Garena resmi mengumumkan akan merilis Delta Force, game tactical first-person shooter (FPS) terbaru di Asia Tenggara, Taiwan, Amerika Tengah dan Amerika Latin, Brasil, serta Timur Tengah dan Afrika Utara. Game ini akan dirilis di iOS, Android, dan PC.
Delta Force versi PC akan hadir tanggal 5 Desember 2024. Mulai sekarang, pemain sudah bisa melakukan pra-registrasi Open Beta game Delta Force versi PC melalui laman resmi Garena DeltaForce. Garena akan membagikan hadiah eksklusif serta skin senjata spesial untuk pemain yang menggunakan PC Client Pack Garena untuk Delta Force. Tak hanya itu, PC Client Pack dari Garena akan dilengkapi fitur cross-progression dengan versi mobile, sehingga progres permainan pemain di PC akan berlanjut ketika versi mobile Delta Force rilis pada awal 2025. Garena juga memastikan bahwa Matchmaking untuk pemain PC dan Mobile tidak akan tumpang tindih.
Delta Force hadir dengan peran Operator beragam dengan kemampuan berbeda. Dengan peta dan medan tempur yang beragam, Delta Force akan mengharuskan pemain saling bekerja sama untuk menguasai medan pertempuran dengan menggunakan persenjataan dan kendaraan yang tersedia. Game ini juga memberi keleluasaan kustomisasi pilihan senjata yang bisa disesuaikan dengan strategi serangan pemain.
Dikembangkan oleh Team Jade dari TiMi Studio Group, Delta Force memiliki fitur grafis realistis serta mode gameplay beragam untuk menghadirkan pengalaman bermain yang imersif bagi pencinta game bergenre shooter.
Adapun, dua mode Player versus Player (PvP) yang akan dirilis di Delta Force adalah sebagai berikut:
Warfare
Mode Warfare adalah mode pertempuran berskala besar dengan melibatkan hingga 64 pemain dalam waktu bersamaan. Pemain akan berpartisipasi dalam pertarungan 32 vs 32 yang masif di medan pertempuran darat, udara, dan air. Setiap kubu pemain akan dibagi kembali ke dalam skuad berisi empat orang untuk bekerja dan berstrategi bersama untuk memenangkan pertandingan. Pemain harus memilih operator dengan persenjataan dan taktik berbeda yang tersedia, mulai dari smoke cover, penghancur kendaraan, hingga penyembuhan.
Operations
Dalam mode shooter ekstrasi ini, pemain akan bergabung regu berisi tiga orang untuk mengeksplorasi map, mengumpulkan suplai, dan mencapai poin ekstraksi dalam waktu yang ditentukan. Item yang dikumpulkan bisa dijual untuk mendapatkan alat tukar di dalam game (in-game currency). Pemain juga bisa menggunakan items tersebut dalam pertandingan, tapi mereka bisa kehilangan semuanya jika kalah di pertandingan itu. Sebaliknya, jika menang, pemain bisa merebut semua resources dari tim lawan.
Mode ini juga hadir dengan misi spesial, area terlarang, hingga ‘boss’ yang akan memberikan hadiah berharga. Tak hanya itu, pemain bisa mendapatkan item ‘MandelBrick’ yang dibutuhkan untuk mendapatkan skin eksklusif. Namun, mendapatkan ‘MandelBrick’ tidak akan mudah karena lokasi keberadaannya akan disampaikan kepada semua pemain, membuat semua pemain saling bertarung untuk mendapatkannya.
Informasi lebih jelas tentang Delta Force bisa dilihat di sini.
Sony Interactive Entertainment memang sudah mengungkap spesifikasi untuk PS5 Pro, tapi secara umum. Sekarang spesifikasi yang lebih detail dari konsol tersebut telah diungkap oleh Digital Foundry dari buku panduan yang ada di dalam boks PS5 Pro untuk review.
PS5 Pro telah dipastikan memiliki peningkatan signifikan dibandingkan versi standarnya. Konsol ini dilengkapi prosesor AMD Ryzen Zen 2 dengan 8 core dan 16 thread, serta mesin grafis berbasis RDNA yang mampu menghasilkan performa komputasi GPU sebesar 16,7 teraflops. Hasil ini lebih tinggi dari PS5 biasa yang memiliki 10,23 teraflops.
PS5 Pro juga membawa peningkatan di sisi memori dan penyimpanan. Konsol ini memiliki 16GB memori GDDR6, ditambah 2GB memori DDR5 berkecepatan lebih rendah yang didedikasikan untuk pekerjaan “non-gaming”. Selain itu, kapasitas penyimpanan PS5 Pro ditingkatkan dengan SSD kustom sebesar 2TB. Peningkatan performa ini akan berdampak pada konsumsi daya yang diperkirakan mencapai mencapai 390W. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan versi slim dan PS5 Digital Edition yang mengkonsumsi 340W.
Sony Interactive Entertainment juga baru saja membagikan daftar 55 game yang akan hadir di PS5 Pro dan mendapatkan peningkatan dari teknologi yang ada di konsol tersebut:
Alan Wake 2
Albatroz
Apex Legends
Arma Reforger
Assassin’s Creed Mirage
Baldur’s Gate 3
Call of Duty: Black Ops 6
EA Sports College Football 25
Dead Island 2
Demon’s Souls
Diablo IV
Dragon Age: The Veilguard
Dragon’s Dogma 2
Dying Light 2 Reloaded Edition
EA Sports FC 25
Enlisted
F1 24
Final Fantasy VII Rebirth
Fortnite
God of War Ragnarök
Hogwarts Legacy
Horizon Forbidden West
Horizon Zero Dawn Remastered
Kayak VR: Mirage
Lies of P
Madden NFL 25
Marvel’s Spider-Man Remastered
Marvel’s Spider-Man: Miles Morales
Marvel’s Spider-Man 2
Naraka: Bladepoint
NBA2K 25
No Man’s Sky
Palworld
Paladin’s Passage
Planet Coaster 2
Professional Spirits Baseball 2024-2025
Ratchet & Clank: Rift Apart
Resident Evil 4
Resident Evil Village
Rise of the Ronin
Rogue Flight
Star Wars: Jedi Survivor
Star Wars: Outlaws
Stellar Blade
Test Drive Unlimited: Solar Crown
The Callisto Protocol
The Crew Motorfest
The Finals
The First Descendant
The Last of Us Part I
The Last of Us Part II Remastered
Until Dawn
War Thunder
Warframe
World of Warships: Legends
PS5 Pro akan mulai dijual pada tanggal 7 November 2024 dengan harga USD699. Sayangnya konsol ini dipastikan belum tersedia di Indonesia pada tanggal tersebut. Dilansir dari Liputan 6, alasan Sony belum merilis PS5 Pro di Indonesia adalah karena belum tersedianya jaringan WiFi 7.
Bermain game memang bisa menjadi hobi bagi siapa saja di seluruh dunia. Baik dari segi usia maupun profesi, game tetap menjadi pilihan populer untuk mengatasi stres atau menyalurkan hobi. Salah satu contohnya adalah musisi yang menjadikan video game sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Berbicara tentang musisi dan game, terdapat beberapa musisi terkenal di Indonesia yang sangat menyukai dan hobi bermain game. Ingin tahu siapa saja musisi terkenal Indonesia yang sangat hobi bermain game? Berikut adalah ulasan lengkapnya.
1. Isyana Sarasvati
Bagi pengikut laman Instagramnya, tidak mengejutkan mengetahui bahwa pelantun IL SOGNO ini adalah seorang gamer. Di berbagai kesempatan, ia sering membagikan pengalaman bermain Ragnarok X. Selain itu, Isyana juga menikmati bermain PlayStation saat memiliki waktu luang.
Kecintaannya terhadap konsol PlayStation bahkan membawanya tampil di YouTube PlayStation Asia pada 22 Januari 2021, di mana ia berbagi berbagai pengalaman tentang permainan konsol tersebut.
2. Ariel Noah
Ariel, yang dikenal sebagai vokalis utama grup band NOAH, ternyata juga sangat menyukai bermain game. Dalam beberapa kesempatan, ia berbagi cara dan pengalaman tentang merakit PC high-end dengan spesifikasi yang mengesankan. Selain itu, kecintaannya pada PUBG Mobile membawanya terjun ke dunia esports.
Ia memiliki grup esports bernama The Pillars yang diluncurkannya beberapa tahun lalu, yang terdiri dari berbagai divisi. Di samping itu, musisi yang menggemari action figure ini juga menikmati bermain Genshin Impact.
3. Coki Bollemeyer
Musisi yang bernama asli Christopher Bollemeyer ini adalah gitaris dari band NTRL dan Darksovl, yang memiliki beragam hobi. Dalam berbagai kesempatan, ia mengungkapkan kecintaannya pada permainan drone dan video game.
Terkait game, Coki bahkan pernah membuat vlog gaming di YouTube pribadinya saat memainkan Call of Duty. Ia menggarap vlog tersebut layaknya seorang YouTuber gaming biasa. Selain itu, di channel YouTube What The Noise, Coki juga pernah menyebutkan bahwa ia sering masuk ke game online, meskipun terkadang hanya untuk bersenang-senang dan bercanda dengan teman-teman sesama gamernya.
4. Reza Oktovian
Reza Oktovian, yang lebih dikenal sebagai Reza Arap, adalah sosok yang berbeda dari tiga musisi sebelumnya. Sementara Coki, Isyana, dan Ariel lebih dahulu dikenal sebagai musisi, Reza justru memulai kariernya sebagai gamer. Ia adalah YouTuber gaming yang berhasil mempopulerkan vlog lets play di Indonesia.
Sebagai seorang gamer, Reza lebih dulu mendapatkan popularitas sebagai pemain game. Namun, beberapa tahun setelah merintis kariernya di YouTube, ia beralih ke dunia musik bersama Gerald Liu dan Eka Gustiwana di Weird Genius.
Meskipun ia mengaku tidak bisa membaca nada, bakatnya berkontribusi besar terhadap kesuksesan Weird Genius. Meski tidak bisa membaca chord, peran dan kontribusinya sebagai anggota WG membuat Reza layak diakui sebagai seorang musisi.
5. Qorygore
Seperti Reza Oktovian, Qorygore juga awalnya lebih dikenal sebagai seorang gamer. Namun, sejak awal berkarier di YouTube, ia juga mengunggah beberapa video drum cover. Meskipun namanya terkenal di dunia gaming, Qorygore sering menyatakan bahwa tujuannya adalah menjadi musisi.
Ia telah merilis berbagai karya musik dalam genre Hip Hop, yang diakui banyak penggemar sebagai musik berkualitas tinggi. Meskipun lebih fokus pada musik, ia masih sering melakukan streaming video game di saluran YouTube-nya.
Itulah 5 musisi top Indonesia yang ketahuan suka memainkan game. Apakah salah satunya adalah favorit kalian?
Nintendo telah menggoda fansnya dengan mengumumkan informasi baru tentang penerus dari Nintendo Switch. Informasi ini datang bukan dari pihak ketiga atau leaker, melainkan langsung dari Presiden Nintendo Shuntaro Furukawa.
Melalui akun X Nintendo, Furukawa mengkonfirmasi salah satu fitur yang bisa digunakan oleh penerus Nintendo Switch alias Switch 2. Ia menjelaskan bahwa software yang ada di Nintendo Switch sekarang nantinya bisa juga digunakan di Switch 2. Fitur ini juga akan termasuk Nintendo Switch Online yang juga akan tersedia di Switch 2. Furukawa tidak menjelaskan secara spesifik software yang ia maksud,
Mengenai kapan Switch 2 diumumkan masih belum ada keterangan yang jelas dari Nintendo. Semua pernyataan yang sudah diberikan oleh Nintendo hanya memberikan petunjuk bahwa Switch akan diumumkan sebelum tahun fiskal berakhir, yaitu di 31 Maret 2025.
Warner Bros. telah mengungkap secara sekilas seperti apa sekuel dari Hogwarts Legacy nanti. Game ini dipastikan bakal memiliki hubungan dengan film terbaru Harry Potter yang akan tayang di HBO.
Berbicara dengan Variety, pimpinan Warner Bros. Interactive Entertainment David Haddad menegaskan bagaimana pentingnya kesuksesan Hogwarts Legacy bagi perusahaannya. Game tersebut mendorong Warner Bros. untuk kembali lagi mengembangkan franchise Harry Potter. Salah caranya adalah dengan fokus dalam membuat sekuel dari Hogwarts Legacy.
Keseriusan Warner Bros. juga terlihat dengan rencana mereka untuk mengkaitkan cerita sekuel Hogwarts Legacy ke dalam franchise Harry Potter. Inilah yang membuat cerita dari game tersebut nantinya akan memiliki peran penting dalam film seri terbaru Harry Potter.
Prestasi Hogwarts Legacy yang berhasil menjadi GOTY di 2023 dan terjual sampai dengan 30 juta unit sampai dengan bulan Oktober lalu, membuat Warner Bros. menjadikan game ini sebagai salah satu prioritasnya.
Akhir tahun 2024 sudah di depan mata. Sesuai dengan tradisi yang sudah berjalan, industri game merayakannya dengan membagikan penghargaan kepada game yang mencuri perhatian. Salah satu acara ini adalah The 2024 Golden Joysticks yang sudah mengungkap daftar kategori penghargaan berikut para nominasinya.
Kategori puncak dari The 2024 Golden Joysticks Awards adalah Ultimate Game of the Year (GOTY). Kategori ini berisi 12 nominasi game yang berasal dari berbagai genre. Salah satu nominasinya adalah Black Myth: Wukong, dimana sebelumnya sempat muncul kabar bahwa game buatan Game Science ini tidak masuk dalam The 2024 Golden Joysticks Awards.
Berikut adalah daftar lengkap dari 12 judul game yang bersaing untuk mendapatkan penghargaan Ultimate GOTY di The 2024 Golden Joysticks Awards:
Astro Bot
Final Fantasy VII Rebirth
Silent Hill 2 Remake
Black Myth: Wukong
Satisfactory
Metaphor: ReFantazio
Call of Duty: Black Ops 6
Dragon Age: The Veilguard
Helldivers 2
Tekken 8
Balatro
Animal Well
Kalian bisa mengikuti voting untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan penghargaan Ultimate GOTY di sini. Selain kategori Ultimate GOTY, The 2024 Golden Joysticks Awards juga menghadirkan kategori yang lain dan tentunya dengan lebih banyak nominasi.
Pemenang dari The 2024 Golden Joysticks Awards akan diumumkan pada tanggal 21 November 2024.
Entah kenapa ketika EA mengumumkan Dragon Age: The Veilguard, saya agak khawatir dengan hasil akhirnya. Kekhawatiran ini semakin terbukti ketika terjadi perubahan judul dari Dreadwolf menjadi The Veilguard. Ditambah lagi dengan suksesnya Baldur’s Gate 3 yang otomatis membuat BioWare harus bekerja lebih keras.
Pada tanggal 31 Oktober kemarin, Dragon Age: The Veilguard akhirnya rilis. Saya mewakili Playcubic mendapat kesempatan dari EA untuk mereview versi PC dari Dragon Age: The Veilguard. Setelah 7 tahun jeda dari Dragon Age: Inquisition, saya jelas sudah tidak sabar untuk menyelam ke dalam dunia fantasi yang diracik secara mendalam oleh BioWare…Itu harapan saya tapi faktanya ada di ulasan ini.
Masalah yang Kembali Mendatangi Thedas
Dragon Age: The Veilguard merupakan kelanjutan dari seri Dragon Age sebelumnya, yaitu Dragon Age: Inquisition. Sama seperti tradisi dalam game Dragon Age, kalian akan diminta untuk membuat karakter sendiri. Untuk Dragon Age: The Veilguard, karakter yang kalian buat memiliki nama panggilan Rook. Kalian salah satu dari pejuang yang direkrut oleh Varric Tethras yang merupakan tokoh ikonik dari game Dragon Age sebelumnya.
Tugas kalian kali ini adalah menghentikan Solas, sang Dreadwolf. Sahabat baik Varric ini memiliki tujuan yang membahayakan dunia Thedas, yaitu membuka tabir pembatas antar alam atau Veil. Pada akhirnya kalian berhasil menghentikan rencana gila Solas, namun tindakan kalian juga memiliki dampak yang tidak kalah membahayakan.
Dua dewa Elf, yaitu Elgar’nan dan Ghilan’nai berhasil lepas dari penjara tempat mereka dikurung, dan menyebarkan Blight ke seluruh penjuru Thedas. Kutukan ini menyebabkan munculnya pertikaian dan peperangan di berbagai tempat secara serentak. Tugas kalian sekarang sebagai Rook adalah mengalahkan Elgar’nan dan Ghilan’nai dan membawa kedamaian kembali ke Thedas.
Secara keseluruhan, alur cerita yang disajikan di Dragon Age: The Veilguard memiliki kualitas naik turun. Kedua dewa elf yang dalam lorenya sangat membahayakan justru kurang memiliki impact dalam alur cerita Dragon Age: The Veilguard.
Selain itu, pilihan dialog yang ada menurut saya kurang bervariasi. Pilihan yang bisa dipilih kurang diracik sehingga terkesan tidak kreatif, dan juga tidak terlalu memiliki dampak. Saya juga memperhatikan bahwa dialog antara Rook dengan companionnya terasa hambar. Sangat mudah untuk mencari jalan tengah ketika Rook berselisih dengan karakter lain tanpa adanya efek samping.
Hal lain yang membuat saya agak risih adalah dalam beberapa quest kadang ada dialog yang terkesan dipaksakan, dan biasanya berhubungan dengan tema diversitas. Dalam game modern, tema tersebut kadang memang suka diselipkan sehingga terkesan muncul secara alami. Apa yang terjadi di Dragon Age: The Veilguard justru sebaliknya seperti terkesan dipaksakan, dan jujur saja ini membuat saya menjadi agak kurang nyaman.
Bertualang Dari Hutan Kuno ke Necropolis
Dari segi grafis dan visual, BioWare membuat wilayah-wilayah di Dragon Age: The Veilguard memiliki detail yang beragam. Contohnya adalah Kota Treviso yang memiliki kesan elegan karena mengambil refrensi dari budaya Eropa, Arlathan forest yang memiliki banyak peninggalan kuno, sampai dengan Necropolis Halls yang memiliki nuansa mistis.
Setiap dungeon yang ada dalam game ini memiliki ciri khas yang sama, yaitu ruangan luas diselingi koridor penghubung dengan area selanjutnya. Selain itu, ada juga sesi puzzle yang cukup sederhana, seperti menaruh artifact untuk membuat jembatan, maupun menggunakan kemampuan karakter kalian untuk membuka jalan ke area berikutnya.
Sayangnya rasa imersif agak kurang terasa karena kurangnya ambience. Pada game sejenisnya biasanya pemain bisa mendengar obrolan NPC di sekitar atau menyaksikan interaksi antar mereka. Hal ini kurang dioptimalkan di Dragon Age: The Veilguard.
Kritik Untuk Bagian Character Creation
Untuk fitur character creation, Dragon Age: The Veilguard memiliki fitur yang cukup detail. Tapi hal yang mengherankan adalah desainnya. Karakter di Dragon Age: The Veilguard memiliki desain yang lebih condong ke arah kartun, berbeda dengan seri Dragon Age sebelumnya yang menggunakan gaya photographic.
Saya juga memperhatikan bahwa setiap ras di Dragon Age: The Veilguard memiliki tipe badan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada tinggi badannya saja. Hasilnya, beberapa karakter bisa memiliki badan yang tidak proporsional. Misalnya ukuran kepala yang terlalu besar, terutama pada ras Dwarf dan Qunari.
Berbicara mengenai Qunari, BioWare melakukan perombakan yang cukup signifikan pada ras ini di Dragon Age: The Veilguard. Semua preset karakter untuk ras ini terlihat seperti orang yang sedang menggunakan kostum. Jika kalian mau, kalian bisa menggunakan desain Qunari dari game Dragon Age sebelumnya. Tapi diperlukan usaha ekstra untuk mengatur semua slider dan effect yang sudah ada.
Gameplay Disederhanakan
Dari segi gameplay, Dragon Age: The Veilguard mengizinkan kalian untuk memilih satu dari tiga job class yang tersedia pada bagian awal permainan. Selain class, karakter kalian dibekali dengan tiga skill aktif, serta satu skill ultimate yang masing-masing akan membuat karakter kalian kebal ketika menggunakan skill tersebut. Setiap naik level, atau setelah menyelesaikan puzzle Fen’Harel Altar, kalian akan mendapatkan skill point yang bisa digunakan untuk membuka skill aktif, maupun pasif untuk memperkuat kemampuan bertempur karakter kalian.
Setelah mencapai level 20, kalian bakal membuka subclass yang akan mempengaruhi gaya bermain kalian. Sangat disayangkan, ciri khas micromanagement taktis dari game Dragon Age sebelumnya hampir hilang seluruhnya di Dragon Age: The Veilguard.
Dari pengalaman yang saya dapatkan, karakter buatan kalian alias Rook akan merangkap sebagai damage dealer sekaligus tank, tidak peduli job class apa yang dipilih. Sebabnya adalah companion kalian kebal alias tidak memiliki health bar. Ditambah lagi sistem game yang membuat musuh akan selalu mengejar Rook apabila tidak terkena taunt. Kabar buruknya lagi permainan akan berakhir ketika health point Rook mencapai 0.
Dragon Age: The Veilguard juga memiliki mekanik combo, dimana karakter kalian bisa menggunakan skill untuk menambahkan efek dari skill yang lain. Mekanik ini cukup menarik karena memiliki banyak variasi. Sayangnya kegunaannya akan mulai memudar ketika kalian menginjak pertengahan sampai akhir cerita. Menurut saya, sebagian besar kalian nantinya berasal dari advantage atau buff seperti Time Dilation, Precision, maupun dan gerakan dasar, serta serangan ke weakspot yang mampu menghasilkan damage lebih besar.
Saya menyukai tingkat kesulitan atau combat setting yang ada di game ini. Pemain bisa mengatur health, damage yang diterima, maupun timing untuk bertahan secara individu. Pemain juga bisa mengatur sendiri tingkat kesulitan musuh yang ada di game ini.
Dragon Age: The Veilguard Dari Segi Teknis
Saya puas dengan optimalisasi Dragon Age: The Veilguard di PC, karena bisa terus stabil. Saya sendiri menggunakan spesifikasi ultra plus DLSS di quality. Hasilnya FPS saya tertap stabil di angka 60, serta loading antar tempat juga tetap berjalan dengan cepat. Hal inicukup mengejutkan, mengingat Dragon Age: The Veilguard menggunakan engine Frostbite yang memiliki track record kurang menyenangkan dalam hal loading asset, serta stabilitas FPS di game non shooter.
Spesifikasi PC yang saya gunakan untuk memainkan Dragon Age: The Veilguard di PC adalah Ryzen 7 2700x, Gforce 4070ti, 32GB RAM dan SSD
Kesimpulan
Kesimpulan saya untuk Dragon Age: The Veilguard adalah game ini sebetulnya adalah game yang biasa-biasa saja. Apakah ini bagus? Mungkin ini tidak masalah bagi gamer yang baru mengenal franchise Dragon Age. Tapi bagi saya yang sudah mengikuti game ini sejak lama, kualitas yang disajikan oleh Dragon Age: The Veilguard bisa dibilang tidak memuaskan.
Dari segi cerita, Dragon Age: The Veilguard terselamatkan karena masih memiliki hubungan dengan cerita sebelumnya. Begitu juga kehadiran karakter dari game sebelumnya, baik itu menjadi companion atau cameo saja.
Dari segi gameplay, BioWare berusaha untuk menyederhanakan gameplay Dragon Age: The Veilguard. Namun, hal tersebut juga membuat game ini kehilangan gameplay taktis yang merupakan salah satu keunikan dari seri Dragon Age.
Saya juga mempertanyakan kebijakan BioWare yang merombak total desain dari ras-ras yang ada di Dragon Age: The Veilguard. Kenapa ini harus dilakukan, mengingat desain yang lama sudah terbentuk dari awal franchise Dragon Age lahir. Seakan BioWare tidak peduli dengan dunia yang sudah mereka buat dengan susah payah selama ini.
Oleh karena itu, apabila kalian seperti saya yaitu fans Dragon Age yang sudah memainkan game Dragon Age sebelumnya, jangan taruh ekpektasi kalian di level yang tinggi.
Sega dan RGG Studios telah merilis video promosi baru untuk Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii. Video ini menampilkan Munetaka Aoki yang berperan sebagai Teruhiko Shigaki di dalam game. Ia diwawancara oleh Masayoshi Yokoyama mengenai kesan apa yang ia dapatka ketika ikut berperan dalam pengembangan game Like a Dragon: Pirate Yakuza.
Selain itu, Yokoyama juga mengungkap informasi penting tentang Goro Majima. Rupanya dalam event yang terjadi di Like a Dragon: Pirate Yakuza, Majima sudah berusia 60 tahun. Menurut Yokoyama dalam usia tersebut, Majima sudah bisa dibilang cukup tua.
Lucunya dalam film Like a Dragon: Yakuzam, Munetaka Aoki merupakan pemeran dari Goro Majima. Ia menjelaskan bahwa Majima dan karakter yang diperankannya Shigaki di game Like a Dragon: Pirate Yakuza masih saling berhubungan. Keduanya rupanya merupakan mantan dari anggota clan Tojo.
Like a Dragon: Pirate Yakuza in Hawaii akan tersedia tanggal 21 Februari 2025 di platform PS5, PS4, Xbox Series, Xbox One, dan PC (Steam).
Game buatan developer tanah air, Acts of Blood telah mendapatkan versi demo yang bisa dimainkan secara gratis di Steam. Pada versi demo, pemain bisa mencoba cerita bagian pertama atau Jagal arcs. Selain itu pemain juga bisa berganti-ganti kostum dan mengakses fitur arena. Detailnya bisa dilihat di sini.
Acts of Blood merupakan game bergenre beat’em up. Karakter utamanya bernama Hendra. Berlatar di Bandung, Acts of Blood menceritakan keluarga Hendra yang tewas dibantai. Sekarang satu-satunya tujuan hidup Hendra adalah membalaskan dendam keluarganya kepada pihak yang bertanggung jawab.
Acts of Blood sempat ramai menjadi buah bibir di Indonesia setelah diketahui bahwa game ini dikembangakan oleh satu orang bernama Fajrul FN. Dari segi desain, Acts of Blood sudah tampil secara 3D karena dibuat menggunakan Unreal Engine. Game ini terinspirasi dari The Raid dan akan menampilkan gameplay penuh aksi dan juga kekerasan.
Mengenai tanggal rilis resmi dari Acts of Blood masih belum diumumkan.
Bandai Namco telah merilis trailer baru untuk game Death Note: Killer Within. Video ini menjelaskan bagaimana cara bermain yang kurang lebih mirip dengan Among Us, tapi dengan penambahan-penambahan baru.
Death Note: Killer Within deduction game dengan fitur online interaction. Death Note: Killer Within bisa dimainkan hingga 10 pemain secara cross-play. Pemain akan dibagi menjadi dua tim yang ditugaskan untuk mengungkap identitas satu sama lainnya. Satu tim bertugas mengeliminasi L, sedangkan yang lainnya merebut Death Note dari Kira.
Death Note: Killer Within juga menghadirkan sistem role atau peran. Setiap pemain dalam tim bisa memilih untuk berperan sebagai Kira dan pengikutnya, atau sebagai L dan tim Investigatornya. Setiap peran akan menawarkan mekanisme gameplay yang berbeda-beda.
Death Note: Killer Within akan rilis pada tanggal 5 November 2024 di PS5, PS4, dan juga PC (Steam).