Kamu pernah main game World War Z, Left 4 Dead, atau sejenisnya? John Carpenter’s Toxic Commando tidak berbeda dengan game-game tersebut, yaitu game shooter co-op dimana pemain akan dihadapkan dengan zombies. Ya betul zombies bukan zombie, karena yang dilawan adalah horde.
Developer Saber Interactive yang sebelumnya membuat World War Z, membawa beberapa elemen dari game tersebut ke Toxic Commando. Tentunya dengan tambahan elemen baru dan jug aplot twist yang lebih dalam, karena game ini ikut dibuat oleh pembuat film misteri terkenal, John Carpenter.
Kami telah memainkan versi review John Carpenter’s Toxic Commando di PC. Sebagai fans dari World War Z, kami sudah mengantisipasi apa saja yang akan diberikan oleh game ini kepada pemainnya. Berikut adalah pengalaman dan kesan yang kami dapatkan selama memainkan gamenya.
Berawal Dari Perusahaan Tamak
![]()
Cerita John Carpenter’s Toxic Commando terjadi masa depan, dimana perusahaan teknologi bernama Obsidian mencoba menyelesaikan krisis energi dunia dengan cara mengebor langsung ke inti bumi. Seperti yang sudah ditebak, apa yang ditemukan oleh Obsidian di dalam perut bumi tidak seperti yang diharapkan. Proyek itu justru membangunkan entitas raksasa yang mampu mengubah manusia menjadi zombie, dan melumuri bumi dengan lumpur terkontaminasi yang berwarna hitam pekat.
Untuk mengatasi masalah ini, direkrutlah sekelompok tentara bayaran yang nantinya menjadi karakter pemain. Mereka tidak menyangka apa yang dihadapi bukanlah sekedar masalah biasa, melainkan pembawa pesan dari kiamat itu sendiri. Hal yang lebih baik adalah, keempat tentara bayaran ini juga terkontaminasi namun tidak berubah menjadi zombie, melainkan menjadi manusia spesial yang memiliki kekuatan.

Dari segi cerita, pemain akan mengikuti perjalanan keempat karakter ini dari awal ketika mereka berkenalan dengan kekuatan masing-masing, sampai akhirnya menyerang akar dari semua masalah, Sludge God. Cerita akan dikemas dengan gaya ala film horor klasik buatan John Carpenter. Jika kamu pernah melihat film The Thing atau Halloween, inilah hasil karya dari John Carpenter.
Namun, meski melibatkan Director terkenal, sayangnya cerita dalam game ini hanya sekedar menempel. Menurut kami cerita ini tidak lebih dari penyambung untuk menyatukan semua misi dalam game menjadi menjadi satu alur cerita. Ibaratnya adalah pengantar untuk masuk ke dalam setiap medan pertempuran, ketimbang elemen yang benar-benar meninggalkan kesan.
Jadi, kalau kamu berharap bisa mendapatkan kisah yang dalam atau karakter yang kompleks dalam game ini, kamu akan kecewa dengan hasilnya. Bukan ini yang bisa kamu dapatkan dari Toxic Commando.
Dunia Apokaliptik yang Kotor

Dari segi visual dan grafis, John Carpenter’s Toxic Commando cukup berhasil menjual suasana kiamat yang kelam dan penuh dengan kerusakan. Sayangnya game ini lebih banyak berlatar di alam terbuka dibandingkan wilayah urban. Mungkin karena konsep game ini sendiri yang menggunakan sistem open-world lengkap dengan mobil sebagai mekanisme traversal.
Kehadiran mobil ini cukup menjadi pembeda untuk Toxic Commando dengan game segenre lainnya. Mobil tidak hanya digunakan sebagai alat antar, tetapi juga memiliki mekanisme sendiri. Misalnya pemain diminta untuk mendatangi area yang dipenuhi oleh lumpur. Jika yang dikendarai adalah mobil biasa maka pemain akan terjebak di lumpur. Namun jika mobil yang digunakan memiliki alat derek, maka pemain bisa mendereknya keluar dari lumpur.

Pemain juga akan banyak mendatangi area industri di game ini. Semuanya diperlihatkan hancur dan ditutupi oleh lumpur berwarna hitam. Lumpur ini akan menjadi lokasi spawn dari musuh, dan juga tempat tumbuh pohon dengan kristal aneh yang bisa dipetik oleh pemain. Tentakel juga bermunculan dari tanah, dimana beberapa akan menyerang langsung pemain.
Core Gameplay Tidak Berubah

Siapa pun yang pernah memainkan Left 4 Dead, Back 4 Blood, atau World War Z akan langsung akrab dengan core gameplay John Carpenter’s Toxic Commando. Pemain bersama dengan tiga pemain lainnya atau bersama bot ditugaskan untuk menyelesaikan misi dalam satu level. Perbedaannya adalah jika game zombie shooter biasanya memiliki jalur yang linear, Toxic Commando justru memberikan kebebasan untuk menjelajahi semua lokasi di dalam map.
Namun tugas utamanya tetap sama. Pemain diminta untuk menyalakan generator, mengambil peralatan penting, lalu bertahan dari gelombang musuh. Dari segi pacing, game ini tidak terasa terburu-buru. Pemain akan diberikan waktu menjelajah untuk mendapatkan senjata baru, atau memperoleh tools yang bisa digunakan untuk mengaktifkan senjata mesin atau pagar listrik.

Jika semuanya sudah siap, pemain hanya perlu mendatangi lokasi terakhir dan bersiap untuk menghadapi gelombang serangan dari Horde.
Review John Carpenter’s Toxic Commando Horde

Bagian terbaik John Carpenter’s Toxic Commando adalah ketika pertempuran melawan Horde dimulai. Zombie akan datang dalam jumlah besar dan secara perlahan mendekati titik pertahanan yang dibuat oleh pemain. Horde bisa muncul kapan saja, namun untuk yang terbesar pasti selalu diakhir misi.
Mereka seakan tumpah dari tebing, atau keluar dari celah-celah reruntuhan, menimbulkan kekacauan yang terorganisir. Situasi ini akan memberikan tekanan kepada pemain, apalagi ketika jumlah peluru dari senjata yang dipakai mulai menipis, tapi gelombang zombie tidak berhenti.

Zombie di Toxic Commando juga memiliki desain yang mengintimidasi, namun ini akan terlupakan dengan begitu banyaknya semprotan darah atau bagian tubuh zombie yang hancur, ketika pemain asyik menghabisi mereka dengan machine gun atau mortir.
Diantara ratusan zombie yang muncul, akan ada zombie spesial. Sama seperti di Left 4 Dead atau World War Z, zombie spesial ini memiliki kemampuan unik dan juga desain yang berbeda dari segi visual maupun audio.

Misalnya zombie bernama Stalker yang bisa menembak dengan proyektil memiliki mata yang menyala, dan suara seperti besetan gitar listrik. Ada juga Snare yang bisa menarik pemain, seperti Smoker di Left 4 Dead. Toxic Commando juga memiliki zombie tipe Tank yang dinamai Slob. Ketika monster ini menyerbu, sudah pasti formasi pemain akan berantakan. Kehadiran zombie spesial ini harus diwaspadai, terutama dalam tingkat kesulitan hard dan diatasnya. Satu anggota tim lengah, permainan bisa berakhir.
Berbicara soal tim, pemain bisa menikmati John Carpenter’s Toxic Commando dengan bermain solo tanpa pemain lain. Dalam mode ini, pemain akan didampingi oleh tiga anggota tim lain yang digerakkan oleh AI. Mereka hanya akan mengikuti pemain dan bisa diperintah untuk menyerang target tertentu, atau mengambil item yang ditemukan.

Kami sangat menyarankan untuk bermain dengan pemain lain karena pengalamannya lebih menyenangkan, setidaknya dengan satu atau dua teman. Jika semuanya adalah pemain yang tidak saling kenal, akan ada kecendrungan permainan berjalan kurang seru karena tidak ada komunikasi. Apalagi jika salah satunya adalah pemain baru yang belum paham betul dengan mekansime game.
Tidak perlu khawatir pengalaman untuk multiplayer dibatasi, karena game ini sudah dilengkapi fitur crossplay antar platform, ditambah dengan dedicated server untuk meminimalisir lag.
Gunplay Sangat Memuaskan

Sensasi menembaki zombie dengan beragam jenis senjata di John Carpenter’s Toxic Commando sangat memuaskan. Variasi senjata di game ini sangat banyak, mulai dari handgun, assault rifle, shotgun, dan yang lainnya. Setiap tipe senjata akan memiliki keunggulan tersendiri. Misalnya assault rifle cocok untuk menghabisi musuh dalam jumlah banyak karena punya banyak peluru. Shotgun cocok digunakan oleh pemain yang suka bermain dalam jarak dekat.
Sistem menembaknya juga tidak rumit. Pemain tidak perlu terlalu mengkhawatirkan efek recoil dan semacamnya, karena hal seperti ini minim dalam game. Setiap senjata juga bisa dikustomisasi dengan menambahkan scope misalnya agar lebih presisi, atau memperluas magazine agar bisa membawa lebih banyak amunisi. Variasi ini membuat pemain ingin terus mencoba berbagai kombinasi senjata yang ada.
Selain variasi senjata, karakter pemain juga bisa memilih satu dari empat role yang tersedia. Game ini membaginya menjadi Striker (Damage Dealer), Medic, Defender, dan Operator. Keempatnya memiliki skill tree yang berisi berbagai macam skill dan juga bonus atribut. Tidak lupa, setiap role juga memiliki active skill yang bisa diaktifkan saat sedang bertempur melawan horde.

Hal yang kami rasakan adalah peran dari role ini seakan kabur saat permainan sedang berlangsung. Karena pada akhirnya, setiap pemain akan lebih mengandalkan senjata yang dibawa dibandingkan active skill dari role masing-masing. Bahkan kamu bisa bermain sebagai healer tetapi tetap berada di paling depan untuk membantai musuh.
John Carpenter’s Toxic Commando Dari Segi Teknis
Kami memainkan John Carpenter’s Toxic Commando di PC. Selama memainkan gamenya, kami tidak pernah mengalami masalah teknis. Apalagi mengingat game ini memiliki sistem horde yang memunculkan banyak objek sekaligus di dalam satu tempat. Namun tidak pernah ada masalah seperti lag atau bahkan FPS yang tiba-tiba drop.
Spesifikasi PC yang kami gunakan adalah CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB. Setting grafis yang kami pakai adalah high.
Kesimpulan Review John Carpenter’s Toxic Commando

Kesimpulan kami untuk review John Carpenter’s Toxic Commando adalah game ini tidak mencoba untuk merevolusi game zombie shooter. Game ini juga tidak mencoba tampil sebagai game yang menitikberatkan kepada cerita yang dalam dan filosofis. Sebaliknya, game ini justru tampil apa adanya dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh gamer yang menyukai genre ini.
Sistem horde yang muncul di game ini memang mengesankan, tapi sebetulnya bukanlah suatu hal yang baru karena sudah ada di World War Z. Sama halnya dengan sistem gunplay. Fitur yang lumayan menjadi pembeda adalah bagaimana developer membuat mobil tidak hanya menjadi sekedar pengantar, tapi sebagai anggota tim kelima.
Initnya jika kamu sedang mencari game dengan pengalaman co-op yang seru dan tidak ribet, Toxic Commando bisa dijadikan sebagai salah satu pilihannya.
John Carpenter’s Toxic Commando sudah tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer


