Setelah absen cukup lama, seri Onimusha akhirnya kembali melalui Onimusha: Way of the Sword. Game terbaru dari Capcom ini membawa perubahan besar dengan meninggalkan gaya klasiknya, dan tampil dengan pendekatan modern.
Meski punya kemasan baru, Onimusha: Way of the Sword tetap mempertahankan identitasnya. Seperti Ubisoft dengan Assassin’s Creed, game ini masih memadukan sejarah dan mitologi Jepang, dengan tema fantasi yang didasarkan pada setan dan iblis.
Kami sudah memainkan versi review Onimusha: Way of the Sword di PC dengan durasi waktu permainan lebih dari 10 jam. Kami pun juga sudah mencoba demo dari game ini. Sebagai gamer yang dulu sempat memainkan seri kedua dan ketiga, harapan kami sangat besar dengan Onimusha: Way of the Sword.
Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami dapatkan selama memainkan gamenya.
Musashi Miyamoto

Ketika Capcom mengumumkan game ini akan menampilkan Miyamoto Musashi sebagai karakter utamanya, kami bisa merasakan jika Capcom tidak akan main-main dalam merepresentasikannya di dalam game.
Bagaimana tidak, ia adalah sosok legendaris sekaligus pendekar pedang terhebat sepanjang sejarah Jepang. Ketenarannya pun tidak hanya di dalam negeri, melainkan sampai ke luar negeri. Capcom tidak bisa main-main.
Presentasi Musashi di dalam game patut diacungi jempol. Mulai dari desain wajahnya yang mengambil inspirasi dari aktor legendaris Jepang, Toshiro Mifune. Kualitas karakternya juga diperkuat dengan pengisi suara Yoshimasa Hosoya untuk versi bahasa Jepang, yang menurut kami adalah versi yang paling sempurna.
Penggunaan wajah aktor sebetulnya bukanlah hal baru bagi seri Onimusha. Sebelumnya franchise ini juga pernah menghadirkan karakter berdasarkan aktor terkenal seperti Jean Reno. Namun, baru di game ini representasi karakter terasa lebih realistis.

Tidak cuma muka, kepribadian Musashi juga berhasil dimunculkan. Ia digambarkan sebagai seorang pendekar yang sangat percaya diri dan sombong, namun polos. Kepribadiannya semakin menonjol berkat teknologi facial capture yang membuat ekspresi wajah menjadi lebih detail. Perubahan wajah ekspresi Musashi yang bervariasi membuatnya terasa lebih hidup.
Review Onimusha: Way of the Sword: Invasi Genma di Kyoto

Cerita dari Onimusha: Way of the Sword dimulai ketika Musashi tiba di Kyoto Timur pada era Edo, dengan tujuan membuktikan dirinya sebagai pendekar terhebat. Setelah memenangkan duel melawan salah satu pemimpin dojo, perjalanan Musashi diganggu oleh kedatangan Genma.
Karena masih manusia biasa, Musashi tidak bisa memenangkan pertarungan melawan pasukan Genma yang menyerangnya. Ia pun tewas, dan bertemu dengan sosok pria misterius di alam baka yang memberikan Oni Gauntlet kepadanya. Ia pun bangkit kembali, menghabisi Genma yang menyerangnya, lalu memulai perjalanan untuk menghilangkan Oni Gauntlet.
Ya, kamu tidak salah baca. Protagonis Onimusha: Way of the Sword bukanlah sosok pahlawan yang ingin menyelamantkan dunia. Musashi justru ingin terbebas dari kekuatan tersebut. Baginya, seorang samurai sejati harus mengandalkan kemampuan pedangnya sendiri, bukan mengandalkan kekuatan di luar kemampuannya.

Prinsip ini akan selalu ditegaskan selama cerita berjalan. Meski begitu, alur cerita Onimusha: Way of the Sword tidak memiliki narasi yang kompleks. Alurnya lebih berfungsi sebagai penghubung dari satu misi ke misi lain. Begitu pula dengan cerita side quest yang mengikuti pola malas game RPG: Pergi ke titik A, habisi monster atau ambil item B, lalu kembali ke pemberi quest C untuk menerima hadiahnya.
Dunia yang Lebih Gelap

Wilayah Kyoto sebagai latar dijadikan sebagai area semi open world. Setelah menjalankan beberapa misi pertama, pemain akan dibawa ke Rokudo Temple yang berfungsi sebagai main hub. Setelah bisa keluar dari lokasi itu, pemain dapat menjelajahi sebagian wilayah Kyoto yang mengalami infestasi Genma.
Menurut kami, keputusan developer untuk menghadirkan dunia semi open world sudah tepat. Musuh akan selalu spawn, dan pemain tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menemukan mereka. Pencarian harta karun tersembunyi juga menjadi mudah berkat fitur radar Oni Gauntlet.
Hal yang aneh adalah perilaku warga Kyoto yang sepertinya tidak khawatir hidup berdampingan dengan Genma, yang secara terang-terangan memakan daging manusia. Misalnya ketika membebaskan wilayah Kiyomizu-zaka Slope dari kabut setan yang berbahaya, warga sekitar berani berbicara di luar rumah tanpa perlindungan. Mungkin seharusnya developer menambah beberapa NPC yang berfungsi sebagai penjaga untuk menjaga rasa imersif dalam game.
Menjelajahi Kyoto memang awalnya menarik, tapi lama-kelamaan jadi membosankan. Semua tempat akan memiliki struktur dan desain yang sama. Justru yang menarik adalah stage terpisah dari dunia tersebut. Misalnya Genma Laboratory yang menonjolkan sisi horor game, mulai dari atmosfirnya hingga bentuk Genma yang dilawan.
Berbicara soal Genma, desain monster di Onimusha: Way of the Sword lebih gelap dan mengerikan dari semua seri Onimusha yang sudah pernah kami mainkan. Genma seperti Hitotsume Gasa yang merupakan foot soldier tidak lagi berbentuk tengkorak dengan armor seperti di seri sebelumnya. Lalu ada Byakue, monster yang berbentuk seperti kera dengan kapak raksasa yang sangat annoying.
Way of the Sword

Fokus utama Onimusha: Way of the Sword adalah sistem combat. Capcom berhasil menciptakan formulanya sendiri yang berada ditengah-tengah game dengan aksi cepat dan stylish seperti Devil May Cry, dengan yang mengedepankan strategi seperti game Soulslike. Onimusha: Way of the Sword memiliki teknik permainan yang kompleks. Namun pada sisi lain, game ini juga tidak menghukum pemain secara ekstrem.
Musashi akan dilengkapi oleh berbagai macam teknik pedang. Serangan biasa dibagi menjadi dua, yaitu quick dan heavy. Keduanya bisa dikombinasikan secara fleksibel sebagai serangan combo.
Selain menyerang, pemain juga harus memahami pola serangan musuh. Disinilah teknik seperti block, parry, dan deflect akan berperan banyak.
Baik parry maupun deflect dibuat untuk menghabiskan stamina musuh. Ketika staminanya habis, musuh akan kelelahan dan pemain berkesempatan untuk memberikan finisher yang memiliki damage besar.
Saat bertarung melawan boss, kedua teknik ini bisa diandalkan untuk menghabiskan stamina. Ketika tidak bisa bergerak, pemain bisa memilih bagian tubuh mana yang bisa dihancurkan. Efeknya adalah boss itu akan kehilangan salah satu tekniknya, membuatnya lebih mudah untuk dihabisi.

Khusus untuk parry, teknik ini juga bisa digunakan untuk membangkitkan Blazing State, dimana pedang Musashi akan menyala berwarna biru. Dalam kondisi ini serangan Musasahi akan memberikan damage lebih besar, sekaligus menguras stamina lebih banyak. Musuh yang terkena parry juga akan menampilkan animasi yang unik dan menarik untuk dilihat.
Parry dan deflect adalah makanan utama kami. Setiap kali melawan musuh biasa atau boss, kami akan berusaha membaca pola serangan agar timing untuk counter attack pas. Ketika sudah hapal, pertarungan akan menjadi lebih mudah.
Issen dan Oni Armaments

Teknik klasik Onimusha yaitu Issen ada di dalam game. Teknik ini memungkinkan Musashi untuk membunuh musuh biasa secara instan hanya dengan menggunakan 1 kali serangan saja. Iseen bahkan bisa dibuat menjadi serangan berantai, membuat Musashi bisa menghabisi kelompok musuh dengan 1 kali serangan. Namun eksekusi teknik sangat sulit. High risk, big reward.
Seiring cerita berjalan, Musashi akan mendapatkan senjata spesial yang dinamai Oni Armaments. Senjata ini memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang menjadi serangan combo, ada juga yang menjadi serangan area. Oni Armaments bisa diganti-ganti secara instan saat bertarung melalui fitur quick swap yang sangat efisien.

Oni Armaments tidak bisa dipakai secara terus-terusan, melainkan harus diisi energinya dengan menggunakan orb berwarna biru. Berbicara mengenai orb, orb yang berwarna merah digunakan sebagai mata uang. Pemain bisa menggunakannya untuk membeli item, atau mengupgrade peralatan Musashi.

Review Onimusha: Way of the Sword Dari Segi Teknis
Onimusha: Way of the Sword merupakan game yang demanding di PC. Kamu memerlukan PC paling tidak dengan Intel Core i5 dan RTX seri 30 untuk memainkan game ini di level recommended.
PC yang kami gunakan untuk memainkan game ini adalah CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB, dengan frame rate yang kami batasi di 60. Selama bermain kami tidak pernah mengalami masalah teknis dan FPS tetap stabil meski saat cutscene atau berada dalam momen yang ramai.
Pilihan setting untuk grafis game ini juga sudah lengkap. Onimusha: Way of the Sword memiliki fitur ray-tracing dan juga frame interpolation. Jika PC yang digunakan memadai, memainkan game ini dengan setting grafis tertinggi akan sangat memanjakan mata.
Kesimpulan Review Onimusha: Way of the Sword
Kesimpulan review Onimusha: Way of the Sword adalah game ini berhasil sebagai comeback untuk salah satu franchise lawas milik Capcom. Bayangkan, fans harus menunggu 20 tahun untuk bisa menikmati lanjutan dari seri utama Onimusha. Penantian lama ini menurut kami sangat sangat sangat terbayarkan dengan apa yang disajikan.
Meski tidak terlalu menonjol dari segi cerita, Onimusha: Way of the Sword menghadirkan sistem combat yang kompleks dan memuaskan. Kualitas grafis yang disajikan juga perlu diacungi jempol, membuktikan RE Engine memang jempolan.
Karakter Musashi yang diracik dengan sangat detail, juga ikut memberikan dimensi baru pada Onimusha: Way of the Sword. Prinsip yang ia anut membuktikan jika tidak semua pahlawan memiliki niat yang tulus untuk melawan kejahatan. Ada juga yang seperti Musashi, terjebak dalam situasi.
Setelah penantian panjang, Onimusha: Way of the Sword membuktikan bahwa franchise ini masih memiliki tempat di era modern.
Onimusha: Way of the Sword tersedia di PS5, Xbox Series, Nintendo Switch 2, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer




