Developer sekaligus publisher indie, Alloy Mushroom telah mengumumkan tanggal rilis Super Alloy Crush. Game ini akan meluncur ke Steam Early Access pada 8 April mendatang. Game yang terinspirasi dari Mega Man ini menawarkan aksi 2D roguelike brawler yang bisa dimainkan sendiri maupun co-op dengan tempo permainan yang cepat.
Konten Super Alloy Crush di Early Access
Pada saat Early Access dimulai, Super Alloy Crush sudah menghadirkan tiga chapter cerita, tujuh bos utama, lebih dari 100 skill pertarungan, local co-op, serta beberapa mode permainan. Kedepannya ada empat update besar gratis yang telah disiapkan oleh developer. Konten tambahan ini mencakup kelanjutan cerita Chapter 3, musuh jenis ghost, karakter baru, progress bar, dan masih banyak lagi.
Cerita game ini membawa pemain ke kapal luar angkasa Ranger, markas yang dipakai para karakter utama untuk menjelajahi planet-planet di jagat Super Alloy. Seluruh kru Ranger punya satu tujuan besar, yaitu menemukan harta karun kosmik bernama Planet AE-38.
Selama permainan, pemain akan menggunakan dua Cosmic Hunters, yakni Muu dan Kelly. Muu adalah petarung robot jarak dekat yang menggunakan cakar energi. Ia mengandalkan pergerakan lincah, serangan udara, dan combo panjang untuk menghasilkan damage besar. Sementara itu Kelly adalah manusia hasil buatan yang lebih teknis, dengan spesialisasi senjata api.
Shenmue III Enhanced telah mendapatkan kepastian platform rilis. Game ini nantinya akan tersedia untuk PC, PS5, Xbox Series, dan Switch 2. Khusus untuk versi Switch 2, game ini akan hadir dalam format fisik penuh. Untuk tanggal rilis gamenya akan diumumkan segera.
Shenmue III Enhanced juga akan mendapat Special Edition dan Collector’s Edition. Kedua versi tersebut sudah tersedia untuk pre-order mulai hari ini. Selain itu, dirilis juga trailer baru yang menampilkan pesan khusus dari sang kreator, Yu Suzuki.
Peningkatan di Shenmue III Enchanced
Dari segi teknis, game ini membawa sejumlah peningkatan yang cukup signifikan. Visualnya dibuat lebih tajam dengan tekstur yang ditingkatkan, detail lingkungan yang lebih kaya, waktu loading lebih cepat, dan performa gameplay yang lebih halus. Dukungan DLSS dan FSR juga hadir untuk menjaga kualitas grafis tetap tinggi tanpa mengorbankan performa.
Selain grafis, ada beberapa penyesuaian gameplay yang dibuat agar pengalaman bermain lebih nyaman. Kepadatan NPC ditingkatkan agar area Niaowu terasa lebih hidup. Lalu ada opsi Classic Camera Mode yang terinspirasi dari sudut kamera Shenmue I dan II.
Beberapa fitur kenyamanan lain juga ikut ditambahkan, seperti opsi skip cutscene, skip percakapan, serta jendela waktu QTE yang lebih longgar. Sistem stamina dan hambatan uang juga bisa diatur agar progres terasa lebih lancar. Meski begitu, pengembang menegaskan bahwa hampir semua perubahan besar di Shenmue III Enhanced bersifat opsional, sehingga pemain lama tetap bisa menikmati pengalaman yang mendekati versi aslinya.
Smartphone Galaxy S26 Ultra bisa menjadi andalan baru untuk membantu pengguna mengabadikan malam takbiran dengan hasil foto dan video yang lebih jernih. AI Phone ini mengusung peningkatan Nightography untuk menjawab tantangan pemotretan di malam hari.
Galaxy S26 Ultra Bawa Peningkatan Kamera untuk Malam Hari
Samsung Galaxy S26 Ultra mampu merekam suasana malam dengan pencahayaan minim. Salah satu peningkatannya ada pada aperture kamera yang kini menjadi f/1.4 dari sebelumnya f/1.7. Bukaan lensa yang lebih lebar ini membantu kamera menangkap lebih banyak cahaya, sekaligus menghasilkan efek depth of field yang lebih natural untuk foto portrait.
Peningkatan lain juga terlihat pada fitur Nightography dan sistem pengurangan noise yang lebih canggih. Hasilnya, video pawai takbiran diklaim bisa terlihat lebih tajam, terang, dan tetap natural. Samsung juga menambahkan pembaruan pada fitur Super Steady dengan opsi horizontal lock, sehingga video tetap stabil dan lurus meski ponsel dimiringkan atau diputar. Fitur ini cocok untuk membuat konten cinematic tanpa bantuan gimbal.
Selain sektor kamera, smartphone ini juga dibekali AI ISP dan ProVisual Engine yang bekerja secara real-time untuk menjaga detail, warna kulit, dan tekstur tetap natural. Pengguna juga bisa memanfaatkan Photo Assist berbasis Galaxy AI untuk menghapus objek, menambahkan elemen, atau menyesuaikan visual langsung dari galeri.
Audio Galaxy Buds4 Pro
Untuk urusan audio, Samsung memasangkan smartphone ini dengan Galaxy Buds4 Pro. Earbuds ini mendukung Active Noise Cancellation (ANC) dan Adaptive EQ berbasis AI agar suara takbir terdengar lebih jelas saat proses editing. Samsung juga menyebut pengguna bisa memakai Audio Eraser dari Galaxy AI untuk mengurangi suara yang tidak diinginkan.
Harga Galaxy S26 Ultra dan Galaxy Buds4 Pro
Mulai 18 Maret 2026, Galaxy S26 Series dan Galaxy Buds4 Series sudah tersedia di Indonesia.
Galaxy S26 Ultra dijual dalam tiga varian, yakni 12GB/256GB seharga Rp24.499.000, 12GB/512GB seharga Rp27.499.000, dan 16GB/1TB dengan harga Rp31.999.000. Selama 18–31 Maret 2026, tersedia benefit total hingga Rp3.000.000 termasuk trade-in cashback, cashback aksesori, serta extra cashback pembelian Galaxy Buds4 Series.
Sementara itu, Galaxy Buds4 Pro juga ditawarkan dengan cicilan mulai Rp300 ribuan per bulan, sehingga menjadi pelengkap menarik untuk pengguna Galaxy S26 Ultra.
Kabar terbaru datang dari dunia sepak bola anime! Bandai Namco Entertainment resmi merilis system trailer terbaru untuk game CAPTAIN TSUBASA 2: WORLD FIGHTERS, yang menampilkan berbagai peningkatan sistem gameplay dibandingkan seri sebelumnya.
Game ini sendiri dijadwalkan rilis pada tahun 2026 untuk berbagai platform, termasuk PlayStation 5, Nintendo Switch, Xbox Series X|S, dan PC melalui Steam.
Trailer terbaru ini bukan sekadar pamer visual, ini adalah sinyal bahwa game ini ingin naik kelas: lebih cepat, lebih taktis, tapi tetap ramah untuk semua pemain.
Evolusi Gameplay: Lebih Sederhana, Tapi Lebih Dalam
Satu hal yang langsung terasa dari system trailer adalah pendekatan gameplay yang berusaha menyeimbangkan dua dunia: aksesibilitas dan kedalaman strategi.
Dengan kontrol yang kini lebih sederhana—bahkan memungkinkan aksi dilakukan hanya dengan satu tombol, game ini tetap mempertahankan elemen taktis yang menentukan jalannya pertandingan.
Artinya, pemain baru bisa langsung masuk tanpa banyak ribet, sementara pemain lama tetap punya ruang untuk “bermain catur” di atas lapangan.
Chain System: Fitur Baru yang Jadi Game Changer
Sorotan utama dalam trailer ini adalah hadirnya fitur baru bernama Chain System.
Fitur ini memungkinkan pemain untuk:
Menghubungkan aksi secara beruntun
Menciptakan kombinasi serangan yang lebih kompleks
Mengatur ritme permainan secara dinamis
Bayangkan momen klasik Tsubasa Ozora menggiring bola melewati lawan, sekarang semua itu terasa lebih halus, lebih sinematik, dan lebih bisa dikontrol oleh pemain.
Chain System ini berpotensi jadi “jiwa baru” gameplay, membuat setiap serangan terasa lebih hidup dan penuh gaya.
Duel Taktis dan Aksi Ikonik Khas Captain Tsubasa
Selain Chain System, trailer juga menampilkan berbagai elemen gameplay lain yang tak kalah menarik:
Tactical Goalkeeper Battles
Duel antara penyerang dan kiper kini dibuat lebih dramatis dan strategis. Bukan sekadar menekan tombol, tapi membaca situasi dan memilih momen yang tepat.
Super Move
Aksi spesial khas Captain Tsubasa kembali hadir dengan animasi yang lebih bombastis. Tendangan super, lompatan akrobatik, semua tampil dengan gaya over-the-top yang jadi ciri khas seri ini.
Miracle Action
Fitur ini menghadirkan momen tak terduga yang bisa membalikkan keadaan pertandingan. Elemen ini menambah sensasi dramatis yang bikin setiap match terasa seperti episode anime.
Intensitas Sepak Bola Ala Anime yang Lebih Hidup
Kalau kita jujur game Captain Tsubasa bukan soal simulasi bola realistis ala FIFA. Ini soal emosi, gaya, dan momen epik.
Dan dari trailer ini, terlihat jelas bahwa CAPTAIN TSUBASA 2: WORLD FIGHTERS mencoba memperkuat identitas itu:
Animasi lebih halus
Aksi lebih eksplosif
Transisi gameplay lebih sinematik
Hasilnya? Setiap pertandingan terasa seperti adegan klimaks anime, bukan sekadar match biasa.
Game yang Mudah Dipelajari, Sulit Dikuasai
Ada satu filosofi lama di dunia game: easy to learn, hard to master.
Dan sepertinya itu yang ingin dicapai oleh Bandai Namco di sini.
Kontrol sederhana memungkinkan siapa saja langsung bermain. Tapi untuk benar-benar menguasai:
Timing Chain System
Penggunaan Super Move
Membaca strategi lawan
…itu butuh jam terbang.
Menuju 2026: Harapan Baru untuk Fans Captain Tsubasa
Sejak seri sebelumnya, banyak fans berharap ada peningkatan signifikan, terutama dari sisi gameplay dan kedalaman mekanik.
Dari system trailer ini, terlihat bahwa:
Gameplay lebih modern
Sistem lebih fleksibel
Intensitas pertandingan meningkat
Ini bukan sekadar sequel—ini seperti evolusi yang mencoba menghidupkan kembali semangat klasik dengan sentuhan modern.
Dengan hadirnya system trailer terbaru, CAPTAIN TSUBASA 2: WORLD FIGHTERS menunjukkan ambisinya untuk menjadi game sepak bola anime yang lebih matang dan menarik.
Seal M on CROSS telah resmi diluncurkan secara global hari ini oleh Nexus dan Playwith Korea untuk platform mobile dan PC. Melalui perilisan ini, pemain di berbagai negara termasuk Indonesia kini bisa masuk ke dunia Shiltz dalam satu server global yang terintegrasi.
Selain membuat interaksi antar pemain menjadi lebih luas, integrasi server ini juga membangkitkan jiwa kompetitif, karena pemain dapat bersaing dan mengejar pencapaian dalam ekosistem yang sama. Untuk detailnya bisa dilihat di sini.
Seal M on CROSS Bawa Banyak Fitur Baru
Seal M on CROSS akan menghadirkan sistem peringkat global, progres musiman, dan pencapaian yang berlaku untuk seluruh pemain dari berbagai wilayah.
Pembaruan lainnya yang cukup menonjol adalah integrasi dengan platform CROSS. Sistem ini memperkenalkan tokenomics bagi pemain yang tertarik dengan ekosistem blockchain. Dalam mekanisme tersebut, aktivitas di dalam game dapat menghasilkan Shiltz Crystal yang nantinya bisa dikonversi menjadi token utilitas SHILTZx untuk dipakai dalam ekosistem CROSS.
Meski begitu, Playwith Korea menegaskan bahwa fitur blockchain di game ini bukan elemen wajib. Fokus utama tetap ada pada pengalaman bermain MMORPG. Artinya, pemain tetap bisa menikmati seluruh konten tanpa harus ikut ke dalam sistem tokenomics.
Dari sisi konten, game ini masih mempertahankan identitas visual khas Seal lewat dunia yang penuh warna dan grafis. Untuk gameplay, pemain bisa memilih berbagai class klasik dengan kemampuan berbeda, memakai costume untuk mempercantik karakter, hingga mengkoleksi pet yang dapat membantu saat bertarung atau dijadikan mount.
Sistem combo khas Seal juga kembali hadir untuk menciptakan pertarungan yang lebih dinamis. Selain itu, pemain dapat menantang Field Boss demi hadiah menarik dan posisi di papan ranking global. Ada juga mini game Fishing bagi pemain yang ingin menikmati sisi santai dari Seal M on Cross.
Tertarik untuk mencoba gamenya? Kamu bisa langsung mendownload di sini.
Menjelang Idul Fitri 2026, Creative Studio di Galaxy S26 Series hadir di Indonesia untuk membantu pengguna membuat ucapan Lebaran yang lebih personal, menarik, dan praktis langsung dari ponsel.
Fitur ini diperkenalkan sebagai jawaban atas kebutuhan banyak orang yang ingin berbagi kartu ucapan digital, stiker, hingga visual kreatif tanpa harus memiliki kemampuan desain. Melalui dukungan Galaxy AI, pengguna cukup memakai foto, sketsa, atau teks untuk menghasilkan konten yang siap dibagikan saat momen silaturahmi.
Creative Studio di Galaxy S26 Series untuk ucapan Lebaran
Tren ucapan Lebaran kini tidak lagi sebatas pesan teks biasa. Banyak yang ingin membuat kartu ucapan yang lebih estetik dan personal, tetapi sering terkendala waktu dan proses desain yang terasa rumit. Karena itu, Creative Studio disematkan pada Galaxy S26 Series agar ide tersebut bisa langsung diolah menjadi visual kreatif dari perangkat.
Ilham Indrawan, MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, mengatakan: “Banyak orang ingin membuat ucapan Lebaran yang lebih personal, tetapi sering terhambat oleh proses desain yang terasa rumit. Melalui fitur ini, pengguna bisa memiliki ruang desain pribadi yang selalu ada di saku mereka.” Katanya.
Untuk mengaksesnya, pengguna bisa membuka Settings, masuk ke menu Galaxy AI, lalu mengaktifkan Creative Studio. Setelah itu, fitur dapat dibuka lewat Edge Panel.
Khusus Galaxy S26 Ultra, akses juga tersedia melalui ikon pensil saat S Pen dilepaskan. Dari sana, pengguna dapat memilih opsi pembuatan kartu ucapan dan memasukkan prompt seperti visual masjid bernuansa emas saat senja.
Cara Bikin Sticker dan Edit Foto Lebih Praktis
Selain kartu ucapan, Creative Studio juga mendukung pembuatan stiker dari foto di galeri. Pengguna hanya perlu memilih foto, menekan opsi Generate, lalu menambahkan elemen visual sesuai tema Idul Fitri. Hasilnya bisa disimpan sebagai Sticker Set dan langsung terhubung ke Samsung Keyboard untuk dipakai di aplikasi chat.
Galaxy S26 Series juga dibekali Photo Assist untuk merapikan foto keluarga saat Lebaran. Fitur ini membantu menghapus objek yang mengganggu, memperbaiki komposisi, serta menyempurnakan hasil foto lewat perintah sederhana. Fitur undo dan redo membuat proses edit terasa lebih fleksibel sehingga konten yang dibuat lewat Creative Studio dan Photo Assist bisa tampil lebih rapi.
Harga Galaxy S26 Series
Untuk harga Galaxy S26 Ultra varian 16GB/1TB dibanderol Rp31.999.000, sedangkan varian 12GB/512GB dijual dengan harga Rp27.499.000, dan untuk varian 12GB/256GB dijual dengan harga Rp24.499.000.
Untuk Galaxy S26+ harganya adalah Rp22.499.000 untuk varian 12GB/512GB, dan Rp19.499.000 untuk varian 12GB/256GB. Sementara Galaxy S26 dijual dengan harga Rp19.499.000 untuk varian 12GB/512GB, dan Rp16.499.000 untuk varian 12GB/256GB.
Ubisoft telah mengumumkan tanggal rilis untuk game monopili Star Wars yang berjudul Monopoly: Star Wars Heroes vs. Villains. Game ini direncanakan rilis resmi pada tanggal 11 Juni 2026 untuk PS5, Xbox Series, Switch, Switch 2, serta PC.
Mekanisme Game Monopoli Star Wars: Ubah Formula Klasik
Dalam Monopoly: Star Wars Heroes vs. Villains, pemain akan diajak masuk ke galaksi Star Wars lewat papan permainan khusus yang dipenuhi lokasi ikonik dari franchise tersebut. Gameplay klasik monopoli tetap menjadi core gameplay, tetapi kali ini dikemas ulang dengan elemen sinematik.
Pemain bisa memilih berbagai karakter hero dan villain terkenal Star Wars. Mulai dari Luke Skywalker dan Princess Leia hingga Darth Vader dan Darth Maul. Masing-masing karakter membawa kemampuan unik yang dapat memengaruhi strategi tim.
Salah satu hal yang paling menonjol dari game monopoli Star Wars ini adalah kehadiran mode 2v2 dan 3v3. Mode ini tersedia secara online maupun lewat couch co-op, sehingga pemain bisa bermain bersama teman dalam satu ruangan atau lewat koneksi internet
Square Enix telah memastikan Dissidia Duellum Final Fantasy akan rilis pada tanggal 24 Maret untuk iOS melalui App Store dan Android lewat Google Play.
Pengumuman ini disampaikan melalui trailer terbaru yang juga berisi tanggal rilis game. Perilisan ini kemungkinan hanya dilakukan di beberapa wilayah saja, karena dari pemantauan tim Playcubic, game ini tidak tersedia di Google Play dan App Store Indonesia.
Dissidia Duellum Final Fantasy Bawa Enam Karakter Tambahan
Melalui trailer terbarunya, Dissidia Duellum Final Fantasy memperlihatkan enam karakter baru yang akan meramaikan roster. Mereka adalah Firion dari Final Fantasy II, Onion Knight dari Final Fantasy III, Rikku dari Final Fantasy X, Iroha dari Final Fantasy XI, Balthier dari Final Fantasy XII, dan Clive Rosfield dari Final Fantasy XVI.
Berbeda dengan seri utamanya, Dissidia Duellum Final Fantasy mengusung sistem mode 3v3 team boss battle arena. Dua tim akan bertarung di satu lokasi yang juga dihuni monster dan satu boss utama. Kemenangan ditentukan oleh seberapa cepat tim mampu mengalahkan bos dibanding rival mereka.
Game ini juga menawarkan latar cerita baru yang mengambil tempat di Tokyo modern. Kisahnya dimulai saat sebuah kristal raksasa tiba-tiba muncul di tengah kota. Pada awalnya kristal itu dianggap hal biasa, tetapi situasi berubah ketika energi misterius mulai mencemarinya dan memunculkan ancaman yang menebar ketakutan.
Game ini juga memiliki semacam episode pendek yang memperlihatkan keseharian para petarung di luar medan pertempuran. Pemain juga mengubah tampilan karakter dengan kostum originak maupun pakaian bergaya dunia modern.
Kamu pernah main game World War Z, Left 4 Dead, atau sejenisnya? John Carpenter’s Toxic Commando tidak berbeda dengan game-game tersebut, yaitu game shooter co-op dimana pemain akan dihadapkan dengan zombies. Ya betul zombies bukan zombie, karena yang dilawan adalah horde.
Developer Saber Interactive yang sebelumnya membuat World War Z, membawa beberapa elemen dari game tersebut ke Toxic Commando. Tentunya dengan tambahan elemen baru dan jug aplot twist yang lebih dalam, karena game ini ikut dibuat oleh pembuat film misteri terkenal, John Carpenter.
Kami telah memainkan versi review John Carpenter’s Toxic Commando di PC. Sebagai fans dari World War Z, kami sudah mengantisipasi apa saja yang akan diberikan oleh game ini kepada pemainnya. Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami dapatkan selama memainkan gamenya.
Berawal Dari Perusahaan Tamak
Cerita John Carpenter’s Toxic Commando terjadi masa depan, dimana perusahaan teknologi bernama Obsidian mencoba menyelesaikan krisis energi dunia dengan cara mengebor langsung ke inti bumi. Seperti yang sudah ditebak, apa yang ditemukan oleh Obsidian di dalam perut bumi tidak seperti yang diharapkan. Proyek itu justru membangunkan entitas raksasa yang mampu mengubah manusia menjadi zombie, dan melumuri bumi dengan lumpur terkontaminasi yang berwarna hitam pekat.
Untuk mengatasi masalah ini, direkrutlah sekelompok tentara bayaran yang nantinya menjadi karakter pemain. Mereka tidak menyangka apa yang dihadapi bukanlah sekedar masalah biasa, melainkan pembawa pesan dari kiamat itu sendiri. Hal yang lebih baik adalah, keempat tentara bayaran ini juga terkontaminasi namun tidak berubah menjadi zombie, melainkan menjadi manusia spesial yang memiliki kekuatan.
Dari segi cerita, pemain akan mengikuti perjalanan keempat karakter ini dari awal ketika mereka berkenalan dengan kekuatan masing-masing, sampai akhirnya menyerang akar dari semua masalah, Sludge God. Cerita akan dikemas dengan gaya ala film horor klasik buatan John Carpenter. Jika kamu pernah melihat film The Thing atau Halloween, inilah hasil karya dari John Carpenter.
Namun, meski melibatkan Director terkenal, sayangnya cerita dalam game ini hanya sekedar menempel. Menurut kami cerita ini tidak lebih dari penyambung untuk menyatukan semua misi dalam game menjadi menjadi satu alur cerita. Ibaratnya adalah pengantar untuk masuk ke dalam setiap medan pertempuran, ketimbang elemen yang benar-benar meninggalkan kesan.
Jadi, kalau kamu berharap bisa mendapatkan kisah yang dalam atau karakter yang kompleks dalam game ini, kamu akan kecewa dengan hasilnya. Bukan ini yang bisa kamu dapatkan dari Toxic Commando.
Dunia Apokaliptik yang Kotor
Dari segi visual dan grafis, John Carpenter’s Toxic Commando cukup berhasil menjual suasana kiamat yang kelam dan penuh dengan kerusakan. Sayangnya game ini lebih banyak berlatar di alam terbuka dibandingkan wilayah urban. Mungkin karena konsep game ini sendiri yang menggunakan sistem open-world lengkap dengan mobil sebagai mekanisme traversal.
Kehadiran mobil ini cukup menjadi pembeda untuk Toxic Commando dengan game segenre lainnya. Mobil tidak hanya digunakan sebagai alat antar, tetapi juga memiliki mekanisme sendiri. Misalnya pemain diminta untuk mendatangi area yang dipenuhi oleh lumpur. Jika yang dikendarai adalah mobil biasa maka pemain akan terjebak di lumpur. Namun jika mobil yang digunakan memiliki alat derek, maka pemain bisa mendereknya keluar dari lumpur.
Pemain juga akan banyak mendatangi area industri di game ini. Semuanya diperlihatkan hancur dan ditutupi oleh lumpur berwarna hitam. Lumpur ini akan menjadi lokasi spawn dari musuh, dan juga tempat tumbuh pohon dengan kristal aneh yang bisa dipetik oleh pemain. Tentakel juga bermunculan dari tanah, dimana beberapa akan menyerang langsung pemain.
Core Gameplay Tidak Berubah
Siapa pun yang pernah memainkan Left 4 Dead, Back 4 Blood, atau World War Z akan langsung akrab dengan core gameplay John Carpenter’s Toxic Commando. Pemain bersama dengan tiga pemain lainnya atau bersama bot ditugaskan untuk menyelesaikan misi dalam satu level. Perbedaannya adalah jika game zombie shooter biasanya memiliki jalur yang linear, Toxic Commando justru memberikan kebebasan untuk menjelajahi semua lokasi di dalam map.
Namun tugas utamanya tetap sama. Pemain diminta untuk menyalakan generator, mengambil peralatan penting, lalu bertahan dari gelombang musuh. Dari segi pacing, game ini tidak terasa terburu-buru. Pemain akan diberikan waktu menjelajah untuk mendapatkan senjata baru, atau memperoleh tools yang bisa digunakan untuk mengaktifkan senjata mesin atau pagar listrik.
Jika semuanya sudah siap, pemain hanya perlu mendatangi lokasi terakhir dan bersiap untuk menghadapi gelombang serangan dari Horde.
Review John Carpenter’s Toxic Commando Horde
Bagian terbaik John Carpenter’s Toxic Commando adalah ketika pertempuran melawan Horde dimulai. Zombie akan datang dalam jumlah besar dan secara perlahan mendekati titik pertahanan yang dibuat oleh pemain. Horde bisa muncul kapan saja, namun untuk yang terbesar pasti selalu diakhir misi.
Mereka seakan tumpah dari tebing, atau keluar dari celah-celah reruntuhan, menimbulkan kekacauan yang terorganisir. Situasi ini akan memberikan tekanan kepada pemain, apalagi ketika jumlah peluru dari senjata yang dipakai mulai menipis, tapi gelombang zombie tidak berhenti.
Zombie di Toxic Commando juga memiliki desain yang mengintimidasi, namun ini akan terlupakan dengan begitu banyaknya semprotan darah atau bagian tubuh zombie yang hancur, ketika pemain asyik menghabisi mereka dengan machine gun atau mortir.
Diantara ratusan zombie yang muncul, akan ada zombie spesial. Sama seperti di Left 4 Dead atau World War Z, zombie spesial ini memiliki kemampuan unik dan juga desain yang berbeda dari segi visual maupun audio.
Misalnya zombie bernama Stalker yang bisa menembak dengan proyektil memiliki mata yang menyala, dan suara seperti besetan gitar listrik. Ada juga Snare yang bisa menarik pemain, seperti Smoker di Left 4 Dead. Toxic Commando juga memiliki zombie tipe Tank yang dinamai Slob. Ketika monster ini menyerbu, sudah pasti formasi pemain akan berantakan. Kehadiran zombie spesial ini harus diwaspadai, terutama dalam tingkat kesulitan hard dan diatasnya. Satu anggota tim lengah, permainan bisa berakhir.
Berbicara soal tim, pemain bisa menikmati John Carpenter’s Toxic Commando dengan bermain solo tanpa pemain lain. Dalam mode ini, pemain akan didampingi oleh tiga anggota tim lain yang digerakkan oleh AI. Mereka hanya akan mengikuti pemain dan bisa diperintah untuk menyerang target tertentu, atau mengambil item yang ditemukan.
Kami sangat menyarankan untuk bermain dengan pemain lain karena pengalamannya lebih menyenangkan, setidaknya dengan satu atau dua teman. Jika semuanya adalah pemain yang tidak saling kenal, akan ada kecendrungan permainan berjalan kurang seru karena tidak ada komunikasi. Apalagi jika salah satunya adalah pemain baru yang belum paham betul dengan mekansime game.
Tidak perlu khawatir pengalaman untuk multiplayer dibatasi, karena game ini sudah dilengkapi fitur crossplay antar platform, ditambah dengan dedicated server untuk meminimalisir lag.
Gunplay Sangat Memuaskan
Sensasi menembaki zombie dengan beragam jenis senjata di John Carpenter’s Toxic Commando sangat memuaskan. Variasi senjata di game ini sangat banyak, mulai dari handgun, assault rifle, shotgun, dan yang lainnya. Setiap tipe senjata akan memiliki keunggulan tersendiri. Misalnya assault rifle cocok untuk menghabisi musuh dalam jumlah banyak karena punya banyak peluru. Shotgun cocok digunakan oleh pemain yang suka bermain dalam jarak dekat.
Sistem menembaknya juga tidak rumit. Pemain tidak perlu terlalu mengkhawatirkan efek recoil dan semacamnya, karena hal seperti ini minim dalam game. Setiap senjata juga bisa dikustomisasi dengan menambahkan scope misalnya agar lebih presisi, atau memperluas magazine agar bisa membawa lebih banyak amunisi. Variasi ini membuat pemain ingin terus mencoba berbagai kombinasi senjata yang ada.
Selain variasi senjata, karakter pemain juga bisa memilih satu dari empat role yang tersedia. Game ini membaginya menjadi Striker (Damage Dealer), Medic, Defender, dan Operator. Keempatnya memiliki skill tree yang berisi berbagai macam skill dan juga bonus atribut. Tidak lupa, setiap role juga memiliki active skill yang bisa diaktifkan saat sedang bertempur melawan horde.
Hal yang kami rasakan adalah peran dari role ini seakan kabur saat permainan sedang berlangsung. Karena pada akhirnya, setiap pemain akan lebih mengandalkan senjata yang dibawa dibandingkan active skill dari role masing-masing. Bahkan kamu bisa bermain sebagai healer tetapi tetap berada di paling depan untuk membantai musuh.
John Carpenter’s Toxic Commando Dari Segi Teknis
Kami memainkan John Carpenter’s Toxic Commando di PC. Selama memainkan gamenya, kami tidak pernah mengalami masalah teknis. Apalagi mengingat game ini memiliki sistem horde yang memunculkan banyak objek sekaligus di dalam satu tempat. Namun tidak pernah ada masalah seperti lag atau bahkan FPS yang tiba-tiba drop.
Spesifikasi PC yang kami gunakan adalah CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB. Setting grafis yang kami pakai adalah high.
Kesimpulan Review John Carpenter’s Toxic Commando
Kesimpulan kami untuk review John Carpenter’s Toxic Commando adalah game ini tidak mencoba untuk merevolusi game zombie shooter. Game ini juga tidak mencoba tampil sebagai game yang menitikberatkan kepada cerita yang dalam dan filosofis. Sebaliknya, game ini justru tampil apa adanya dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh gamer yang menyukai genre ini.
Sistem horde yang muncul di game ini memang mengesankan, tapi sebetulnya bukanlah suatu hal yang baru karena sudah ada di World War Z. Sama halnya dengan sistem gunplay. Fitur yang lumayan menjadi pembeda adalah bagaimana developer membuat mobil tidak hanya menjadi sekedar pengantar, tapi sebagai anggota tim kelima.
Initnya jika kamu sedang mencari game dengan pengalaman co-op yang seru dan tidak ribet, Toxic Commando bisa dijadikan sebagai salah satu pilihannya.
John Carpenter’s Toxic Commando sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
Sega telah mengumumkan Sonic Racing: CrossWorlds akan kedatangan karakter tamu baru gratis dalam update selanjutnya. Para tamu ini adalah Red dari Angry Birds, Goro Majima versi Captain Majima, danArle dari Puyo Puyo.
Tanggal Rilis Karakter Baru Sonic Racing: CrossWorlds
Red dan Goro Majima dijadwalkan meluncur pada April 2026. Sementara itu, Arle dari Puyo Puyo akan menyusul pada Mei 2026.
Red dari Angry Birds hadir dengan kendaraan bernama Super Roaster. Lalu Captain Majima membawa mesin Goromaru yang terinspirasi dari dunia Like a Dragon dan Yakuza. Arle yang berasal dari Puyo Puyo akan melakukan debut balapnya dengan kendaraan Twinkle Bayoen.
Selain mengumumkan pembalap baru, Sega juga mengkonfirmasi fitur baru yang tersedia pada versi demo game. Versi demo ini akan mendapatkan fitur Extreme Gear Machines mulai dari tanggal 19 Maret 2026.