Ada satu masa di dunia game yang nggak pernah benar-benar mati, era di mana musik metal meraung, visualnya liar, dan gameplay-nya nggak kenal ampun. Nah, ChainStaff datang seperti kapsul waktu dari masa itu, tapi dibungkus dengan sentuhan modern yang cukup berani. Ini bukan sekadar game platformer biasa. Ini adalah pengalaman yang terasa seperti kaset VHS tua yang tiba-tiba hidup kembali, tapi kali ini dengan kontrol yang jauh lebih baik dan sistem yang lebih matang.
Oh iya, saya menjajal game ini di versi Nintendo Switch-nya ya. Selain di Nintendo Switch, ChainStaff juga tersedia di platform Xbox One dan Xbox Series, PS4 dan PS5, serta PC lewat Steam.

Dikembangkan oleh studio indie pemenang penghargaan Mommy’s Best Games, ChainStaff dipimpin oleh veteran developer Nathan Fouts yang sebelumnya terlibat dalam proyek-proyek seperti Insomniac Games dan Serious Sam Double D XXL.
Kesan Pertama: Gila, Ini Game Apa Sih?
Begitu pertama kali masuk ke dunia ChainStaff, satu hal langsung terasa game ini punya identitas kuat. Visualnya penuh warna kontras, desain musuhnya aneh, dan atmosfernya seperti gabungan antara album cover band metal tahun 80-an dan mimpi buruk saat demam di siang hari yang terlalu kreatif.

Kamu bermain sebagai karakter mutan dengan parasit alien nempel di kepala, yang terlihat sudah absurd dari awal. Tapi justru di situ daya tariknya. Game ini tidak berusaha jadi aman dalam pembuatan karakter utama.
Gameplay: Satu Tombol, Seribu Kemungkinan
Nah, ini bagian paling menarik dari ChainStaff adalah senjatanya.
Sesuai namanya, ChainStaff adalah senjata multifungsi yang bisa berubah jadi tombak untuk menyerang, grappling hook buat mobilitas dan Shield untuk bertahan. Dan yang bikin mind-blowing semua itu dikontrol dengan satu tombol utama.

Awalnya terasa aneh. Tapi setelah beberapa menit justru jadi sangat intuitif. Di sinilah game ini pintar, ChainStaff tidak mengajarkan gamer lewat tutorial panjang, tapi lewat eksperimen. Kalian jatuh, mati, coba lagi, dan pelan-pelan ngerti cara kerja dunia game ini.
Ada rasa “oh gitu-moment” yang jarang sata rasakan di game modern.
Untuk lebih jelasnya mengenai gameplay, kalian bisa menyimak bagaimana serunya saya menjajal ChainStaff pada video di bawah ini:
Level Design: Pendek namun Padat
ChainStaff punya sekitar 10 level utama dengan tambahan variasi tantangan dan boss fight. Durasinya memang nggak panjang sekitar 4-6 jam, tapi tiap level terasa handcrafted. Nggak ada filler. Nggak ada momen kosong.

Setiap level punya gimmick sendiri, memaksa kalian berpikir cepat dan seringkali bikin kalian mati berkali-kali. Tapi anehnya tidak bikin kesal secara berlebihan, karena kalian akan tahu dimana kesalahan sebelumnya. Ini desain klasik. Old-school dan itu justru kekuatannya.
Combat: Brutal Tapi Elegan
Combat di ChainStaff itu brutal, tapi bukan asal brutal. Ada ritme di dalamnya. Musuh datang dengan pola berbeda ada yang harus diserang dari jarak jauh, ada yang harus dipancing dulu, ada juga yang cuma bisa dikalahkan dengan timing presisi.

Bagaimana dengan boss fight? Nah… setiap boss seperti puzzle hidup. Kalian tidak cuma butuh refleks, tapi juga strategi. Kadang harus berpikir untuk hajar langsung atau memanfaatkan lingkungkan sekitar. Yah ini bukan game button-mashing, game ini mengajarkan gamer untuk menghargai setiap gerakan.
Sistem Upgrade

Ini salah satu fitur paling unik (dan agak disturbing). Di sepanjang game, kamu akan menemukan tentara yang terdampar. Nah, kamu punya pilihan menyelamatkan mereka atau memakan organ mereka.

Pilihan ini memengaruhi skill tree yang kamu buka, gaya bermain kamu dan ending yang kamu dapat. Ada dua jalur utama, lebih “manusiawi” atau lebih “monster”. Dan keduanya punya keuntungan masing-masing. Ini bukan cuma gimmick. Ini bikin replay value naik drastis.
Visual & Audio: Metal Banget
Secara visual, ChainStaff itu bukan realistis. Tapi justru itu yang bikin dia standout. Desain level seperti lukisan hidup, musuh terlihat aneh, menjijikkan, tapi keren. Animasi cukup halus, terutama di Nintendo Switch, cuma anehnya ada pilihan low, medium dan high di sisi grafis, yang sampai sekarang saya kurang tau gunanya apa karena ketiganya tidak terlalu terasa, kecuali pilihan 30 dan 60 fpsnya. Mungkin ini berbeda jika kalian memainkannya di platform lain.

Bagaimana dengan musiknya? Soundtrack dari Deon van Heerden (komposer Broforce) benar-benar nendang. Heavy metal yang bikin setiap pertempuran terasa epik. Kadang kalian tidak sadar sudah main lama, karena musiknya bikin terus “gas”.
Performa di Nintendo Switch: Solid, Tapi Ada Catatan
Di Nintendo Switch, performanya cukup stabil, frame rate relatif konsisten, loading cepat, kontrol responsif. Tapi ada beberapa momen sedikit drop saat banyak efek di layar dan visual agak turun dibanding versi console lain.

Tapi semua kekurangan itu tidak sampai mengganggu gameplay secara signifikan. Ini masih pengalaman yang nyaman dimainkan di handheld apalagi di docking.
Kesimpulan

ChainStaff itu kayak band indie yang main di garasi, tapi suaranya lebih kencang dari band besar di stadion. ChainStaff tidak sempurna. Jelas ada kekurangan. Tapi yang dia lakukan, dia lakukan dengan penuh karakter. Ini bukan game buat semua orang. Tapi buat kalian yang kangen game platformer klasik, suka tantangan dan ingin sesuatu yang beda dari arus utama. ChainStaff itu wajib dicoba.
Di dunia yang makin sibuk dengan grafis realistis dan open world luas, game ini datang dengan pesan sederhana bahwa kadang yang kalian butuh cuma gameplay solid, ide gila, dan keberanian buat beda, ChainStaff punya itu semua.
Kalian bisa mengunduh ChainStaff versi Nintendo Switch di sini : Download di sini.
Game platformer dengan aksi brutal bergaya sci-fi 80-an ini sudah tersedia mulai tanggal 8 April 2026 untuk PC dan konsol.
*Disclaimer: Game untuk review disediakan oleh publisher/developer
