PR Capcom selama ini untuk Resident Evil adalah soal genrenya. Kadang game ini fokus ke survival horror seperti Resident Evil 7. Kadang juga terlalu asyik dengan elemen action seperti Resident Evil 6 sampai kehilangan identitas aslinya.
Inilah yang membuat Capcom mencoba formula baru di Resident Evil Requiem. Mereka mencoba merangkul dua kubu sekaligus, yaitu gamer yang menyukai elemen horor dan ingin dikejutkan, dan gamer yang suka dengan gameplay action over-the-top.
Hasilnya? Pada beberapa jam pertama kami merasakan rasa takut yang tidak sudah lama tidak disajikan oleh franchise ini. Lalu beberapa jam setelah, kami merasa puas bisa menghancurkan zombie dengan senjata api kelas berat atau tendangan dengan kekuatan yang bisa menghancurkan kepala.
Begitulah pengalaman yang kami dapatkan dan rasakan selama memainkan versi review Resident Evil Requiem di PC. Untuk detailnya, kamu bisa membaca review berikut.
Petualangan Dimulai Dari Grace Ashcroft

Cerita Resident Evil Requiem dibuka dengan cerita Grace Ashcroft, seorang agen FBI muda ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematian misterius yang menimpa para survivor dari tragedi Raccoon City. Lebih ironis lagi, ibu dari Grace yaitu Alyssa Ashcroft juga merupakan salah satu korbannya.
Pembukaan game dimulai dari Grace yang ditugaskan untuk menyelidiki hotel tempat kejadian perkara. Pada lokasi ini, pemain akan diperkenalkan dengan gaya bermain dari Grace. Secara default, game akan menggunakan sudut pandang first-person, yang jika membuat pemain tidak nyaman bisa diganti menjadi third-person dalam menu option.

Tentunya adalah pilihan pemain untuk menentukan sudut pandang mana yang diinginkan. Namun menurut kami, gaya first-person adalah yang paling sesuai digunakan untuk Grace. Sebabnya gaya tersebut sudah sesuai dengan karakteristiknya. Grace meski adalah bagian dari FBI, tetapi bukan petugas lapangan. Ia juga bukan seorang super-soldier atau polisi veteran. Ia justru seseorang yang rapuh dan gampang panik, meski pada akhirnya pemain bisa melihat evolusi Grace menjadi lebih bisa diandalkan.
Kembali ke cerita, Grace dijebak oleh antagonis utama, Victor Gideon, dan akhirnya diculik dan dipenjara di Rhodes Hill Chronic Care Center. Klinik ini bisa dibilang adalah replika dari Spencer Mansion dari Resident Evil pertama. Fans game ini pasti bisa merasakan atmosfir yang sama ketika menjelajah, mulai dari lorong berliku, pintu-pintu yang terkunci, dan juga pastinya zombie dimana-mana.
Bagian Grace adalah bagian dari elemen survival horror untuk Resident Evil Requiem. Stealth adalah sahabat utama pemain karena begitu lemahnya Grace. Healthnya gampang tergerus, pergerakannya lambat, senjata yang tidak efektif, mau tidak mau pemain harus mengandalkan stealth untuk menghindar dari zombie.

Baru kali ini kami juga merasakan betapa terbatasnya slot di inventory yang memaksa pemain untuk menguasai sistem manajemen yang baik. Kami sering kali bolak-balik ke safe point hanya karena inventory sudah tidak muat. Rutinitas ini juga berbahaya dan memakan waktu, karena tidak semua zombie yang menghalangi jalan bisa dimatikan demi menghemat peluru.
Grace juga akan mendapatkan mekanik terunik yang pernah kami temukan di seri Resident Evil, yaitu darah. Menggunakan alat bernama Blood Collector, Grace bisa menyedot plasma darah dari mereka yang terinfeksi. Darah ini lalu digunakan sebagai bahan crafting untuk membuat medkit, peluru, sampai dengan membuat senjata bernama Hemolytic Injector.

Hemolytic injector akan membuat elemen stealth Grace naik level. Anggap saja senjata ini bisa digunakan untuk stealth kill. Grace akan menusukkan alatnya ke tulang belakang zombie, lalu tubuh target akan menggelembung dan meledak dengan efek gore yang memuaskan. Tidak hanya itu, darah dan organ zombie yang tercecer di lantai dan dinding tidak menghilang. Sebuah detail kecil yang menurut kami membuat game menjadi lebih imersif.
Hemolytic Injector juga bisa digunakan untuk menyuntik zombie yang sudah tewas. Kenapa? Karena zombie di Resident Evil Requiem memiliki kebiasaan untuk hidup kembali dan bermutasi menjadi monster yang lebih mengerikan, Blister Head.
Kembalinya Zombie

Setelah berhadapan dengan keluarga Baker dan jamur di Resident Evil 7, werewolf di Resident Evil Village, dan Ganado di Resident Evil 4 Remake, Resident Evil Requiem akan kembali membawa zombie ke dalam game. Kejutannya adalah zombie di game ini tidak lagi seperti zombie klasik yang hanya bisa melenguh sambil menyeret kakinya.
Zombie di Resident Evil Requiem didesain untuk menjadi lebih menyeramkan. Mereka masih memiliki jejak dari pemikirannya dulu ketika masih manusia, membuat mereka bisa berbicara atau masih melakukan rutinitas yang dulu dilakukan. Misalnya ada zombie yang selalu mematikan lampu karena ingatannya dulu sebagai pelayan. Ada zombie koki yang masih mencoba untuk memasak, zombie penyanyi yang masih bisa bernyanyi (Ini varian yang paling menyeramkan), sampai dengan zombie yang benci dengan suara keras.
Kami senang zombie klasik bisa kembali ke panggung sebagai musuh di Resident Evil Requiem. Namun, developer sepertinya terlalu terobsesi dengan zombie sampai melupakan menambahkan monster yang lain ke dalam. Hanya satu cara untuk menemukan monster jenis lain yaitu dalam boss fight. Misalnya monster gendut yang muncul dalam video promosi bagian Leon, dan ini hanya salah satunya saja.
Leon S. Kennedy, Si Paman Pecinta Action

Ketika pemain berpindah menjadi Leon S. Kennedy, Resident Evil Requiem seakan mengalami perubahan. Elemen horor hilang, diganti menjadi elemen action. Sudut pandang Leon secara default adalah third-person yang sudah sangat sesuai dengan gaya bermainnya. Kami merasa seperti kembali memainkan Resident Evil 4 Remake, tapi dengan Leon yang sudah lebih tua dengan beragam gaya bertarung baru.

Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi. Semua zombie yang muncul bisa dihabisi dengan efektif dan brutal oleh Leon. Jika Grace mengandalkan pisau bisa rusak dan crafting dengan darah, Leon akan dipersenjatai oleh kapak yang tidak bisa hancur, melainkan hanya aus dan bisa diasah kembali. Jika Grace hanya mengandalkan handgun, Leon akan ditawari oleh beragam jenis senjata, mulai dari shotgun, hingga sniper rifle.

Rasa over-the-top Resident Evil Requiem tidak berhenti hanya sampai di situ. Ada momen dimana Leon akan diberi kesempatan untuk menggunakan chainsaw, senjata di Resident Evil 4 Remake yang hanya bisa digunakan oleh Doctor Salvador, sekarang bisa dipakai oleh Leon. Ketika menggunakan senjata ini, Leon juga bisa melakukan execution ala film splatter movie yang super sadis tapi memuaskan.

Leon juga diberikan kemampuan untuk mengambil dan melempar senjata yang jatuh. Misalnya jika menjatuhkan senjata kapak dari zombie yang membawanya, senjata ini bisa dilempar oleh Leon untuk memberikan extra damage.
Leon juga bisa mendapatkan mata uang atau currency dari setiap kali ia membunuh zombie. Mata uang ini lalu bisa dibelanjakan untuk membeli upgrade senjata, amunisi tambahan, bahkan body armour. Fitur ini mengingatkan kami dengan Dino Crisis 2.
Daya tarik lainnya dari Leon selain gameplay dan cutscene yang bombastis, adalah hak spesial untuk menjelajahi kembali Raccoon City. Untuk pemain yang sudah memainkan Resident Evil 2 dan 3, mengunjungi kembali kota ini akan menjadi nostalgia yang menarik. Apalagi ketika Leon mendatangi kantor Raccoon City Police Department.

Kondisi gedung yang nyaris runtuh dengan beberapa ornamen ikonik yang masih utuh, membuat kami kembali teringat dulu ketika memainkan Resident Evil 2. Apalagi ada banyak easter egg yang sengaja disembunyikan oleh Capcom, menunggu untuk ditemukan oleh fans Resident Evil sejati.
Semakin jauh pemain menjalani cerita Resident Evil Requiem, akan semakin terasa pula segmen mana yang lebih dominan. Meski Grace dan Leon sama-sama sudah memiliki porsi sendiri, kami tetap merasa jika Leonlah yang menjadi anak emas. Meski begitu, usaha developer untuk menyajikan elemen survivor horror dalam cerita Grace juga wajib diacungi jempol.
Puzzle Jadi Sederhana

Semakin modern game Resident Evil, semakin sederhana pula puzzlenya. Analogi pantas disematkan ke Resident Evil Requiem. Puzzle di game ini hampir semua jawabannya selalu disodorkan kepada pemain, tidak perlu sampai garuk-garuk kepala lagi untuk bisa memecahkannya.
Salah satu puzzle yang obvious adalah ketikan menemukan boks cooler berisi organ tubuh. Box ini memiliki kunci yang rumit, namun ketika akhirnya menemukan kertas berisi petunjuknya, puzzle ini bisa diselesaikan dengan mudah. Cukup dengan mengikuti petunjuk yang juga secara obvious dijelaskan runutan cara penyelesaiannya di kertas tersebut.
Intinya puzzle di Resident Evil Requiem tidak lagi ditujukan untuk mengetes kemampuan otak dan kesabaran pemain, melainkan hanya selingan ringan saja.
Resident Evil Requiem Dari Segi Teknis
Kami memainkan versi review Resident Evil Requiem di PC dengan spesifikasi CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB. Setting grafis yang kami pakai adalah normal-high dengan menggunakan upscaling DLSS 4.5 diset ke performance. Beberapa fitur Ray-Tracing juga kami aktifkan, meski tidak tidak maksimal.
Hasilnya kami bisa memainkan game dengan stabil di 60FPS. Grafis dan visual tetap smooth dan masih tetap enak untuk dilihat. Selama memainkan game juga tidak pernah ada kendala teknis seperti crash. Menurut kami versi PC Resident Evil Requiem sudah dioptimalisasi dengan baik, dan akan semakin baik kualitasnya jika dimainkan di PC high end. Bahkan jika dilihat dari spesifikasi PC yang tertera di Steam, game ini sebetulnya bisa dimainkan di PC mid.
Kesimpulan Review Resident Evil Requiem
Kesimpulan kami untuk review Resident Evil Requiem adalah game ini terasa seperti dua game berbeda yang dijadikan satu. Game pertama adalah survival horror yang mencekam dengan gameplay condong ke stealth, dan karakter utama yang tidak berdaya. Sedangkan game kedua adalah game action yang tidak pernah membosankan, dan penuh dengan momen bombastis serta one-liner dari karakter utamanya.
Kombinasi keduanya membuat Resident Evil Requiem memiliki rasa yang agak berbeda dengan game Resident Evil yang lain. Dari segi grafis dan visual, game ini juga tampil dengan sempurna tanpa cela dari segi teknis. Resident Evil Requiem telah menetapkan standar baru yang bisa menjadi patokan untuk game berikutnya, sekaligus harus dilewati.
Apakah formula ini berhasil? Untuk kami jelas berhasil, karena kami puas dengan yang disajikan oleh game ini. Kecuali mungkin jika kamu adalah gamer tipe purist yang hanya menginginkan satu genre yang dominan, maka Resident Evil Requiem mungkin akan mengecewakanmu.
Resident Evil Requiem sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer




