HomeReviewReview Echoes of Aincrad (PC): Sword Art Online Tanpa Kirito

Review Echoes of Aincrad (PC): Sword Art Online Tanpa Kirito

Konsep yang ditawarkan oleh Echoes of Aincrad cukup menarik. Bayangkan game Sword Art Online tetapi tidak mengikuti perjalanan Kirito, melainkan karakternya original. Ceritanya sendiri masih berlatar di Aincrad, arc pertama sekaligus bagian yang paling ikonik dalam franchise Sword Art Online.

Sayangnya, struktur dunia semi open-world yang disajikan terasa kosong. Beruntung, sistem combat Echoes of Aincrad mampu menjaga permainan agar tetap menghibur. Itulah sepotong dari keseluruhan pengalaman yang kami rasakan selama memainkan versi review Echoes of Aincrad di PC.

Satu hal lagi yang kami sayangkan adalah game ini rilis pada minggu yang sibuk. Selain harus berhadapan dengan Assassin’s Creed Black Flag Resynced, ada ekspansi Granblue Fantasy: Relink – Endless Ragnarok yang mirip.

Selamat Datang di Aincrad

Review Echoes of Aincrad dunia aincrad

Alih-alih sekadar menceritakan ulang perjalanan Kirito, Echoes of Aincrad menempatkan pemain dalam cerita yang berbeda. Diawali dari Akihiko Kayaba yang sengaja mengurung 10.000 pemain di dalam game, dengan ancaman mati permanen jika HP mereka menjadi 0 atau meninggalkan permainan secara paksa.

Berbeda dengan Kirito yang berusaha menaklukan 100 level dari Aincrad, pemain justru mendapatkan misi yang berbeda. Pemain memiliki pengelihatan tentang peristiwa kehancuran besar. Kehancuran ini juga akan berdampak kepada semua pemain yang terjebak di dalam game, sehingga harus dicegah.

Review Echoes of Aincrad karakter partner

Cerita baru ini tidak mengurangi nilai narasi, melainkan menjadi pelengkap yang memberikan sudut pandang berbeda terhadap insiden Aincrad. Bagi fans Sword Art Online, Echoes of Aincrad, cerita ini bisa menjadi pelengkap pengalaman mereka dalam menikmati Sword Art Online. Tapi tidak masalah juga jika seandainya yang memainkan masih baru dengan franchise ini karena lebih mudah dicerna.

Sayangnya, cerita membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar menemukan ritmenya.

Hal yang menarik adalah bagian prolog secara cerdas dikemas seperti masa beta dari game betulan. Tutorial mengenai sistem permainan diperkenalkan seolah-olah pemain memang sedang mencoba MMORPG sungguhan. Prolog ini juga bisa dinikmati secara gratis dalam versi demo.

Dunia Agak Hambar

Meski dari grafis sudah cukup baik, dunia semi open-world yang disajikan terlalu hambar, seakan ada yang kurang dalam membuatnya menjadi hidup.

Dunia dalam game dibagi ke dalam area berukuran besar. Lucunya, pemain tidak bisa dengan bebas menjelajahi area tersebut. Hanya satu cara saja untuk mengaksesnya yaitu melalui misi utama atau side quest.

Total ada empat Biome yang menjadi latar. Ada padang rumput, hutan, rawa-rawa, dan padang pasir. Tapi, justru yang menarik adalah desain dari Dungeon. Zona ini berada di dalam gua. Pemain akan disajikan visual unik dari susunan stalagmite dan kristal, atau tempat pemukiman ras demi-human.

Setiap area juga sudah memiliki batas yang sudah ditentukan. Ketika mencoba meninggalkan batas tersebut, karakter pemain akan langsung diarahkan kembali. Pada satu sisi, ini bagus untuk memastikan agar pemain tetap fokus dengan yang sedang dikerjakan.

Sepanjang perjalanan, pemain dapat mengaktifkan Safe Zone yang fungsinya untuk membuka bagian map tertutup. Fitur ini juga punya fungsi sama dengan yang ada di game Soulslike, membuat respawn musuh yang sudah dikalahkan.

Tidak ada mekanisme yang bisa mempercepat perjalanan, kecuali Teleport antar Safe Zone. Eksplorasi juga dilakukan hanya karena untuk menemukan peti harta karun atau mungkin landmark.

Musuh Sama dengan Skin Berbeda

Review Echoes of Aincrad tipe musuh

Minimnya keragaman tidak hanya terlihat pada lingkungan saja, tetapi juga pada desain musuh. Baik musuh biasa dan Boss sering menggunakan model yang sama, tapi dengan perubahan warna atau sedikit desain yang berbeda. Mungkin sudah sampai ratusan kali kami berhadapan dengan babi hutan, serigala, beruang, dan kobold, dengan variasi yang bermacam-macam.

Penggunaan musuh yang terlalu repetitif membuat Echoes of Aincrad jadi membosankan. Ditambah dengan lingkungan di luar kota atau desa yang terasa sepi, kurang dipenuhi oleh aktivitas. Seharusnya game ini memiliki beragam jenis monster, dan pemandangan alam yang menarik untuk membuat pemain betah memainkannya. Sayangnya, Echoes of Aincrad tidak memiliki itu.

Review Echoes of Aincrad: Diselamatkan Oleh Sistem Combat

Review Echoes of Aincrad boos fight

Echoes of Aincead mengingatkan kami dengan game Bandai Namco di awal tahun 2026, Code Vein 2. Kedua game memiliki kelemahan yang sama, tapi diselamatkan oleh sistem combat.

Layaknya game action RPG, Echoes of Aincrad memiliki dua tipe serangan utama, yaitu light attack dan heavy attack. Keduanya bisa dikombinasikan atau digunakan masing-masing dalam momen tertentu.

Review Echoes of Aincrad heavy attack

Echoes of Aincrad juga memiliki mekanisme dodge dan parry, yang jika dieksekusi dengan tepat akan memberikan punish yang luar biasa ke musuh. Momen ini bisa dilakukan ketika ada cahaya biru yang muncul saat parry berhasil dieksekusi dengan sempurna. Nantinya pemain dapat melakukan serangan balasan yang stylish bersama partner. Serangan ini tidak hanya menghasilkan kerusakan besar, tetapi juga membuat musuh rentan dengan stagger.

Mekanisme counter ini menarik, tapi sulit untuk dieksekusi. Selama bermain, kami hanya bisa melakukannya ketika menggunakan senjata sword dan shield. Sedangkan untuk sisanya jarang berhasil.

Berbicara soal partner, pemain dapat membawa satu karakter sebagai pendamping ketika menjalankan misi. Partner meski digerakkan oleh AI, akan memberikan pengaruh nyata terhadap strategi. Jika ingin bermain aman, pemain dapat memilih Iori karena memiliki skill area healing. Untuk berburu monster dan harta karun, bisa memilih Argo yang bisa mendeteksi lokasi harta karun dan monster.

Enam Senjata dengan Gaya Bermain Berbeda

Tersedia enam jenis senjata berbeda yang bisa dipilih pemain, mulai dari sword, rapier, dagger, mace, two handed sword, dan two handed axe.

Setiap senjata mempunyai karakteristik dan daya rusak yang berbeda. Senjata dua tangan yang berat dapat menghasilkan serangan dengan damage besar. Sedang dagger dapat membuat penggunanya bisa bergerak cepat. Untuk pemain baru kami sarankan memilih sword karena bisa dikombansikan dengan shield untuk bertahan.

Pemain juga dapat mempelajari Sword Skills, yaitu serangan spesial yang mengkonsumsi SP. Setiap kemampuan akan memiliki efek khusus. Misalnya Cascade dari two handed sword bisa ditahan untuk memberikan damage besar, sekaligus memotong bagian tubuh musuh. Ya, kami tidak bercanda. Echoes of Aincrad mengizinkan pemain untuk memotong tubuh musuh jika HP mereka dihabisi dengan heavy attack. Untuk Boss, Teknik ini akan membuat mereka kehilangan salah satu bagian tubuhnya, dan tidak bisa melakukan skill tertentu.

Pemain hanya bisa memasang tiga Sword Skills. Jadi pemain harus memilih skill mana yang diperlukan dan sesuai dengan gaya bermain. Batasan ini membuat combat menjadi lebih strategis dan mendorong eksperimen untuk berbagai kombinasi build.

Progression dan Modifikasi Senjata

Review Echoes of Aincrad atribut

Dengan senang hati kami menyampaikan bahwa sistem progression di game ini sangat sederhana, simple, dan tidak njelimet.

Setiap karakter pemain naik level, akan mendapatkan sejumlah poin yang dapat dialokasikan ke atribut. Dari deskripsi ini mungkin kelihatannya agak mengintimidasi, tapi nyatanya sangat mudah dipahami.

Setiap atribut akan memiliki penjelasan efek apa yang didapat jika dinaikkan ke nilai tertentu. Ini memudahkan pemain untuk mengetahui seperti apa build yang sedang mereka bangun. Mencapai nilai tertentu juga dapat membuka bonus tambahan, seperti peningkatan kecepatan serangan atau attack.

Hal yang sama juga berlaku kepada senjata. Setiap senjata akan memiliki empat slot yang bisa diisi oleh skill pasif. Untuk mengisinya, pemain hanya tinggal melakukan Synthesis di blacksmith. Satu fungsi lagi adalah upgrade yaitu memperkuat senjata dengan mengorbankan senjata yang lain.

Musuh akan banya menjatuhkan banyak senjata, jadi jangan khawatir kehabisan senjata untuk Synthesis atau Upgrade. Fitur ini juga memungkinkan pemain untuk terus menggunakan satu senjata yang sama selama permainan. Cocok bagi pemain yang memiliki rasa sentimental dengan equipment yang digunakan.

Review Echoes of Aincrad Dari Segi Teknis

Kami memainkan Echoes of Aincrad dengan PC yang memiliki spesifikasi CPU i5-14400F, GPU NVIDIA GeForce RTX 4070 Ti, dan RAM 32GB. Secara grafis, game ini tidak se”wah” seperti yang diharapkan, bahkan malah kelihatan seperti game konsol era PS4 dan Xbox One.

Konfigurasi setting juga tidak selengkap game modern. Tidak ada tambahan special effect seperti ray tracing dan juga optimasi dengan teknologi upscaling. Semuanya pilihan grafis seperti di konsol, padahal ini versi PC yang kami mainkan.

Untuk masalah teknis kami tidak pernah mengalami masalah saat memainkan gamenya. Kendala yang kami rasakan hanya satu, yaitu tidak bisa menemukan cara keluar dari game. Jelas, karena ini adalah Sword Art Online. Bercanda, tombol untuk keluar bisa ditemukan di dalam bagian option.

Kesimpulan Review Echoes of Aincrad

Kesimpulan kami untuk review Echoes of Aincrad adalah game ini akan meninggalkan dua kesan yang bertolak belakang. Pada satu sisi, sistem combat yang tersedia cukup menyenangkan, dan mudah untuk dipahami. Jumlah variasi senjata juga pas, namun menjadi dalam karena adanya fitur Synthesis dan Upgrade. Mekanisme serangan counter attack juga menantang untuk bisa dikuasai.

Pada sisi lain, dunia semi open-world yang disajikan terlihat terlalu kosong dan datar. Developer sudah berusaha dengan memberikan tema yang bervariasi, namun ini terganggu dengan desain musuh yang minim. Bayangkan mendadak muncul serigala dalam gua bawah tanah.

Cerita yang disajikan sebetulnya menawarkan sesuatu yang baru, tapi itu juga tersandung dengan desain dunia yang hambar. Kekurangan dari game ini bisa dijadikan sebagai pertimbangan sebelum memutuskan untuk membeli atau tidak. Paling tidak coba dulu versi demonya, karena konten yang ada di dalam demo adalah yang akan ditemukan dalam full game.

Echoes of Aincrad tersedia di PS5, Xbox Series, dan PC.

*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer

REVIEW OVERVIEW

Visual & Grafis
Storyline
Gameplay
Sound (Soundtrack & sound effect)
Replay Value
Aryo
Aryo
Editor Playcubic. Gamer dengan cita-cita punya PC kelas dewa. Disamping PCnya ada PS5 dan Xbox Series X
RELATED ARTICLES

Terpopuler

Konsep yang ditawarkan oleh Echoes of Aincrad cukup menarik. Bayangkan game Sword Art Online tetapi tidak mengikuti perjalanan Kirito, melainkan karakternya original. Ceritanya sendiri masih berlatar di Aincrad, arc pertama sekaligus bagian yang paling ikonik dalam franchise Sword Art Online. Sayangnya, struktur dunia semi open-world...Review Echoes of Aincrad (PC): Sword Art Online Tanpa Kirito