HomeReviewReview Darwin’ Paradox (PC): Bukan Sekedar Gurita

Review Darwin’ Paradox (PC): Bukan Sekedar Gurita

Tidak banyak game yang berani menjadikan gurita sebagai karakter utama sekaligus pusat dari pengalamannya. ZDT Studio mencoba untuk menggali potensi tersebut lewat Darwin’ Paradox. Game ini menceritakan tentang petualangan luar biasa seekor gurita bernama Darwin.

Agar menjadi lebih menarik, game sidescrolling platforming ini dikemas secara sinematik. Animasi game ini cukup mengesankan dan mengingatkan dengan film animasi pendek buatan Pixar. Kemasan ini diharapkan bisa membuat Darwin’ Paradox berbeda dengan game segenre lainnya, sekaligusnya membuatnya menjadi unik…seharusnya.

Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami rasakan selama memainkan versi review Darwin’ Paradox di PC.

Berawal Dari Laut ke Pabrik Raksasa

Cerita Darwin’ Paradox berawal ketika ia dan ibunya sedang asyik menjelajahi lautan, namun karena sedang tidak beruntung, keduanya diculik oleh semacam UFO. Darwin dan ibunya lalu dibawa ke pabrik pengolahan seafood bernama Ufood. Ketika akan diproses, Darwin beruntung dapat melarikan diri. Disinilah petualangan Darwin dimulai.

Sama seperti gurita asli, Darwin dibekali oleh kemampuan khas hewan tersebut. Ia dapat menyelinap di ruangan yang sempit, bisa bergerak secara fleksibel dimana saja, berkamuflase dengan mengubah warna tubuhnya, bergerak di daratan tanpa air (Gurita asli bisa melakukan ini tetapi durasinya tidak selama Darwin), dan juga memiliki tingkat kecerdasan seperti memindahkan objek atau menggerakkan tuas.

Review Darwin’ Paradox opening stage

Semua kemampuan Darwin akan digunakan secara maksimal di dalam game. Selalu ada saja rintangan yang mengharuskan Darwin untuk menggunakan kemampuannya sebagai gurita. Tentunya ini semua dibalut dengan animasi yang jempolan.

Darwin’s Paradox mengingatkan kami dengan game seperti Limbo atau Ori and The Will Of The Wisps. Gerakan Darwin terlihat halus, responsif, dan juga punya identitas yang kuat. Saat ia sedang memanjat, berenang, menempel di permukaan, atau menyusup ke area sempit, semua transisi berjalan dengan mulus. Kami sangat menikmati visual yang disajikan di dalam game ini.

Review Darwin’ Paradox stage tempat sampah

Lingkungan yang harus dilewati oleh Darwin juga tidak kalah menarik. Pabrik Ufood misalnya ditampilkan per bagian yang masing-masing memiliki temanya sendiri. Dimulai dari tempat sampah yang dipenuhi dengan sampah menggunung lengkap dengan tikus dan tumpahan limbah kimia, lalu ada area produksi yang lebih tertutup dan berisi berbagai macam komponen industrial.

Review Darwin’ Paradox item collectible

Darwin’s Paradox tidak memiliki dialog sebagai penunjuk cerita. Pemain bisa melihat apa yang sedang dirasakan oleh Darwin dari mata dan gerakan tentakelnya. Rasanya seperti sedang menonton film bisu. Pemain juga bisa mengetahui lebih dalam tentang Ufood melalui koran yang berupa item collectible.

Gurita Cincang

Review Darwin’s Paradox platforming 1

Kami paham alasan ZDT Studio membungkus game ini dengan visual yang menarik, yaitu mengkamuflase gameplay yang brutal. Darwin’s Paradox akan membuat pemain jengkel karena harus mengulangi satu titik yang sulit dalam satu level, namun akhirnya menyadari bahwa didepan ada rintangan yang lebih sulit lagi.

Tingkat kesulitan platforming Darwin’s Paradox berupa ekskalasi. Pada awal permainan tidak begitu terasa, all fun and games. Namun seiring berjalannya permainan secara bertahap akan menjadi sulit sampai akhirnya membuat jengkel. Misalnya ada tempat dimana Darwin harus melewati banyak roda gigi yang berputar. Jika terlambat sedikit Darwin bisa tergencet dan tewas. Masalahnya mekanisme yang seharusnya membantu Darwin, justru malah menjadi jebakan maut.

Kemampuan Darwin untuk menempel dan bergerak di berbagai bidang dengan menggunakan tentakelnya ibarat pedang bermata dua. Mekanisme ini terlalu responsif sehingga malah merepotkan pemain karena bisa membuat Darwin berada di posisi yang tidak tepat. Selain itu, sistem kontrol dalam posisi ini juga terlalu kaku dan kadang membuat pergerakan Darwin menjadi lambat.

Ditambah lagi suasana yang terlalu gelap sehingga sulit mengantisipasi bahaya berikutnya. Akibatnya, kematian terasa datang bukan karena keputusan yang salah, melainkan karena informasi yang tidak cukup. Pemain bisa melihat Darwin terjepit, tersetrum, atau terbakar berkali-kali hanya karena kurangnya petunjuk.

Hal seperti ini merusak ritme dengan memotong aliran permainan dan menggantinya dengan rasa jengkel. Tentunya ini merupakan suatu hal yang biasa dalam game sidescrolling dan platforming. Namun bagi gamer yang belum biasa, kondisi ini bisa menimbulkan rasa frustrasi dan mengurangi kesenangan bermain.

Dinamika Gameplay

Review Darwin’ Paradox mekanisme stealth

Tidak melulu cuma platforming, Darwin’s Paradox juga memiliki variasi permainan yang lain. Ada puzzle yang cukup kreatif, meski pengerjaannya hanya sebatas menarik tuas atau mendorong objek. Jika bingung, pemain bisa mengaktifkan fitur help yang akan memberikan petunjuk apa yang seharusnya dilakukan.

Lalu pada level lain, pemain akan diminta untuk menggunakan kemampuan kamuflase milik Darwin untuk melewati lapangan yang dipenuhi oleh pekerja pabrik. Level ini mengingatkan kami dengan gaya permainan di Metal Gear Solid ketika Snake melakukan infiltrasi ke dalam markas musuh.

Developer memberikan tribut kepada Konami dengan memunculkan efek suara khas Metal Gear ketika Darwin dilihat oleh musuhnya. Tribut lainnya ada pada saat Darwin harus melintasi jalanan yang dipenuhi mobil, lalu di pinggir jalan terlihat seekor kodok sedang melompat-lompat. Level ini bisa dibilang adalah tribute untuk game Frogger yang juga dipopulerkan oleh Konami.

Review Darwin’ Paradox tribut dari frogger

Meski sederhana, hal-hal kecil seperti bisa membawa kami sesaat lupa sedang memainkan game yang tidak mengenal ampun.

Darwin’s Paradox Dari Segi Teknis

Selama memainkan versi review Darwin’s Paradox di PC, kami tidak pernah mengalami masalah teknis. Untuk ukuran game platforming, Darwin’s Paradox memiliki setting grafis yang cukup lengkap. Ada framerate cap dan pengaturan fitur upscaling menggunakan NVIDA DLSS dan AMD FSR. Untuk gamenya sendiri sebetulnya tidak terlalu demanding dari segi spesifikasi.

Berikut adalah spesifikasi PC yang kami gunakan untuk memainkan Darwin’s Paradox: CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB.

Kesimpulan Review Darwin’s Paradox

Kesimpulan yang kami dapat setelah memainkan dan juga disiksa oleh versi review Darwin’s Paradox adalah kami menemukan satu hal yang paling memikat dan juga konsisten. Aspek ini adalah presentasinya.

Gaya visual kartun yang ditunjukkan Darwin’s Paradox sangatlah kuat. Animasi digarap dengan baik, ditambah sentuhan humor ringan. Bagian world building juga dilakukan dengan baik karena dunia dalam Darwin’s Paradox terasa absurd, tapi masih jenaka.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah audio. Efek suara diracik dengan baik, bahkan suara lembut seperti ketika tentakel Darwin menempel di permukaan bisa terdengar secara detail. Soundtrack ala orkestra juga efektif menjadi penopang tone permainan.

Tentunya itu semua adalah icing on the cake dari gameplay brutal. Rasa jengkel karena harus mengulang-ulang bagian tertentu bisa mengarah menjadi dua hal. Pertama adalah menjadi dorongan agar bisa get good. Kedua adalah membuat frustrasi dan mengurangi rasa senang. Padahal tujuan kita bermain game adalah bersenang-senang, benarkan?

Darwin’s Paradox sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

REVIEW OVERVIEW

Visual & Grafis
Storyline
Gameplay
Sound (Soundtrack & sound effect)
Replay Value
Aryo
Aryo
Editor Playcubic. Gamer dengan cita-cita punya PC kelas dewa. Disamping PCnya ada PS5 dan Xbox Series X
RELATED ARTICLES

Terpopuler

Tidak banyak game yang berani menjadikan gurita sebagai karakter utama sekaligus pusat dari pengalamannya. ZDT Studio mencoba untuk menggali potensi tersebut lewat Darwin’ Paradox. Game ini menceritakan tentang petualangan luar biasa seekor gurita bernama Darwin. Agar menjadi lebih menarik, game sidescrolling platforming ini dikemas secara...Review Darwin’ Paradox (PC): Bukan Sekedar Gurita