Kejora menjadi awal bagi industri game Indonesia di tahun 2026. Game storytelling buatan Berangin Interactive ini mengusung tema misteri (Dan sedikit horor) yang menjadi genre favorit orang Indonesia. Tema ini dibungkus dengan visual hand-drawn yang artistik dan unik. Tidak lupa bumbu elemen puzzle untuk melengkapi semuanya.
Hal yang menarik adalah kabarnya developer sudah mengubah konsep game secara keseluruhan. Tentunya hasil akhir yang diperlihatkan sekarang seharusnya adalah yang terbaik dari sebelumnya.
Kami telah memainkan versi review Kejora di PC. Dari segi durasi game ini cukup singkat. Kami bisa menamatkannya dengan total waktu 5 jam, mungkin bisa lebih cepat jika dimainkan secara langsung dalam 1 hari. Berikut adalah pengalaman yang kami dapatkan selama memainkan gamenya:
Desa yang Terkurung oleh Waktu

Kejora berlatar di desa tahun 90an, dimana warganya secara sekilas hidup dengan tentram. Tanpa mereka ketahui, kehidupan di desa ternyata terus berulang di satu hari yang sama. Setiap jam 12 malam tiba, waktu akan kembali ke hari sebelumnya dan tidak ada yang merasakannya.
Rahasia ini akhirnya mulai terbongkar berkat rasa keingintahuan anak kecil bernama Kejora, yang juga merupakan protagonis di game ini. Bersama dengan kedua temannya, Jaka dan Guntur, Kejora bisa mengungkap kebohongan yang sudah dijalani puluhan tahun oleh dirinya dan warga desa yang lain.

Cerita ini menjadi semakin menarik karena Kejora adalah seorang anak kecil, dan bagaimana ia memproses semuanya. Kadang ia bisa memiliki pemikiran yang brilian, bisa juga memberikan pendapat yang tidak disangka, atau malah tidak masuk akal. Kedua teman Kejora, Jaka dan Guntur tidak membantu dan kebanyakan hanya mengeluh atau mengulangi pertanyaan yang sudah terjawab.
Hal yang sama juga anehnya diderita oleh para orang dewasa di dalam game. Dialog yang muncul sepertinya terlalu monoton dan berulang-ulang.

Untungnya Kejora tidak sendiri. Ia akan ditemani oleh Aditya, pria yang datang dari dunia luar dan memutuskan untuk menolong Kejora. Kalau kalian pernah membaca manga Jigoku Sensei Nube, Aditya mirip dengan Guru Nube dari kemampuannya. Mungkin seandainya ia tidak sering beristirahat, masalah ini akan lebih cepat beres.
Dunia di dalam game Kejora divisualkan dengan gaya hand-drawn yang artistik. Gaya ini memberikan kesan kepada pemain seperti sedang mengikuti cerita dari buku cerita. Untuk beberapa tempat misalnya seperti di desa atau pabrik yang terbengkalai, tehnik ini cocok untuk diterapkan. Tetapi untuk tempat seperti di dalam gua justru menjadi terlalu gelap dan malah menganggu permainan.

Hal lain yang agak disayangkan adalah musik. Soundtrack dari game ini kurang terasa feelnya, padahal untuk game storytelling musik itu perlu untuk memperkuat atmosfir. Hanya satu musik yang kami ingat. Itupun karena diputar terus secara berulang.
Gameplay Puzzle

Karena mengedepankan cerita, gameplay Kejora sangatlah sederhana. Tugas kalian hanya mengerakkan Kejora untuk menyelesaikan puzzle yang ditemui untuk maju ke level berikutnya, dan mengulangi pola yang sama.
Puzzle ini bisa diselesaikan sendirian atau dibantu oleh Jaka dan Guntur. Kedua teman Kejora ini masing-masing memiliki kemampuan khusus. Jaka yang kuat bisa mendorong objek yang menghalangi jalan atau melempar benda dengan ketapel. Sedangkan Guntur yang lebih lincah bisa membantu Kejora untuk mencapai tempat tinggi, atau membersihkan halangan dengan karatenya.

Hal yang akan menjadi tantangan adalah game ini tidak memiliki fitur yang memudahkan atau memandu pemain dalam menyelesaikan teka-teki. Tidak ada ikon penanda, tidak ada juga penunjuk jalan. Pemain harus bisa menebak apa yang dibutuhkan dengan membaca mission goal atau menyimak percakapan Kejora. Tenang, game ini sudah didukung subtitle berbahasa Indonesia.
Dari pengalaman kami, puzzle yang disajikan bervariasi tingkat kesulitannya. Ada yang mudah diselesaikan, ada juga yang sulit tapi pintar, sampai dengan yang sulit dan membuat frustrasi. Kekesalan kami bukan karena puzzlenya yang sulit, tapi cara menyelesaikannya yang berputar-putar. Ada beberapa puzzle yang secara logika seharusnya bisa dipecahkan dengan mudah. Tapi developer memutuskan untuk membuatnya jadi lebih rumit dan tidak masuk akal.

Ada juga beberapa momen yang menurut kami adalah missed opportunity. Menjelang akhir game, akan ada bagian dimana Kejora dan teman-temannya berhadapan dengan semacam musuh kuat. Meski tidak bisa menyerang langsung, pemain akan dihadapkan dengan berbagai macam sequence yang mengharuskan Kejora bekerjasama dengan Jaka dan Guntur untuk bisa menyelesaikannya. Seharusnya momen seperti ini bisa lebih banyak, tidak hanya satu kali saja.
Kejora Dari Segi Teknis
Kami memainkan versi review Kejora di PC. Secara spesifikasi, game ini terbilang sangat enteng sehingga tidak jadi masalah jika dimainkan di PC dengan spesifikasi apapun.
Justru kami bermasalah dengan beberapa bug yang muncul di dalam game. Bug ini bukan sekedar bug sederhana, tapi game breaking. Kami bahkan sampai terpaksa harus mengulang dari awal karena stuck akibat bug ini.
Kesimpulan Review Kejora

Kesimpulan yang kami dapatkan selama memainkan versi review Kejora adalah cerita yang diceritakan cukup menarik. Kami tidak menyangka cerita yang disajikan cukup dalam untuk ukuran game yang desainnya seperti buku cerita anak-anak. Gameplay puzzle yang membumbui alur cerita Kejora juga didesain cukup baik, meski ada beberapa yang terkesan kurang dipoles dan ada ranjau bugnya.
Ada beberapa dialog di dalam game terutama ketika Kejora dan teman-temannya sedang ngobrol terkesan monoton, tapi ini wajar karena para karakter ini masih anak-anak. Tapi agak menganggu jika karakter orang dewasa yang berbicara seperti ini.
Kejora bisa menjadi awal yang baik untuk industri game Indonesia di 2026.
Kejora sudah tersedia di PS5, PS4, Xbox Series, Nintendo Switch, dan PC.
*Disclaimer: Kode untuk review diberikan oleh publisher/developer
