Farming Camp menawarkan pendekatan yang sedikit berbeda dibandingkan game farming simulator pada umumnya. Alih-alih hanya mengajak pemain mengurus ladang, menanam tanaman, dan memanen hasil pertanian, game ini menempatkan aktivitas bertani sebagai bagian dari sebuah cerita coming-of-age tentang persahabatan, kompetisi, dan perjalanan seorang remaja untuk mengejar impiannya.
Saya sendiri memainkan Farming Camp versi PC, dan setelah menghabiskan waktu menjelajahi Evertree Farming Camp, ada cukup banyak hal yang saya sukai dari game ini. Suasananya santai, musiknya menenangkan, visual 2D bergaya hand-drawn terlihat menarik, sementara berbagai mini-game membuat aktivitas di dalam kamp tidak terasa monoton.
Namun, pengalaman bermain saya juga tidak sepenuhnya mulus. Ada beberapa masalah teknis, terutama pada sistem interaksi, yang terkadang cukup mengganggu. Bahkan, saya sempat menemukan situasi ketika karakter seperti masuk ke area hutan dan cukup sulit untuk keluar.

Lalu, apakah Farming Camp layak dimainkan? Berikut pengalaman saya setelah memainkan versi PC-nya.
Cerita tentang Anak Muda, Sahabat dan Kompetisi Bertani
Farming Camp memulai petualangannya dengan sebuah cutscene yang memperlihatkan minibus kamp tiba di lokasi. Para siswa kemudian bertemu dengan guru dan dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari tiga orang.
Pemain berperan sebagai Alessandra Soares, seorang remaja yang terpilih menjadi pemimpin Team Blueberry Jam. Di awal cerita, kepala sekolah menjelaskan bahwa Evertree Farming Camp merupakan kompetisi selama empat minggu. Siswa yang menunjukkan performa terbaik nantinya mendapatkan kesempatan untuk menjadi Evertree Farmer.

Dari sinilah perjalanan Alessandra dimulai. Berbeda dengan game simulasi bertani yang biasanya menjadikan pengelolaan lahan sebagai fokus utama, Farming Camp menjadikan cerita sebagai bagian penting dari pengalaman bermain. Alessandra tidak hanya harus mengurus berbagai aktivitas pertanian, tetapi juga berinteraksi dengan karakter lain dan mengembangkan kemampuannya.
Cerita tersebut dikemas sebagai sebuah kisah coming-of-age yang mengangkat tema pertumbuhan diri, persahabatan, serta usaha untuk mengejar sebuah impian. Menurut saya, pendekatan tersebut membuat Farming Camp terasa berbeda. Game ini memang memiliki elemen farming, tetapi sebenarnya ia lebih tepat dipandang sebagai game berbasis cerita yang menggunakan aktivitas pertanian dan mini-game sebagai bagian dari gameplay.
Gameplay Mudah Dipahami
Salah satu hal yang langsung saya rasakan ketika memainkan Farming Camp adalah gameplay-nya cukup mudah dipahami.
Pemain tidak benar-benar dibiarkan kebingungan menentukan apa yang harus dilakukan. Kita cukup mengikuti aktivitas yang disarankan dan menjalankan berbagai tugas yang diberikan. Setiap aktivitas utama membutuhkan satu sesi pagi atau sore untuk diselesaikan. Artinya, dalam satu hari pemain biasanya hanya dapat menyelesaikan dua aktivitas utama.

Menariknya, sebagai pemimpin tim, Alessandra juga bisa membagi pekerjaan kepada anggota tim lainnya. Dengan begitu, pemain tidak harus mengerjakan seluruh kebutuhan tugas sendirian. Setiap tugas yang berhasil diselesaikan akan memberikan poin untuk tim. Perolehan poin tersebut kemudian dapat dipantau melalui papan pengumuman di dekat aula utama.
Sistem seperti ini menurut saya cukup menarik karena membuat aktivitas bertani terasa memiliki tujuan. Kita bukan sekadar menanam tanaman atau mengumpulkan bahan, tetapi melakukannya sebagai bagian dari kompetisi.
Memancing Jadi Aktivitas Favorit Saya
Dari berbagai aktivitas yang tersedia, memancing menjadi aktivitas yang paling saya sukai.
Dibandingkan aktivitas lainnya, memancing terasa lebih menyenangkan dan memberikan variasi tersendiri selama bermain. Farming Camp memang menyediakan sejumlah mini-game agar rutinitas bertani tidak hanya berkutat pada aktivitas yang sama. Mini-game tersebut tersebar sepanjang permainan dan memberikan tantangan tambahan.

Selain memancing, terdapat pula aktivitas lain yang berkaitan dengan kehidupan di kamp. Pada hari Sabtu, misalnya, pemain bisa mengikuti tantangan memasak yang menggunakan batas waktu. Pemain harus melakukan beberapa tahapan seperti mencampur bahan, memotong, memanggang, hingga menyajikan bagian dari sebuah resep yang cukup kompleks.
Sementara itu, akhir pekan juga dapat digunakan untuk bersantai bersama karakter lain atau tidur siang. Konsep tersebut cukup cocok dengan tema cozy yang ingin dibangun oleh Farming Camp.

Sistem Waktu yang Berbeda
Salah satu mekanisme yang cukup terasa selama bermain adalah perubahan waktu setelah kita menyelesaikan aktivitas tertentu.
Aktivitas dalam game terbagi berdasarkan sesi waktu, sehingga pilihan pemain pada pagi atau sore hari akan memengaruhi bagaimana hari tersebut berjalan. Menurut saya, mekanisme ini membuat permainan terasa lebih terstruktur. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatu sekaligus dalam satu hari. Ada semacam dorongan untuk menentukan aktivitas mana yang ingin dilakukan terlebih dahulu.

Namun, bagi pemain yang terbiasa dengan farming simulator yang memberikan kebebasan lebih luas, sistem seperti ini mungkin terasa sedikit berbeda karena aktivitas pemain memang cukup diarahkan.
Visual 2D Hand-Drawn yang Mantap
Dari sisi visual, Farming Camp menggunakan perspektif top-down 2D dengan gaya ilustrasi hand-drawn.
Saya cukup menyukai pendekatan visual ini. Dunia Evertree Farming Camp terlihat penuh warna dan memiliki kesan hangat. Ladang, pepohonan, serta bangunan di sekitar kamp dirancang dengan gaya artistik yang memperkuat atmosfer cozy. Visual seperti ini juga terasa cocok dengan karakter gameplay-nya.

Farming Camp memang bukan game yang mencoba menghadirkan visual realistis. Sebaliknya, desain 2D tersebut membuat dunianya terasa seperti sebuah ilustrasi yang bisa dijelajahi. Bagi saya, visualnya menjadi salah satu aspek yang membuat pengalaman bermain terasa santai.
Karakter Membuat Dunia Evertree Lebih Hidup
Selain aktivitas bertani, interaksi dengan karakter lain juga menjadi bagian penting dari Farming Camp.
Para karakter memiliki kepribadian dan kemampuan bertani masing-masing. Interaksi dengan mereka tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan cerita. Hal tersebut cukup penting karena tanpa karakter-karakter tersebut, pengalaman di sebuah kamp pertanian mungkin akan terasa terlalu sepi.

Dengan adanya mereka, kehidupan di Evertree terasa lebih hidup. Pemain juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal karakter lain sekaligus melihat dinamika yang terjadi di antara anggota kelompok.
Musiknya Bikin Tenang dan Santai
Salah satu aspek yang paling saya nikmati selama memainkan Farming Camp versi PC justru adalah audionya.
Sound game ini menurut saya oke banget dan cukup berhasil membuat suasana bermain terasa rileks. Musik dan atmosfer audio yang tenang cocok dengan konsep permainan yang memang mengedepankan pengalaman cozy.

Buat saya, ini penting karena game seperti Farming Camp tidak hanya bergantung pada gameplay. Suasana yang dibangun melalui visual dan audio turut menentukan apakah pemain bisa benar-benar merasa santai ketika memainkannya.
Dan dalam hal tersebut, Farming Camp cukup berhasil memberikan atmosfer yang sesuai dengan konsepnya.
Sistem Interaksi Masih Mengganggu
Di balik berbagai kelebihannya, ada satu masalah yang cukup sering saya rasakan selama bermain: sistem interaksi dengan objek terkadang kurang responsif.
Dalam beberapa situasi, notifikasi aksi sudah muncul, bahkan posisi karakter terasa sudah tepat di depan objek, tetapi tombol interaksi tidak selalu berhasil. Saya memainkan game ini menggunakan kontroler DualSense di PC, dan biasanya saya menekan tombol X untuk melakukan aksi. Namun, terkadang saya sudah berada tepat di posisi yang seharusnya tetapi interaksi tidak terjadi.

Masalah kurang responsif seperti ini juga kadang terjadi ketika mencoba mengambil jerami di gudang. Ada situasi ketika opsi interaksi muncul tetapi tidak berfungsi. Di dapur, karakter bahkan terkadang berinteraksi dengan objek yang salah meskipun posisinya terlihat sudah benar.
Bagi game yang sebagian besar aktivitasnya mengandalkan interaksi dengan objek, masalah seperti ini cukup terasa.
Masih Ada Bug
Saya juga menemukan bug lain yang menurut saya cukup mengganggu. Pada suatu kondisi, karakter bisa masuk ke area hutan dan kemudian terasa cukup sulit untuk keluar dari lokasi tersebut. Untuk mengatasinya, pemain perlu memanfaatkan notifikasi-notifikasi interaksi tertentu, misalnya notifikasi untuk duduk pada dahan kayu.

Ini memang bukan masalah yang selalu terjadi, tetapi ketika terjadi, situasinya cukup membingungkan. Selain itu, ada pula masalah pada mini-game mencuci piring. Interaksi dengan wastafel terkadang tidak berfungsi, sementara pada kesempatan lain seluruh piring tidak bisa dikumpulkan.
Semoga berbagai masalah tersebut dapat diperbaiki melalui patch, terutama karena bug interaksi cukup berpengaruh terhadap kenyamanan bermain.
Farming Camp Bukan Farming Simulator Biasa
Setelah memainkan game ini, saya merasa penting untuk memahami satu hal: Farming Camp bukan farming simulator klasik yang kebetulan mengambil latar di sebuah kamp musim panas.
Game ini lebih menempatkan cerita sebagai fondasi utama, sementara berbagai mini-game digunakan untuk memberikan variasi gameplay. Hal tersebut sebenarnya sudah terasa sejak awal permainan. Aktivitas bertani memang ada, tetapi pemain juga akan mengikuti cerita, berinteraksi dengan karakter, mengerjakan tugas kelompok, mengikuti kompetisi, serta melakukan berbagai mini-game.

Karakter-karakternya juga dibuat dengan kepribadian yang berbeda-beda dan cukup berkembang. Namun, berdasarkan pengalaman yang menjadi sumber review, nuansa narasi dan penggunaan bahasa dalam menggambarkan dinamika kelompok tidak selalu terasa menyenangkan.
Bagi saya, ini membuat Farming Camp lebih cocok untuk pemain yang menginginkan game cozy berbasis cerita dengan elemen farming, bukan pemain yang mencari simulasi pertanian dengan sistem manajemen mendalam.
Kesimpulan

Setelah memainkan Farming Camp versi PC, saya melihat game ini sebagai sebuah pengalaman cozy yang mencoba memadukan farming, mini-game, dan cerita coming-of-age.
Saya cukup menikmati konsepnya. Gameplay-nya mudah dipahami karena aktivitas yang harus dilakukan cukup jelas. Visual 2D hand-drawn-nya juga menyenangkan untuk dilihat, musiknya berhasil menciptakan suasana rileks, sementara berbagai mini-game memberikan variasi agar aktivitas bertani tidak terasa terlalu repetitif.
Memancing menjadi aktivitas favorit saya, sementara interaksi dengan karakter dan perkembangan cerita memberikan alasan tambahan untuk terus mengikuti perjalanan Alessandra. Sayangnya, pengalaman tersebut sedikit terganggu oleh sistem interaksi yang terkadang tidak responsif.
Pada akhirnya, Farming Camp lebih tepat dilihat sebagai game story-driven dengan elemen farming dan mini-game daripada farming simulator tradisional. Jika Anda mencari game yang santai dengan visual menarik, musik rileks, cerita tentang persahabatan dan perjalanan menuju kedewasaan, Farming Camp menawarkan konsep yang cukup menarik.
Farming Camp tersedia di PC melalui Steam, PlayStation 5, Xbox Series X|S, dan Nintendo Switch.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
