Nintendo telah menggoda fansnya dengan mengumumkan informasi baru tentang penerus dari Nintendo Switch. Informasi ini datang bukan dari pihak ketiga atau leaker, melainkan langsung dari Presiden Nintendo Shuntaro Furukawa.
Melalui akun X Nintendo, Furukawa mengkonfirmasi salah satu fitur yang bisa digunakan oleh penerus Nintendo Switch alias Switch 2. Ia menjelaskan bahwa software yang ada di Nintendo Switch sekarang nantinya bisa juga digunakan di Switch 2. Fitur ini juga akan termasuk Nintendo Switch Online yang juga akan tersedia di Switch 2. Furukawa tidak menjelaskan secara spesifik software yang ia maksud,
Mengenai kapan Switch 2 diumumkan masih belum ada keterangan yang jelas dari Nintendo. Semua pernyataan yang sudah diberikan oleh Nintendo hanya memberikan petunjuk bahwa Switch akan diumumkan sebelum tahun fiskal berakhir, yaitu di 31 Maret 2025.
Warner Bros. telah mengungkap secara sekilas seperti apa sekuel dari Hogwarts Legacy nanti. Game ini dipastikan bakal memiliki hubungan dengan film terbaru Harry Potter yang akan tayang di HBO.
Berbicara dengan Variety, pimpinan Warner Bros. Interactive Entertainment David Haddad menegaskan bagaimana pentingnya kesuksesan Hogwarts Legacy bagi perusahaannya. Game tersebut mendorong Warner Bros. untuk kembali lagi mengembangkan franchise Harry Potter. Salah caranya adalah dengan fokus dalam membuat sekuel dari Hogwarts Legacy.
Keseriusan Warner Bros. juga terlihat dengan rencana mereka untuk mengkaitkan cerita sekuel Hogwarts Legacy ke dalam franchise Harry Potter. Inilah yang membuat cerita dari game tersebut nantinya akan memiliki peran penting dalam film seri terbaru Harry Potter.
Prestasi Hogwarts Legacy yang berhasil menjadi GOTY di 2023 dan terjual sampai dengan 30 juta unit sampai dengan bulan Oktober lalu, membuat Warner Bros. menjadikan game ini sebagai salah satu prioritasnya.
Akhir tahun 2024 sudah di depan mata. Sesuai dengan tradisi yang sudah berjalan, industri game merayakannya dengan membagikan penghargaan kepada game yang mencuri perhatian. Salah satu acara ini adalah The 2024 Golden Joysticks yang sudah mengungkap daftar kategori penghargaan berikut para nominasinya.
Kategori puncak dari The 2024 Golden Joysticks Awards adalah Ultimate Game of the Year (GOTY). Kategori ini berisi 12 nominasi game yang berasal dari berbagai genre. Salah satu nominasinya adalah Black Myth: Wukong, dimana sebelumnya sempat muncul kabar bahwa game buatan Game Science ini tidak masuk dalam The 2024 Golden Joysticks Awards.
Berikut adalah daftar lengkap dari 12 judul game yang bersaing untuk mendapatkan penghargaan Ultimate GOTY di The 2024 Golden Joysticks Awards:
Astro Bot
Final Fantasy VII Rebirth
Silent Hill 2 Remake
Black Myth: Wukong
Satisfactory
Metaphor: ReFantazio
Call of Duty: Black Ops 6
Dragon Age: The Veilguard
Helldivers 2
Tekken 8
Balatro
Animal Well
Kalian bisa mengikuti voting untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan penghargaan Ultimate GOTY di sini. Selain kategori Ultimate GOTY, The 2024 Golden Joysticks Awards juga menghadirkan kategori yang lain dan tentunya dengan lebih banyak nominasi.
Pemenang dari The 2024 Golden Joysticks Awards akan diumumkan pada tanggal 21 November 2024.
Entah kenapa ketika EA mengumumkan Dragon Age: The Veilguard, saya agak khawatir dengan hasil akhirnya. Kekhawatiran ini semakin terbukti ketika terjadi perubahan judul dari Dreadwolf menjadi The Veilguard. Ditambah lagi dengan suksesnya Baldur’s Gate 3 yang otomatis membuat BioWare harus bekerja lebih keras.
Pada tanggal 31 Oktober kemarin, Dragon Age: The Veilguard akhirnya rilis. Saya mewakili Playcubic mendapat kesempatan dari EA untuk mereview versi PC dari Dragon Age: The Veilguard. Setelah 7 tahun jeda dari Dragon Age: Inquisition, saya jelas sudah tidak sabar untuk menyelam ke dalam dunia fantasi yang diracik secara mendalam oleh BioWare…Itu harapan saya tapi faktanya ada di ulasan ini.
Masalah yang Kembali Mendatangi Thedas
Dragon Age: The Veilguard merupakan kelanjutan dari seri Dragon Age sebelumnya, yaitu Dragon Age: Inquisition. Sama seperti tradisi dalam game Dragon Age, kalian akan diminta untuk membuat karakter sendiri. Untuk Dragon Age: The Veilguard, karakter yang kalian buat memiliki nama panggilan Rook. Kalian salah satu dari pejuang yang direkrut oleh Varric Tethras yang merupakan tokoh ikonik dari game Dragon Age sebelumnya.
Tugas kalian kali ini adalah menghentikan Solas, sang Dreadwolf. Sahabat baik Varric ini memiliki tujuan yang membahayakan dunia Thedas, yaitu membuka tabir pembatas antar alam atau Veil. Pada akhirnya kalian berhasil menghentikan rencana gila Solas, namun tindakan kalian juga memiliki dampak yang tidak kalah membahayakan.
Dua dewa Elf, yaitu Elgar’nan dan Ghilan’nai berhasil lepas dari penjara tempat mereka dikurung, dan menyebarkan Blight ke seluruh penjuru Thedas. Kutukan ini menyebabkan munculnya pertikaian dan peperangan di berbagai tempat secara serentak. Tugas kalian sekarang sebagai Rook adalah mengalahkan Elgar’nan dan Ghilan’nai dan membawa kedamaian kembali ke Thedas.
Secara keseluruhan, alur cerita yang disajikan di Dragon Age: The Veilguard memiliki kualitas naik turun. Kedua dewa elf yang dalam lorenya sangat membahayakan justru kurang memiliki impact dalam alur cerita Dragon Age: The Veilguard.
Selain itu, pilihan dialog yang ada menurut saya kurang bervariasi. Pilihan yang bisa dipilih kurang diracik sehingga terkesan tidak kreatif, dan juga tidak terlalu memiliki dampak. Saya juga memperhatikan bahwa dialog antara Rook dengan companionnya terasa hambar. Sangat mudah untuk mencari jalan tengah ketika Rook berselisih dengan karakter lain tanpa adanya efek samping.
Hal lain yang membuat saya agak risih adalah dalam beberapa quest kadang ada dialog yang terkesan dipaksakan, dan biasanya berhubungan dengan tema diversitas. Dalam game modern, tema tersebut kadang memang suka diselipkan sehingga terkesan muncul secara alami. Apa yang terjadi di Dragon Age: The Veilguard justru sebaliknya seperti terkesan dipaksakan, dan jujur saja ini membuat saya menjadi agak kurang nyaman.
Bertualang Dari Hutan Kuno ke Necropolis
Dari segi grafis dan visual, BioWare membuat wilayah-wilayah di Dragon Age: The Veilguard memiliki detail yang beragam. Contohnya adalah Kota Treviso yang memiliki kesan elegan karena mengambil refrensi dari budaya Eropa, Arlathan forest yang memiliki banyak peninggalan kuno, sampai dengan Necropolis Halls yang memiliki nuansa mistis.
Setiap dungeon yang ada dalam game ini memiliki ciri khas yang sama, yaitu ruangan luas diselingi koridor penghubung dengan area selanjutnya. Selain itu, ada juga sesi puzzle yang cukup sederhana, seperti menaruh artifact untuk membuat jembatan, maupun menggunakan kemampuan karakter kalian untuk membuka jalan ke area berikutnya.
Sayangnya rasa imersif agak kurang terasa karena kurangnya ambience. Pada game sejenisnya biasanya pemain bisa mendengar obrolan NPC di sekitar atau menyaksikan interaksi antar mereka. Hal ini kurang dioptimalkan di Dragon Age: The Veilguard.
Kritik Untuk Bagian Character Creation
Untuk fitur character creation, Dragon Age: The Veilguard memiliki fitur yang cukup detail. Tapi hal yang mengherankan adalah desainnya. Karakter di Dragon Age: The Veilguard memiliki desain yang lebih condong ke arah kartun, berbeda dengan seri Dragon Age sebelumnya yang menggunakan gaya photographic.
Saya juga memperhatikan bahwa setiap ras di Dragon Age: The Veilguard memiliki tipe badan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada tinggi badannya saja. Hasilnya, beberapa karakter bisa memiliki badan yang tidak proporsional. Misalnya ukuran kepala yang terlalu besar, terutama pada ras Dwarf dan Qunari.
Berbicara mengenai Qunari, BioWare melakukan perombakan yang cukup signifikan pada ras ini di Dragon Age: The Veilguard. Semua preset karakter untuk ras ini terlihat seperti orang yang sedang menggunakan kostum. Jika kalian mau, kalian bisa menggunakan desain Qunari dari game Dragon Age sebelumnya. Tapi diperlukan usaha ekstra untuk mengatur semua slider dan effect yang sudah ada.
Gameplay Disederhanakan
Dari segi gameplay, Dragon Age: The Veilguard mengizinkan kalian untuk memilih satu dari tiga job class yang tersedia pada bagian awal permainan. Selain class, karakter kalian dibekali dengan tiga skill aktif, serta satu skill ultimate yang masing-masing akan membuat karakter kalian kebal ketika menggunakan skill tersebut. Setiap naik level, atau setelah menyelesaikan puzzle Fen’Harel Altar, kalian akan mendapatkan skill point yang bisa digunakan untuk membuka skill aktif, maupun pasif untuk memperkuat kemampuan bertempur karakter kalian.
Setelah mencapai level 20, kalian bakal membuka subclass yang akan mempengaruhi gaya bermain kalian. Sangat disayangkan, ciri khas micromanagement taktis dari game Dragon Age sebelumnya hampir hilang seluruhnya di Dragon Age: The Veilguard.
Dari pengalaman yang saya dapatkan, karakter buatan kalian alias Rook akan merangkap sebagai damage dealer sekaligus tank, tidak peduli job class apa yang dipilih. Sebabnya adalah companion kalian kebal alias tidak memiliki health bar. Ditambah lagi sistem game yang membuat musuh akan selalu mengejar Rook apabila tidak terkena taunt. Kabar buruknya lagi permainan akan berakhir ketika health point Rook mencapai 0.
Dragon Age: The Veilguard juga memiliki mekanik combo, dimana karakter kalian bisa menggunakan skill untuk menambahkan efek dari skill yang lain. Mekanik ini cukup menarik karena memiliki banyak variasi. Sayangnya kegunaannya akan mulai memudar ketika kalian menginjak pertengahan sampai akhir cerita. Menurut saya, sebagian besar kalian nantinya berasal dari advantage atau buff seperti Time Dilation, Precision, maupun dan gerakan dasar, serta serangan ke weakspot yang mampu menghasilkan damage lebih besar.
Saya menyukai tingkat kesulitan atau combat setting yang ada di game ini. Pemain bisa mengatur health, damage yang diterima, maupun timing untuk bertahan secara individu. Pemain juga bisa mengatur sendiri tingkat kesulitan musuh yang ada di game ini.
Dragon Age: The Veilguard Dari Segi Teknis
Saya puas dengan optimalisasi Dragon Age: The Veilguard di PC, karena bisa terus stabil. Saya sendiri menggunakan spesifikasi ultra plus DLSS di quality. Hasilnya FPS saya tertap stabil di angka 60, serta loading antar tempat juga tetap berjalan dengan cepat. Hal inicukup mengejutkan, mengingat Dragon Age: The Veilguard menggunakan engine Frostbite yang memiliki track record kurang menyenangkan dalam hal loading asset, serta stabilitas FPS di game non shooter.
Spesifikasi PC yang saya gunakan untuk memainkan Dragon Age: The Veilguard di PC adalah Ryzen 7 2700x, Gforce 4070ti, 32GB RAM dan SSD
Kesimpulan
Kesimpulan saya untuk Dragon Age: The Veilguard adalah game ini sebetulnya adalah game yang biasa-biasa saja. Apakah ini bagus? Mungkin ini tidak masalah bagi gamer yang baru mengenal franchise Dragon Age. Tapi bagi saya yang sudah mengikuti game ini sejak lama, kualitas yang disajikan oleh Dragon Age: The Veilguard bisa dibilang tidak memuaskan.
Dari segi cerita, Dragon Age: The Veilguard terselamatkan karena masih memiliki hubungan dengan cerita sebelumnya. Begitu juga kehadiran karakter dari game sebelumnya, baik itu menjadi companion atau cameo saja.
Dari segi gameplay, BioWare berusaha untuk menyederhanakan gameplay Dragon Age: The Veilguard. Namun, hal tersebut juga membuat game ini kehilangan gameplay taktis yang merupakan salah satu keunikan dari seri Dragon Age.
Saya juga mempertanyakan kebijakan BioWare yang merombak total desain dari ras-ras yang ada di Dragon Age: The Veilguard. Kenapa ini harus dilakukan, mengingat desain yang lama sudah terbentuk dari awal franchise Dragon Age lahir. Seakan BioWare tidak peduli dengan dunia yang sudah mereka buat dengan susah payah selama ini.
Oleh karena itu, apabila kalian seperti saya yaitu fans Dragon Age yang sudah memainkan game Dragon Age sebelumnya, jangan taruh ekpektasi kalian di level yang tinggi.
Sega dan RGG Studios telah merilis video promosi baru untuk Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii. Video ini menampilkan Munetaka Aoki yang berperan sebagai Teruhiko Shigaki di dalam game. Ia diwawancara oleh Masayoshi Yokoyama mengenai kesan apa yang ia dapatka ketika ikut berperan dalam pengembangan game Like a Dragon: Pirate Yakuza.
Selain itu, Yokoyama juga mengungkap informasi penting tentang Goro Majima. Rupanya dalam event yang terjadi di Like a Dragon: Pirate Yakuza, Majima sudah berusia 60 tahun. Menurut Yokoyama dalam usia tersebut, Majima sudah bisa dibilang cukup tua.
Lucunya dalam film Like a Dragon: Yakuzam, Munetaka Aoki merupakan pemeran dari Goro Majima. Ia menjelaskan bahwa Majima dan karakter yang diperankannya Shigaki di game Like a Dragon: Pirate Yakuza masih saling berhubungan. Keduanya rupanya merupakan mantan dari anggota clan Tojo.
Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii akan tersedia tanggal 21 Februari 2025 di platform PS5, PS4, Xbox Series, Xbox One, dan PC (Steam).
Game buatan developer tanah air, Acts of Blood telah mendapatkan versi demo yang bisa dimainkan secara gratis di Steam. Pada versi demo, pemain bisa mencoba cerita bagian pertama atau Jagal arcs. Selain itu pemain juga bisa berganti-ganti kostum dan mengakses fitur arena. Detailnya bisa dilihat di sini.
Acts of Blood merupakan game bergenre beat’em up. Karakter utamanya bernama Hendra. Berlatar di Bandung, Acts of Blood menceritakan keluarga Hendra yang tewas dibantai. Sekarang satu-satunya tujuan hidup Hendra adalah membalaskan dendam keluarganya kepada pihak yang bertanggung jawab.
Acts of Blood sempat ramai menjadi buah bibir di Indonesia setelah diketahui bahwa game ini dikembangakan oleh satu orang bernama Fajrul FN. Dari segi desain, Acts of Blood sudah tampil secara 3D karena dibuat menggunakan Unreal Engine. Game ini terinspirasi dari The Raid dan akan menampilkan gameplay penuh aksi dan juga kekerasan.
Mengenai tanggal rilis resmi dari Acts of Blood masih belum diumumkan.
Bandai Namco telah merilis trailer baru untuk game Death Note: Killer Within. Video ini menjelaskan bagaimana cara bermain yang kurang lebih mirip dengan Among Us, tapi dengan penambahan-penambahan baru.
Death Note: Killer Within deduction game dengan fitur online interaction. Death Note: Killer Within bisa dimainkan hingga 10 pemain secara cross-play. Pemain akan dibagi menjadi dua tim yang ditugaskan untuk mengungkap identitas satu sama lainnya. Satu tim bertugas mengeliminasi L, sedangkan yang lainnya merebut Death Note dari Kira.
Death Note: Killer Within juga menghadirkan sistem role atau peran. Setiap pemain dalam tim bisa memilih untuk berperan sebagai Kira dan pengikutnya, atau sebagai L dan tim Investigatornya. Setiap peran akan menawarkan mekanisme gameplay yang berbeda-beda.
Death Note: Killer Within akan rilis pada tanggal 5 November 2024 di PS5, PS4, dan juga PC (Steam).
Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven adalah salah satu usaha dari Square Enix untuk kembali mempopulerkan franchisenya yang tertidur lama. Game ini sebetulnya sudah berusia setidaknya 31 tahun karena dirilis pada tahun 1993. Tidak hanya itu, Romancing SaGa 2 dulu juga hanya tersedia di Jepang saja.
Jadi bagaimana Square Enix memperlakukan game yang umurnya sudah lebih dari tiga dekade? Square Enix menunjuk Shinichi Tatsuke sebagai producer mengingat pengalamannya yang berhasil me-remake Trials of Mana. Proses pengerjaan berlangsung dari tahun 2021 dan sekarang di 2024, Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven rilis dalam format 3D.
Kebetulan Playcubic mendapatkan kesempatan untuk memainkan versi review Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven di PC. Jujur saja, ini adalah game SaGa pertama saya dan harapannya adalah game ini berhasil meyakinkan saya untuk menyukai franchise ini. Apakah bisa?
Pahlawan Menjadi Monster
Apa jadinya jika pahlawan yang dianggap sebagai panutan dan pelindung, justru malah menjadi ancaman utama? Inilah tema cerita yang diangkat oleh Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven. Diceritakan tujuh pahlawan legendaris atau Seven Heroes telah kembali, namun wujud dan kepribadian mereka sudah rusak. Kehadiran mereka membawa kekacauan yang membuat dunia Varennes tenggelam ke dalam kegelapan.
Dimulai dari kekaisaran Avalon, dimana Emperor Leon dengan putranya, Gerard harus berhadapan dengan salah satu dari ketujuh pahlawa yaitu Kzinssie. Ia melakukan dosa yang tak terampuni yaitu menyerang Avalon dan membunuh saudara Gerard yang bernama Victor.
Saat mempersiapkan serangan balik, Leon bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Orieve. Pertemuan tersebut rupanya memiliki tujuan tertentu. Leon akhirnya gugur dalam pertempuran melawan Kzinsse yang menggunakan sihir Soulstealer, meninggalkan Gerard sendirian.
Pada momen inilah Orieve muncul dan menemui Gerard. Ia menjelaskan tujuan kedatangannya pada waktu bertemu Leon, yaitu memberikan kekuatan sihir bernama pewarisan atau inheritance kepada garis keturunan kekaisaran Avalon. Gerard akhirnya mengetahui bahwa ayahnya sengaja mengorbankan diri saat bertempur dengan Kzinsse untuk mendapatkan cara menangkal sihir Soulstealer. Pengetahuan ini lalu ia wariskan kepada Gerard dengan sihir Inheritance yang membuatnya bisa mengalahkan Kzinsse.
Begitulah awal cerita dari Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven. Sihir inheritance menjadi elemen utama dalam susunan cerita sekaligus mekanisme sentral. Pemain sebagai Emperor dari Avalon akan mewariskan pengetahuan dan kemampuan ke penerus berikutnya untuk melawan Seven Heroes yang tak terkalahkan.
Menurut saya untuk bagian prologue tentang Leon dan Gerard, cerita yang dibangun sudah cukup baik. Sayangnya setelah generasi mereka berakhir dan beralih ke penerus selanjutnya, alur cerita justru seperti terputus tengah jalan. Saya malah disuguhi cerita lain yang kurang menarik, meski masih berhubungan dengan ancaman dari Seven Heroes. Game juga tidak memberikan kesempatan bagi saya untuk mengenal lebih jauh siapakah karakter ini, tidak seperti Leon dan Gerard.
Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven juga memiliki fitur bernama Memories. Melalui fitur ini pemain bisa melihat potongan dari kehidupan masa lalu Seven Heroes. Fitur ini memberikan pemain informasi untuk mengetahui seperti apa karakter asli dari Seven Heroes, bagaimana mereka menjadi terkenal, dan akhirnya berubah menjadi penghancur.
Remake Grafis dan Visual
Sebagai game remake, satu pembaruan yang sangat kentara dari Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven adalah dari segi presentasi grafis dan visual. Varennes sekarang sudah dibuat dalam bentuk 3D sepenuhnya, memperluas skala setiap lokasi di dunia tersebut. Setiap kota dibuat secara detail, memiliki bangunan yang dapat dimasuki, lengkap dengan NPC yang dapat diajak bicara.
Developer juga memperhatikan secara teliti detail untuk model karakter. Desain karakter klasik yang bergaya sprite, beralih dengan mulus menjadi 3D dengan gaya anime. Hal ini juga diterapkan dalam desain monster, dimana monster yang dulunya sangat sederhana sekarang sudah memiliki kerangka 3D. Sosok monster dari Seven Heroes menurut saya adalah contoh desain dari monster yang patut diacungi jempol.
Untuk membuat Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven menjadi lebih imersif, karakter juga sudah memiliki voice actor. Ditambah lagi musik yang diaransemen ulang oleh Kenji Ito, membuatnya memiliki tema orkestra yang megah.
Tampilan Luar Berubah, Core Tetap Sama
Meski sudah dipoles ulang habis-habisan, developer tetap mempertahankan mekanik inti franchise SaGa. Sistem combat masih berbasis turn-based, peningkatan level karakter khas game RPG dihilangkan dan diganti menjadi technique dan weapon proficiency, kehadiran Glimmer yang membuat pemain dapat memperolah tehnik baru secara random dalam combat, dan poin LP yang dapat mengakibatkan karakter mati permanan jika habis.
Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven juga menghadirkan berbagai job class yang bisa dipilih, mulai dari yang sederhana seperti Archer sampai kompleks seperti Nereid. Setiap job class juga akan memiliki skill pasif yang dapat memberikan bonus tambahan untuk karakter yang menggunakannya. Mekanik Ini memberikan kebebasan kepada pemain uintuk membangun karakter favoritnya.
Timeline Adalah Kunci Dalam Combat
Dalam combat Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven berpegang pada dua mekanik, yaitu timeline dan United Attacks. Giliran untuk pemain dan musuh sekarang ditempatkan di bar untuk timeline. Kalian bisa melihat siapa yang bisa jalan lebih dulu. Jika ternyata itu adalah musuh, kalian bisa melakukan hal tertentu yang mempengaruhi giliran mereka. Misalnya melakukan serangan dengan efek Stun yang bisa membatalkan giliran musuh dalam satu putaran.
Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven juga memiliki mekanisme weakness. Setiap musuh akan memiliki setidaknya empat weakness yang pada awalnya tersembunyi dan harus diungkap oleh pemain. Jika berhasil mengeksploitasi kelemahan musuh, pemain dapat mengisi overdrive bar. Ketika bar ini penuh, pemain bisa melakukan serangan kombinasi atau United Attacks.
Ketika menggunakan United Attacks, karakter dapat menyerang tanpa memperhatikan posisi mereka di timeline. United Attacks bisa menghasilkan damage yang besar, namun penggunaannya juga membuat pemain rentan terhadap serangan balik musuh. Sekedar mengingatkan, combat di game ini bisa agak lama. Jadi jangan pernah menahan-nahan United Attacks. Ketika barnya penuh langsung gunakan supaya combat cepat selesai.
Developer juga menyempurnakan mekanisme yang sudah ada. Misalnya sekarang terdapat ikon lampu kecil di sebelah ability. Ikon ini merupakan pertanda jika ability tersebut berpeluang besar untuk memunculkan Glimmer. Fitur ini membuat pemain tidak perlu menebak-nebak lagi ketika ingin mempelajari skill baru.
Perluas dan Kembangkan Kekaisaran
Sebagai seorang kaisar, salah satu tugas pemain selain melawan Seven Heroes adalah mengembangkan kekaisaran. Ada dua hal yang akan pemain lakukan yaitu ekspansi dan pengembangan. Pemain dapat berkeliling ke seluruh wilayah Varennes untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh negara lain. Sebagai imbalannya, negara yang dibantu nantinya akan bergabung dengan kekaisaran.
Ekspansi ini juga merupakan bagian dari progress untuk melanjutkan main story. Pemain akan diberikan beberapa pilihan negara yang dapat bergabung dengan kekaisaran dan bebas menyelesaikannya dalam urutan yang diinginkan. Pemilihan ini juga akan berdampak dengan peristiwa yang bisa terjadi atau tidak, tergantung dengan urutan yang diambil.
Sambil berkeliling Varennes, pemain juga bisa menjalankan berbagai macam side-quest. Cerita sampingan ini dibuat dengan cukup baik karena memperkaya dunia di game. Misalnya, ada side-quest yang melibatkan putri duyung di mana pemain harus mengumpulkan bahan untuk membuat Mermaid Potion. Nantinya potion ini dapat digunakan untuk bernapas di bawah air, dimana pemain bisa menemukan dungeon rahasia berbentuk kapal karam.
Untuk pengembangan, di Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven pemain bisa membangun berbagai macam fasilitas di Avalon. Fasilitas ini adalah Smithy, Incantations Lab, Avalon Garden, dan Imperial University. Setiap fasilitas memiliki fungsi masing-masing. Misalnya di Imperial University pemain bisa mengikuti tes pengetahun tentang dunia di Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven. Jika berhasil, pemain bisa mendapatkan uang dan juga bahan-bahan untuk upgrade.
Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven Dari Segi Teknis
Saya memainkan Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven di PC dengan spesifikasi i5-9400F, GeForce RTX 3060, dan RAM 16GB. Selama memainkan gamenya, saya tidak pernah mengalami masalah teknis. Meski semua yang ada di dunia game sudah dirender dalam bentuk 3D, game ini tetap terbilang ringan. Mungkin karena Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven tidak menyajikan dunia open-world yang membutuhkan performa tinggi untuk memprosesnya.
Kesimpulan
Kesimpulan saya adalah Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven merupakan game remake yang ideal. Square Enix berhasil tidak hanya memperindah, tapi juga memperluas cakupan dari game dengan memanfaatkan teknologi zaman sekarang.
Struktur cerita yang terbuka memberikan kebebasan bagi pemain untuk menentukan nasib dari sang karakter utama. Sayangnya sistem ini juga menjadi kelemahan karena tidak semua karakter utama memiliki cerita yang engaging seperti bagian Leon dan Gerard. Mekanik Glimmer bagi saya juga memberikan kesenangan tersendiri, meski bagian combat secara keseluruhan masih kurang memuaskan dan cenderung monoton.
Untuk pemain baru seperti saya, Romancing SaGa 2: Revenge of the Seven merupakan entry yang tepat untuk berkenalan dengan franchise SaGa. Kedepannya jika Square Enix berniat untuk melanjut franchise ini, mereka hanya tinggal menyempurnakan lagi apa yang sudah ada dari game ini.
Koei Tecmo dan Omega Force telah membagikan spesifikasi PC untuk memainkan Dynasty Warriors: Origins. Spesifikasi ini dibagi menjadi dua, recommended dan minimum. Untuk ukuran storage, game ini disebut hanya memakan 50GB saja. Tapi tidak ada keterangan apakah harus memakai SSD atau tidak. Detailnya bisa kalian lihat di sini.
Dynasty Warriors: Origins akan menghadirkan format yang berbeda dengan game Dynasty Warriors sebelumnya. Dalam game ini pemain akan bermain sebagai karakter original, yaitu seorang ahli bela diri yang mengalami amnesia. Dalam perjalanannya, pemain akan bertemu dengan Guan Yu dan Zhang Jiao yang mengawali cerita dari Dynasty Warriors: Origins. Developer menjanjikan bahwa Dynasty Warriors: Origins akan lebih imersif dalam segi cerita.
Dari gameplay Dynasty Warriors: Origins akan tetap mempertahankan format original Dynasty Warriors. Karakter pemain akan berhadapan dengan jumlah musuh yang sangat banyak. Dalam kondisi tertentu, pemain juga dapat menggunakan karakter pendamping yang ikut dalam pertempuran. Pemain juga dapat memilih pertarungan mana yang ingin diikuti dengan membuka Continental Map.
Dynasty Warriors: Origins akan rilis tanggal 17 Januari 2025 di platform PS5, Xbox Series, dan PC (Steam).
Game Power Rangers: Rita’s Rewind telah mendapatkan tanggal rilis. Game ini akan tersedia di platform PS5, PS4, Xbox Series, Xbox One, Nintendo Switch, dan PC (Steam) pada tanggal 10 Desember 2024. Selain itu developer Digital Eclipse juga telah merilis trailer baru yang menampilkan Ranger hijau.
Power Rangers: Rita’s Rewind akan menggunakan gaya game retro beat’em up dan bisa dimainkan dalam mode multiplayer co-op. Game ini juga memiliki mode permainan dengan gaya arcade shooter, dimana pemain bisa mengendalikan Megazord dengan sudut pandang dari dalam robotnya.
Cerita dari Power Rangers: Rita’s Rewind adalah Robot-Rita, musuh bebuyutan Power Rangers yang membuat portal waktu untuk menemui dirinya di masa lalu. Keduanya akan bekerjasama agar dapat mengalahkan tim Power Rangers untuk selamanya.