Home Blog Page 16

Trailer Perdana Suikoden: The Anime Perlihatkan Luca Blight

0
Trailer Perdana Suikoden: The Anime Perlihatkan Luca Blight

Konami telah mengumumkan tanggal penayangan Suikoden: The Anime. Kamu tidak salah baca, Suikoden II akan diadaptasi menjadi film anime yang akan mulai tayang di Oktober 2026.

Pengumuman ini disampaikan Konami bersamaan dengan perilisan trailer perdananya. Video ini memperlihatkan dua tokoh utama Suikoden, Riliu dan Jowy, ditemani oleh Nanami. Karakter ikonik lainnya juga muncul seperti Viktor, Flik, dan tidak lupa video game villain yang paling jahat, Luca Blight.

Sebagai adaptasi dari salah satu seri RPG klasik Konami, Suikoden: The Anime akan berfokus pada perjalanan dua anak laki-laki, Riliu sang protagonis dan sahabat dekatnya, Jowy. Keduanya merupakan anggota brigade muda dari kerajaan Highland, sebuah negara militer yang berada di timur laut kawasan Dunan.

Mereka meyakini masa depan yang sama, yaitu setelah peperangan usai, kehidupan mereka akan kembali normal seperti sebelumnya. Namun, kenyataan bergerak ke arah berbeda. Harapan damai yang mereka pegang mulai runtuh ketika keduanya terseret ke pusaran takdir di tengah amukan perang.

Untuk detailnya mengenai Suikoden: The Anime bisa dilihat di sini.

Tanggal Rilis Pragmata Dimajukan Seminggu

0
Tanggal Rilis Pragmata Dimajukan Seminggu

Capcom telah mengumumkan perubahan tanggal rilis untuk Pragmata. Tenang saja, game ini tidak diundur, melainkan malah dimajukan dan meluncur lebih cepat dari jadwal yang sebelumya.

Tanggal rilis baru Pragmata adalah 17 April 2026 (Maju seminggu dari 24 April 2026) untuk PS5, Xbox Series, Switch 2, dan PC.

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, Capcom juga merilis trailer baru di acara Capcom Spotlight barusan yang menampilkan lokasi baru, musuh baru, serta sejumlah fitur tambahan.

Lewat trailer terbarunya, Pragmata memperlihatkan beberapa area yang sebelumnya belum pernah diperlihatkan. Salah satunya adalah permukaan bulan. Selain itu, ada juga area mirip rumah kaca yang berada di dalam stasiun.

Capcom juga mengungkap fitur baru dalam game bernama Shelter, yaitu markas yang menjadi pusat aktivitas pemain di sela permainan. Shelter tidak hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat dan memasang item kosmetik. Pemain juga bisa bertemu dengan Cabin.

Pemain bisa menukarkan Cabin Coins dengannya untuk mendapatkan berbagai macam hadiah. Musik latar juga bisa diganti di Shelter dengan menggunakan jukebox milik Cabin.

Cerita Pragmata berfokus pada pertemuan Hugh dengan Diana, android canggih berwujud anak kecil. Keduanya terjebak di markas luar angkasa setelah sebuah AI liar mengambil alih fasilitas tersebut.

Daya tarik utama Pragmata ada pada gameplay yang menggabungkan aksi shooter dengan mekanik hacking. Hugh berperan sebagai karakter utama saat pertempuran berlangsung. Sementara itu, Diana memberi bantuan lewat kemampuan hack untuk membuka kelemahan musuh.

Bagaimana menurut kalian?

Konsol Generasi Baru Xbox Diberi Nama Project Helix

0
Konsol Generasi Baru Xbox Diberi Nama Project Helix

Microsoft telah membagikan teaser untuk konsol Xbox generasi baru yang bernama Project Helix. Informasi ini dibagikan langsung CEO baru Xbox, Asha Sharma lewat akun X miliknya.

Meski tidak banyak membicarakan apa-apa, Sharma menyebut Project Helix akan mendukung Xbox maupun PC. Detail lebih lanjut rencananya akan dibahas pada ajang GDC Festival of Gaming yang dimulai pada tanggal 9 Maret 2026.

Menariknya lagi, barusan saja muncul kabar bahwa Sony tidak tertarik untuk merilis game besar PlayStation di platform lain. Salah satu alasannya adalah beberapa petinggi Sony sepertinya tidak terima jika game mereka bisa dimainkan oleh perangkat generasi baru Xbox yang sudah mendukung konsol maupun PC.

Project Helix Muncul di Tengah Perubahan Besar Xbox

Pengumuman Project Helix datang bersamaan dengan perubahan struktur kepemimpinan di Xbox. Seperti yang sudah diketahui, Asha Sharma resmi mengambil alih posisi CEO Xbox pada 26 Februari 2026 setelah keluarnya dua sosok besar, Phil Spencer dan Sarah Bond, secara mendadak.

Meski perubahan besar telah terjadi, basis fans Xbox disebut masih tetap setia. Adalah tugas Sharma untuk membayar kepercayaan ini dengan inovasi baru yang mungkin akan dibawa dalam Project Helix.

Bagaimana menurut kalian?

“eBaseball: PRO SPIRIT” Dirilis Hari Ini di PlayStation 5 dan Steam

0

Konami Digital Entertainment Limited (KONAMI) mengumumkan perilisan eBaseball™: PRO SPIRIT di seluruh dunia*, game baseball free-to-play yang sekarang tersedia di PlayStation®5 dan Steam®.

Didukung dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di genre ini, eBaseball™: PRO SPIRIT memasuki era baru dengan semangat baru: “Bring It On, World.” Para pemain bisa memasuki lapangan dan menguji kebolehan mereka dalam pertandingan online kompetitif melawan pemain lain dari seluruh dunia, setiap strategi yang digunakan akan memengaruhi jalannya pertandingan.

Di Steam®, game ini juga mendukung kontrol menggunakan mouse untuk fitur seperti kursor batting, memberikan gameplay batting yang lebih intuitif dan akurat. Menggunakan strategi fastball atau double play, pemain mempunyai alat untuk mengendalikan jalannya permainan sesuai dengan keinginan mereka.

Ditenagai oleh Engine eBaseball™ generasi baru, eBaseball™: PRO SPIRIT merekayasa intensitas stadium yang penuh di bawah terangnya lampu-lampu. Dari suara pentung baseball hingga teriakan para penonton, game ini menyediakan suasana baseball yang autentik dan kompetisi kelas atas yang dibuat untuk para penggemar baseball.

*Tidak tersedia di beberapa wilayah dan negara.

Mode World Championship

Mode “WORLD CHAMPIONSHIP” mengajak pemain untuk bersaing di pertandingan online melawan pemain lain dari 200 negara dan wilayah di seluruh dunia. ​

​Terstruktur sebagai serial turnamen reguler yang diadakan, setiap event memfiturkan regulasi masing-masing. Pemain harus membangun tim mereka dengan batasan biaya yang ditentukan, memilih dari 120 pemain yang tersedia untuk membangun tim yang mampu memenangkan kejuaraan.

Kemenangan akan memberikan poin ranking dan membuka atlet yang bisa dimainkan, sehingga para pesaing bisa terus memperkuat tim mereka selagi menaiki papan peringkat dunia.  Dengan peraturan turnamen dan lawan yang terus berubah, mode WORLD CHAMPIONSHIP menyediakan jalan yang dinamis dan membutuhkan keahlian untuk menjadi juara internasional!

Team Edit

Pemain bisa membuat tim original baru, mengatur seragam, topi, dan identitas tim sebebas mungkin untuk menciptakan klub yang mereka inginkan.

Sistem pengeditan penampilan pemain yang ekstensif memberikan personalisasi yang mendalam untuk setiap atlet dalam tim. Gaya Batting dan setup pitching bisa disesuaikan, serta rutin in-at-bat bisa dikonfigurasi agar cocok dengan gaya permainan setiap pemain.

Perayaan Home run, termasuk bagaimana pemain cadangan merayakan, juga bisa dipilih, menambahkan semangat ke setiap momen besar.

Model badan karakter memfiturkan lebih dari 120 parameter yang bisa disesuaikan, termasuk fitur ras seperti jenis mata, juga atribut fisik seperti ketebalan tangan dan bentuk keseluruhan badan. Hasilnya adalah sistem pengeditan yang mendukung pemain untuk menciptakan karakter yang unik.

Kunjungi website resmi untuk info lebih lanjut tentang eBaseball™: PRO SPIRIT:

https://www.konami.com/games/pro-spirit/

KONAMI Mengumumkan eFootball Kick-Off! Akan Dirilis Tanggal 4 Juni, Eksklusif Untuk Nintendo Switch 2 Dengan Harga Rp. 430.000

0

Konami Digital Entertainment Limited (KONAMI) mengumumkan eFootball™ Kick-Off!, game baru di serial eFootball™, akan dirilis tanggal 4 Juni 2026 dengan harga Rp430.000, eksklusif untuk Nintendo Switch™ 2.

Dapat dinikmati oleh para penggemar PES dan juga bagi pendatang baru di genre game sepak bola, pembelian lebih awal versi digital akan mendapat bonus pemain legendaris Lionel Messi sebagai pemain yang bisa dimainkan di mode “World Tour”.

*Tanggal mulai pre-order akan diumumkan di website resmi dalam waktu dekat.

Fitur & Mode Game

  • World Tour: Dirikan tim klubmu sendiri dan bertanding di turnamen di seluruh dunia. Menangkan pertandingan untuk mendapatkan pemain dari musuh yang dikalahkan atau gunakan mata uang yang diperoleh dari bermain untuk membeli pemain-pemain legendaris. Buat tim kamu yang original dan taklukkan dunia.

  • International Cup: Kompetisi internasional paling bergengsi datang kembali setiap empat tahun. Kendalikan tim nasional kesukaanmu dan bertanding di pentas sepak bola termegah, di mana sejarah diciptakan dan juara dunia ditentukan.

* *Mode International Cup akan tersedia tanpa biaya tambahan di update setelah game dirilis.

  • Beginner-Friendly Modes: Masuk ke lapangan dan mainkan mode sepak bola yang lebih santai, seperti 6 lawan 6, yang didesain untuk gameplay lebih cepat dan penuh aksi jadi banyak peluang untuk mencetak gol. Sistem Ranking mengevaluasi performa pemain dan berubah berdasarkan keahlian pemain.

 

  • Local & Online Play: Main kapan saja, di mana saja, sendirian atau lawan teman via wireless lokal, atau lawan pemain dari seluruh dunia lewat kompetisi online.

Review Tales of Berseria Remastered (Nintendo Switch): Kisah Balas Dendam yang Belum Padam

0

Tales of Berseria Remastered Nintendo Switch menjadi salah satu cara terbaik bagi pemain baru untuk menikmati salah satu JRPG paling emosional dalam seri Tales. Dirilis pertama kali pada 2016, game ini kembali hadir melalui proyek Tales of Series 30th Anniversary Remastered Project, membawa kisah kelam Velvet Crowe ke konsol modern termasuk Nintendo Switch.

Walau bukan remake besar-besaran, versi remaster ini menghadirkan berbagai peningkatan kualitas hidup (quality-of-life improvements), kumpulan DLC, serta beberapa fitur baru yang membuat petualangan terasa lebih nyaman dimainkan di era sekarang. Terima kasih kepada Bandai Namco yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa memainkan Tales of Berseria Remastered di Nintendo Switch.

Namun, apakah Tales of Berseria Remastered masih layak dimainkan di tahun 2026, khususnya di Nintendo Switch? Mari kita bahas.

Kisah Balas Dendam Jadi Inti Cerita

Salah satu kekuatan terbesar Tales of Berseria Remastered adalah ceritanya. Berlatar di dunia Desolation, game ini menggambarkan sebuah wilayah kepulauan yang berada di bawah kekuasaan Holy Empire of Midgand. Dunia ini tidak hanya dihuni manusia, tetapi juga makhluk spiritual bernama Malakim serta monster yang dikenal sebagai Daemon.

Ancaman utama datang dari penyakit misterius bernama Daemonblight, yang mengubah manusia menjadi monster. Untuk melawan ancaman tersebut, organisasi religius bernama Abbey dibentuk dan dipimpin oleh seorang tokoh karismatik bernama Artorius. Di sinilah cerita mulai bergerak.

Pemain mengikuti perjalanan Velvet Crowe, seorang gadis yang hidupnya hancur setelah tragedi mengerikan yang melibatkan Artorius dan kematian adiknya. Peristiwa tersebut mengubah Velvet menjadi makhluk setengah daemon bernama Therion, sekaligus memicu satu tujuan dalam hidupnya: balas dendam.

Berbeda dengan banyak JRPG lain yang menampilkan pahlawan penuh harapan, Velvet adalah karakter anti-hero. Ia digerakkan oleh kemarahan, trauma, dan obsesi untuk menghancurkan orang yang menghancurkan hidupnya.

Tema inilah yang membuat Tales of Berseria terasa jauh lebih dewasa dibanding banyak game lain dalam seri Tales.

Kamu yang belum paham awal dari semua itu terjadi bisa menyaksikan bagaimana saya mencoba game ini selama 1 jam dan bagaimana awal rasa dendam itu muncul pada video gameplay di bawah ini:

 

Karakter dan Dialog yang Hidup

Selain Velvet, kekuatan cerita Berseria juga datang dari para karakter pendampingnya.

Sepanjang perjalanan, Velvet bertemu berbagai karakter unik seperti, Magilou yang eksentrik dan penuh humor, Eleanor yang memiliki moral kuat, Rokurou sang pendekar pedang dan Eizen yang misterius.

Interaksi antar karakter ini diperkuat oleh fitur khas seri Tales yaitu Skits, percakapan ringan antar anggota party yang muncul sepanjang permainan.

Skits tidak hanya memberikan humor di tengah cerita gelap, tetapi juga memperdalam hubungan antar karakter. Hal ini membuat perjalanan Velvet terasa lebih manusiawi, bahkan ketika ia berada di titik paling kelam dalam hidupnya.

Berkat penulisan cerita yang kuat, Tales of Berseria sering dianggap sebagai salah satu narasi terbaik dalam sejarah seri Tales.

Sistem Combat Cepat yang Fleksibel

Dari sisi gameplay, Tales of Berseria menggunakan sistem Liberation Linear Motion Battle System, sistem pertarungan real-time khas seri Tales.

Pertarungan berlangsung di arena kecil di mana pemain dapat, menggabungkan serangan menjadi combo panjang, menggunakan berbagai Artes dan menyesuaikan pola serangan sesuai musuh. Salah satu mekanik penting adalah Soul Gauge, yang menentukan berapa banyak serangan yang bisa dirangkai dalam satu combo.

Jika pemain berhasil menyerang kelemahan musuh, membuat musuh stun, dan melakukan serangan strategis, Soul Gauge akan bertambah.

Namun, jika pemain asal menekan tombol tanpa strategi, jumlah Soul bisa berkurang. Secara teori sistem ini menciptakan pertarungan yang taktis dan dinamis.

Velvet Terlalu Overpowered

Karakter utama Velvet Crowe memiliki kemampuan khusus bernama Break Soul yang membuatnya sangat kuat.

Kemampuan ini, memberikan damage besar, membuat Velvet sementara kebal, memulihkan HP, membersihkan status negatif. Akibatnya, Velvet sering kali terasa terlalu dominan dibanding anggota party lainnya.

Bahkan pada tingkat kesulitan tinggi, pemain sering kali dapat mengalahkan musuh hanya dengan memanfaatkan kemampuan Velvet tanpa perlu banyak strategi. Hal ini membuat variasi gameplay sedikit berkurang karena pemain jarang merasa perlu mengganti karakter.

Eksplorasi Dunia dan Aktivitas Tambahan

Di luar pertarungan, Tales of Berseria juga menawarkan berbagai sistem tambahan yang cukup menarik.

Beberapa fitur sampingan yang bisa dilakukan antara lain:

Cooking System

Sistem memasak memungkinkan karakter membuat makanan yang memberikan bonus selama petualangan.

Setiap karakter memiliki kemampuan memasak yang berbeda sehingga pemain didorong untuk terus menggunakannya.

Expedition System

Pemain juga dapat mengirim kapal bajak laut untuk melakukan ekspedisi laut.

Dalam sistem ini pemain bisa mendapatkan, item langka, area laut baru dan harta karun. Ekspedisi ini berlangsung sekitar 30 menit waktu permainan dan bisa menjadi sumber resource tambahan.

Selain itu ada juga koleksi Katz Spirits, peti rahasia, dan berbagai kosmetik yang bisa dikumpulkan sepanjang perjalanan.

Fitur Baru di Versi Remastered

Walau tidak menghadirkan peningkatan grafis besar, Tales of Berseria Remastered membawa banyak peningkatan kualitas hidup.

Beberapa fitur baru antara lain:

  • Semua DLC dari versi original tersedia

  • Grade Shop langsung tersedia sejak awal permainan

  • Kecepatan bergerak karakter meningkat 20%

  • Fast travel tersedia lebih awal

  • Auto-save system

  • Battle retry setelah kalah

  • Toggle enemy encounter

  • Objective marker yang lebih jelas

  • Subtitle saat battle

Perubahan ini membuat pengalaman bermain terasa jauh lebih nyaman, terutama bagi pemain baru.

Performa di Nintendo Switch

Di Nintendo Switch, game ini berjalan pada 1080p saat docked, 720p saat handheld. Frame rate ditargetkan 30 FPS, meski bisa sedikit turun dalam beberapa situasi tertentu.

Secara visual, game ini tetap mempertahankan gaya anime cel-shaded yang menjadi ciri khas seri Tales. Walau tidak terlalu berbeda dari versi original, tampilannya masih cukup menarik untuk ukuran JRPG klasik.

Namun beberapa pemain mungkin merasa desain dungeon dan lingkungan terasa agak sederhana dibanding game modern.

Audio dan Voice Acting Tetap Solid

Salah satu hal yang tetap kuat di remaster ini adalah voice acting. Dialog karakter disuarakan dengan sangat baik, terutama Velvet yang emosinya terasa sangat kuat sepanjang cerita.

Musik garapan Motoi Sakuraba juga tetap mempertahankan nuansa dramatis dengan kombinasi piano emosional dan orkestrasi pertempuran yang mantap. Soundtrack ini berhasil memperkuat tema cerita yang penuh konflik.

Kesimpulan

Tales of Berseria Remastered Nintendo Switch mungkin bukan remaster yang paling ambisius dari segi teknis, tetapi ia tetap berhasil menghadirkan kembali salah satu cerita terbaik dalam sejarah JRPG modern.

Cerita yang kuat, karakter yang berkesan, dan berbagai peningkatan kualitas hidup membuat game ini masih sangat layak dimainkan, terutama bagi pemain yang belum pernah mencobanya sebelumnya.

Meski sistem combat memiliki masalah keseimbangan karakter dan desain dungeon terasa sederhana, pengalaman keseluruhan tetap memuaskan berkat narasi yang emosional dan dunia yang menarik untuk dijelajahi.

Bagi gamer Nintendo Switch yang menyukai JRPG dengan cerita gelap dan karakter kompleks, Tales of Berseria Remastered adalah petualangan yang tidak boleh dilewatkan.

Tales of Berseria Remastered kini telah tersedia di Nintendo Switch, PS5, dan Xbox Series, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

Sony Disebut Tidak Lagi Tertarik Merilis Game Eksklusif Playstation di PC

0

Sony punya rencana besar dengan game eksklusif PlayStation, namun rencana ini mungkin kurang enak didengar. Menurut informasi yang dipublikasikan oleh Bloomberg, Sony disebut tidak lagi berencana untuk merilis game PS5 dengan skala besar ke PC, hanya kategori tertentu saja. Sementara game flagship akan tetap berada di PS5.

Perubahan strategi ini, menurut sumber yang memahami rencana internal perusahaan, menandai arah baru Sony untuk kembali menekankan eksklusivitas konsol setelah sekitar enam tahun bereksperimen dengan rilis lintas platform. Namun, kebijakan ini tidak berlaku merata untuk semua judul, karena beberapa game online masih tetap dirilis multiplatform.

Masa Depan Game Eksklusif Playstation: Tetap di PS5

Menurut sumber yang berbicara kepada Bloomberg, game online seperti Marathon dan Marvel Tokon tetap akan di platform selain PST. Sebaliknya, game singleplayer yang merupakan tombak utama PlayStation akan dipertahankan sebagai eksklusif PS5. Contohnya adalah Ghost of Yotei serta Saros yang akan tetap di PS5.

Meski begitu, masih ada beberapa pengecualian. Dua game yang dibuat pengembang eksternal yaitu Death Stranding 2 dan Kena: Scars of Kosmora, kabarnya masih dijadwalkan rilis di PC tahun ini.

Alasan Sony Mengubah Arah

Ada beberapa faktor yang diduga mendorong munculnya rencana ini. Pertama, game PlayStation yang diporting ke PC tidak menunjukkan performa penjualan. Kedua, ada kekhawatiran internal bahwa membawa terlalu banyak judul ke PC bisa menggerus citra dari konsol PlayStation, dan pada akhirnya menekan penjualan PS5 serta penerusnya.

Kebijakan Sony ini sangat kontras dengan yang dilakukan oleh Microsoft. Xbox sejak 2018 justru mendorong perilisan PC game mereka di PC. Bahkan belakangan juga mulai membawa beberapa judul game flagshipnya ke PS5 setelah jeda tertentu.

Selain itu, ada pula pertimbangan mengenai konsol Xbox masa depan dirumorkan semakin dekat ke ekosistem Windows. Beberapa eksekutif Sony rupanya merasa tidak nyaman membayangkan game flagship mereka berjalan di perangkat pesaing.

Penjualan Resident Evil Requiem Sudah Lebihi 5 Juta Unit

0
Resident Evil Requiem Pecahkan Rekor di Steam

Seminggu setelah peluncurannya, Capcom mengumumkan jumlah penjualan dari Resident Evil Requiem. Seperti yang sudah diprediksi, game ke-9 dari seri Resident Evil ini berhasil membuat Capcom sumringah, dengan angka penjualan melampaui angka 5 juta unit dalam waktu kurang dari satu minggu.

Meski tidak disebutkan, jumlah tersebut kemungkinan adalah jumlah total dari penjualan di semua platform dari seluruh dunia. Tidak hanya itu, angka tersebut juga menjadikan Resident Evil Requiem sebagai peluncuran terbesar dalam sejarah franchise Resident Evil.

Resident Evil 4 Remake yang rilis pada 2023, membutuhkan hampir empat bulan untuk mencapai jumlah yang sama dengan yang ditorehkan oleh Resident Evil Requiem. Sebelumnya lagi, Resident Evil Village memerlukan waktu lima bulan.

Resident Evil 7 yang rilis pada Februari 2017 juga berhasil menorehkan angka fantastis yaitu 3 juta unit penjualan dalam beberapa minggu setelah peluncuran, namun belum bisa mencapai apa yang diperoleh Resident Evil Requiem.

Pencapaian yang didapatkan oleh game ini memang tercermin dari kualitas yang disajikan. Hasil review kami untuk Resident Evil Requiem adalah bintang lima yang solid, karena formula yang menggabungkan dua gaya ke dalam satu game berjalan dengan sangat baik.

Bagaimana menurut kalian?

Review Sharp AQUOS Sense10: Si Kecil yang Bandel

0
Review Sharp AQUOS Sense10

Awal tahun adalah waktunya bagi Sharp untuk meluncurkan lini baru dari smartphone AQUOS. Dirilis pada pertengahan Desember 2025 kemarin, AQUOS Sense10 adalah penerus dari Sense9 yang hadir di Indonesia pada awal 2025.

Sharp menempatkan smartphone di kelas mid-range. Secara desain, smartphone ini masih mengikuti konsep yang diterapkan pada pendahulunya, yaitu desain yang minimalis, sederhana, dan compact. Untuk performa smartphone ini mendapatkan peningkatan dari dapur pacu dan juga fotografi.

Berikut adalah review Sharp AQUOS Sense10 berdasarkan pengalaman yang kami rasakan selama menggunakannya sebagai daily driver.

Unboxing

Berikut adalah isi boks penjualan dari AQUOS Sense10

  • Unit AQUS Sense10
  • Softcase transparan
  • Kabel USB Type-C untuk pengisian/transfer data
  • Kepala charger
  • Buku panduan dan kartu garansi
  • Earphone

Kehadiran earphone dalam boks penjualan sudah merupakan tradisi dari Sharp. Mulai dari Sense8 sampai Sense10, selalu ada earphone gratis. Kelebihan ini perlu diapresiasi mengingat sudah jarang smartphone dari brand lain yang memberikan bonus seperti ini, meski smartphonenya sendiri sudah tidak lagi memiliki audio jack.

Dari Segi Desain

Dari sisi desain, Sharp masih mempertahankan karakter khasnya. Sama seperti pendahulunya Sense9, AQUOS sense10 masih mengusung Miyake Design dengan tampilannya terlihat ringan, namun tetap solid. Dimensi smartphone ini adalah 149 x 73 x 8,9 mm dengan bobot hanya 166 gram. Ukurannya yang kecil membuat smartphone mudah diselipkan ke dalam saku baju maupun celana, ditambah terasa compact ketika digenggam di tangan. Mulai dari Sense8 sampai dengan Sense10, ukurannya yang kecil adalah nilai plus untuk kami.

Review Sharp AQUOS Sense10 Tampak Belakang

Bodi smartphone terbuat dari aluminium, memberikan kesan premium dan elegan. Sharp menempatkan tombol volume dan daya pada sisi kanan. Tombol daya juga merangkap sebagai sensor fingerprint. Ketika brand lain sudah meletakkaan sistem tersebut di layar, Sharp masih memilih gaya lama.

Untuk bagian kiri smartphone terdapat slot untuk SIM card dan microSD. Sama seperti seri sebelumnya, kalian tidak memerlukan kunci atau SIM ejector untuk slot ini, melainkan cukup dengan dicongkel dengan kuku dan ditarik keluar. Meski tidak ribet, cara ini bisa berpotensi untuk membuat lecet bodi jika kalian tidak hati-hati. Namun, perlu dicatat AQUOS sense10 hanya memiliki satu slot untuk SIM card.

Review Sharp AQUOS Sense10 Sim Card Slot

Untuk bagian bawah smartphone terdapat microphone, port USB Type-C, serta lubang speaker. Sama seperti Sense9, AQUOS Sense10 sudah tidak lagi memiliki port audio jack.

Pada bagian belakang, terdapat dua kamera yang diletakkan di dalam modul berbentuk sedikit oval. Kalian juga bisa melihat Logo AQUOS yang ditempatkan di dalam modul kamera tersebut. Untuk ketahanan, smartphone ini sudah mengantongi sertifikat IP68 untuk ketahanan terhadap debu dan air, serta MIL-STD-810H menunjukkan ketahanan dari jatuh hingga ketinggian sekitar 1,2 meter.

Review Sharp AQUOS Sense10 Bagian Bawah

Beralih ke bagian layar, AQUOS Sense10 menggunakan panel OLED LTPO IGZO 6,1 inci dengan resolusi 2340 x 1080 piksel. Layar ini mampu mencapai kecerahan puncak 2.000 nits dan mendukung refresh rate hingga 240Hz. Kombinasi ini menghasilkan kualitas visual yang halus, cocok untuk menonton video, bermain game, atau sekedar browsing. Kalian juga tidak perlu khawatir dengan pantulan cahaya matahari ketika menggunakan smartphone ini di luar ruangan.

Review Sharp AQUOS Sense10 Display

Pada bagian layar juga terdapat kamera depan. Seri ini sama seperti Sense9 sudah menggunakan desain punch hole, tidak lagi menggunakan waterdrop seperti seri Sense8.

Dari Segi Performa

Beralih ke bagian performa, AQUOS sense10 menggunakan chipset Snapdragon 7s Gen 3, yang merupakan chipset kelas menengah dari Qualcomm. Chipset ini membawa CPU octa-core dan sudah terintegrasi dengan GPU Adreno 810. Ditambah dengan memori RAM 8GB, plus Virtual RAM hingga 8GB. Untuk penyimpanan internal adalah 256GB yang masih bisa diperluas dengan kartu microSD.

Menurut klaim Sharp, kombinasi jeroan yang dimiliki oleh AQUOS Sense10 ini memberikan peningkatan performa yang lebih baik dibandingkan AQUOS sense9. Kekuatan CPU meningkat sekitar 20 persen, GPU menjadi 40 persen, ditambah kemampuan proses AI yang bisa meningkat hingga 30 persen.

Review Sharp AQUOS Sense10 Antutu

Kami menguji performa smartphone ini dengan aplikasi AnTuTu. Skor yang tercatat adalah lebih dari 1 juta ribu, membuktikan bahwa smartphone ini sudah sangat mumpuni dari segi performa dan bisa digunakan untuk multitasking.

AQUOS sense10 sudah menggunakan sistem operasi Android 15. Sharp juga menambahkan berbagai macam fitur AI ke dalam smartphone. Ada fitur Noise Reduction yang sangat membantu untuk kegiatan sehari-hari, karena mampu mengenali dan memisahkan suara manusia dengan kebisingan di latar secara otomatis. Ada juga fitur AI Phone Assistant yang bisa menjawab panggilan secara otomatis sekaligus mentranskripsi panggilan tidak terjawab menjadi teks.

Untuk sisi daya, smartphone ini dibekali baterai dengan kapasitas 5.000 mAh. Meski tidak sebesar baterai dari smartphone brand lain di level yang sama, AQUOS Sense10 telah dilengkapi dengan teknologi smart energy-saving dan intelligent charge. Kehadiran dua fitur ini membuat smartphone dapat bertahan hingga dua hari untuk penggunaan normal. Untuk mempercepat pengisian daya, Sharp juga sudah mengimplementasi fitur fast charging 37W.

Kami juga mencoba memainkan game dengan menggunakan smartphone ini. Selama penggunaan selama kurang lebih 1 jam, dan digunakan untuk memainkan game seperti Free Fire dan Resident Evil Survival Unit, daya hanya berkurang sekitar 11 persen. Untuk game yang enteng dan casual, smartphone ini sudah bisa memfasilitasi, meski layarnya agak kecil.

Review AQUOS Sense10 Si Jago Kamera

Review AQUOS Sense10 kamera

Pada sektor kamera, AQUOS Sense10 membawa dua kamera belakang. Kamera utama adalah 50,3MP dengan lensa wide 23mm dan aperture f/1.9, mendukung dual pixel PDAF, dan sudah dilengkapi Optical Image Stabilization (OIS). Kamera kedua adalah 50,3MP dengan lensa ultrawide 13mm, aperture f/2.2, serta dukungan PDAF. Untuk kamera depan, Sense10 memiliki kamera 32MP yang bisa digunakan untuk selfie dan video call.

Keberadaan OIS pada kamera sangat berguna untuk pengambilan foto. Fitur ini bisa membantu mengurangi efek guncangan tangan, untuk meminimalisir efek blur pada gambar yang dihasilkan. Tidak hanya untuk foto, untuk pengambilan video juga sudah dibekali dengan Electronic Image Stabiliation (EIS) untuk meredam guncangan. Jadi kalian tidak perlu terlalu cemas hasil video yang goyang.

Nilai plus untuk bagian kamera Sense10 adalah teknologi ProPix yang sudah ditingkatkan. Melalui teknologi, kamera smartphone mampu menangkap detail yang halus pada setiap pengambilan gambar.

Secara keseluruhan, hasil gambar yang dihasilkan oleh kamera AQUOS sense10 sudah baik. Kualitas gambar yang dihasilkan untuk objek yang tidak bergerank dan berada dalam kondisi cahaya terang sangat baik, dengan warna yang muncul. Kemampuan kamera smartphone ini juga masih bisa bekerja dengan baik meski dipakai untuk memotret pada tempat yang minim cahaya.

Sharp juga menyediakan berbagai macam mode pemotretan, mulai dari photo dengan efek Bokehnya, Night Mode untuk pengambilan gambar di malam hari, dan juga mode manual untuk pengguna yang lebih suka mengutak-atik kameranya sebelum mulai mengambil gambar.

Tidak ketinggalan fitur AI seperti Shadow Removal untuk menghilangkan bayangan dari objek yang difoto, serta Glass Reflection Reduction yang membantu mengurangi pantulan pada hasil foto di kaca.

Kesimpulan Review Sharp AQUOS Sense10

Kesimpulan kami untuk review Sharp AQUOS Sense10 adalah sebagai kelas menengah, smartphone ini menawarkan keseimbangan antara desain dan performanya. Namun secara keseluruhan, seri ini tidak terlalu berbeda dengan seri sebelumnya.

Desain smartphone yang kecil, ringan, dan compact selalu menjadi daya tarik untuk kami. Untuk performa, dapur pacu yang menggunakan Snapdragon 7s Gen 3 dan baterai 5.000 mAh sudah cukup untuk mendukung dalam kegiatan sehari-hari, termasuk bermain game yang ringan. Sektor kamera juga menjadi daya tarik berkat konfigurasi dual kamera 50MP yang sudah dilengkapi dengan OIS. Hasil foto yang dihasilkan tajam, kaya warna, dan stabil, sudah cukup bagi pengguna yang memiliki hobi mobile photography.

Sharp AQUOS sense10 sudah tersedia di Indonesia dan dibanderol dengan harga Rp6.699.000.

Review Resident Evil Requiem (PC): Dua Game Jadi Satu

0

PR Capcom selama ini untuk Resident Evil adalah soal genrenya. Kadang game ini fokus ke survival horror seperti Resident Evil 7. Kadang juga terlalu asyik dengan elemen action seperti Resident Evil 6 sampai kehilangan identitas aslinya.

Inilah yang membuat Capcom mencoba formula baru di Resident Evil Requiem. Mereka mencoba merangkul dua kubu sekaligus, yaitu gamer yang menyukai elemen horor dan ingin dikejutkan, dan gamer yang suka dengan gameplay action over-the-top.

Hasilnya? Pada beberapa jam pertama kami merasakan rasa takut yang tidak sudah lama tidak disajikan oleh franchise ini. Lalu beberapa jam setelah, kami merasa puas bisa menghancurkan zombie dengan senjata api kelas berat atau tendangan dengan kekuatan yang bisa menghancurkan kepala.

Begitulah pengalaman yang kami dapatkan dan rasakan selama memainkan versi review Resident Evil Requiem di PC. Untuk detailnya, kamu bisa membaca review berikut.

Petualangan Dimulai Dari Grace Ashcroft

Cerita Resident Evil Requiem dibuka dengan cerita Grace Ashcroft, seorang agen FBI muda ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematian misterius yang menimpa para survivor dari tragedi Raccoon City. Lebih ironis lagi, ibu dari Grace yaitu Alyssa Ashcroft juga merupakan salah satu korbannya.

Pembukaan game dimulai dari Grace yang ditugaskan untuk menyelidiki hotel tempat kejadian perkara. Pada lokasi ini, pemain akan diperkenalkan dengan gaya bermain dari Grace. Secara default, game akan menggunakan sudut pandang first-person, yang jika membuat pemain tidak nyaman bisa diganti menjadi third-person dalam menu option.

Review Resident Evil Requiem Grace

Tentunya adalah pilihan pemain untuk menentukan sudut pandang mana yang diinginkan. Namun menurut kami, gaya first-person adalah yang paling sesuai digunakan untuk Grace. Sebabnya gaya tersebut sudah sesuai dengan karakteristiknya. Grace meski adalah bagian dari FBI, tetapi bukan petugas lapangan. Ia juga bukan seorang super-soldier atau polisi veteran. Ia justru seseorang yang rapuh dan gampang panik, meski pada akhirnya pemain bisa melihat evolusi Grace menjadi lebih bisa diandalkan.

Kembali ke cerita, Grace dijebak oleh antagonis utama, Victor Gideon, dan akhirnya diculik dan dipenjara di Rhodes Hill Chronic Care Center. Klinik ini bisa dibilang adalah replika dari Spencer Mansion dari Resident Evil pertama. Fans game ini pasti bisa merasakan atmosfir yang sama ketika menjelajah, mulai dari lorong berliku, pintu-pintu yang terkunci, dan juga pastinya zombie dimana-mana.

Bagian Grace adalah bagian dari elemen survival horror untuk Resident Evil Requiem. Stealth adalah sahabat utama pemain karena begitu lemahnya Grace. Healthnya gampang tergerus, pergerakannya lambat, senjata yang tidak efektif, mau tidak mau pemain harus mengandalkan stealth untuk menghindar dari zombie.

Review Resident Evil Requiem Bagian Inventory

Baru kali ini kami juga merasakan betapa terbatasnya slot di inventory yang memaksa pemain untuk menguasai sistem manajemen yang baik. Kami sering kali bolak-balik ke safe point hanya karena inventory sudah tidak muat. Rutinitas ini juga berbahaya dan memakan waktu, karena tidak semua zombie yang menghalangi jalan bisa dimatikan demi menghemat peluru.

Grace juga akan mendapatkan mekanik terunik yang pernah kami temukan di seri Resident Evil, yaitu darah. Menggunakan alat bernama Blood Collector, Grace bisa menyedot plasma darah dari mereka yang terinfeksi. Darah ini lalu digunakan sebagai bahan crafting untuk membuat medkit, peluru, sampai dengan membuat senjata bernama Hemolytic Injector.

Review Resident Evil Requiem Hemolytic injector

Hemolytic injector akan membuat elemen stealth Grace naik level. Anggap saja senjata ini bisa digunakan untuk stealth kill. Grace akan menusukkan alatnya ke tulang belakang zombie, lalu tubuh target akan menggelembung dan meledak dengan efek gore yang memuaskan. Tidak hanya itu, darah dan organ zombie yang tercecer di lantai dan dinding tidak menghilang. Sebuah detail kecil yang menurut kami membuat game menjadi lebih imersif.

Hemolytic Injector juga bisa digunakan untuk menyuntik zombie yang sudah tewas. Kenapa? Karena zombie di Resident Evil Requiem memiliki kebiasaan untuk hidup kembali dan bermutasi menjadi monster yang lebih mengerikan, Blister Head.

Kembalinya Zombie

Review Resident Evil Requiem Zombie

Setelah berhadapan dengan keluarga Baker dan jamur di Resident Evil 7, werewolf di Resident Evil Village, dan Ganado di Resident Evil 4 Remake, Resident Evil Requiem akan kembali membawa zombie ke dalam game. Kejutannya adalah zombie di game ini tidak lagi seperti zombie klasik yang hanya bisa melenguh sambil menyeret kakinya.

Zombie di Resident Evil Requiem didesain untuk menjadi lebih menyeramkan. Mereka masih memiliki jejak dari pemikirannya dulu ketika masih manusia, membuat mereka bisa berbicara atau masih melakukan rutinitas yang dulu dilakukan. Misalnya ada zombie yang selalu mematikan lampu karena ingatannya dulu sebagai pelayan. Ada zombie koki yang masih mencoba untuk memasak, zombie penyanyi yang masih bisa bernyanyi (Ini varian yang paling menyeramkan), sampai dengan zombie yang benci dengan suara keras.

Kami senang zombie klasik bisa kembali ke panggung sebagai musuh di Resident Evil Requiem. Namun, developer sepertinya terlalu terobsesi dengan zombie sampai melupakan menambahkan monster yang lain ke dalam. Hanya satu cara untuk menemukan monster jenis lain yaitu dalam boss fight. Misalnya monster gendut yang muncul dalam video promosi bagian Leon, dan ini hanya salah satunya saja.

Leon S. Kennedy, Si Paman Pecinta Action

Review Resident Evil Requiem Leon

Ketika pemain berpindah menjadi Leon S. Kennedy, Resident Evil Requiem seakan mengalami perubahan. Elemen horor hilang, diganti menjadi elemen action. Sudut pandang Leon secara default adalah third-person yang sudah sangat sesuai dengan gaya bermainnya. Kami merasa seperti kembali memainkan Resident Evil 4 Remake, tapi dengan Leon yang sudah lebih tua dengan beragam gaya bertarung baru.

Review Resident Evil Requiem Gameplay Leon

Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi. Semua zombie yang muncul bisa dihabisi dengan efektif dan brutal oleh Leon. Jika Grace mengandalkan pisau bisa rusak dan crafting dengan darah, Leon akan dipersenjatai oleh kapak yang tidak bisa hancur, melainkan hanya aus dan bisa diasah kembali. Jika Grace hanya mengandalkan handgun, Leon akan ditawari oleh beragam jenis senjata, mulai dari shotgun, hingga sniper rifle.

Rasa over-the-top Resident Evil Requiem tidak berhenti hanya sampai di situ. Ada momen dimana Leon akan diberi kesempatan untuk menggunakan chainsaw, senjata di Resident Evil 4 Remake yang hanya bisa digunakan oleh Doctor Salvador, sekarang bisa dipakai oleh Leon. Ketika menggunakan senjata ini, Leon juga bisa melakukan execution ala film splatter movie yang super sadis tapi memuaskan.

Leon juga diberikan kemampuan untuk mengambil dan melempar senjata yang jatuh. Misalnya jika menjatuhkan senjata kapak dari zombie yang membawanya, senjata ini bisa dilempar oleh Leon untuk memberikan extra damage.

Leon juga bisa mendapatkan mata uang atau currency dari setiap kali ia membunuh zombie. Mata uang ini lalu bisa dibelanjakan untuk membeli upgrade senjata, amunisi tambahan, bahkan body armour. Fitur ini mengingatkan kami dengan Dino Crisis 2.

Daya tarik lainnya dari Leon selain gameplay dan cutscene yang bombastis, adalah hak spesial untuk menjelajahi kembali Raccoon City. Untuk pemain yang sudah memainkan Resident Evil 2 dan 3, mengunjungi kembali kota ini akan menjadi nostalgia yang menarik. Apalagi ketika Leon mendatangi kantor Raccoon City Police Department.

Kondisi gedung yang nyaris runtuh dengan beberapa ornamen ikonik yang masih utuh, membuat kami kembali teringat dulu ketika memainkan Resident Evil 2. Apalagi ada banyak easter egg yang sengaja disembunyikan oleh Capcom, menunggu untuk ditemukan oleh fans Resident Evil sejati.

Semakin jauh pemain menjalani cerita Resident Evil Requiem, akan semakin terasa pula segmen mana yang lebih dominan. Meski Grace dan Leon sama-sama sudah memiliki porsi sendiri, kami tetap merasa jika Leonlah yang menjadi anak emas. Meski begitu, usaha developer untuk menyajikan elemen survivor horror dalam cerita Grace juga wajib diacungi jempol.

Puzzle Jadi Sederhana

Review Resident Evil Requiem Puzzle

Semakin modern game Resident Evil, semakin sederhana pula puzzlenya. Analogi pantas disematkan ke Resident Evil Requiem. Puzzle di game ini hampir semua jawabannya selalu disodorkan kepada pemain, tidak perlu sampai garuk-garuk kepala lagi untuk bisa memecahkannya.

Salah satu puzzle yang obvious adalah ketikan menemukan boks cooler berisi organ tubuh. Box ini memiliki kunci yang rumit, namun ketika akhirnya menemukan kertas berisi petunjuknya, puzzle ini bisa diselesaikan dengan mudah. Cukup dengan mengikuti petunjuk yang juga secara obvious dijelaskan runutan cara penyelesaiannya di kertas tersebut.

Intinya puzzle di Resident Evil Requiem tidak lagi ditujukan untuk mengetes kemampuan otak dan kesabaran pemain, melainkan hanya selingan ringan saja.

Resident Evil Requiem Dari Segi Teknis

Kami memainkan versi review Resident Evil Requiem di PC dengan spesifikasi CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB. Setting grafis yang kami pakai adalah normal-high dengan menggunakan upscaling DLSS 4.5 diset ke performance. Beberapa fitur Ray-Tracing juga kami aktifkan, meski tidak tidak maksimal.

Hasilnya kami bisa memainkan game dengan stabil di 60FPS. Grafis dan visual tetap smooth dan masih tetap enak untuk dilihat. Selama memainkan game juga tidak pernah ada kendala teknis seperti crash. Menurut kami versi PC Resident Evil Requiem sudah dioptimalisasi dengan baik, dan akan semakin baik kualitasnya jika dimainkan di PC high end. Bahkan jika dilihat dari spesifikasi PC yang tertera di Steam, game ini sebetulnya bisa dimainkan di PC mid.

Kesimpulan Review Resident Evil Requiem

Kesimpulan kami untuk review Resident Evil Requiem adalah game ini terasa seperti dua game berbeda yang dijadikan satu. Game pertama adalah survival horror yang mencekam dengan gameplay condong ke stealth, dan karakter utama yang tidak berdaya. Sedangkan game kedua adalah game action yang tidak pernah membosankan, dan penuh dengan momen bombastis serta one-liner dari karakter utamanya.

Kombinasi keduanya membuat Resident Evil Requiem memiliki rasa yang agak berbeda dengan game Resident Evil yang lain. Dari segi grafis dan visual, game ini juga tampil dengan sempurna tanpa cela dari segi teknis. Resident Evil Requiem telah menetapkan standar baru yang bisa menjadi patokan untuk game berikutnya, sekaligus harus dilewati.

Apakah formula ini berhasil? Untuk kami jelas berhasil, karena kami puas dengan yang disajikan oleh game ini. Kecuali mungkin jika kamu adalah gamer tipe purist yang hanya menginginkan satu genre yang dominan, maka Resident Evil Requiem mungkin akan mengecewakanmu.

Resident Evil Requiem sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer