brutal. Rasa jengkel karena harus mengulang-ulang bagian tertentu bisa mengarah menjadi dua hal. Pertama adalah menjadi dorongan agar bisa get good. Kedua adalah membuat frustrasi dan mengurangi rasa senang. Padahal tujuan kita bermain game adalah bersenang-senang, benarkan?

Darwin’s Paradox sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

FINAL FANTASY VII REBIRTH Rilis 3 Juni 2026 di Nintendo Switch 2 dan Xbox Series, Hadirkan Petualangan Epik yang Lebih Luas

0

Kabar besar datang untuk para penggemar JRPG legendaris. FINAL FANTASY VII REBIRTH akhirnya dipastikan akan meluncur pada 3 Juni 2026 untuk Nintendo Switch 2, Xbox Series X|S, serta Windows melalui Microsoft Store. Versi ini melengkapi perilisan sebelumnya di PlayStation 5 dan PC, sekaligus membuka kesempatan bagi lebih banyak pemain untuk menikmati salah satu RPG paling ambisius dalam satu dekade terakhir.

Game ini merupakan bagian kedua dari proyek remake trilogi Final Fantasy VII, yang pertama kali dirilis pada tahun 1997 dan telah terjual lebih dari 15,5 juta kopi di seluruh dunia. Dengan teknologi modern, kisah klasik ini dihidupkan kembali dengan skala yang jauh lebih besar dan pendekatan gameplay yang lebih dinamis.

Dunia yang Lebih Luas dan Bebas Dijelajahi

Jika sebelumnya petualangan masih terfokus di kota Midgar, kini pemain akan diajak keluar menuju dunia yang jauh lebih luas. Setelah melarikan diri dari Midgar, Cloud dan kawan-kawan memulai perjalanan untuk memburu Sephiroth sekaligus menyelamatkan planet dari kehancuran.

Lingkungan dalam game dibuat sangat luas dan beragam, mulai dari padang rumput hijau, pegunungan terjal, hingga gurun luas dan kota hiburan. Setiap area memiliki karakteristik unik dan dipenuhi berbagai aktivitas sampingan yang membuat eksplorasi terasa hidup.

Menariknya, pemain bisa menggunakan berbagai metode traversal seperti chocobo dan kendaraan buggy untuk menjelajahi dunia dengan lebih bebas. Ini bukan sekadar perjalanan linier—ini adalah petualangan global yang penuh kejutan.

Sistem Combat Hybrid

Salah satu daya tarik utama dari FINAL FANTASY VII REBIRTH adalah sistem pertarungannya yang menggabungkan aksi real-time dengan elemen strategi berbasis command.

Pemain bisa:

  • Bergerak, menyerang, menghindar, dan bertahan secara real-time
  • Mengakses skill, magic, dan item dengan sistem command yang memperlambat waktu
  • Mengganti karakter secara bebas saat bertarung

Namun yang paling menonjol adalah hadirnya fitur Synergy Skills dan Synergy Abilities. Sistem ini memungkinkan dua karakter bekerja sama untuk menghasilkan serangan kombinasi dengan efek spektakuler. Ketika gauge penuh, pemain bisa mengaktifkan serangan pamungkas yang mampu membalikkan keadaan dalam sekejap.

Fitur Baru: Streamlined Progression untuk Pengalaman Lebih Santai

Bagi kalian yang ingin fokus menikmati cerita tanpa terlalu dipusingkan oleh tingkat kesulitan, Square Enix menghadirkan fitur Streamlined Progression.

Fitur ini memungkinkan:

  • HP dan MP tidak terbatas
  • Damage maksimal hingga 9.999
  • Item tersedia dalam jumlah maksimum

Menariknya, semua opsi ini bisa diaktifkan atau dimatikan kapan saja sesuai kebutuhan. Jadi baik pemain kasual maupun hardcore tetap bisa menikmati game dengan gaya masing-masing.

Karakter Ikonik Kembali

Cerita tetap menjadi jantung utama game ini. Pemain akan kembali bertemu dengan karakter-karakter ikonik seperti:

  • Cloud Strife, mantan SOLDIER yang mencari jati diri
  • Tifa Lockhart, yang berjuang dengan konflik batinnya
  • Barret Wallace, pemimpin Avalanche dengan misi menyelamatkan planet
  • Aerith, keturunan terakhir bangsa Cetra
  • Yuffie, ninja dari Wutai dengan ambisi besar
  • Red XIII, makhluk bijak dengan umur panjang
  • Sephiroth, antagonis legendaris yang ingin menguasai dunia

Dengan pendekatan narasi modern, setiap karakter mendapatkan porsi cerita yang lebih dalam, emosional, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Bonus Menarik dan Diskon Early Purchase

Untuk versi terbaru ini, Square Enix juga menghadirkan berbagai bonus menarik:

  • Diskon 20% untuk pembelian digital hingga 10 Juni 2026
  • Bonus kartu Magic: The Gathering “Zack Fair” untuk edisi fisik batch pertama
  • Dukungan Xbox Play Anywhere dan kompatibilitas handheld seperti ROG Xbox Ally

Namun perlu dicatat, versi fisik Nintendo Switch 2 menggunakan sistem game-key card, yang berarti pemain tetap harus mengunduh data game dengan kapasitas sekitar 105GB.

FINAL FANTASY VII REBIRTH bukan sekadar remake—ini adalah evolusi. Dari sistem pertarungan yang semakin dalam, dunia yang lebih luas, hingga cerita yang lebih emosional, game ini berhasil membawa warisan klasik ke level berikutnya.

Bagi penggemar lama, ini adalah nostalgia yang dikemas ulang dengan kualitas premium. Sementara bagi pemain baru, ini adalah pintu masuk sempurna ke dunia Final Fantasy yang penuh keajaiban.

eFootball Mencapai 1 Miliar Download di Seluruh Dunia dan Meluncurkan Campaign Spesial dengan Pemain Legendaris Gratis, Termasuk Ronaldinho Gaucho

0

Konami Digital Entertainment Limited (KONAMI) hari ini mengumumkan eFootball™ telah mencapai 1 miliar download di seluruh dunia. Dalam rangka merayakan pencapaian tersebut, kampanye spesial dalam game diluncurkan dengan bonus login harian, “Master League Sprint” adalah Event waktu terbatas yang terinspirasi oleh mode “Master League” dari serial Pro Evolution, dan serial manga berjudul “That Time I Got Reincarnated in PES”. 

Pemain yang login ke dalam game selama event berlangsung akan menerima berbagai macam hadiah seperti eFootball™ Coins. Selain itu, berpartisipasi dalam kampanye dan menyelesaikan pertandingan akan menghadiahkan Chance Deals yang bisa digunakan untuk memperoleh pemain secara acak dari daftar eksklusif termasuk pemain legendaris seperti Ronaldinho Gaucho.  

Master League Sprint” dimulai hari ini hingga 16 April dan mengajak semua pemain untuk mengambil peran sebagai manajer klub. Pemain harus mengelola tim mereka dengan membeli pemain bola profesional, menjadwalkan waktu pelatihan, memilih starting lineup, dan semua peran manajer lainnya dengan tujuan untuk menjadi tim papan atas. Tim starternya termasuk pemain-pemain yang pasti udah dikenal para fans Master League seperti Castolo dan Minanda. Event waktu terbatas ini memfiturkan tiga poin utama:

  • Sinergi:
      • Pemain akan bermain dalam pertandingan dengan “Synergy” di mana “Synergy” tim dipengaruhi oleh kemampuan dan kondisi para pemain dalam tim tersebut. Kelola seleksi pemain dan rotasi yang akan berperan penting dalam menentukan hasil pertandingan.
  • Episode:
      • Dalam pertandingan, berbagai “Episodes” bisa terjadi yang akan memengaruhi hasil pertandingan baik positif atau pun negatif. “Episode” seperti pertumbuhan pemain, perubahan dalam kondisi pemain dan juga cedera akan menjadikan musim lebih menegangkan.
  • Pengelolaan Tim:
    • Pemain bisa memperkuat tim mereka dengan menggunakan poin yang diterima dari pertandingan untuk membeli pemain baru. Poin juga bisa diperoleh dengan menjual pemain dan membangun ulang tim untuk menjadi tim yang ideal dalam memenangkan trofi.

Selain dari event dalam game ini, platform distribusi Manga Kodansha “K MANGA” akan membuat serial manga bertema Master League dengan judul “That Time I Got Reincarnated in PES.” yang ditulis oleh Kiminori Wakasugi, penulis Detroit Metal City. Manga dengan tema fantasi ini menceritakan kisah sang protagonis yang direinkarnasi ke dalam dunia Master League, ceritanya mengikuti Castolo, Minanda dan lainnya dalam dunia eFootball™.

*Catatan: membaca manga tersebut hanya tersedia di negara-negara yang bisa mengakses K MANGA. *Bagi yang berada di wilayah yang tersedia, manga tersebut bisa diakses melalui banner dalam game. 

Terakhir, eFootball™ mengimplementasi gameplay update baru. Tambahan “Advanced Feint Command Type” dan  peningkatan lainnya memberikan pengalaman gameplay bola yang semakin mirip dengan sepak bola dunia nyata. Untuk info lebih lanjut, tonton program informasi “eFootball™ CONNECT.”

eFootball™ CONNECT Link: https://www.youtube.com/watch?v=TEV1srjzI7w

Info lengkap bisa ditemukan di website: https://www.konami.com/efootball/en/

Jadi Pengelola Kuburan Abad Pertengahan di Graveyard Keeper 2

0
Jadi Pengelola Kuburan Abad Pertengahan di Graveyard Keeper 2

Graveyard Keeper 2, game simulation bertema pengelola kuburan di abad pertengahan telah diumumkan oleh publisher tinyBuild bersama developer Lazy Bear Games. Game ini dijadwalkan meluncur tahun ini untuk PC, PS5, Xbox Series X, Nintendo Switch, dan Nintendo Switch 2.

Cerita Graveyard Keeper 2

Dalam Graveyard Keeper 2, pemain kembali mengelola area pemakaman sambil menjalani berbagai aktivitas lain seperti membuat item, meningkatkan kemampuan, memancing, berdagang, hingga kustomisasi karakter. Namun kali ini skala permainannya dibuat lebih luas. Pemain bisa menjelajahi kota besar yang telah dipenuhi zombie, lalu membantu warga membangun ulang kota mereka.

Seperti game pertamanya, Game ini tetap mempertahankan unsur manajemen dan grinding. Pemain bisa memanen berbagai sumber daya dari tumbuhan, hewan, hingga sisa-sisa manusia untuk menciptakan mesin yang kemudian dipakai untuk mempercepat produksi atau memperluas area makam.

Salah satu perubahan paling menarik di game ini adalah pemain dapat membuat senjata dan armor, lalu mengirimnya ke pasukan yang bertarung di garis depan untuk melawan zombie. Dari sana, pemain bisa membawa pulang loot berharga untuk membuka area baru di kota yang sebelumnya belum bisa diakses.

Tidak berhenti di situ, pemain juga dapat membangun menara dan benteng untuk mempertahankan wilayah dari ancaman undead.

Sebagai bagian dari perayaan pengumuman ini, tinyBuild juga membagikan game Graveyard Keeper pertama secara gratis untuk diklaim di Steam, PlayStation, Xbox Series, dan Xbox One sampai dengan tanggal 13 April 2026.

Bagaimana menurutmu?

Dead As Disco Penerus Dari Hi-Fi Rush Dapat Tanggal Rilis

0
Dead As Disco Penerus Dari Hi-Fi Rush Dapat Tanggal Rilis

Dead As Disco dipastikan meluncur dalam format Early Access pada 5 Mei 2026 di Steam dan Epic Games Store. Buat kamu yang belum tahu, game ini menggabungkan gameplay beat ‘em up dengan elemen musik, di mana setiap pukulan, tendangan, dan combo bergerak selaras dengan irama lagu. Jika pernah memainkan Hi-Fi Rush nah kira-kira akan seperti itu gamenya.

Dead As Disco Sajikan Mekanisme Combat Bernada

Daya tarik utama Dead As Disco ada pada mekanisme combat yang dibuat benar-benar sinkron dengan soundtrack. Setiap serangan terasa seperti bagian dari koreografi, sehingga pertarungan tampil seperti lantai dansa yang mematikan.

Pemain akan mengikuti kisah Charlie Disco, mantan ikon panggung yang mendapat satu kesempatan untuk merebut kembali sorotan dari para Idols, mantan rekan satu bandnya yang kini menjadi legenda musik. Setiap boss memiliki gaya bertarung dan lagu khas mereka sendiri.

Fitur Early Access

Saat Early Access dibuka nanti, pemain akan mendapatkan arc pertama dari cerita utama. Selain itu, tersedia lebih dari 30 lagu yang mengiringi pertarungan, lengkap dengan soundtrack original yang aman untuk streaming. Tidak hanya itu, pemain juga bisa menikmati mode Infinite Disco untuk bertarung mengikuti irama berbagai lagu dalam permainan.

Fitur My Music juga menjadi salah satu nilai lebih Dead As Disco. Lewat fitur ini, pemain dapat memakai lagu dari koleksi musik mereka sendiri lalu membangun tantangan khusus. Kustomisasi karakter juga ikut disiapkan lewat skin, aksesori, dan animasi.

Bagaimana menurutmu?

Padahal Belum Rilis, Windrose Sudah Jadi Game Paling Ditunggu di Steam

0
Padahal Belum Rilis, Windrose Sudah Jadi Game Paling Ditunggu di Steam

Game bertema bajak laut Windrose telah dapat tanggal perilisan di Early Access. Game ini bisa mulai dimainkan pada tanggal 14 April 2026 lewat Steam, Epic Games Store, dan Stove.

Buat kalian yang belum tahu, Windrose yang dikembangkan oleh Windrose Crew akan dipublikasikan oleh Pocketpair. Tahun lalu, developer game Palworld ini telah mengumumkan keinginannya untuk menjadi penerbit game. Windrose mungkin adalah salah satu dari proyek perdananya.

Petualangan Bajak Laut

Windrose adalah game survival adventure yang bisa dimainkan solo atau co-op hingga empat pemain. Dalam game ini, pemain berperan sebagai kapten yang ingin membalas dendam. Latarnya sendiri terjadi pada masa Golden Age of Piracy lengkap dengan legenda bajak laut Blackbeard.

Meski belom rilis, popularitas Windrose luar biasa karena bisa menembus jajaran 10 besar Wishlist Steam. Salah satu alasannya adalah mungkin karena mekanisme kombinasi antara survival, eksplorasi, dan action bergaya soulslite. Pemain dapat mengarungi tiga biome berbeda dengan beragam misi, sekaligus menghadapi musuh yang menantang.

Bukan hanya bertarung, pemain juga bisa menjalani berbagai aktivitas lain di dalam game. Mulai dari berdagang, bertani, memancing, meningkatkan reputasi dengan berbagai kelompok, sampai membangun markas bajak laut sendiri. Semua itu dipadukan dengan transisi gameplay yang mulus antara daratan dan juga menggunakan kapal.

Pertempuran Laut Ala Windrose

Tentu saja salah satu nilai jual terbesar Windrose ada pada pertempuran lautnya. Pemain dapat mengendalikan kapal dalam duel meriam jarak jauh atau mendekat untuk melakukan boarding. Kapal juga bisa dikustomisasi agar sesuai dengan gaya bermain, mulai dari kapal kecil yang lincah hingga yang besar.

Versi Early Access nanti juga akan membawa fitur yang paling banyak diminta pemain sejak demo, yaitu pertempuran kapal co-op. Dalam mode ini, anggota kru bisa berbagi tugas untuk mengoperasikan senjata kapal dan bekerja sama saat menghadapi musuh di laut.

Bagaimana menurutmu? Tertarik untuk memainkan gamenya? Versi demonya sudah tersedia jika kamu ingin mencoba dulu.

Review ChainStaff (Nintendo Switch): Brutal, Nyentrik, dan Bikin Ketagihan

0

Ada satu masa di dunia game yang nggak pernah benar-benar mati, era di mana musik metal meraung, visualnya liar, dan gameplay-nya nggak kenal ampun. Nah, ChainStaff datang seperti kapsul waktu dari masa itu, tapi dibungkus dengan sentuhan modern yang cukup berani. Ini bukan sekadar game platformer biasa. Ini adalah pengalaman yang terasa seperti kaset VHS tua yang tiba-tiba hidup kembali, tapi kali ini dengan kontrol yang jauh lebih baik dan sistem yang lebih matang.

Oh iya, saya menjajal game ini di versi Nintendo Switch-nya ya. Selain di Nintendo Switch, ChainStaff juga tersedia di platform Xbox One dan Xbox Series, PS4 dan PS5, serta PC lewat Steam.

Dikembangkan oleh studio indie pemenang penghargaan Mommy’s Best Games, ChainStaff dipimpin oleh veteran developer Nathan Fouts yang sebelumnya terlibat dalam proyek-proyek seperti Insomniac Games dan Serious Sam Double D XXL.

Kesan Pertama: Gila, Ini Game Apa Sih?

Begitu pertama kali masuk ke dunia ChainStaff, satu hal langsung terasa game ini punya identitas kuat. Visualnya penuh warna kontras, desain musuhnya aneh, dan atmosfernya seperti gabungan antara album cover band metal tahun 80-an dan mimpi buruk saat demam di siang hari yang terlalu kreatif.

Kamu bermain sebagai karakter mutan dengan parasit alien nempel di kepala, yang terlihat sudah absurd dari awal. Tapi justru di situ daya tariknya. Game ini tidak berusaha jadi aman dalam pembuatan karakter utama.

Gameplay: Satu Tombol, Seribu Kemungkinan

Nah, ini bagian paling menarik dari ChainStaff adalah senjatanya.

Sesuai namanya, ChainStaff adalah senjata multifungsi yang bisa berubah jadi tombak untuk menyerang, grappling hook buat mobilitas dan Shield untuk bertahan. Dan yang bikin mind-blowing semua itu dikontrol dengan satu tombol utama.

Awalnya terasa aneh. Tapi setelah beberapa menit justru jadi sangat intuitif. Di sinilah game ini pintar, ChainStaff tidak mengajarkan gamer lewat tutorial panjang, tapi lewat eksperimen. Kalian jatuh, mati, coba lagi, dan pelan-pelan ngerti cara kerja dunia game ini.

Ada rasa “oh gitu-moment” yang jarang sata rasakan di game modern.

Untuk lebih jelasnya mengenai gameplay, kalian bisa menyimak bagaimana serunya saya menjajal ChainStaff pada video di bawah ini:

Level Design: Pendek namun Padat

ChainStaff punya sekitar 10 level utama dengan tambahan variasi tantangan dan boss fight. Durasinya memang nggak panjang sekitar 4-6 jam, tapi tiap level terasa handcrafted. Nggak ada filler. Nggak ada momen kosong.

Setiap level punya gimmick sendiri, memaksa kalian berpikir cepat dan seringkali bikin kalian mati berkali-kali. Tapi anehnya tidak bikin kesal secara berlebihan, karena kalian akan tahu dimana kesalahan sebelumnya. Ini desain klasik. Old-school dan itu justru kekuatannya.

Combat: Brutal Tapi Elegan

Combat di ChainStaff itu brutal, tapi bukan asal brutal. Ada ritme di dalamnya. Musuh datang dengan pola berbeda ada yang harus diserang dari jarak jauh, ada yang harus dipancing dulu, ada juga yang cuma bisa dikalahkan dengan timing presisi.

Bagaimana dengan boss fight? Nah… setiap boss seperti puzzle hidup. Kalian tidak cuma butuh refleks, tapi juga strategi. Kadang harus berpikir untuk hajar langsung atau memanfaatkan lingkungkan sekitar. Yah ini bukan game button-mashing, game ini mengajarkan gamer untuk menghargai setiap gerakan.

Sistem Upgrade

Ini salah satu fitur paling unik (dan agak disturbing). Di sepanjang game, kamu akan menemukan tentara yang terdampar. Nah, kamu punya pilihan menyelamatkan mereka atau memakan organ mereka.

Pilihan ini memengaruhi skill tree yang kamu buka, gaya bermain kamu dan ending yang kamu dapat. Ada dua jalur utama, lebih “manusiawi” atau lebih “monster”. Dan keduanya punya keuntungan masing-masing. Ini bukan cuma gimmick. Ini bikin replay value naik drastis.

Visual & Audio: Metal Banget

Secara visual, ChainStaff itu bukan realistis. Tapi justru itu yang bikin dia standout. Desain level seperti lukisan hidup, musuh terlihat aneh, menjijikkan, tapi keren. Animasi cukup halus, terutama di Nintendo Switch, cuma anehnya ada pilihan low, medium dan high di sisi grafis, yang sampai sekarang saya kurang tau gunanya apa karena ketiganya tidak terlalu terasa, kecuali pilihan 30 dan 60 fpsnya. Mungkin ini berbeda jika kalian memainkannya di platform lain.

Bagaimana dengan musiknya? Soundtrack dari Deon van Heerden (komposer Broforce) benar-benar nendang. Heavy metal yang bikin setiap pertempuran terasa epik. Kadang kalian tidak sadar sudah main lama, karena musiknya bikin terus “gas”.

Performa di Nintendo Switch: Solid, Tapi Ada Catatan

Di Nintendo Switch, performanya cukup stabil, frame rate relatif konsisten, loading cepat, kontrol responsif. Tapi ada beberapa momen sedikit drop saat banyak efek di layar dan visual agak turun dibanding versi console lain.

Tapi semua kekurangan itu tidak sampai mengganggu gameplay secara signifikan. Ini masih pengalaman yang nyaman dimainkan di handheld apalagi di docking.

Kesimpulan

ChainStaff itu kayak band indie yang main di garasi, tapi suaranya lebih kencang dari band besar di stadion. ChainStaff tidak sempurna. Jelas ada kekurangan. Tapi yang dia lakukan, dia lakukan dengan penuh karakter. Ini bukan game buat semua orang. Tapi buat kalian yang kangen game platformer klasik, suka tantangan dan ingin sesuatu yang beda dari arus utama. ChainStaff itu wajib dicoba.

Di dunia yang makin sibuk dengan grafis realistis dan open world luas, game ini datang dengan pesan sederhana bahwa kadang yang kalian butuh cuma gameplay solid, ide gila, dan keberanian buat beda, ChainStaff punya itu semua.

Kalian bisa mengunduh ChainStaff versi Nintendo Switch di sini : Download di sini.

Game platformer dengan aksi brutal bergaya sci-fi 80-an ini sudah tersedia mulai tanggal 8 April 2026 untuk PC dan konsol.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer