Game RPG tapi temanya adalah vampire. Sudah lama gamer tidak disajikan oleh game dengan genre ini. Paling yang ada saat ini dan masih berjalan adalah Vampire: The Masquerade. Kekosongan ini dilihat oleh developer Rebel Wolves yang menggunakannya sebagai momen untuk memulai debut dengan The Blood of Dawnwalker.
Dari pengalaman mereka saat mengerjakan The Witcher 3: Wild Hunt, Rebel Wolves telah meracik game fantasi baru. Kami berbohong jika mengatakan tidak merasakan DNA dari The Witcher di game ini, yang dibalut dengan kemasan baru bertema vampire. Tidak hanya mampu mengintegrasikannya secara baik, developer juga berhasil menjadikan makhluk pengisap darah bukan sekedar tempelan, tapi juga sebagai bagian penting dari gameplay.
Inilah pengalaman dan kesan yang kami rasakan selama memainkan versi review The Blood of Dawnwalker di PC.
Kisah Balas Dendam di Veil Sangora

Pemain berperan sebagai Coen, seorang pria yang hidupnya berubah setelah desanya dikuasai oleh vampire. Dalam rangkaian kejadian yang bisa dibilang apes, Coen terinfeksi dengan kutukan yang diberikan oleh Brencis, pemimpin dari kelompok vampire yang berkuasa. Ia berubah menjadi setengah manusia, setengah penghisap darah yang bisa kebal dengan sinar matahari (Seperti Blade).
Tidak hanya itu, Brencis juga membawa keluarga Coen untuk dijadikan sebagai tumbal dalam ritual untuk koronasi. Sekarang semuanya tergantung kepada Coen dan kemampuan barunya. Ia hanya diberikan waktu sekitar 30 hari untuk menolong keluarganya, sambil berusaha menyelamatkan Veil Sangora dari cengkraman Brencis.
Alur cerita utama sebetulnya tidak rumit. Namun yang membuat menarik adalah bagaimana pemain sebagai Coen bisa mencapai tujuan itu. The Blood of Dawnwalker tidak akan menggandeng pemain sepanjang jalan. Sebaliknya, game ini seakan-akan membuang pemain, memberikan kebebasan penuh untuk melakukan apa saja dan dengan segala cara untuk bisa mencapai tujuan utama dalam waktu 30 hari.
Salah satu cara yang masuk akal adalah dengan bersekutu dengan kelompok-kelompok yang ingin menjatuhkan Brencis, yaitu kelompok pemberontak yang dipimpin oleh Craig. Untuk bergabung juga tidaklah mudah. Coen harus lebih dulu membuktikan jika dirinya pantas bergabung dengan menggoyang kestabilan kekuasaan Brencis di Vale Sangora.
Semakin banyak kekacauan yang ditimbulkan pemain, semakin rentan pula penjagaan Brencis dan sekutunya. Coen lalu bisa menghabisi mereka satu per satu, atau jika ingin jalur yang lebih frontal, pemain bisa langsung mendatangi istana Brencis dan menantangnya bertarung satu lawan satu.
Ada banyak jalan di The Blood of Dawnwalker, dan pemain tidak bisa mengambil semuanya dalam satu playthrough. Untuk menemukan jalan yang lain, pemain harus mengulang lagi dari awal. Bisa juga dengan menggunakan save data Cadangan, karena game ini memberikan banyak slot. Inilah yang membuat replay value jadi sangat tinggi.
Kedalaman Karakter yang Luar Biasa

Rebel Wolves meracik semua karakter NPC di The Blood of Dawnwalker dengan kedalaman yang luar biasa. Bahkan NPC biasa pun kadang memiliki cerita yang menarik untuk diikuti.
Kami tidak menyangka NPC yang seharusnya hanya berfungsi sebagai Blacksmith ternyata memiliki side quest yang menarik untuk diikuti. Ia meminta Coen untuk mencari putrinya yang menghilang secara misterius dengan pacarnya. Coen akhirnya menemukan jenazahnya dan mengetahui jika putri dari Blacksmith ini ternyata adalah salah satu anggota pemberontak. Ketika kembali ke ayahnya, pemain bisa memilih untuk memberitahukan kebenaran atau malah berbohong.
Cerita kompleks seperti ini akan banyak ditemukan saat pemain menjelajahi Vale Sangora. Wilayah yang bisa dieksplorasi di game ini sangat besar dan luas. Bentang alamnya juga berbeda-beda, mulai dari wilayah perbukitan sampai rawa-rawa yang dihuni oleh monster berbahaya. Ibu kota dari Vale Sangora, Svartrau juga terlihat megah dengan istana raksasa yang merupakan pusat dari kekuasaan Brencis.
Bahkan menolong NPC random yang sedang diserang oleh bandit atau monster bisa berdampak dengan popularitas Coen sebagai seorang pahlawan. Pemain juga bisa menjadikan Coen sebagai vampire buas dengan menyerang dan menghisap darah secara membabi buta. Jangan salah, bahkan NPC penting sekalipun bisa menjadi korban Coen yang sedang haus darah.
Tidak cuma untuk interaksi, ada beberapa NPC yang bisa dirayu oleh Coen. Beberapa harus dicari terlebih dahulu, tapi ada juga yang sudah didepan mata. Tugas pemain hanya memastikan tidak salah memilih jawaban agar chemistry keduanya bisa berujung menjadi cinta. Jika pemain lebih memilih waktu 30 hari sebagai seorang vampire Don Juan, itu juga bisa dilakukan.
Review The Blood of Dawnwalker: Dua Wujud, Dua Cara Bermain

The Blood of Dawn Walker memiliki dua gaya bermain, yaitu pergantian antara wujud manusia dan vampire. Perubahan ini bukan hanya sekedar kosmetik, tetapi berdampak langsung dengan gaya bermain.
Pada siang hari, Coen akan menggunakan wujud manusia. Saat dalam wujud ini pemain dapat membuat Coen untuk memakan makanan atau meminum obat. Pergerakan Coen juga terbatas seperti manusia biasa. Ia juga akan bertarung menggunakan senjata.
Ketika malam tiba Coen berubah menjadi vampire, dan situasinya berubah drastis. Makanan dan obat tidak lagi berguna bagi Coen. Satu sumber yang bisa menyembuhkan Coen adalah darah. Ketika dalam wujud vampire, Coen juga akan mengalami perubahan saat berinteraksi dengan NPC. Jika health Coen rendah, maka ia akan haus darah dan bisa membunuh NPC itu.
Saat bertarung sebagai vampire, Coen akan lebih banyak mengandalkan cakar dan kemampuan supernatural. Mobilitas juga menjadi lebih ekstrem, seperti berpindah tempat dalam bentuk asap, berjalan di langit-langit, hingga menjadi serigala.
Kemampuan mobilitas milik wujud vampire ini juga diperlukan untuk mengakses lokasi tertentu. Misalnya mencapai bagian atas menara untuk membuka Vale Sangora, menandai lokasi tertentu di peta.
Pilihan dua wujud ini akan sangat berdampak kepada permainan. Misalnya untuk misi yang sulit seperti menyerang pos pertahanan musuh akan lebih mudah dilakukan saat malam hari ketika Coen menjadi vampire. Namun konsekuensinya adalah Coen bisa salah membunuh jika sedang haus darah.
Jika dilakukan pada siang hari dengan wujud manusia, misi ini jauh lebih sulit untuk dilakukan, tetapi bukan berarti mustahil. Senjata dan armor yang digunakan oleh Coen akan menjadi pembeda. Begitu juga dengan kemampuan sihir atau Witchcraft yang hanya bisa digunakan saat dalam wujud manusia.
Jangan salah, Witchcraft tidak kalah kuat dengan kemampuan supernatural milik vampire. Melalui sihir, Coen bahkan bisa menghidupkan kembali mayat meski hanya sejenak untuk mendapatkan informasi. Hanya saja kami lebih menyukai Coen saat menjadi vampire karena adanya konflik moralitas.
Contohnya ketika berhasil memojokkan pemimpin yang suka menyiksa tawanan bahkan anak buahnya sendiri, kami diberikan pilihan untuk melepaskannya karena ia mengaku telah diperintah langsung oleh Brencis untuk berbuat kejam. Pilihan kedua adalah mengatakan jika karma telah datang, dan menghisap habis darahnya. Tentu saja kami memilih yang kedua.
Sistem Combat Tidak Semudah yang Dibayangkan

Satu hal yang kami rasakan dari The Witcher adalah betapa sulitnya mekanisme combat untuk dikuasai. Ada strategi yang harus digunakan dan baru efektif untuk lawan tertentu. Untuk The Blood of Dawnwalker untungnya tidak sekompleks itu.
Game ini sangat mengedepankan mekanisme parry, namun diracik lagi supaya menjadi lebih menantang. Menggunakan mekanisme directional parry, pemain perlu menyesuaikan arah tangkisan dengan arah serangan musuh.
Mekanisme ini pada satu sisi membutuhkan waktu untuk bisa dikuasai. Pada sisi lain juga menjadi monoton. Tidak peduli saat melawan penjaga manusia, vampire lain, atau bahkan roh penasaran, Coen selalu dituntu untuk melakukan directional parry.
Combat di Blood of the Dawnwalker juga akan intens. Biasanya Coen selalu berada dalam keadaan dikeroyok oleh musuh. Ketika pemain sedang sibuk melakukan parry pada satu musuh, musuh yang lain akan memanfaatkan celah. Belum lagi damage yang diterima oleh Coen dari musuh di game ini lumayan besar. Akan perlu waktu untuk bisa memahami dan menguasai cara bertarung ini.
Selain parry, Coen juga memiliki serangan standar, kemampuan khusus berdasarkan senjata, serta berbagai skill dengan sistem cooldown.
Kami juga sedikit mengalami masalah dengan fitur lock-on. Kamera terkadang berada pada posisi yang kurang ideal, membuat pandangan justru terhalangi. Bukan masalah yang besar karena juga diderita oleh game lain.
Review The Blood of Dawnwalker: Game Vampire BerkualitasJangan Membuang Waktu

Konsep menarik lain pada The Blood of Dawnwalker adalah bagaimana game ini memperlakukan waktu sebagai sumber daya. Waktu bukan hanya sekedar jam yang berjalan dari siang ke malam dan seterusnya. Waktu merupakan penentu apakah pemain bisa menyelesaikan misi utama game atau tidak, dan akan berkurang ketika pemain menjalankan aktivitas tertentu.
Misalnya ketika menjalankan side quest atau cerita utama, pemain akan diminta untuk membuat keputusan yang akan memakan waktu. Begitu juga ketika pemain sedang masuk ke dalam menu skill tree, dan membelanjakan poin hasil level up untuk meningkatkan skill tertentu. Seakan game ini membatasi pemain hanya untuk memilih skill yang sesuai dengan gaya bermain, tidak semuanya.
Mekanisme ini sebetulnya mirip penerapannya seperti yang ada di dalam game Persona. Pilihan menghabiskan waktu akan membawa konsekuensi. Namun untuk game dengan genre seperti The Blood of Dawnwalker, mungkin baru game ini yang satu-satunya memilikinya. Mekanik ini juga membuat The Blood of Dawn Walker terasa sangat cocok untuk dimainkan lebih dari sekali.
Review The Blood of Dawnwalker Dari Segi Teknis
Kami beberapa kali mengalami masalah teknis saat memainkan versi review The Blood of Dawnwalker di PC. Masalah teknis ini lebih mirip bug seperti layar yang mendadak jadi hitam atau dialog yang seperti tertinggal dan tidak lengkap. Untungnya game ini cukup royal dalam memberikan slot untuk save. Ada manual, quicksave, dan juga autosave. Jadi seandainya jika mengalami apa-apa tidak perlu mengulang terlalu jauh.
Untuk spesifikasi, The Blood of Dawnwalker tergolong cukup berat karena memiliki dunia yang seamless. Variasi setting grafis di bagian menu juga bervariasi dan sudah dilengkapi dengan teknologi efek terbaru. Jika PC kalian cukup kuat, kamu bisa menggunakan setting grafis high atau bahkan ultra, untuk mendapatkan keindahan sekaligus kengerian dari Vale Sangora.
Kami menggunakan PC dengan spesifikasi CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB.
Kesimpulan Review The Blood of Dawnwalker
Kesimpulan kami untuk review The Blood of Dawn Walker adalah untuk sebuah debut dari studio baru, game ini telah menyajikan sebuah konsep yang menarik dan penerapannya pun berhasil. The Blood of Dawn Walker tidak hanya tentang bertarung sebagai vampire, tetapi juga bagaimana cara melihat dunia dari sudut pandang mahluk penghisap darah ini.
Game ini dipenuhi dengan konflik moralitas yang bisa dirasakan oleh pemain. Pilihan jawaban selalu membuat kami berpikir ulang apakah sebaiknya memilih A atau memilih B. Malah kadang Coen mengambil keputusannya sendiri yang membuat kami menyesal.
Bertarung sebagai vampire di game ini juga merupakan yang terbaik dari semua game vampire yang pernah kami mainkan. Dulu kami menganggap Vampyr adalah game vampire terbaik, sampai The Blood of Dawnwalker datang. Pergantian siang dan malam juga tidak hanya sebatas berganti hari, tetapi juga berdampak banyak kepada permainan.
Sistem directional parry yang menjadi inti dari pertarungan di game sangat menantang untuk dikuasai. Namun mekanik ini juga menjadi monoton karena terlalu sering digunakan. Masalah lock-on juga patut diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah sendiri.
Ketika semua aspek ini mulai dipahami, pemain baru bisa merasakan betapa besar dan megahnya The Blood of Dawnwalker.
The Blood of Dawnwalker tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
