HomeBerita GamePrince of Persia Remake Batal Dikembangkan, Apa Alasannya?

Prince of Persia Remake Batal Dikembangkan, Apa Alasannya?

Pengembangan game Prince of Persia Remake batal setelah Ubisoft mengumumkan kebijakan barunya terkait restrukturisasi. Game ini termasuk ke dalam enam game yang dihentikan pengembangannya oleh Ubisoft.

Pengumuman ini disampaikan saat perusahaan melakukan transformasi besar-besaran pada struktur organisasi, operasional, dan juga portofolio proyeknya. Ubisoft menyebut langkah tersebut dilakukan untuk menata ulang rencana rilis tiga tahun ke depan, sekaligus memastikan target kualitas bisa tercapai dengan lebih konsisten.

Alasan Prince of Persia Remake Batal

Dalam pernyataannya (Dikutip dari VGC), Ubisoft mengatakan mereka telah meninjau secara menyeluruh content pipeline dan memutuskan untuk mengatur ulang portofolio, mengalokasikan ulang sumber daya, serta merevisi roadmap secara menyeluruh. Strategi ini disebut ditujukan untuk mengembalikan level kualitas kepada segmen open-world adventure dan memperkuat posisi Ubisoft di pengalaman game bertipe GaaS (Games as a Service).

Imbas dari perubahan tersebut, Ubisoft menghentikan enam proyek yang dinilai tidak memenuhi standar yang baru. Selain Prince of Persia Remake Batal, Ubisoft tidak menjelaskan game yang lain.

Belum selesai sampai disitu, Ubisoft juga memutuskan untuk menunda tujuh game dengan alasan memastikan benchmark kualitas benar-benar terpenuhi. Salah satu game yang masuk dalam daftar penundaan ini awalnya ditargetkan rilis pada tahun fiskal 2026, tetapi kini mundur ke tahun fiskal 2027.

Meski nama judulnya dirahasiakan, banyak yang berpendapat bahwa game yang dimaksu adalah remake Assassin’s Creed: Black Flag. Spekulasi ini menguat karena munculnya rumor game tersebut bakal diumumkan dalam waktu dekat, disebabkan oleh munculnya judul game Assassin’s Creed Black Flag Resynced di website rating PEGI.

Model Baru Ubisoft: Rumah Produksi

Ubisoft juga memperkenalkan model operasional baru berbasis sejumlah rumah produksi independen. Masing-masing unit akan memiliki kepemimpinan sendiri dan tanggung jawab masing-masing, mulai dari pengembangan, penerbitan, hingga finansial.

Ubisoft berharap sistem ini membuat pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, lebih tepat, dan pada akhirnya melahirkan lebih banyak game sukses. Contohnya adalah Vantage Studios, studio yang dibuka tahun lalu dan sebagian dimiliki oleh Tencent. Studio ini hanya akan mengawasi Rainbow Six, Assassin’s Creed, dan Far Cry.

Bagaimana menurut kalian?

Aryo
Aryo
Editor Playcubic. Gamer dengan cita-cita punya PC kelas dewa. Disamping PCnya ada PS5 dan Xbox Series X
RELATED ARTICLES

Terpopuler