Game buatan developer GPTRACK50, Stupid Never Dies adalah contoh dari sebuah missed opportunity. Jangan salah sangka, karena maksud kami dengan missed opportunity ini bukan berarti gamenya tidak berhasil. Stupid Never Dies memiliki potensi yang seharusnya bisa digali lebih dalam lagi.
Sama seperti protagonisnya yang adalah zombie, Stupid Never Dies ibarat zombie dalam film horor klasik yang hanya bisa berjalan. Padahal film zombie zaman sekarang justru membuat para mayat hidup ini bisa berlari, membuat penonton lebih merasa tegang dan takut.
Inilah pengalaman dan kesan yang kami rasakan selama memainkan versi review Stupid Never Dies di PC.
Monster Apocalypse

Cerita dari Stupid Never Dies berlatar di dunia pasca-apokaliptik, dimana umat manusia dihabisi oleh monster yang dipimpin oleh KOM atau King of Monster. Salah satu dari tipe monster yang ikut menyerang manusia adalah zombie, mayat hidup yang juga merupakan tier paling rendah dari semua monster.
Setelah dunia hancur, monster dan pemimpinnya yaitu KOM menghilang ke dalam bumi, menyisakan zombie yang berkeliaran di permukaan. Salah satu dari zombie ini adalah Davy, zombie dengan gaya Gen-Z.
Davy yang memutuskan untuk bersembunyi di mall karena tidak mau ikut berperang dengan manusia, mendadak jatuh cinta dengan remaja wanita bernama Julia yang membeku di freezer. Karena rasa cintanya yang begitu dalam, Davy memutuskan untuk menghidupkan kembali Julia agar bisa menyatakan cintanya.

Tentunya Davy tidak sendirian dalam menjalankan misinya. Ia akan ditemani oleh band of misfits. Ada Dr. Frank Steiner yang memberi tahu Davy cara menghidupkan kembali Julia, yaitu dengan memakan KOM. Ada siluman anjing Chihuahua bernama Acelino yang juga adalah penemu, Bessie yang merupakan zombie anggota geng motor sekaligus chef restoran burger, dan Gargoyle bernama Goyle yang mahir untuk bagian analisis.
Dari segi cerita Stupid Never Dies bisa terinspirasi film percintaan remaja Warm Bodies. Dalam film ini, zombie bernama R yang diperankan oleh aktor Nicholas Hoult sering melakukan monolog, yang menjelaskan tentang bagaimana kehidupannya sebagai zombie, dan juga rasa cintanya yang dalam kepada remaja manusia bernama Julie.
Davy juga melakukan hal yang sama seperti R. Bedanya adalah ia dibantu oleh para karakter pendukung, yaitu Dr. Frank Steiner, Acelino, Bessie, dan Goyle. Mereka berempat tidak hanya membantu menjalankan plot cerita, tetapi juga memberikan unsur komedi ke dalam game.

Kami juga harus memberikan pujian untuk developer karena memberikan setiap karakter animasi saat sedang berbicara satu sama lain. Animasi ini dibuat dengan sangat baik, dan cukup mengagetkan untuk developer yang baru pertama kali membuat game.
Bukan Sekedar Action Hack’n Slash

Stupid Never Dies bisa agak menyesatkan jika hanya dilihat trailernya saja. Gamer akan mengira game ini adalah game action hack’n slash dengan vibe seperti Lolipop Chainsaw. Padahal game ini sebetulnya adalah game Roguelite, dimana elemen utamanya adalah melakukan dungeon run dan mengulang.
Untuk memulai permainan, pemain harus membawa Davy ke toilet umum untuk di-flush. Toilet ini adalah gerbang misterius yang menyambungkan dunia manusia dengan tempat tinggal monster, yaitu dungeon. Jika berhasil menyelesaikan semua objective di dalam dungeon, Davy akan maju ke lantai berikutnya.
Mekanisme ini terus berulang, sampai pemain tiba di dungeon paling dalam yang biasanya berisi boss. Jika boss ini berhasil dikalahkan, pemain baru bisa melanjutkan cerita. Jika Davy yang tewas, artinya pemain perlu mengulang lagi dari awal dan seterusnya sampai boss dikalahkan. Kurang lebih begitulah mekanisme permainan dari Stupid Never Dies.
Kami hanya menyayangkan potensi yang dimiliki oleh Stupid Never Dies. Seharusnya game ini bisa lebih dari sebuah game Roguelite biasa. Desain level dalam dungeon meski memiliki tema yang berbeda-beda, tapi terus diulang dan diulang. Misi yang harus diselesaikan dalam satu lantai dungeon juga selalu sama, yaitu menghabisi semua musuh yang muncul sebelum waktu habis. Justru sistem waktu yang membuat Stupid Never Dies menjadi berbeda dengan Roguelite yang lain.

Jika waktu habis, permainan tidak secara instan selesai begitu saja. Pemain masih bisa memainkan permainan, tetapi Davy akan mendapatkan debuff yang merugikan. HP Davy akan terus menerus turun, membuatnya bisa dikalahkan oleh musuh dengan mudah. Jika ingin tantangan, pemain bisa mencoba menyelesaikan seluruh dungeon run dengan kondisi ini. Kami bisa pastikan ini tidak impossible, tapi super sulit.
Review Stupid Never Dies: Setiap Lantai Beda

Dungeon dalam game ini memiliki beberapa lantai. Untuk mencapai ujung dari dungeon, Davy harus melewati banyak lantai. Karena bisa memakan banyak waktu, developer menyediakan fitur jalan pintas untuk pemain agar bisa melewati beberapa lantai sekaligus. Fitur ini bisa dimanfaatkan untuk menghemat waktu.
Setiap menyelesaikan setidaknya dua lantai dungeon, pemain akan dibawa ke checkpoint. Pada titik ini pemain bisa memilih destinasi untuk lantai berikutnya. Disinilah fitur shortcut akan terbuka. Misalnya melewati lantai tiga dan empat agar bisa langsung sampai ke lantai lima.

Keuntungannya? Pemain akan lebih hemat waktu. Kekurangannya? Lantai yang dituju mungkin akan memiliki musuh dengan level lebih tinggi dari Davy. Berbicara tentang level, fitur ini juga merupakan keunikan dari Stupid Never Dies.
Seperti game RPG, Davy akan naik level setiap kali mengalahkan musuh dalam jumlah tertentu. Semakin tinggi level Davy, semakin kuat pula dirinya. Tapi jika Davy tewas, levelnya akan kembali ke level satu, tepat ketika memulai permainan, dan pemain harus menaikkannya lagi.

Setiap kali Davy naik level, pemain juga akan berkesempatan untuk mendapatkan Zombie Skill. Kemampuan ini berupa buff yang memberikan bonus atribut kepada Davy. Seperti game Roguelite lain, pemain hanya diizinkan untuk memilih satu dari tiga Zombie Skill yang disodorkan. Jadi pastikan pilih yang paling sesuai dengan gaya bermain.
Mekanisme ini meski kelihatannya annoying, tapi memberikan dimensi baru dalam permainan. Pemain bisa menjadikannya sebagai bagian dari strategi untuk menyelesaikan dungeon run.
Menyerang dan Menyerang

Stupid Never Dies didesain sebagai game yang mengharuskan pemain untuk terus menyerang, tanpa bertahan. Ya, Davy tidak memiliki kemampuan untuk melakukan block seperti game action hack’n slash pada umumnya.
Satu cara untuk bertahan adalah dengan melakukan Stupid Parry. Kemampuan ini baru efektif untuk menghentikan serangan musuh jika badan mereka menyala kuning. Dieksekusi tepat waktu akan membuat musuh stagger, memberikan kesempatan kepada Davy untuk memakan mereka.

Memakan musuh adalah mekanik Davy berikutnya. Dengan menggunakan Bite, Davy bisa menyembuhkan HP yang berkurang karena serangan musuh. Bite tidak bisa digunakan terus-terusan, dan harus diisi dengan cara menyerang musuh atau mengambil item khusus.
Beberapa jenis musuh akan mengeluarkan semacam bola jika mati atau terkena counter Stupid Parry. Bola ini adalah Monster Core yang jika dimakan oleh Davy, akan memberikan kemampuan untuk berubah menjadi monster yang memiliki core.

Setiap jenis monster akan memberikan kemampuan yang berbeda untuk Davy. Favorit kami adalah Werewolf, karena lincah dan bisa bergerak dengan cepat ketimbang monster jenis yang lain. Lich juga cukup menyenangkan karena bisa menciptakan pasukan tengkorak setiap kali mengalahkan musuh.
Badan dari Davy juga bisa dikustomisasi dalam mekanisme Body Hacking. Setiap kali menyelesaikan dungeon run atau kalah, Davy akan kembali ke mall yang merupakan Town Hub game, membawa bagian tubuh monster lain. Bahan ini bisa digunakan untuk memodifikasi bagian kepala, tangan, dan Davy.
Seperti monster Frankenstein, tangan Davy bisa
diganti menjadi membawa shield pelindung, kaki dibuat dapat menjatuhkan ranjau secara otomatis jika diserang musuh. Semua kustomisasi ini diserahkan kepada pemain.
Review Stupid Never Dies Dari Segi Teknis
Selama memainkan versi review Stupid Never Dies di PC, kami tidak pernah mengalami masalah teknis. Secara spesifikasi, game ini juga tidak terlalu demanding dan bisa dimainkan dengan menggunakan PC mid end.
Spesifikasi PC yang kami gunakan untuk memainkan Stupid Never Dies adalah CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB.
Kesimpulan
Kesimpulan dari review Stupid Never Dies adalah game ini sudah cukup baik untuk sebuah game Roguelite, tapi potensinya untuk menjadi lebih baik lagi ada dan tidak dimanfaatkan. Seakan developer hanya ingin bermain aman saja.
Alur cerita yang disajikan cukup menarik karena berdasarkan dari genre game yang saat ini sudah sangat jarang dibuat oleh developer. Sistem dungeon masih kurang optimal. Dungeon lebih mirip seperti arena, dimana Davy harus mengalahkan semua musuh yang ada didalamnya untuk bisa maju ke lantai berikutnya. Tidak ada variasi aktivitas yang lain.
Kompleksitas dari sistem combat sudah baik, dan setiap fitur saling bersinergi satu sama lain. Fitur Style Eat yang bisa membuat Davy berubah bentuk menjadi monster yang ia makan adalah highlight utama. Ketika game tidak memberikan pemain kemampuan untuk bertahan, satu-satunya jalan adalah menghabisi musuh dengan cepat menggunakan sapuan dari senjata palu raksasa, atau menerbangkan dengan angin.
Untuk debut, Stupid Never Dies sudah memadai. Tapi kedepannya jika GPTRACK50 memutuskan untuk membuat game lagi dengan style yang sama, kami berharap gamenya bisa lebih proper.
Stupid Never Dies tersedia di PS5 dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
