Lewat special stage event di event Tokyo Game Show 2017, Capcom memperlihat kepada pengunjung event informasi terbaru mengenai Monster Hunter: World, dimulai dari awal permainan yaitu pembuatan Palico dan karakter game.
Monster Hunter: World dijadwalkan rilis ke PS4 dan Xbox One pada tanggal 26 Januari 2017. Game versi PC akan dirilis tidak lama setelah peluncuran game versi konsol.
Selama ini penulis hanya bisa melihat ASUS ZenBook Flip UX 370 dan ASUS GX800 dari balik kaca entah itu di pameran atau toko elektronik. Akhirnya pada acara media gathering hari Kamis (23/9) kemarin di The Hook, penulis bisa mencoba langsung mencoba kedua monster ini.
Diawali dengan ZenBook Flip UX 370, ASUS mengklaim jika laptop ini adalah yang tertipis dan juga sangat ringan. Bayangkan berat dari laptop ini hanya 1,1 kg, terbilang sangat ringan apalagi jika melihat jeroannya. ZenBook UX 370 dilengkapi oleh Core I7 dengan kecepatan 3.5 GHz, storage 512 GB, dan RAM 16 GB.
Sesuai dengan namanya ‘Flip’, Zenbook UX 370 dapat ditekuk sampai 360 derajat. Untuk kenyamanan, ASUS telah menciptakan fitur engsel ErgoLift sehingga bezel tidak lagi menganggu pengguna saat sedang mengetik.
Laptop tapi ringkas seperti tablet
Untuk bagian layar, ZenBook UX 370 memiliki layar berukuran 14 inci lengkap dengan fitur touchscreen dan juga fingerprint untuk pengamanan ekstra. Kualitas suara yang dihasilkan juga jernih dan tidak pecah.
Lalu bagaimana dengan baterai? ZenBook UX 370 menggunakan baterai li-polymer yang diklaim tahan sampai dengan 11,5 jam. Proses pengisian baterai juga akan berlangsung dengan sangat cepat karena adanya fitur fast charging.
Hal yang penulis suka dari ZenBook UX 370 ini adalah bentuknya yang bisa dilipat sehingga menyerupai tablet. Laptop ini cocok untuk kamu yang mobile dan membutuhkan laptop ringkas dan bisa digunakan untuk beragam keperluan, seperti bekerja, membaca, atau bermain game.
Bermain game di ZenBook UX 370
Penulis sempat mencoba memainkan game dengan ZenBook UX 370 dan ternyata laptop ini bisa menjalankan gamenya. Tapi dengan catatan, yang dimainkan bukanlah game berat tapi game ringan. Bakal asyik nih jika main Mobile Legend atau Arena of Valor dengan ZenBook UX 370.
Berbicara tentang game, jika mencari laptop yang bisa memainkan game secara optimal maka jawabannya adalah ASUS GX800. Masih ingat dengan berita laptop gaming seharga mobil? GX800 adalah laptop yang dimaksud.
Sang monster, GX800
Dibanderol dengan harga kurang lebih Rp90 juta, GX800 adalah laptop gaming premium. Menurut ASUS, di Indonesia baru ada sekitar 5-10 orang yang memiliki GX800.
Menjajal Rise of The Tomb Rider di GX800
Mahalnya harga GX800 ini dikarenakan spesifikasinya yang super tinggi. Laptop ini tidak hanya punya satu VGA, tapi dua GTX 1080 SLI. CPU dari GX800 menggunakan core I7 Kaby Lake. Layar 18 inci dari laptop ini bisa menampilkan gambar dengan kualitas 4K UHD. Untuk penyempurna adalah keyboard mekanik yang dilengkapi oleh LED. Masih merasa kurang dengan spesifikasi yang ditawarkan oleh GX800? ASUS menyediakan fitur overclocking untuk memaksimalkan kemampuan dari laptop ini.
Untuk menjaga agar suhu laptop tetap stabil saat digunakan bermain game, ASUS juga melengkapinya dengan fitur docking berisi Hydro Overcloacking System. Sistem pendingin ini akan menggunakan coolant yang dipompa melalui cooling module yang didalamnya terdapat dua radiator untuk mengolah hawa panas. Tidak perlu sering ganti juga, coolant dari GX800 diprediksi bisa bertahan sampai dengan tiga tahun lamanya.
Sangarnya docking GX800
Jelas jika ingin maksimal bermain game dengan menggunakan laptop, GX800 adalah jawabannya. Game Rise of The Tomb Raider yang merupakan game berat bisa menggunakan setting very high di GX800. FPS tetap stabil dan gambar pun memiliki kualitas 4K HD.
Menurut penulis GX800 jelas sangat menjanjikan. Tetapi harganya yang sangat mahal membuat orang berpikir dua kali sebelum membelinya. Daripada laptop mahal, lebih baik langsung merakit PC high end, betul tidak?
Nah seandainya kamu diminta memilih antara ZenBook UX 370 dengan GX800, kira-kira kamu bakal pilih yang mana?
Tales of Thorn adalah sebuah game mobile ARPG terbaru yang diterbitkan oleh Wanda Cinemas Games dan dibuat dengan menggunakan Unity3D, game ini bakal diluncurkan di Google Play pada tanggal 28 September 2017.
Game ini melepaskan sistem kelas yang biasa digunakan game sejenis lainnya demi basis sistem senjata untuk meningkatkan gameplay dan faktor kesenangan dalam game, dengan karakter yang menggunakan gaya bertarung berbeda yang akan meningkatkan kualitas pertempuran. Yuk kita lihat perbedaannya.
Desain Multi-weapon yang artinya menambah keseruan dalam setiap pertempuran
Tales of Thorn tidak memiliki classic ARPG class system, game ini malah menggunakan berbagai senjata yang berbeda untuk mendapatkan pengalaman yang benar-benar baru dalam game. Ada 9 tipe senjata dalam game ini: dan masing-masing senjata memberikan skill yang berbada untuk para pemain. Setiap pemain bisa memiliki 4 skill di equip. Senjata utama akan menentukan jenis serangan pemain, senjata lainnya dapat memberikan skill yang berbeda untuk digunakan. Jadi, daripada menggunakan sistem kelas yang monoton, sistem senjata ini akan membawa lebih banyak kesenangan dalam game.
Kamu bisa memilih karakter pria atau wanita
Senjata akan menentukan jenis serangan, skill akan mengikuti jenis senjata
Game ini mengadopsi virtual joystik tradisional dengan virtual tombol. Sebagai tambahan serangan normal dan aksi menghindar, empat ekstra tombol masing-masing digunakan untuk skill, selain itu ada tombol kelima yang bisa digunakan untuk serangan ArchDragon. Buat gamer yang sudah biasa main game ARPG, mereka akan langsung terbiasa dengan posisi tombol dalam game ini.
Game ini sangat mudah untuk dimainkan
Salah satu fitur yang mengesankan dalam game ini adalah serangan “backstab”, serangan ini adalah sebuah serangan fatal yang bisa dilakukan saat berada dibelakang musuh, menyebabkan damage yang lebih besar. Hal ini memberikan pemain sebuah pilihan untuk membuat strategi yang lebih dalam, hal ini membuat para pemain menikmati bermain tanpa harus beralih menggunakan fungsi auto-battle.
Variasi gameplay, kedalaman peta meningkatkan kualitas game
Walaupun game Tales of Thorn mobile ini memiliki core plot yang linear, desain Campaigns meningkatkan konten secara keseluruhan dan menambahkan sejumlah konten tersembunyi dalam peta yang memberikan pilihan buat para pemain, hal ini membuat petualangan jadi lebih baik dan bisa dimainkan berkali-kali.
Linear campaign
Sebuah kota besar yang cocok untuk para pemain berinteraksi
Sebagai tambahan campaigns yang berbeda, game ini juga fokus pada interaksi pemain, banyak elite campaigns yang membutuhkan pemain untuk masuk kedalam sebuah tim demi mendapatkan kesempatan yang lebih besar dan hadiah yang lebih besar, hal ini juga memberikan kesempatan untuk pemain dengan level rendah untuk bekerjasama dengan pemain level tinggi. Dalam mode 1v1 dan 3v3 pemain bisa menguji skill dan strategi.
Team campaign challenges
PVP battles
Kebebasan untuk mencocokan, upgrade gear merupakan fitur utama
Pemain tidak akan bisa lepas dari fitur upgrade dari game mobile ini, karena skill dan fungsi lain bergantung pada level senjata, armor dan lainnya, yang memang harus di upgrade. Dibandingkan sistem tradisional yang membutuhkan gold untuk upgrade gears, dalam game ini gears yang digunakan untuk upgrade gears lainnya, jadi kamu akan membutuhkan banyak gears untuk meningkatkan level gears yang ingin kamu gunakan. Pemain tidak perlu kawatir, banyak stage yang akan drop gears. Selain itu kamu juga bisa menggunakan material upgrade sebagai pengganti. Semua senjata yang dipasang (equip) akan menambahkan kekuatan serangan, jadi kamu bisa menggunakan senjata favorit tanpa kawatir perubahan power.
Equipment consumption
Character Talent
Pemain dapat menggunakan senjata pilihannya
Item Fashion juga bisa memberikan sedikit bonus status (selain terlihat lebih keren)
Di hampir semua game, gear crafting hanya bisa dilakukan setelah mencapai level tertentu. Tapi game ini menggunakan diagram, cara mendapatkannya adalah dengan melakukan summon senjata di portal, atau mendapatkan level diagram yang lebih tinggi di campaign. Dengan metode ini pemain bisa mendapatkan gear secara acak, membuat pemain penasaran untuk mendapatkan yang lebih baik.
Craft gears dengan menggunakan diagrams
Mobile game Tales of Thorn adalah sebuah ARPG game yang memiliki desain sistem pertempuran inivatif dan sistem drop senjata, yang membuat sebuah pengalaman baru yang bisa dinikmati para pemainnya. Dalam satu tim tidak akan ada tank, damage dealer, dan healer seperti pada umumnya game RPG, game ini membebaskan pemainnya untuk mengembangkan karakter yang diinginkan, dimana hal ini akan menciptakan pengalaman PVP yang lebih baik karena pemain dapat menggunakan skill dengan bebas. Untuk semua gamer yang tertarik silahkan mencoba Tales of Thorn!
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan follow facebook fanpage di sini.
Demam Shin Megami Tensei ternyata belum berakhir. Pada event Tokyo Game Show 2017, Sega memamerkan video perdana dari game mobile Dx2 Shin Megami Tensei: Liberation. Seperti inilah gameplay-nya:
Sama seperti game Shin Megami Tensei yang lain, Liberation akan menggunakan sistem press turn based. Fitur-fitur seperti demon negotiation dan demon fusion juga ada dalam game ini. Game ini juga memiliki fitur baru yaitu Aura Gate dimana pemain dapat mengeksplorasi dungeon khusus.
Dalam Dx2 Shin Megami Tensei: Liberation, pemain akan menjadi bagian dari kelompok yang dinamakan Liberators. Kekuatan spesial yang dimiliki pemain adalah memanggil demon melalui aplikasi smartphone. Orang-orang yang memiliki kekuatan ini dinamakan Devil Downloaders atau Dx2. Namun, tidak semua Dx2 memiliki niat baik untuk melindungi duniaa. Kelompok yang dinamakan Acolytes adalah kebalikan dari Liberators, yaitu orang-orang yang memiliki agenda sendiri.
Dx2 Shin Megami Tensei: Liberation akan dirilis di perangkat android dan iOS. Seperti biasa, masih belum diketahui apakah game mobile ini juga akan rilis di luar Jepang atau tidak.
Ada dua hal menarik dari game Dead or Alive Xtreme: Venus Vacation. Pertama, game ini merupakan game PC dan juga menggunakan soft engine. Kedua, ada gadis baru yang tidak kalah seksi dengan karakter-karakter Dead or Alive yang lain.
Dead or Alive Xtreme: Venus Vacation nantinya akan dirilis oleh DMM Game pada musim gugur tahun ini. Pemain akan menjadi pemilik dari pulau yang bernama Venus. Untuk meramaikan acara musim panas, pemain mengundang para tamu cantik untuk berlibur di pulau. Untuk memainkannya, pemain harus menggunakan browser DMM Game player. Tidak perlu bayar, Dead or Alive Extreme: Venus Vacation akan menggunakan sistem F2P dengan mikrotransaksi di dalamnya. Sayang game ini terbatas hanya untuk di wilayah Jepang saja.
Perkenalkan, nama saya Misaki!
Sekarang membicarakan mengenai gadis baru di Dead or Alive Extreme: Venus Vacation. Gadis ini bernama Misaki dan ia merupakan karakter baru yang memang dibuat khusus untuk game ini. Misaki digambarkan sebagai gadis kekinian yang mudah akrab dengan orang lain. Tidak seperti gadis-gadis lainnya yang mau tampil berani, Misaki justru menghindari pakaian yang terbuka. Karakter Dead or Alive lain seperti Marie Rose, Kasumi, Honoka dan Hitomi juga dipastikan bakal hadir kembali dalam game ini.
Permainan bola voli kelihatannya akan tetap menjadi sentral. Selain itu ada juga sesi fotografi yang pastinya paling ditunggu-tunggu. Satu hal yang wajib diwaspadai adalah pakaian renang yang dikenakan oleh para gadis di game ini ternyata bisa kendor, nice!
Jika harus memilih antara Alicia Vikander, Angelina Jolie, dan Camilla Luddington sebagai aktris yang paling sesuai untuk memerankan sosok Lara Croft, yang mana pilihanmu?
Warner Bros baru saja merilis trailer perdana dari film Tomb Raider. Film ini dibintangi oleh Alicia Vikander, aktris asal Swedia yang ternyata juga merupakan pemenang dari ajang bergengsi Academy Awards. Ia berhasil membawa pulang penghargaan Best Supporting Actress melalui perannya dalam film The Danish Girl. Masih muda, bertalenta, jelas jika akhirnya ia terpilih sebagai Lara Croft di film Tomb Raider terbaru.
Pemilihan Vikander sebagai Lara Croft sendiri sempat menimbulkan pertanyaan. Pasalnya film Tomb Raider ini dibuat dengan mengadaptasi gamenya yang diluncurkan pada tahun 2013 lalu. Banyak fans yang mempertanyakan kenapa bukan Camillia Luddington yang dipilih untuk berperan dalam film tersebut.
Tampil dalam dua game sekaligus, yaitu Tomb Raider (2013) dan Rise of the Tomb Raider (2015), wajah dan karakter Luddington sebagai Lara Croft dirasa sudah cocok. Bahkan mungkin kalangan gamer lebih mengenal Luddington dibandingkan Vikander.
Lara Croft meminjam wajah dan suara Camilla Luddington
Dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly pada tahun 2016, Luddington mengatakan jika ia tidak masalah dengan terpilihnya Alicia Vikander sebagai Lara Croft. Menurutnya Lara Croft bisa diperankan oleh siapa saja. Namun, Luddington tidak menampik jika dirinya juga tertarik untuk berperan sebagai Lara Croft dalam versi layar lebar.
Sebelum Alicia Vikander dan Camilla Luddington menyandang mantel Lara Croft, ada Angelina Jolie. Mantan istri Brad Pitt ini bisa dibilang adalah perwujudan Lara Croft pertama. Ia sudah tampil dua kali sebagai Lara di layar lebar, yaitu Tomb Raider (2001) dan Tomb Raider: The Cradle of Life (2003). Sesuai tradisi dari film adaptasi video game, keduanya mendapat penilaian yang buruk.
Seksi dan tangguh, image Lara Croft versi Angelina Jolie
Jadi sekarang sudah ada tiga Lara Croft, Alicia Vikander, Camilla Luddington dan Angelina Jolie. Ketiganya tentu memiliki karakter yang berbeda saat tampil sebagai Lara di Tomb Raider. Jolie memperlihatkan sosok Lara sebagai wanita yang kuat dan mandiri, sedangkan Luddington lebih feminim. Sekarang semua mata tertuju kepada Alicia Vikander.
Film Tomb Raider akan mulai ditayangkan pada tanggal 16 Maret 2018.
Kemiripan Left Alive dengan Front Mission ternyata bukan tanpa sebab. Setelah diungkap pada acara presscon Sony, terungkap jika setting dari game tersebut ada di dunia yang sama dengan Front Mission. Game ini bahkan bisa dimasukkan dalam timeline, yaitu berada tepat di antara Front Mission 5 dan Evolved.
Majalah Famitsu baru-baru ini telah mengupas secara detail game Left Alive. Banyak hal-hal yang terungkap dari game baru milik Square Enix ini. Producer Shinji Hashimoto mengatakan jika Left Alive mencoba untuk mengangkat tema yang dimiliki oleh Front Mission tapi dari sisi yang berbeda.
Kelihatannya dalam game ini fokus utama adalah ke para karakter manusianya. Left Alive memiliki tiga karakter utama. Ketiga karakter ini terjebak dalam perang yang dinamakan ‘The One Day Incident‘. Setiap karakter akan memiliki ceritanya sendiri, tapi pada akhirnya akan memiliki ending yang sama.
Mengenai gameplay, Director Toshifumi Nabeshima mengatakan jika Left Alive adalah game third person shooter dengan unsur stealth. Wanzer, robot raksasa yang selalu muncul dalam seri Front Mission juga dipastikan hadir dalam game ini. Pemain bisa menggunakan wanzer, tapi sayangnya tidak ada fitur costumization. Sebagai gantinya, game ini memiliki fitur crafting untuk senjata misalnya.
Para developer kelihatannya masih mengambang saat menerangkan bentuk dari map. Menurut mereka Left Alive menggunakan stage-based structure. Map dari satu stage akan memiliki batasan. Akan ada jebakan yang disiapkan dan harus dihindari oleh pemain. Pemain juga bisa memilih stage yang akan dilewati. Jika tidak ingin mengalami kesulitan , pemain bisa memilih jalur memutar atau mungkin mencoba melewatinya dengan cara mengendap-endap. Untuk lebih jelasnya bisa kamu lihat di trailer terbaru Left Alive lengkap dengan cuplikan gameplay:
Mengenai fitur online, developer mengatakan jika Left Alive lebih condong kepada offline. Namun, bukan berarti game ini tidak memiliki fitur online.
Well jika dilihat dari deskripsinya, terlihat jelas jika Left Alive masih menggunakan formula dari Front Mission. Jika Front Mission lebih mengedepankan pertarungan mecha, Left Alive sepertinya akan lebih humanis dengan karakter manusianya. Kira-kira mana yang paling ok?
Arc System Works baru saja mengumumkan kehadiran Kunio-kun: The World Classics Collection untuk PC (Steam), Xbox One, PS4 dan Nintendo Switch. Game ini rencananya akan dirilis ke wilayah Jepang pada tahun 2018 mendatang.
Kunio-kun: The World Classics Collection berisi 11 judul klasik seri game Kunio-kun, ditambah bonus empat judul game versi wilayah barat yang tidak pernah dirilis di Jepang. Berikut ini adalah daftar lengkapnya :
Downtown Nekketsu Koushinkyoku
Nekketsu Koukou Dodge Ball Bu
Nekketsu Kakutou Densetsu
Nekketsu! Street Basket
Nekketsu Koukou Dodge Ball Bu: Soccer Hen
Bikkuri Nekketsu Shinkiroku: Harukanaru Kin Medal
Kunio-kun no Nekketsu Soccer League
Ike Ike! Nekketsu Hockey Bu
Nekketsu Kouha Kunio-kun
Downtown Nekketsu Monogatari
Kunio-kun no Jidaigeki da yo Zen’in Shuugou!
Bonus Title: Renegade
Bonus Title: Super Dodge Ball
Bonus Title: River City Ransom
Bonus Title: Crash ‘n the Boys Street Challenge
Tiap judul game mendukung fitur bermain online. Jika gamer berhasil menyelesaikan misi di tiap judul, gamer bisa mengkustomisasi avatar serta game screen. Selain itu, game ini juga banyak mendukung elemen game yang seru untuk dimainkan berulang-ulang. Kunjungi situs resmi game di sini.
Saksikan trailer pengumuman game lewat video di bawah ini.
Bukan Final Fantasy IX, bukan pula Dissidia Final Fantasy NT, tapi Left Alive. Game ini berhasil mencuri perhatian dalam acara presscon Sony di event Tokyo Game Show 2017. Bagaimana tidak mengejutkan, Left Alive digarap oleh para developer kawakan yang kiprahnya dalam industri game sudah tidak disangsikan lagi.
Pertama, ada Shinji Hashimoto sebagai producer. Ia adalah orang yang berada di belakang kesuksesan game Final Fantasy, Kingdom Hearts dan Front Mission Evolved. Untuk director, Square Enix menunjuk Toshifumi Nabeshima. Ia merupakan mantan dari developer yang membuat game bertema mecha Armored Core. Lalu ada juga Yoji Shinkawa yang menjadi sebagai character designer. Jika kamu sudah melihat coretan gambar milik Yoji, kamu pasti merasa familiar. Ya, Yoji dulunya bekerja sama dengan Hideo Kojima di game Metal Gear.
Snake? Sniper Wolf…eh bukan
Untuk saat ini, Square Enix belum membicarakan apa-apa mengenai Left Alive. Satu-satunya petunjuk yang membuat hype adalah nama-nama para developer serta teaser trailernya. Pensaran? Yuk langsung disimak:
Tidak banyak yang bisa diperoleh dari teaser trailer di atas. Satu hal yang menarik adalah bagian terakhir video dimana kamu bisa melihat robot yang diangkut dengan menggunakan helikopter. Tidak hanya itu, netizen juga berhasil melihat reference dari game Front Mission dalam video tersebut.
Cocoklogi tapi memang mirip
Gambar yang terpampang dalam lukisan ternyata memiliki kemiripan dengan peta yang ada dalam game Front Mission. Apakah ini artinya Left Alive adalah spiritual successor dari Front Mission? “Left Alive adalab game bergenre survival action shooter yang akan rilis di PS4 dan PC (Steam) pada tahun 2018,” hanya itu saja deskripsi yang dicantumkan oleh Square Enix dalam website resminya.
Sudah lama rasanya tidak berjumpa dengan game Armored Core dan Front Mission. Jika kedua konsep game tersebut bisa digabungkan menjadi satu kesatuan dengan polesan ala Metal Gear, Left Alive bisa menjadi game yang menjanjikan. Tapi jangan senang dulu. Jangan lupa jika Square Enix juga rajanya troll.
Masih ingat dengan ulah Square Enix di PlayStation Experience tiga tahun yang lalu dimana mereka sempat membuat penonton tercengang. Para penonton kaget melihat game Final Fantasy VII…bukan versi remakenya yah tapi yang versi porting PS4. Memang pada akhirnya Square Enix membuat versi remake Final Fantasy VII, tapi kejutan tersebut tetap tidak akan dilupakan oleh orang-orang.
Rencananya pada pertengahan event Tokyo Game Show nanti, Square Enix akan menjelaskan lebih lanjut seperti apa Left Alive nantinya. Mudah-mudahan sih bukan troll tapi who knows.